Bab 2 : Kita Berbeda

Ceklek!

Pintu UGD dibuka oleh seorang perawat, diikuti oleh dokter berkacamata yang berdiri di sampingnya, "Siapakah keluarga korban?” Matanya melihat sekitar, dan tampaklah seorang pemuda tampan sederhana dengan jubah seperti santri Pondok. “Apa Anda suaminya? mari ikut sa - - -” belum sempat Dokter itu menyelesaikan kalimatnya, pemuda dengan penuh pesona itu memotongnya dengan cepat, “Maaf Dokter, saya - - -” Satish langsung berdiri sejajar dengan Musa dan memotong kalimat Musa, “Saya Papa nya korban Dokter, dan ini menantu saya” dengan nada tegas Satish menjawab. Dokter Maya memandang mereka bergantian, karena malam sudah semakin larut, Dokter Maya tidak mau membuang waktu untuk menyelidiki kedua orang tersebut. 

“Mari ikut saya!” Dokter Maya yang menangani Sitara, menarik kursi kerja nya, Satish dan Musa mengikuti Dokter Maya dengan menarik dua kursi yang tersedia. Sesaat suasana hening,  Dokter Maya sesaat memperhatikan kedua orang yang menurut penilaian, ini ayah dan suami korban, karena wajah Sitara yang lebih condong mirip Satish. 

"Anda berdua keluarga korban?", Dokter Maya memulai pembicaraan. "Saya Satish, Papa nya Sitara, Dokter, dan ini Musa suaminya," Satish langsung menyerobot untuk bicara, rencana nya akan di mulai dari sekarang, sekilas senyum misterius tersungging di bibirnya. Musa yang duduk di sebelah nya tampak terkejut, dan berusaha untuk membantah, "Maaf, tapi..", kalimat Musa langsung dipotong oleh Satish, "Musa mari kita dengarkan penjelasan Dokter, agar kita segera tau apa yang istrimu alami, sudah tidak usah cemas, papa akan selalu ada untuk kalian". 

Satish berhasil mengendalikan Musa, dia pun tidak lupa untuk menepuk pundak Musa dengan lembut, persis seorang Ayah yang menenangkan anak nya. "Baiklah, apakah anda tahu bahwa istri anda mengemudi dalam pengaruh alkohol?" Dokter Maya memandang Musa tajam, seakan menusuk ke dalam hati Musa. Sesaat dia teringat ketika Umi memarahi nya, ketika dia melakukan kesalahan.

 Musa yang sudah terlanjur masuk dalam permainan Satish hanya menggeleng dengan raut wajah suram, tidak mengerti dan bingung. "Sekarang istri anda mengalami gegar otak ringan, akibat benturan kuat di kepala nya, dan tulang tangannya retak, hal yang paling buruk adalah kondisi lambung nya yg luka, akibat sering nya mengkonsumsi alkohol. Nyonya Sitara akan rawat inap sampai keadaannya membaik. Itu yang bisa saya jelaskan". Musa yang mendengarkan itu tampak lemas. Sekilas raut wajah Musa nampak sedang susah memikirkan istrinya, setidaknya itu yang tertangkap oleh Dokter Maya. 

"Oya, satu lagi, pesan saya, anda harus banyak memberikan perhatian kepada istri anda, jangan sampai dia mencari perhatian di tempat lain seperti sekarang ini!". 

Deg!!

Kalimat Dokter maya yang tajam, setajam silet itu, mampu membuat Musa bingung dan hanya mengangguk. Dalam pikirannya saat ini, ingin sekali dia mengambil jurus langkah seribu agar bisa menjauh dari Dokter dan Satish yang sedari tadi berwajah tenang. 'aku harus apa sekarang, bertemu dengan keluarga aneh yang dengan waktu singkat membuat hidupku dalam drama nyata, selamatkan aku ya Allah', Musa mengusap wajahnya kasar. Satis dan Musa keluar meninggalkan ruangan dokter Maya. 

****

Sitara sudah keluar dari ruang UGD dan dipindah ke ruangan perawatan. Musa sengaja memilihkan ruang VVIP, karena melihat penampilan dan mobil Sitara yang mewah, membuat Musa mengambil keputusan itu. Satish berjalan beriringan dengan Musa tanpa mengeluarkan suara. Satish sudah merancang sebuah rencana, dia yang selama ini tidak bisa mengendalikan Sitara, sekarang menggantungkan harapannya kepada pemuda soleh dan tampan bernama Musa. 

Sesampainya di ruangan, musa duduk di sofa, yang diikuti oleh Satish. Musa tidak ingin menunda waktu lagi untuk meminta penjelasan kepada Satish mengenai status 'suami' dari putrinya, saat berbicara dengan dokter Maya tadi. sekilas dia melihat Sitara yang masih tergeletak di brankar dengan selang infus di tangan nya. wajah cantik Sitara sempat membuat mata Musa terpaku melihatnya. hidung yang tinggi, alis yang tebal, wajah yang tirus dan bibir yang penuh tampak sempurna. Musa segera menundukkan pandanganya, karena gadis cantik itu bukanlah mahramnya. 

“Musa, tolong maafkan saya” Satish membuka pembicaraan, “saya sangat mengerti kebingungan anda, tapi sebelumnya saya mohon nak Musa mau mendengarkan penjelasan saya”. Musa menganggukkan kepala nya tanda setuju. Satish juga tidak lupa menggunakan panggilan ‘Nak’ sebelum nama Musa dia ucapkan, dengan tujuan untuk bisa lebih akrab. “Silahkan Pak Satish, saya akan mendengarkan.” Satish menarik nafas dalam, dia melirik jam di dinding kamar menunjukkan pukul Empat, sebentar lagi akan memasuki waktu subuh, itu artinya Musa akan segera pulang. 

“Sitara putri saya satu-satunya, mama nya, Gauri meninggal saat dia berusia Delapan belas tahun. saya membesarkan dia sendirian, tidak mudah ternyata. Sitara gadis yang cerdas, dia sangat cepat memahami dan mempelajari apapun, tapi mungkin dia kesepian, sehingga kehidupan dunia gemerlap menjadi tempatnya membuang rasa sepi. saya mohon nak Musa berkenan membantu saya, nikahi Sitara dan bimbing dia dalam keyakinan mu.” Musa berusaha tenang, walau dada nya terus saja berisik membunyikan debaran tidak beraturan..

“Saya tidak bermaksud menolak keinginan baik Bapak, tapi saya masih memiliki orang tua, dan saya pun harus membahas ini dengan beliau. saya tidak ingin salah dalam mengambil keputusan Pak. ini kartu nama saya dan alamat rumah saya, jika bapak berkenan, silahkan berkunjung ke rumah saya, agar kita bisa membahas permasalahan ini bersama orang tua saya.” 

“ Tapi kita berbeda Pa!” tanpa mereka sadari ternyata Sitara sudah siuman, dan entah mulai kapan dia mendengarkan pembicaraan kami. “Sayang, kamu sudah sadar?” Satish bergegas mendekati Sitara, dia mengusap lembut kepala Sitara. “Apa yang Papa rencanakan? dan siapa pria itu?” Musa perlahan mendekat, dia hanya sesaat saja memandang wajah cantik yang sedang di ikat perban kepala nya. “Saya Musa mbak, saya yang membawa anda ke rumah sakit ini, anda mengalami kecelakaan, dan maaf tadi saya harus menggendong anda, agar anda bisa saya bawa kesini. mobil anda masih di lokasi kejadian.” Musa menjelaskan dengan singkat agar tidak menimbulkan prasangka buruk di hati Sitara.

“Terimakasih anda sudah membantu saya, apa imbalan yang anda inginkan?” terdengar sombong kalimat yang meluncur dari bibir mungil Sitara. Tanpa basa basi Sitara langsung saja bertanya hal yang tidak pernah diduga oleh Satish dan Musa. Sesaat musa mengangkat wajahnya, mata mereka pun bertemu, ‘Gadis yang sombong’ kalimat itu yang meluncur dari pikiran Musa dan tentu saja itu hanya sebatas kalimat dalam hati. “Saya tidak meminta apapun, semoga anda segera sembuh, dan sekarang sudah ada ayah anda, jadi sebaiknya saya permisi.” Musa sangat memahami karakter gadis manja yang kurang kasih sayang seperti Sitara. Musa berpamitan dengan Satish, tidak lupa dia berjabat tangan dan tidak lama tubuh musa menghilang di balik pintu yang kembali ditutup rapat oleh nya.  

“Apa yang terjadi pada ku Pa? kenapa Papa memohon kepada Musa untuk menikahi ku? apakah dia sudah menodaiku saat aku mabuk?” Satish mengusap wajah nya kasar, dia ingin memarahi putrinya yang sangat tidak tau berterimakasih itu, tapi melihat kondisi putri semata wayang nya saat ini, Satish memilih untuk tetap lembut. Jika dia keras, maka tujuannya tidak akan tercapai, keras kepala Sitara selama ini yang membuat dia kesulitan dalam mendidik gadis cantik yang sekarang ini terbaring lemah di atas brankar nya. 

“Tara, bisa tidak kamu berpikir jernih, coba kau lihat dia, dia pemuda soleh yang menatap mu saja dia tidak mau. dimana akalmu sampai kau berpikir begitu.” rasa kesal tampak tidak bisa dikendalikan, merah, itulah warna yang menguasai wajah Satish. 

Satish perlahan menggeser kursi di dekat brankar dan mengambil posisi duduk di sebelah Sitara. “Papa minta kamu mau menikah dengan Musa. dan Papa tidak menerima penolakan!” Sitara membulatkan matanya, dunianya seakan berbalik, “Tidak akan Pa, kenapa Tara harus menuruti Papa? apa yang sudah Musa lakukan terhadapku, Tara gak mau Pa, titik.” perdebatan mereka akhirnya berhenti saat mendengar suara adzan, sesaat Satish mengingat wajah Musa, ‘dia adalah laki-laki yang tepat’. 

*****

Musa memasuki kawasan rumahnya, halaman yang luas dengan suasana yang nyaman. Pagar tinggi tampak membentang gagah untuk melindungi setiap orang di dalam sana. Penataan bunga dan bangunan tampak rapi dan indah, sehingga membuat nyaman setiap orang yang masuk ke dalam nya. Mobil fortuner hitam yang di kendarai Musa akhirnya sampai di depan pintu pagar. Karena sudah mengenal mobil siapa yang akan masuk, satpam dengan sedikit tergesa berlari ke arah pintu pagar, dengan sigap membukakan pintu besi tersebut. Musa menurunkan kaca jendela di sebelah kanan nya. “Assalamualaikum Pak Pardi” musa dengan ramah menyapa pria paruh baya yang masih tampak gagah dengan seragam Satpam nya. “Waalaikumsalam Mas Ustad” Pak Pardi membalas dengan sedikit membungkukkan badannya. 

Kumandang suara Adzan mengalun merdu membangunkan hamba-hamba Allah yang taat. Dengan langit yang masih indah dihiasi bintang dan bulan yang tersenyum menambah indahnya langit di pagi yang dingin ini. suasana Pondok yang mulai ramai dengan para santri. Mereka bergantian mengambil wudhu, sebagai salah satu rukun wajib untuk menunaikan sholat agar suci saat menghadap sang Illahi Robbi. 

"Assalamualaikum, sepi, ya Allah, terasa lelah badan ini, sebaiknya aku mandi dan langsung sholat. " Musa bermonolog karena dia melihat rumah telah sepi.  Masuk kedalam rumah utama, Musa ingin membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Rumah tampak sepi, Abi dan Umi nya pasti sudah berada di masjid pesantren. Para santri yang tidak biasa di pandangan mata orang awam, tampak sibuk hilir mudik. Kyai Ibrahim mendirikan pesantren untuk anak-anak jalanan, pemabuk, penjudi yang ingin hijrah dan bertaubat. Harus dengan niat yang kuat serta mental yang tangguh untuk mengajarkan mereka. Kyai Ibrahim tidak memandang siapapun, bahkan banyak dari mereka yang di buang oleh keluarga nya. Anak-anak muda yang kehilangan arah, kyai Ibrahim merangkulnya dengan kasih sayang tulus.

Sholat subuh berjamaah selesai dilakukan, para santri istimewa kembali pada jadwal kegiatan masing-masing. Para ustad yang mengajarkan mereka tampak bersiap. Sistem pengajarannya tidak sama dengan sekolah umum, mereka membentuk Halaqah-halaqah (berkumpul dengan posisi duduk melingkar). Dalam satu Halaqah akan dibimbing oleh Satu atau Dua orang Ustadz. Ada yang belajar di gazebo, ada yang belajar di alam terbuka. Sementara ini Kyai Ibrahim hanya menerima santri laki-laki, dengan segala keterbatasan yang ada, Kyai terus bergerak untuk membimbing umat kembali pada jalan Allah sang penguasa alam. "Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, mari kita berdoa dan memohon kepada Allah, agar kita selalu diberikan hidayah Nya!" Ustadz Zain mulai mengajar Halaqah yang diketuai oleh Bram.

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Papa Satish maksudnya baik demi bisa membatasi pergaulan Sitara tapi ga harus maksain Musa jadi mantu 😂

2023-01-13

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kecelakaan
2 Bab 2 : Kita Berbeda
3 Bab 3: Pesantren Istiqomah
4 Bab 4: Keputusan ku
5 BAB 5: Nama ku Sitara
6 Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7 Bab 7: Pindahan
8 Bab 8: Debat Kucing
9 Bab 9: Salah Tangkap
10 Bab 10: Gerombolan Ninja
11 Bab 11: Singa Betina
12 Bab 12: Misi Yang Gagal
13 Bab 13: Dokter Yoga
14 Bab 14: Bos Bawang
15 Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16 Bab 16: Hukuman Yang Beda
17 Bab 17: Tobat Sambel
18 Bab 18: Gantengnya 40%
19 Bab 19: Malunya Aku
20 Bab 20: Waktu Belajar Ku
21 Bab 21: Pulang.
22 Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23 Bab 23: Setajam Samurai
24 Bab 24: Sah
25 Bab 25: Gagal Nikah?
26 Bab 26: Terlihat Tampan
27 Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28 Bab 28: Panggil aku Aby
29 Bab 29: Nikahan Ayu
30 Bab 30: Nubruk Lagi.
31 Bab 31: Nikah Mendadak
32 Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33 Bab 33: Hobi Nubruk
34 Bab 34: Seperti Maling
35 Bab 35: Belajar Bareng 1
36 Bab 36: Belajar bareng 2
37 Bab 37: Salah Paham
38 Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39 Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40 Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41 Bab 41: Gaspol Mas
42 Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43 Bab 43: Hai Tampan
44 Bab 44. Syukuran
45 Bab 45: Daadee Datang
46 Bab 46: Parfum Malam Pertama
47 Bab 47: Dokter Pintu
48 Bab 48: Ketahuan.
49 Bab 49 : Masih sakit?
50 Bab 50: Bertemu Cici
51 Bab 51: Kebakaran
52 Bab 52: Musa kritis
53 Bab 53: Tidak Sanggup
54 Bab 54: Siapa Dev?
55 Bab 55: Obsesi Dev
56 Bab 56: Arya
57 Bab 57: Penyelidikan
58 Bab 58: Gombalan Absurd
59 Bab 60: Face Off
60 Bab 60: Keputusan Face Off
61 Bab 61: Sarung Ninja
62 Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63 Bab 63: Wajah Baru Musa
64 Menjelang Tamat
65 Bab 64: Rencana Party
66 Bab 65: Memaafkan
67 Selamat Tahun Baru 2023
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1: Kecelakaan
2
Bab 2 : Kita Berbeda
3
Bab 3: Pesantren Istiqomah
4
Bab 4: Keputusan ku
5
BAB 5: Nama ku Sitara
6
Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7
Bab 7: Pindahan
8
Bab 8: Debat Kucing
9
Bab 9: Salah Tangkap
10
Bab 10: Gerombolan Ninja
11
Bab 11: Singa Betina
12
Bab 12: Misi Yang Gagal
13
Bab 13: Dokter Yoga
14
Bab 14: Bos Bawang
15
Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16
Bab 16: Hukuman Yang Beda
17
Bab 17: Tobat Sambel
18
Bab 18: Gantengnya 40%
19
Bab 19: Malunya Aku
20
Bab 20: Waktu Belajar Ku
21
Bab 21: Pulang.
22
Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23
Bab 23: Setajam Samurai
24
Bab 24: Sah
25
Bab 25: Gagal Nikah?
26
Bab 26: Terlihat Tampan
27
Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28
Bab 28: Panggil aku Aby
29
Bab 29: Nikahan Ayu
30
Bab 30: Nubruk Lagi.
31
Bab 31: Nikah Mendadak
32
Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33
Bab 33: Hobi Nubruk
34
Bab 34: Seperti Maling
35
Bab 35: Belajar Bareng 1
36
Bab 36: Belajar bareng 2
37
Bab 37: Salah Paham
38
Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39
Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40
Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41
Bab 41: Gaspol Mas
42
Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43
Bab 43: Hai Tampan
44
Bab 44. Syukuran
45
Bab 45: Daadee Datang
46
Bab 46: Parfum Malam Pertama
47
Bab 47: Dokter Pintu
48
Bab 48: Ketahuan.
49
Bab 49 : Masih sakit?
50
Bab 50: Bertemu Cici
51
Bab 51: Kebakaran
52
Bab 52: Musa kritis
53
Bab 53: Tidak Sanggup
54
Bab 54: Siapa Dev?
55
Bab 55: Obsesi Dev
56
Bab 56: Arya
57
Bab 57: Penyelidikan
58
Bab 58: Gombalan Absurd
59
Bab 60: Face Off
60
Bab 60: Keputusan Face Off
61
Bab 61: Sarung Ninja
62
Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63
Bab 63: Wajah Baru Musa
64
Menjelang Tamat
65
Bab 64: Rencana Party
66
Bab 65: Memaafkan
67
Selamat Tahun Baru 2023

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!