Oh my God, gak cuma Dokter Yoga yang ada disana, Umi dan Zahra pun ada disana, dan yang pasti mereka denger dong apa yang dibicarakan oleh Sitara di telepon tadi.
Ya Tuhan rasanya ingin sekali menghilang masuk ke lobang semut. Dan tadi itu, "Oh no!! Ma-maaf kan aku, ti-tidak ada maksud apapun."
Sitara tampak kelabakan, secara bergantian dia menatap horor wajah-wajah yang ada disana.
"Hallo Nona Sitara, tampaknya anda sudah lebih baik sekarang, boleh saya periksa sekarang?"
Dokter Yoga berusaha melepaskan kecanggungan yang tampak di wajah Sitara. Pikirannya kacau, hanya anggukan kecil yang bisa dia lakukan untuk menjawab pertanyaan dokter Yoga.
Sementara Fatimah dan Zahra yang tadi duduk disofa bergegas menuju brankar Sitara. Fatimah ingin tau perkembangan kesehatan Sitara.
"Keadaan luka nya cukup bagus Nona, apa ada yang anda keluhkan sekarang?" Dokter Yoga yang sibuk mengganti perban, setelah mengoles salep agar luka jahitannya cepat mengering.
"Jantung saya berdebar tak karuan dokter." Dengan cepat Sitara menjawab, tanpa dia berfikir panjang, sementara mata indahnya terus menatap wajah tampan Dokter Yoga.
Menurut penilaian Sitara tingkat ketampanan dokter muda ini meningkat dibandingkan tadi malam.
Padahal tadi dia baru saja memberikan penilaian, kadar ketampanannya 40%, tapi sekarang wow bisa mencapai 80%.
Sitara masih belum menyadari kalimat yang meluncur lancar tanpa rem itu dari bibir tipisnya yang sudah tidak pucat lagi.
"Ehem… Nak Sitara, apa kamu ngerasa makin tidak sehat?"
Blaaarrr…
Kesadaran Sitara kembali dengan secepat-cepatnya, disaat Fatimah menegur dengan kalimat penuh makna.
"Umi… oh Tuhan, maafkan Tara Umi, hmm Tara merasa… aduuhh!" Perban yang membalut lengan Sitara sudah terlilit rapi, dan ada rasa perih yang mendera.
Hal itu berhasil menjadi penyelamatnya disaat bingung menghadapi pertanyaan Umi Fatimah.
Zahra dan Fatimah saling melempar pandang, sambil tersenyum penuh makna. Gadis cantik dari negeri Trio Paman Khan ini memang unik.
Cantik, Cerdas, lincah di medan laga tapi sedikit bar-bar, eh mungkin juga sangat bar-bar hehehe.
Dokter Yoga yang sudah menyelesaikan tugasnya, dan melepaskan stetoskop nya yang tadi bertengger di telinga, untuk memeriksa jantung Sitara yang katanya sakit.
“Nona keadaan anda sudah sangat baik. Kita hanya menunggu hasil dari Laboratorium untuk memastikan semua nya. Setelah itu anda bisa pulang dan perawatan luka nya bisa rawat jalan, seperti yang pernah saya jelaskan sebelumnya.”
Sitara masih terpesona dengan aura yang entah mulai kapan membuat kecerdasannya seakan menurun.
“I-iya Dokter, apa saya gak bisa dirawat disini sampai lukanya sembuh?” Fix Sitara sudah semakin kehilangan wibawa dan kecerdasannya. Demi apa dia berkata seperti itu coba?
“Ehem! Nak Sitara jika memang sudah membaik ,menurut Umi akan lebih baik kita kembali ke Pesantren, nanti Umi dan Zahra akan merawat kamu. Ohh iya Dokter, terimakasih banyak sudah merawat Sitara.”
Dokter muda itu mengguk sopan kepada Fatimah. dan setelah memberikan catatan pada map yang diberikan perawat kepadanya, dokter muda itu berpamitan.
“Nona Sitara, saya mohon ijin permisi dulu, semoga Nona segera sembuh.” tanpa menunggu jawaban Sitara, dia pun melangkah pergi. Beberapa langkah meninggalkan Sitara, Dokter Yoga berbalik,dan tampak mengeluarkan kertas kecil dari saku celana nya.
“Oya, ini kartu nama saya, jika ada sesuatu silahkan hubungi saya Nona.” sekali lagi senyum menawannya mampu menjungkirbalikkan hati Sitara.
Wajah sedih Sitara sesaat merekah ceria bak bunga yang baru saja mekar. Yess akhirnya ya, pucuk dicinta ulam pun tiba.
“Umi, hehehe” Sitara yang sudah kembali pada kewarasannya tampak salah tingkah saat bersilang pandang dengan fatimah.
Sementara Zahra juga masih tampak terkagum-kagum dengan Dokter Yoga yang pagi ini tampak segar dan menawan.
Waahh ini bisa gawat ya, dua gadis kece yang kagum pada satu orang dokter, author ikut kagum juga jadinya saat memikirkannya. Hadeehh virus tamvan ini memang bahaya.
*****
Ghofur yang sudah sampai di rumahnya, tampak resah, dia bingung harus cerita atau tidak dengan istrinya. Karena dia tau istrinya sangat hati-hati dengan keluarga kandidat menantu nya itu.
“Ceroboh! ceroboh! ceroboh! apa yang selama ini aku sudah lakukan? Aaakkhhh!!” Ghofur mengacak rambut nya yang sudah tidak lagi rapi, karena sering dijadikan pelampiasan kebingungannya.
Siti yang memperhatikan tingkah suaminya dari ruang tengah, tampak bingung dan berniat untuk menanyakan ada apa gerangan dengan suaminya yang kusut masai.
Sebelum dia melangkah, tidak lupa dia kembali ke dapur untuk mematikan kompor yang masih menyala untuk mematangkan sayuran yang ada di panci tersebut.
Dengan langkah yang lebar Siti mendekati Ghofur yang sedari tadi masih mondar mandir seperti setrikaan, dan sudah mulai membuat lantai tempat dia berjalan jadi kinclong hehehe.
“Pak, ada apa to kok dari pulang tadi kayaknya kusut? apa calon menantu kita mau dilamar pria lain?” Siti yang bertubuh subur dengan ciri khasnya daster kelelawar dan make up yang sedikit tebal, serta pilihan warna lipstik yang merah menyala.
“Ibu ini ngomongin mantu aja, pikirin urusan usaha kita bu!” Ghofur sedikit menekan kalimat nya karena dia sendiri bingung harus jujur atau tidak sama istrinya.
Karena selama ini dia memang tidak pernah bercerita tentang sepak terjangnya di dunia usaha kepada Siti.
“Lah kok bapak muring-muring (marah-marah) to?, wes pak kalo memang ada masalah sini cerita sama ibu, siapa tau ibu bisa menyelesaikannya.”
Siti langsung menghempaskan pantat nya di sofa empuk yang berada di dekatnya. tidak lupa dia mengambil toples berisi cemilan yang ada di meja kecil samping sofa.
Sesaat Ghofur memandang dengan tatapan kusut ke arah istrinya. Sementara Siti dengan santainya menunggu penjelasan suaminya dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah.
“Masalahnya sudah selesai bu, tapi malu nya yang belum selesai, piye iki?” (gimana ini). Ghofur mengambil posisi duduk di samping istri nya, kakinya terasa pegal karena entah berapa kilometer dia berjalan mondar mandir sedari tadi.
“Ya kalo masih malu ya gak usah keluar rumah dulu pak, gitu aja kok repot.” Siti menghentikan kunyahan di mulutnya sebentar, langsung menanggapi kalimat Ghofur dengan wajah penuh simpati versi siti wkwkwk.
“Enak ya ibu ngomong nya gitu! Besok aku sudah harus bertanggung jawab ke pak Kyai bu!”
Ghofur mulai kesal dengan tanggapan remeh istrinya. “Bapak harus tanggung jawab hal apa? ya tinggal di tanggung to pak, yang sabar, dan kalo memang perlu dijawab, ya tinggal di jawab, beres to?”
Waahh super sekali jawaban Siti, ini benar-benar di luar dugaan Ghofur. Sontak saja wajah Ghofur yang tadinya kesal berubah bingung melihat ketenangan istrinya.
“Ibu ini gak bisa ya berempati sama aku sedikit aja ya? Kalo suami susah itu mbok ya ikut susah, bukannya santai kayak gini. Katanya tadi mau bantuin, sekarang malah bikin kepala ku ruwet!”
Ghofur yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap istrinya, langsung menyemburkan kalimat panjang ungkapan hatinya yang resah gundah gulana.
Siti langsung menegakkan posisi duduknya, menutup toples dan meletakkannya kembali di atas meja. Isi toples yang tadinya penuh dalam hitungan menit sudah hampir habis.
“Bapak mau cerita apa? sini ibu dengarkan.” kali ini nada bicara Siti tampak meneduhkan.
.
.
.
Assalamualaikum.
Maaf ya pemirsa ku tercinta, beberapa hari ini Author kurang sehat, Jadi sering absen Up. Maaf juga ya jika masih banyak salah dan kekurangan dalam cerita ini, mohon dukungannya terus ya agar Author makin semangat nulisnya.
Yuk terus kepoin cerita nya yuk pemirsa.. tengkyuuu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
Musa pesonamu mulai luntur di mata Tara 😅🤣..
Gimana ini Ibu Siti buat Pak Ghafur tambah puyeng 😅
2023-01-13
2