Bab 9: Salah Tangkap

Malam mulai beranjak larut, lelah berkeliling seharian membuat Sitara ingin segera merebahkan tubuhnya. setelah membersihkan badan Sitara tidak langsung tidur, dia memeriksa email nya. 

Sedari tadi terus berbunyi notifikasi di ponselnya. Jari-jarinya yang lentik tampak sangat sibuk. Raut wajah serius terpampang jelas di wajahnya. 

Sesekali dia membuang nafas kasar, rasa kesal yang masih berusaha dia ditutupi. Walaupun bergelar Ratu pesta, tetapi Sitara selama ini tetap mengurusi penjualan kain dari pabriknya. 

“Shit.. siapa yang sudah berani mengganggu bisnisku!” Sitara memukul meja rias nya yang dia gunakan sebagai meja kerja. Peralatan kosmetiknya semua tersimpan di lemari yang berada di sisi kiri cermin. jadi meja nya kosong sehingga leluasa untuk di buat bekerja. 

Zahra yang belum tidur pun sedikit menguping apa yang dilakukan Sitara. Zahra yang selama dirumah tidak pernah mendengarkan kalimat kasar, reflek mengucap istighfar “Astaghfirullah, kok sampe segitunya sih kak” cicit Zahra yang sudah tentu tidak terdengar oleh Sitara.

Sitara tidak memperhatikan apa yang dikatakan Zahra. Dia sudah tenggelam dengan pekerjaannya. Sesekali dia melakukan sambungan telepon dengan menggunakan bahasa India. 

Zahra yang ingin menguping seakan terputus koneksi nya,karena tidak mengerti apa yang dibicarakan.

"Andre apa yang sudah kamu lakukan! Kamu melakukan penjualan tanpa ijin dari saya? Kamu tau siapa yang beli kain kita? Itu perusahan saingan kita!! Bodoh kamu Andre!!" Sesaat tampak sitara mendengarkan jawaban dari seberang sana. Dan dia masih dengan mode marah. 

Sambungan telepon diputus sepihak. Dan dia terus melakukan panggilan telepon entah ke siapa lagi, Andre adalah Manajer Keuangan Pabrik Textile yang berada di Surabaya. 

Hingga tanpa terasa Zahra yang sedari tadi menguping, menyerah karena rasa kantuk yang luar biasa.

Seperti dibuai oleh dongeng sebelum tidur, dia pun terlelap dalam mimpi indahnya. Jam di dinding sudah menunjukkan waktu lepas tengah malam. Sitara masih saja larut dalam pekerjaannya. 

*****

Hari sudah merangkak siang, Fatimah yang sedari tadi menunggu Sitara yang tidak kunjung hadir di meja makan, merasa tidak enak hati. 

"Apa dia sakit ya? Tapi tadi kok Zahra gak bilang kalo Sitara sakit?" Fatimah bermonolog sambil melangkahkan kaki ke kamar Zahra. 

Tok..tok..tok..

Tidak ada sautan, Fatimah yang merasa khawatir membuka handle pintu.

Kreeekk!

Pintu yang sengaja tidak di kunci itu terbuka dengan mudahnya, dia langsung mengarahkan pandangan pada ranjang Sitara. Sudah jam Sembilan pagi tapi Sitara masih sangat tenang dalam tidur nya.

"Tara… apa kamu sakit nak?" Fatimah meraba dahi nya dengan lembut. Sitara memiliki kebiasaan, jangan disentuh saat membangunkannya. 

Spontan saja dia terbangun dengan menangkis tangan Fatimah yang masih berada di dahi nya. 

Tap..

Sreet!!!

"Aaaakkhh Astaghfirullah Tara!" Fatimah yang terkejut spontan berteriak dan hampir saja dia terjatuh dari pinggiran ranjang. Beruntung Sitara segera tersadar. 

Dengan gerakan cepat dan tepat, dia langsung menangkap tangan Fatimah. Tubuh Fatimah yang kehilangan keseimbangan nyaris terjatuh menyentuh lantai keramik berwarna putih gading tersebut.

Tap…

Bruk!

Tubuh Fatimah yang sudah tidak muda lagi, terayun mengikuti tarikan tangan Sitara. Fatimah langsung jatuh ke pelukan Sitara. "Umi, maafkan Tara, Umi gak apa-apa kan?" 

Jantung Sitara berdebar kencang, bukan karena takut atau apa, tetapi dia sudah berbuat hal yang memalukan kepada ibu nya Musa, yang notabene calon ibu mertua nya.

‘huff… bodohnya aku, apa yang sudah aku lakukan, jika tadi Umi jatuh, bisa di usir aku dari sini!’ Sitara bergumam di dalam hati.  

Musa yang tidak sengaja mendengar teriakan ibu nya, langsung berlari menuju kamar Zahra, dan dia terkejut melihat kejadian tersebut. Entah terpana atau terpesona, yang jelas Musa berdiri mematung.

Fatimah yang sudah mulai bisa menguasai diri dari keterkejutannya, merenggangkan pelukan Sitara. "Maasya Allah Umi kaget Tara, dan kamu luar biasa, Umi kagum."

Sitara yang masih belum menyadari keberadaan Musa, dia sibuk memeriksa tangan Fatimah. Dia takut Fatimah cedera karena ulah nya. 

"Ehem Umi, Umi ngapain kok bisa kejadian kayak tadi?" Musa yang beberapa detik tadi mematung sudah kembali tersadar. Dengan tergesa dia melangkahkan kakinya menuju ranjang Sitara. Sesaat netra nya terpaku dengan netra berwarna hitam kelam milik Sitara. Tatapan mata Musa tajam seakan memojokkan Sitara. Sitara pun menunduk. 

“Tidak ada apa-apa Musa, Umi tadi kesini untuk melihat kondisi Sitara, karena dari pagi tadi dia tidak datang ke meja makan. Umi kira dia sakit makanya kesini, Alhamdulillah dia tidak apa-apa” Fatimah menjelaskan panjang lebar agar Musa tidak salah paham terhadap Sitara. 

“Umi, Musa, tolong maafkan Tara. Aku tidak punya maksud untuk menyakiti Umi” wajah penuh sesal menggelayut di wajah cantik nya. 

Tara hanya bisa menundukkan wajah nya. “Tara kamu tidak salah Nak, untuk kedepannya Umi tidak akan menyentuhmu saat sedang tidur” Fatimah dengan lembut mengusap kepala Sitara dengan kasih sayang.

mendapat perlakuan seperti itu, hati Sitara yang selama ini dingin kini mulai menghangat. “Ternyata kamu jago ya bela diri, teruslah berlatih dan jangan jadi anak yang manja, Permisi !” 

Musa yang berkata dengan makna yang tersirat itu langsung saja berjalan meninggalkan kamar Zahra dengan langkah besar nya.

Sitara merasa disanjung sekaligus di ejek, kontan saja dia mengangkat kepala nya yang tadi tertunduk dengan rasa bersalah, kini berubah kesal dan mata indah nya membulat sempurna.

“Hey… jangan pergi kamu. Apa maksud…” Sitara yang siap menyemburkan kalimat yang sama pedasnya langsung berhenti dengan usapan lembut fatimah di pundaknya. 

“Sudah lah Tara, gak usah di ladeni, kalian sudah dewasa, malu sama santri yang lain kalau ribut seperti ini. Ayo kita sarapan, kamu mau mandi dulu atau bagaimana?”

tanpa banyak bicara, Sitara langsung melompat dari tempat tidur nya menuju kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Fatimah hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala dan melangkah keluar kamar Zahra. 

Dikamar mandi, Sitara tidak langsung mandi, dia menatap wajahnya di cermin dan terus saja mengacak-acak rambut ikal nya yang panjang. “Haduuhh kenapa harus kejadian kayak gini sih, aku malu Tuhan !, mana kepergok si Musa lagi, harga diri ku hancur sudah. Malu.. malu.. malu.. hu hu hu.” 

sambil terus merutuki nasib di pagi ini, Sitara melanjutkan mandi nya, dia tidak mau mengulang kesalahan dengan fatimah yang menunggu lama. 

Sambil berpakaian dia kembali mematut dirinya di cermin besar milik Zahra. “Ayolah Tara, jangan keluarkan jiwa pendekar mu, kau di tempat yang aman sekarang. Kau lihat Tara, kau salah tangkap” Sitara berbicara dengan pantulannya di cermin. 

Hari terus bergerak dan tanpa terasa jam makan siang pun sampai. dan Sitara tidak jadi sarapan tetapi langsung makan siang. 

.

.

.

Assalamualaikum

Tolong jangan lupa like ya Pemirsa

Kaan.. Kaan..Kaann. Sitara ada-ada aja deh ulah nya, Musa ilfil gak ya? 

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Jangan ledek2 Ustadz nanti kepentok cinta Tara 😅

2023-01-13

0

🍾⃝Tᴀͩɴᷞᴊͧᴜᷡɴͣɢ🇵🇸💖

🍾⃝Tᴀͩɴᷞᴊͧᴜᷡɴͣɢ🇵🇸💖

Widiiih hebat Sitara

2022-10-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kecelakaan
2 Bab 2 : Kita Berbeda
3 Bab 3: Pesantren Istiqomah
4 Bab 4: Keputusan ku
5 BAB 5: Nama ku Sitara
6 Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7 Bab 7: Pindahan
8 Bab 8: Debat Kucing
9 Bab 9: Salah Tangkap
10 Bab 10: Gerombolan Ninja
11 Bab 11: Singa Betina
12 Bab 12: Misi Yang Gagal
13 Bab 13: Dokter Yoga
14 Bab 14: Bos Bawang
15 Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16 Bab 16: Hukuman Yang Beda
17 Bab 17: Tobat Sambel
18 Bab 18: Gantengnya 40%
19 Bab 19: Malunya Aku
20 Bab 20: Waktu Belajar Ku
21 Bab 21: Pulang.
22 Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23 Bab 23: Setajam Samurai
24 Bab 24: Sah
25 Bab 25: Gagal Nikah?
26 Bab 26: Terlihat Tampan
27 Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28 Bab 28: Panggil aku Aby
29 Bab 29: Nikahan Ayu
30 Bab 30: Nubruk Lagi.
31 Bab 31: Nikah Mendadak
32 Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33 Bab 33: Hobi Nubruk
34 Bab 34: Seperti Maling
35 Bab 35: Belajar Bareng 1
36 Bab 36: Belajar bareng 2
37 Bab 37: Salah Paham
38 Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39 Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40 Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41 Bab 41: Gaspol Mas
42 Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43 Bab 43: Hai Tampan
44 Bab 44. Syukuran
45 Bab 45: Daadee Datang
46 Bab 46: Parfum Malam Pertama
47 Bab 47: Dokter Pintu
48 Bab 48: Ketahuan.
49 Bab 49 : Masih sakit?
50 Bab 50: Bertemu Cici
51 Bab 51: Kebakaran
52 Bab 52: Musa kritis
53 Bab 53: Tidak Sanggup
54 Bab 54: Siapa Dev?
55 Bab 55: Obsesi Dev
56 Bab 56: Arya
57 Bab 57: Penyelidikan
58 Bab 58: Gombalan Absurd
59 Bab 60: Face Off
60 Bab 60: Keputusan Face Off
61 Bab 61: Sarung Ninja
62 Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63 Bab 63: Wajah Baru Musa
64 Menjelang Tamat
65 Bab 64: Rencana Party
66 Bab 65: Memaafkan
67 Selamat Tahun Baru 2023
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1: Kecelakaan
2
Bab 2 : Kita Berbeda
3
Bab 3: Pesantren Istiqomah
4
Bab 4: Keputusan ku
5
BAB 5: Nama ku Sitara
6
Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7
Bab 7: Pindahan
8
Bab 8: Debat Kucing
9
Bab 9: Salah Tangkap
10
Bab 10: Gerombolan Ninja
11
Bab 11: Singa Betina
12
Bab 12: Misi Yang Gagal
13
Bab 13: Dokter Yoga
14
Bab 14: Bos Bawang
15
Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16
Bab 16: Hukuman Yang Beda
17
Bab 17: Tobat Sambel
18
Bab 18: Gantengnya 40%
19
Bab 19: Malunya Aku
20
Bab 20: Waktu Belajar Ku
21
Bab 21: Pulang.
22
Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23
Bab 23: Setajam Samurai
24
Bab 24: Sah
25
Bab 25: Gagal Nikah?
26
Bab 26: Terlihat Tampan
27
Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28
Bab 28: Panggil aku Aby
29
Bab 29: Nikahan Ayu
30
Bab 30: Nubruk Lagi.
31
Bab 31: Nikah Mendadak
32
Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33
Bab 33: Hobi Nubruk
34
Bab 34: Seperti Maling
35
Bab 35: Belajar Bareng 1
36
Bab 36: Belajar bareng 2
37
Bab 37: Salah Paham
38
Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39
Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40
Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41
Bab 41: Gaspol Mas
42
Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43
Bab 43: Hai Tampan
44
Bab 44. Syukuran
45
Bab 45: Daadee Datang
46
Bab 46: Parfum Malam Pertama
47
Bab 47: Dokter Pintu
48
Bab 48: Ketahuan.
49
Bab 49 : Masih sakit?
50
Bab 50: Bertemu Cici
51
Bab 51: Kebakaran
52
Bab 52: Musa kritis
53
Bab 53: Tidak Sanggup
54
Bab 54: Siapa Dev?
55
Bab 55: Obsesi Dev
56
Bab 56: Arya
57
Bab 57: Penyelidikan
58
Bab 58: Gombalan Absurd
59
Bab 60: Face Off
60
Bab 60: Keputusan Face Off
61
Bab 61: Sarung Ninja
62
Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63
Bab 63: Wajah Baru Musa
64
Menjelang Tamat
65
Bab 64: Rencana Party
66
Bab 65: Memaafkan
67
Selamat Tahun Baru 2023

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!