Bab 3: Pesantren Istiqomah

"Abi, Umi, bisakah kita bicara sebentar?" Setelah melaksanakan sholat subuh, keluarga Kyai kembali ke rumah, Musa tidak ingin membuang waktu, karena bisa saja Ayah Sitara benar-benar datang, dan Abi nya akan salah paham. "Kamu baru saja pulang Nak? Abi baru liat mobil mu, darimana saja kamu Nak?" Musa mengambil tempat berhadapan dengan Abi nya, sementara Umi pergi kedapur untuk mengambilkan teh hangat untuk suami dan putra kesayangannya. 

"Musa tadi malam menolong seorang gadis yang mengalami kecelakaan tunggal Abi, Musa bawa dia ke rumah sakit, Alhamdulillah ayah nya gadis itu segera datang, jadi Musa bisa pulang." Ibrahim nampak senang karena anak nya melakukan kebaikan. "Alhamdulillah, berarti tugasmu sudah selesai nak, sebaiknya kamu tidur dulu, hari ini tidak usah mengajar di pondok." Ibrahim mengusap lembut pundak putra nya, dan berniat untuk pergi ke ruang makan. Kyai Ibrahim terbiasa minum teh hangat ditemani cemilan setelah menunaikan sholat Subuh. setelah itu dia akan berkeliling pesantren untuk melihat kebun dan kegiatan para santri nya. 

"Tapi Abi… ada masalah yang tersangkut pada ku!" Musa menundukkan kepalanya, tampak raut khawatir dan cemas di wajah tampan nya. Musa yang terbiasa ceria dan bersemangat, kini tampak ada beban yang menggantung di wajah bersih dan bercahaya itu. Musa memang mewarisi ketampanan dan kecantikan Kyai ibrahim dan istri nya, gambaran kecerdasan sangat terlihat jelas dari sorot mata yang tajam namun mampu meneduhkan hati yang memandang nya. 

"Ayah gadis itu meminta Musa untuk menikahi putrinya, Abi." Musa memberanikan diri menatap wajah Abi nya. Kyai yang sudah bersiap untuk berdiri pun langsung menghempaskan tubuh nya kembali ke kursi yang tadi di duduki nya. "Apa yang sudah kau lakukan Musa? Abi tidak salah berpikir kan?" Wajah Kyai menegang dengan sorot mata tajam, siap menghujam hati Musa. "Abi bisakah percaya dengan ku?" Ibrahim mengangguk lemah, dia tidak ingin bertele-tele. "Begini kejadiannya Abi…" secara rinci Musa menjelaskan semua nya, tanpa ada yang ditutupi. Ibrahim menarik nafas nya berat, Umi sudah duduk bergabung dan menyimak penjelasan putra nya. 

"Apakah ini baik untuk mu nak?, Abi harus memikirkannya lebih matang lagi, dan akan mempersiapkan diri jika Ayah gadis itu datang kesini." Musa tidak berani menyela kalimat Kyai, dia hanya menyimak dan terus berpikir kemungkinan apa saja yang bisa terjadi. 

Tok tok tok…

"Selamat pagi.. !"

Serentak mereka bertiga menoleh ke arah pintu depan yang sengaja terbuka. Musa merasakan jantung nya berdebar kencang karena mengenal siapa yang datang. 

    "Selamat pagi.. maaf anda mencari siapa Pak?" Fatimah bergegas keluar. "Benar disini rumah nya Musa bu?" Satish tersenyum ramah. Fatimah yang sudah terbiasa menerima tamu pun dengan ramah menyambut Satish. "Benar Pak, maaf dengan Bapak siapa ya?" Melihat sambutan yang ramah, membuat Satish sedikit tenang. "Kenalkan, saya Satish bu Nyai, Papa nya Sitara, gadis yang ditolong Nak Musa tadi malam. Tidak menunggu lama Fatimah mempersilahkan Satish untuk masuk, dan mempersilahkan duduk di ruang tamu.  

"Maaf Pak, silahkan duduk dulu, saya panggil kan suami saya dan Musa." Tanpa menunggu lama, Fatimah melangkahkan kaki nya dengan cepat, menuju ke ruang keluarga, dimana suaminya dan Musa masih berbincang tentang masalah Sitara. Musa menceritakan apa yang sudah terjadi secara lengkap, termasuk juga penilaian dia tentang sosok Sitara dan juga Satish. Mereka adalah orang-orang yang harus dirangkul, bukan malah dijauhi. Selama ini Kyai sudah mengayomi anak-anak, baik yang remaja atau dewasa. Dengan latar belakang yang berbeda-beda. Kyai tidak memandang agama atau status sosial mereka, yang menjadi target Kyai Ibrahim adalah berbagi kasih sayang dan ilmu agar mereka bisa kembali dari gelapnya jalan yang salah. Jika suatu hari mereka ingin hijrah dan akhirnya bersyahadat, itu bukanlah dari paksaan Kyai, tapi karena Hidayah yang sudah datang karena kerja keras mereka dalam menjemputnya.

Kyai dan Musa memasuki ruang tamu. Satish yang tadinya duduk sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, langsung berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Kyai dan Musa. "Assalamualaikum, selamat pagi Pak, silahkan duduk pak, jangan sungkan-sungkan." Kyai tersenyum ramah, dan mengambil posisi pada kursi tunggal, dimana dia sering duduk saat menemui tamu yang sering berkunjung ke Pesantren nya. "Waalaikumsalam, selamat pagi Pak Kyai. Maaf saya sudah tidak sopan mengganggu waktu Pak Kyai pagi ini." Kyai menganggukan kepalanya dan tetap mengembangkan senyum ramah pada tamu nya. "Iya, gimana Pak.. eh maaf saya sampai lupa berkenalan, saya Ibrahim" Satish yang tadinya sudah merasa akrab, mendadak malu, karena lupa memperkenalkan diri. 

"Eh.. maaf Pak Kyai, karena grogi, saya sampai lupa memperkenalkan diri, saya Satish, Papa nya Sitara, gadis yang sudah di tolong Nak Musa tadi malam. "Terlihat sekali Satish yang sudah tidak sabar untuk menjelaskan tujuannya datang ke rumah Kyai. Dia meninggalkan Sitara di rumah sakit sendirian. Dia tidak mau ditemani siapa-siapa. Padahal Satish sudah menyuruh Vijay, adik nya untuk datang ke rumah sakit, tapi Sitara berkeras tidak mau, alasannya dia tidak mau mendengar omelan dari paman kesayangan nya itu.

"Ehem… jadi begini pak Kyai, tujuan saya datang kesini ingin meminta bantuan Pak Kyai dan Nak Musa. Mungkin tadi Nak musa sudah menjelaskan permasalahan nya dengan Pak Kyai." Satish menjeda sesaat sambil memperhatikan raut wajah Kyai yang masih sama sejak dari awal tadi. Sementara Musa yang lebih banyak diam terus menyimak pembicaraan dua orang tua yang tampak seumuran. sebelum berangkat tadi Satish sudah mencari informasi tentang Musa dan pesantren yang tertulis di kartu nama nya. tidak membutuhkan waktu lama, dia bisa mendapatkan informasi tentang pesantren unik tersebut.

Fatimah memasuki ruang tamu sambil membawa nampan berisikan Tiga cangkir yang berisi teh, setelah menghidangkannya, dia pun mengambil duduk disebelah Kyai. "Silahkan Pak Satish, diminum dulu tehnya, dan silahkan di cicipi cemilannya." Fatimah mempersilahkan seraya tersenyum. 

"Terimakasih banyak bu Nyai, boleh langsung saya minum ya?" Satish yang tampak haus karena rasa yang tidak karuan terus membuat pikiran dan hatinya kacau, langsung menyeruput teh hangat yang tidak terlalu manis. 

"Jadi begini Pak. Masalah saya adalah, saya kewalahan menangani anak saya, dia putri tunggal saya, mungkin karena kurangnya kasih sayang, dia selalu mencari kesenangan di tempat hiburan malam, alkohol sudah menjadi teman bagi nya. Saya sudah berusaha untuk mengingatkannya, tapi sejak Mama nya meninggal, jujur saja saya kurang bisa membagi waktu untuk Sitara, maksud saya datang kesini, saya ingin melamar Putra Pak Kyai untuk Putri saya." Penjelasan satish yang singkat padat dan yakin membuat Pak kyai merasa bingung. Karena tadi penyampaian Musa, dia dimintai pertanggungjawaban untuk menikahi Sitara. Tapi kalimat Satish tadi, dialah yang datang melamar Musa. 

Musa tampak bingung, wajah tenang nya berubah menjadi merah entah karena malu, atau marah. Kyai melihat perubahan wajah Musa lalu mengambil napas pendek dan menghembuskan nya asal. "Maaf pak Satish, maksudnya apa ya, bapak melamar Musa?" Satish mulai mengatur posisi duduk. "Begini Kyai, saya sudah mendengar kemasyuran nama Kyai dalam menolong anak-anak muda, dari yang tanpa arah, sekarang banyak yang sudah jadi orang. Karena disini tidak ada santri perempuan, maka dari itu saya ingin sekali melamar Nak Musa menjadi menantu saya. Saya mohon bantuan Kyai dan Nak Musa untuk bisa membimbing Sitara ke jalan yang benar." Satish menghela nafas dalam. Sesekali dia melirik Musa, pemuda tampan yang memiliki hidung mancung, alis tebal, mata tajam dengan manik mata berwarna hitam pekat, bibir yang tipis. Semua yang ada pada diri Musa sungguh menarik dan membuat hati menjadi teduh. 

“Pak Satish, saya tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan, karena pernikahan itu tidak untuk dipermainkan. Saya meminta waktu dalam beberapa hari ini, jika Pak Satish berkenan menunggu, saya akan memohon petunjuk kepada Allah.” Musa yang sedari tadi sangat tenang dan tidak mengeluarkan suara, sekarang dia memberikan jawaban atas permintaan Satish. “Musa benar pak satish, sebaiknya Musa melakukan Sholat Istikharah dulu, agar langkah yang akan diambil, bukanlah keputusan yang ada campur tangan iblis di dalam nya.” Satish tidak bisa lagi memaksa, karena memang ini semua serba mendadak. Sementara itu Kyai, Musa dan Fatimah hanya bisa diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. 

Setelah bincang-bincang ringan yang dilakukan mereka berempat, akhirnya satish pun pamitan untuk kembali ke rumah sakit dimana Sitara dirawat.di sepanjang jalan dia yang lebih memilih duduk di bangku belakang, terus saja berpikir. berbagai kemungkinan pun mulai menyesakkan ruang pikirannya. sesekali pandangannya mengedar ke arah jendela mobil nya, jalanan tampak ramai seperti biasa, matahari mulai meninggi dan cuaca panas, khas kota Surabaya tampak membayang di jalanan aspal. “aku yakin musa mau membantuku, tapi bagaimana dengan putri kecil ku ini?” ya Tuhan, lembutkan hati putri ku, bimbing dia dalam setiap langkahnya.’ bibir Satish tampak terus saja mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. tapi ya begitulah seorang Satish, sosok yang tegas dan bersikap kaku di hadapan karyawan namun tidak berdaya ketika harus berhadapan dengan sitara. 

*****

di dalam kamar yang luas, tempat Sitara dirawat dan selalu dibersihkan oleh para pelayan.. Satish sengaja mempekerjakan dua orang pelayan, agar Sitara tidak kesepian saat dia meninggalkan Sitara. dia terus saja berpikir, apa yang akan dia lakukan jika Musa mau menerima nya. dalam kebudayaan India, perempuan lah yang meminang laki-laki, “Sialan Musa itu, kenapa juga harus kamu yang nolongin saya Musa!” berbagai doa penolakan oleh pihak Musa,” terus saja dia ucapkan dengan suara yang lirih, hanya bibirnya yang komat kamit berkeluh kesah mengenai lamarannya ini.

Tanpa terasa beberapa hari sudah berlalu, Sitara dan Musa mereka terus saja sibuk dengan hati dan pikirannya masing-masing. mereka berdua berada di tempat yang terpisah, namun hari ini lantai terasa licin karena ulah mereka yang selalu mondar-mandir seperti setrikaan. Mereka berdua terus saja memohon petunjuk dan pertolongan dari sang maha pencipta ini segera datang. Musa tampak merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kesayangannya. di belahan kota yang lainnya, tampak Sitara pun merebahkan tubuhnya dengan berusahaa terus berpikir, kemungkinan apa yang akan terjadi, dia gelisah karena papanya tidak menerima penolakan dan bantahan dari dirinya sendiri. “Ahh… kalo udah nikah, gak bisa kuliah dong? kalo pun boleh kuliah, pasti sibuk sekali melarang ini dan itu!” Sitara tampak semakin kesal tapi entah pada siapa dia bisa melampiaskan kemarahannya.

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Papa Satish niat sekali jadiin Musa sebagai mantu sampai datang pagi2 melamar Musa buat Sitara 😅🤣🤣

2023-01-13

1

🍾⃝ͩкυᷞzͧєᷠуᷧ уιℓ∂ιzι🥑⃟𐋂⃟ʦ林

🍾⃝ͩкυᷞzͧєᷠуᷧ уιℓ∂ιzι🥑⃟𐋂⃟ʦ林

Paragrafnya jangan panjang-panjang Thor biar kita gak seperti baca koran

2022-09-15

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kecelakaan
2 Bab 2 : Kita Berbeda
3 Bab 3: Pesantren Istiqomah
4 Bab 4: Keputusan ku
5 BAB 5: Nama ku Sitara
6 Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7 Bab 7: Pindahan
8 Bab 8: Debat Kucing
9 Bab 9: Salah Tangkap
10 Bab 10: Gerombolan Ninja
11 Bab 11: Singa Betina
12 Bab 12: Misi Yang Gagal
13 Bab 13: Dokter Yoga
14 Bab 14: Bos Bawang
15 Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16 Bab 16: Hukuman Yang Beda
17 Bab 17: Tobat Sambel
18 Bab 18: Gantengnya 40%
19 Bab 19: Malunya Aku
20 Bab 20: Waktu Belajar Ku
21 Bab 21: Pulang.
22 Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23 Bab 23: Setajam Samurai
24 Bab 24: Sah
25 Bab 25: Gagal Nikah?
26 Bab 26: Terlihat Tampan
27 Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28 Bab 28: Panggil aku Aby
29 Bab 29: Nikahan Ayu
30 Bab 30: Nubruk Lagi.
31 Bab 31: Nikah Mendadak
32 Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33 Bab 33: Hobi Nubruk
34 Bab 34: Seperti Maling
35 Bab 35: Belajar Bareng 1
36 Bab 36: Belajar bareng 2
37 Bab 37: Salah Paham
38 Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39 Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40 Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41 Bab 41: Gaspol Mas
42 Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43 Bab 43: Hai Tampan
44 Bab 44. Syukuran
45 Bab 45: Daadee Datang
46 Bab 46: Parfum Malam Pertama
47 Bab 47: Dokter Pintu
48 Bab 48: Ketahuan.
49 Bab 49 : Masih sakit?
50 Bab 50: Bertemu Cici
51 Bab 51: Kebakaran
52 Bab 52: Musa kritis
53 Bab 53: Tidak Sanggup
54 Bab 54: Siapa Dev?
55 Bab 55: Obsesi Dev
56 Bab 56: Arya
57 Bab 57: Penyelidikan
58 Bab 58: Gombalan Absurd
59 Bab 60: Face Off
60 Bab 60: Keputusan Face Off
61 Bab 61: Sarung Ninja
62 Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63 Bab 63: Wajah Baru Musa
64 Menjelang Tamat
65 Bab 64: Rencana Party
66 Bab 65: Memaafkan
67 Selamat Tahun Baru 2023
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1: Kecelakaan
2
Bab 2 : Kita Berbeda
3
Bab 3: Pesantren Istiqomah
4
Bab 4: Keputusan ku
5
BAB 5: Nama ku Sitara
6
Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7
Bab 7: Pindahan
8
Bab 8: Debat Kucing
9
Bab 9: Salah Tangkap
10
Bab 10: Gerombolan Ninja
11
Bab 11: Singa Betina
12
Bab 12: Misi Yang Gagal
13
Bab 13: Dokter Yoga
14
Bab 14: Bos Bawang
15
Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16
Bab 16: Hukuman Yang Beda
17
Bab 17: Tobat Sambel
18
Bab 18: Gantengnya 40%
19
Bab 19: Malunya Aku
20
Bab 20: Waktu Belajar Ku
21
Bab 21: Pulang.
22
Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23
Bab 23: Setajam Samurai
24
Bab 24: Sah
25
Bab 25: Gagal Nikah?
26
Bab 26: Terlihat Tampan
27
Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28
Bab 28: Panggil aku Aby
29
Bab 29: Nikahan Ayu
30
Bab 30: Nubruk Lagi.
31
Bab 31: Nikah Mendadak
32
Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33
Bab 33: Hobi Nubruk
34
Bab 34: Seperti Maling
35
Bab 35: Belajar Bareng 1
36
Bab 36: Belajar bareng 2
37
Bab 37: Salah Paham
38
Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39
Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40
Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41
Bab 41: Gaspol Mas
42
Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43
Bab 43: Hai Tampan
44
Bab 44. Syukuran
45
Bab 45: Daadee Datang
46
Bab 46: Parfum Malam Pertama
47
Bab 47: Dokter Pintu
48
Bab 48: Ketahuan.
49
Bab 49 : Masih sakit?
50
Bab 50: Bertemu Cici
51
Bab 51: Kebakaran
52
Bab 52: Musa kritis
53
Bab 53: Tidak Sanggup
54
Bab 54: Siapa Dev?
55
Bab 55: Obsesi Dev
56
Bab 56: Arya
57
Bab 57: Penyelidikan
58
Bab 58: Gombalan Absurd
59
Bab 60: Face Off
60
Bab 60: Keputusan Face Off
61
Bab 61: Sarung Ninja
62
Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63
Bab 63: Wajah Baru Musa
64
Menjelang Tamat
65
Bab 64: Rencana Party
66
Bab 65: Memaafkan
67
Selamat Tahun Baru 2023

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!