Fatimah memeriksa luka di lengan Sitara “Ya Allah luka nya dalam sekali, ini harus dibawa kerumah sakit, Musa! Ibrahim yang melihat keadaan itu langsung mengambil kunci mobil nya.
“Ayo Musa, Zahra kita bawa Sitara ke rumah sakit. Zahra bawa pakaian ganti Sitara, cepat!” Fatimah berusaha mengangkat tubuh Sitara, tapi tidak bisa, Musa yang melihat hal tersebut tampak kebingungan.
“Musa ayo angkat, tunggu apa lagi!” Musa tidak menunggu lama langsung meraup tubuh Sitara yang tidak sadarkan diri. Dengan hati-hati Musa meletakkan Sitara di bangku tengah, Fatimah dan Zahra yang sudah masuk duluan langsung memposisikan tubuh Sitara dengan nyaman.
“Musa, kamu saja yang menyetir.” dengan cepat Musa mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas Enam Puluh, karena jalan sepi dan dengan perhitungan yang sudah di ukur oleh Musa.
Sesampai di rumah sakit, para perawat langsung menyambut tubuh Sitara yang sudah bersimbah darah. Kyai Ibrahim dan keluarganya menunggu di depan ruang UGD. Musa terus melakukan koordinasi dengan santri-santri yang ada di pondok.
*****
Di tempat lain, tampak Ghofur mondar mandir di ruang kerja nya. raut wajahnya yang sudah tampak menua. “Selama ini aksi kita tidak pernah gagal, siapa gadis itu?” sorot matanya yang tajam, lurus menatap Jon yang berdiri mematung dengan lutut bergetar.
“Sa-saya tidak tau Pak, saya berhasil meloloskan diri agar bisa memberikan laporan ke Bapak” dengan suara bergetar Jon menjelaskan keadaan. “Bodoh kalian semua! dia hanya seorang gadis, kenapa kalian bisa dibikin kocar-kacir begini!” Suara Gofur yang keras menggema di seluruh ruang kerja nya.
Jon tidak lagi berani menatap Ghofur. Sementara gofur melakukan beberapa panggilan telepon untuk mencari jalan keluar masalahnya. “Frans, lakukan yang terbaik, aku tidak mau Ibrahim mengetahui kalau akulah yang selama ini mengganggu perkebunannya! ada Lima orang orangku yang sampai sekarang belum kembali, mungkin mereka sudah tertangkap, aku mengandalkanmu Frans!”
Ghofur memutuskan sambungan telepon dengan orang yang dipanggilnya Frans. selama ini Ghofur selalu berhasil merusak hasil kebun Ibrahim, agar harga penjualannya jatuh. dan dia bisa merebut pasar Ibrahim.
Kali ini misi nya gagal. Hal ini yang sangat dia tidak sukai. jika hasil panen Ibrahim bagus, maka sudah bisa dipastikan Ibrahim tidak akan membeli hasil panen dari kebun nya. Selama ini, Ibrahim akan membeli hasil panen dari Ghofur untuk menutupi jumlah yang seharusnya diadakan.
Hal yang paling dia takutkan adalah, jika salah satu anak buah nya yang mungkin sudah tertangkap sekarang, menyebutkan nama nya. Maka tamatlah riwayat nya. Kyai Ibrahim adalah sosok yang disegani di daerah tersebut. Tidak hanya itu, efek dari kuatnya pengaruh media sosial saat ini, Kyai Ibrahim dan putra nya Musa sering viral karena ceramah-ceramahnya.
Tidak hanya dari kalangan pesantren saja yang segan dengan nya, tetapi jajaran Kepolisian, TNI bahkan Bupati atau Gubernur sering datang untuk minta nasehat kepada Ibrahim.
Sosok sederhana dan selalu membawa kedamaian kepada siapa saja ini lah yang membuat Ibrahim disegani kawan maupun lawan. Saat Ghofur mengingat akan hal itu, tiba-tiba saja dia merasa takut. Mentalnya yang serakah mulai dihantui dengan ketakutan demi ketakutan.
“Jon pantau keadaan pesantren. sebentar lagi Subuh, aku sudah meminta Frans untuk menyelamatkan mereka. karena feeling ku mereka semua tertangkap.” Jon yang sedari tadi menunduk mengangkat wajahnya. “Ba-baik pak, saya jalan sekarang.
Ghofur tampak kacau, beberapa kali dia mengacak rambutnya yang sudah memutih dan menipis. sekali lagi dia melakukan sambungan telepon “Frans, Gimana?” Ghofur tampak semakin gelisah. “saya sudah menemukan mereka pak, mereka diikat, pendopo tani yang biasa digunakan untuk pertemuan, dijadikan tempat untuk mengikat mereka di kursi.”
Beberapa ustadz senior terus menginterogasi mereka satu-satu. Tidak menggunakan kekerasan, walaupun Dimas dan Fahad yang sudah tidak sabaran, ingin sekali memberikan bogem mentahnya ke mereka.
Ustadz Zain dan Ustadz Ali mengumpulkan beberapa barang bukti berupa cairan pestisida yang ditemukan. Ustadz Ali yang juga seorang sarjana pertanian, dan yang bertanggung jawab terhadap semua pertanian di pesantren.
Beberapa santri berkumpul di pendopo, mereka yang menemukan beberapa barang bukti, langsung duduk lesehan karena kelelahan. tampak Ustadz Ali meneliti satu persatu hasil temuan para santri.
“Astaghfirullah ini pestisida!” Santri yang sedari tadi menunggu penjelasan Ustadz Ali, tampak menajamkan perhatiannya. “Perlu kalian ketahui, kerusakan tanaman akibat pestisida dan insektisida, mungkin terjadi dan berkisar dari gejala ringan hingga parah." Sesaat Ustadz Ali menjeda kalimatnya.
"Sebenarnya, tanaman yang disemprotkan pestisida bisa mengalami cedera yang dikenal sebagai fitotoksisitas. Dan ini membuat tanaman tidak tumbuh secara baik."
Para santri yang masih fokus mendengarkan tampak menganggukkan kepala nya.
"Kerusakan tanaman yang disebabkan pestisida beragam, tergantung pada jenis bahan kimia, tanaman, dan faktor lainnya." Ustadz Ali mengusap wajah nya kasar. Berusaha tenang agar tidak memancing emosi para santri.
"Mulai dari, daun tanaman terbakar, daun gugur, daun berubah warna, daun menggulung, pertumbuhan tanaman tidak normal, hingga kematian tanaman."
Para santri dan Ustadz yang mendengarkan penjelasan dari Ustadz Ali, merasa geram. Mereka sudah bisa menyimpulkan. Dengan mereka menyemprotkan pestisida ini maka tanaman akan menerima dengan dosis yang berlebih.
Sudah ada jadwal untuk pemupukan, penyiraman dan lain sebagainya, semua sudah diatur oleh Ustadz Ali sebagai manajer pertanian di pesantren Istiqomah.
*****
Kyai dan keluarganya masih tampak gelisah karena Dokter belum juga keluar dari ruang tindakan. Sekilas dia melihat benda Bulat di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.
Dia berniat untuk menghubungi Satish, tapi masih ragu. Sementara Musa yang sedari tadi duduk di kursi ruang tunggu, tampak kelelahan. Fatimah dan zahra yang terus saja berdzikir untuk menenangkan hati mereka masing-masing, memilih untuk tidak bertanya apa-apa kepada musa, walau berbagai pertanyaan telah siap meluncur dari bibir nya.
“Pak Kyai Ibrahim?” seorang dokter yang berperawakan tinggi, dengan wajah khas oriental dan tampan, memanggil nama Ibrahim. Sontak saja Ibrahim berdiri diikuti oleh Musa mendekati dokter itu.
“Bagaimana keadaan anak kami Dokter? Ibrahim yang sudah tidak sabar, langsung bertanya. “ Dokter tersenyum ramah tampak menenangkan. sekilas Ibrahim membaca papan nama yang tersemat di pakaian seragam Dokter. Yoga Prasetya, nama yang bagus.
“Mari ikut keruangan saya Kyai.” tidak banyak bicara Kyai dan Musa mengikuti langkah dokter Yoga. “Pak kyai, Luka yang dialami Sitara cukup dalam sehingga kami harus menjahitnya. Ada juga beberapa cedera otot dan luka-luka kecil. Sitara masih dalam pengaruh obat bius saat ini. sejauh ini dia kondisi nya kuat. tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Nyeesss
ada rasa lega di hati Kyai dan Musa. walau lukanya dalam, setdaknya kondisi Sitara baik-baik saja. “Sitara akan dipindahkan ke ruang rawat, dan segera di selesaikan administrasi nya ya Pak.”
“Baik Dokter, terima kasih banyak, anda sudah melakukan yang terbaik untuk anak kami.” mereka pun saling berjabat tangan. Ibrahim dan Musa keluar ruangan dan menghilang di balik tembok. “Gadis yang cantik.” dokter Yoga Bergumam dan tersenyum tipis.
.
.
.
Assalamualaikum
Tolong jangan lupa Like ya pemirsa
Sepertinya Musa akan ada saingan nih hehehe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
Ehm.. saingan Musa sudah muncul nih.. Uda syukur hasil kebunnya dibeli oleh Kyai Ibrahim masi saja menjahati biar hasil panen rendah
2023-01-13
1
🍾⃝ͩкυᷞzͧєᷠуᷧ уιℓ∂ιzι🥑⃟𐋂⃟ʦ林
done like semua bab Thor
2022-09-15
3