Malam mulai beranjak larut, lelah berkeliling seharian membuat Sitara ingin segera merebahkan tubuhnya. setelah membersihkan badan Sitara tidak langsung tidur, dia memeriksa email nya.
Sedari tadi terus berbunyi notifikasi di ponselnya. Jari-jarinya yang lentik tampak sangat sibuk. Raut wajah serius terpampang jelas di wajahnya.
Sesekali dia membuang nafas kasar, rasa kesal yang masih berusaha dia ditutupi. Walaupun bergelar Ratu pesta, tetapi Sitara selama ini tetap mengurusi penjualan kain dari pabriknya.
“Shit.. siapa yang sudah berani mengganggu bisnisku!” Sitara memukul meja rias nya yang dia gunakan sebagai meja kerja. Peralatan kosmetiknya semua tersimpan di lemari yang berada di sisi kiri cermin. jadi meja nya kosong sehingga leluasa untuk di buat bekerja.
Zahra yang belum tidur pun sedikit menguping apa yang dilakukan Sitara. Zahra yang selama dirumah tidak pernah mendengarkan kalimat kasar, reflek mengucap istighfar “Astaghfirullah, kok sampe segitunya sih kak” cicit Zahra yang sudah tentu tidak terdengar oleh Sitara.
Sitara tidak memperhatikan apa yang dikatakan Zahra. Dia sudah tenggelam dengan pekerjaannya. Sesekali dia melakukan sambungan telepon dengan menggunakan bahasa India.
Zahra yang ingin menguping seakan terputus koneksi nya,karena tidak mengerti apa yang dibicarakan.
"Andre apa yang sudah kamu lakukan! Kamu melakukan penjualan tanpa ijin dari saya? Kamu tau siapa yang beli kain kita? Itu perusahan saingan kita!! Bodoh kamu Andre!!" Sesaat tampak sitara mendengarkan jawaban dari seberang sana. Dan dia masih dengan mode marah.
Sambungan telepon diputus sepihak. Dan dia terus melakukan panggilan telepon entah ke siapa lagi, Andre adalah Manajer Keuangan Pabrik Textile yang berada di Surabaya.
Hingga tanpa terasa Zahra yang sedari tadi menguping, menyerah karena rasa kantuk yang luar biasa.
Seperti dibuai oleh dongeng sebelum tidur, dia pun terlelap dalam mimpi indahnya. Jam di dinding sudah menunjukkan waktu lepas tengah malam. Sitara masih saja larut dalam pekerjaannya.
*****
Hari sudah merangkak siang, Fatimah yang sedari tadi menunggu Sitara yang tidak kunjung hadir di meja makan, merasa tidak enak hati.
"Apa dia sakit ya? Tapi tadi kok Zahra gak bilang kalo Sitara sakit?" Fatimah bermonolog sambil melangkahkan kaki ke kamar Zahra.
Tok..tok..tok..
Tidak ada sautan, Fatimah yang merasa khawatir membuka handle pintu.
Kreeekk!
Pintu yang sengaja tidak di kunci itu terbuka dengan mudahnya, dia langsung mengarahkan pandangan pada ranjang Sitara. Sudah jam Sembilan pagi tapi Sitara masih sangat tenang dalam tidur nya.
"Tara… apa kamu sakit nak?" Fatimah meraba dahi nya dengan lembut. Sitara memiliki kebiasaan, jangan disentuh saat membangunkannya.
Spontan saja dia terbangun dengan menangkis tangan Fatimah yang masih berada di dahi nya.
Tap..
Sreet!!!
"Aaaakkhh Astaghfirullah Tara!" Fatimah yang terkejut spontan berteriak dan hampir saja dia terjatuh dari pinggiran ranjang. Beruntung Sitara segera tersadar.
Dengan gerakan cepat dan tepat, dia langsung menangkap tangan Fatimah. Tubuh Fatimah yang kehilangan keseimbangan nyaris terjatuh menyentuh lantai keramik berwarna putih gading tersebut.
Tap…
Bruk!
Tubuh Fatimah yang sudah tidak muda lagi, terayun mengikuti tarikan tangan Sitara. Fatimah langsung jatuh ke pelukan Sitara. "Umi, maafkan Tara, Umi gak apa-apa kan?"
Jantung Sitara berdebar kencang, bukan karena takut atau apa, tetapi dia sudah berbuat hal yang memalukan kepada ibu nya Musa, yang notabene calon ibu mertua nya.
‘huff… bodohnya aku, apa yang sudah aku lakukan, jika tadi Umi jatuh, bisa di usir aku dari sini!’ Sitara bergumam di dalam hati.
Musa yang tidak sengaja mendengar teriakan ibu nya, langsung berlari menuju kamar Zahra, dan dia terkejut melihat kejadian tersebut. Entah terpana atau terpesona, yang jelas Musa berdiri mematung.
Fatimah yang sudah mulai bisa menguasai diri dari keterkejutannya, merenggangkan pelukan Sitara. "Maasya Allah Umi kaget Tara, dan kamu luar biasa, Umi kagum."
Sitara yang masih belum menyadari keberadaan Musa, dia sibuk memeriksa tangan Fatimah. Dia takut Fatimah cedera karena ulah nya.
"Ehem Umi, Umi ngapain kok bisa kejadian kayak tadi?" Musa yang beberapa detik tadi mematung sudah kembali tersadar. Dengan tergesa dia melangkahkan kakinya menuju ranjang Sitara. Sesaat netra nya terpaku dengan netra berwarna hitam kelam milik Sitara. Tatapan mata Musa tajam seakan memojokkan Sitara. Sitara pun menunduk.
“Tidak ada apa-apa Musa, Umi tadi kesini untuk melihat kondisi Sitara, karena dari pagi tadi dia tidak datang ke meja makan. Umi kira dia sakit makanya kesini, Alhamdulillah dia tidak apa-apa” Fatimah menjelaskan panjang lebar agar Musa tidak salah paham terhadap Sitara.
“Umi, Musa, tolong maafkan Tara. Aku tidak punya maksud untuk menyakiti Umi” wajah penuh sesal menggelayut di wajah cantik nya.
Tara hanya bisa menundukkan wajah nya. “Tara kamu tidak salah Nak, untuk kedepannya Umi tidak akan menyentuhmu saat sedang tidur” Fatimah dengan lembut mengusap kepala Sitara dengan kasih sayang.
mendapat perlakuan seperti itu, hati Sitara yang selama ini dingin kini mulai menghangat. “Ternyata kamu jago ya bela diri, teruslah berlatih dan jangan jadi anak yang manja, Permisi !”
Musa yang berkata dengan makna yang tersirat itu langsung saja berjalan meninggalkan kamar Zahra dengan langkah besar nya.
Sitara merasa disanjung sekaligus di ejek, kontan saja dia mengangkat kepala nya yang tadi tertunduk dengan rasa bersalah, kini berubah kesal dan mata indah nya membulat sempurna.
“Hey… jangan pergi kamu. Apa maksud…” Sitara yang siap menyemburkan kalimat yang sama pedasnya langsung berhenti dengan usapan lembut fatimah di pundaknya.
“Sudah lah Tara, gak usah di ladeni, kalian sudah dewasa, malu sama santri yang lain kalau ribut seperti ini. Ayo kita sarapan, kamu mau mandi dulu atau bagaimana?”
tanpa banyak bicara, Sitara langsung melompat dari tempat tidur nya menuju kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Fatimah hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala dan melangkah keluar kamar Zahra.
Dikamar mandi, Sitara tidak langsung mandi, dia menatap wajahnya di cermin dan terus saja mengacak-acak rambut ikal nya yang panjang. “Haduuhh kenapa harus kejadian kayak gini sih, aku malu Tuhan !, mana kepergok si Musa lagi, harga diri ku hancur sudah. Malu.. malu.. malu.. hu hu hu.”
sambil terus merutuki nasib di pagi ini, Sitara melanjutkan mandi nya, dia tidak mau mengulang kesalahan dengan fatimah yang menunggu lama.
Sambil berpakaian dia kembali mematut dirinya di cermin besar milik Zahra. “Ayolah Tara, jangan keluarkan jiwa pendekar mu, kau di tempat yang aman sekarang. Kau lihat Tara, kau salah tangkap” Sitara berbicara dengan pantulannya di cermin.
Hari terus bergerak dan tanpa terasa jam makan siang pun sampai. dan Sitara tidak jadi sarapan tetapi langsung makan siang.
.
.
.
Assalamualaikum
Tolong jangan lupa like ya Pemirsa
Kaan.. Kaan..Kaann. Sitara ada-ada aja deh ulah nya, Musa ilfil gak ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
Jangan ledek2 Ustadz nanti kepentok cinta Tara 😅
2023-01-13
0
🍾⃝Tᴀͩɴᷞᴊͧᴜᷡɴͣɢ🇵🇸💖
Widiiih hebat Sitara
2022-10-23
0