Musyawarah dalam menyelesaikan masalah yang dibuat oleh pak Ghofur dianggap selesai. Dan mulai besok Ghofur bersedia menunaikan janji nya.
Para Ninja juga sudah dibebaskan bersyarat, dengan syarat mereka mau membantu pak Ghofur dalam menunaikan janji nya kepada pesantren Istiqomah.
Mereka sepakat untuk ikutan nyantri di pesantren, takluk dengan cara Kyai Ibrahim menyelesaikan masalah. Mereka sudah menyakiti, tapi justru di perlakukan baik.
Sungguh inilah keteduhan dalam dakwah yang mampu menggetarkan hati mereka yang selama ini mengeras laksana batu gunung.
Musa dan Satish kembali ke rumah sakit untuk menjelaskan semua kejadian tadi. Setelah Musa menunaikan sholat Dzuhur, mereka berdua memilih untuk menggunakan satu mobil saja, dengan alasan Satish ingin berbincang dengan Musa.
Kyai Ibrahim memilih untuk tinggal di rumah karena terlalu lelah. Sementara mobil Musa dibawa oleh supir yang biasa bertugas di pondok, agar memudahkan untuk membawa Bu nyai Fatimah dan Zahra kembali pulang.
Selama di perjalanan Satish merasa banyak sekali pertanyaan di pikirannya, yang awam dengan kebijaksanaan seperti yang dilakukan oleh Kyai tadi.
Selama ini dunia bisnis dia lalui dengan baik, walau rintangan dan hambatan luar biasa mendera, tapi dia tetap saja mampu mengatasinya.
Tetapi keputusan Kyai tadi, itu sangat di luar nalar bagi nya. Bagaimana bisa mereka diloloskan begitu saja, ya jika dibandingkan dengan Rasul ya jelas beda lah, sangkal nya dalam benak yang tak terdengar.
"Nak Musa, boleh saya ingin mengenal nak Musa lebih jauh?" Satish membuka obrolan dengan basa basi terlebih dahulu.
Musa yang sedang duduk di sebelah Satish yang sedang mengemudi, menoleh sesaat memperhatikan wajah Satish yang masih serius melihat jalan raya di siang yang lumayan padat.
"Silahkan pak, dengan senang hati" jawabnya sedikit canggung. Sesaat Satish melihat Musa yang tampak santai dengan celana jeans warna biru, dengan baju koko modern yang membuat penampilannya tampak segar.
“Nak Musa, Jujur saya masih belum mengerti dengan jalan pikiran Kyai Ibrahim, kenapa begitu mudahnya memaafkan Ghofur. Sementara hal ini sudah yang ketiga kali dia lakukan. sementara Sitara pun menjadi korban. Ini gimana ya?”
Musa memahami apa yang Satish rasakan, tapi memang seperti inilah Abi nya merangkul orang-orang yang mungkin tersesat dalam kebimbangan godaan dunia.
“Ehemm..” Musa sedikit merubah posisi duduk nya. “Pak Satish, selama ini kami merangkul orang-orang yang tersesat karena nafsu nya. Hukuman bukanlah satu-satunya jalan untuk membuat mereka berubah. Tapi kesadaran, rasa malu dan keinginan untuk kembali menjadi manusia yang baik, itulah yang akan membuat mereka Istiqomah atau menetapkan hatinya untuk selalu berada di jalan Allah.”
Musa berusaha menjelaskan dengan panjang lebar dengan pemahaman yang sederhana. Satish yang menyimak dengan tekun, merasa ada gelenyar aneh di hatinya. sesuatu yang dingin menyadarkan akan kekerasan hati dan pikirannya.
Mereka terus saja berbincang, Musa yang juga mulai bisa mengikuti alur obrolan dengan Satish, mulai merasa nyaman, dan sekaligus banyak ilmu yang diserap dari dunia bisnis.
*****
“AYUUUUU!!!” teriakan Sitara yang heboh itu mengejutkan Fatimah dan Zahra yang tampak mulai mengantuk duduk di sofa. Sitara yang tampak bosan mulai membuka gawai nya, dan mencari nomor telepon sahabatnya.
“Astagfirullah Umi kaget, kirain ada apa.” Fatimah menggumam dan mencari posisi untuk kembali memejamkan mata nya. Sementara Sitara tetap pada kehebohannya yang sudah tersambung dengan Ayu.
“Taraaaa!!!, lo kemana ajaaa, Gue sampe lumutan nunggu kabar lo yang semedi gak berkesudahan!” Ayu yang tidak kalah heboh pun menyambut dan nyerocos menyambut sapaan dari sahabatnya.
“Aduuhh panjang deh ceritanya, tapi so far so good (sejauh ini baik) gue berada di pesantren ini. Lo tau Yu, gue sekarang lagi di rumah sakit, tumbang gue dikepret sama ninja yang tak diundang!”
Sitara yang sudah di frekuensi yang sama dengan Ayu, melupakan sikap kalem dan manis nya selama beberapa minggu di rumah Kyai Ibrahim.
“Hah Lo kenapa Beb?, Lo berantem lagi?” Ayu yang sudah tau gimana Sitara langsung panik, dalam pikirannya, dia akan merasa bersalah karena tidak bisa menemani sahabatnya yang sedang di rumah sakit.
“Jadi, tadi malem tu, ada kunjungan dari orang-orang yang sengaja mau ngerusak perkebunan pesantren. dan Lo tau - - -” Sitara tanpa menunggu persetujuan Ayu untuk bercerita, langsung mengeluarkan semua kisah yang terjadi.
Ayu yang di seberang sana, mendengarkan dengan sesekali berteriak heboh gak ketulungan menanggapi cerita Sitara. Ayu sesaat melupakan dia sedang berada dimana dan sudah menjadi bahan tontonan dari beberapa karyawannya.
Hancur sudah wibawa nya selama beberapa minggu ini dia bangun di kantor. Ayu sudah kembali ke kantor Papinya, tekad Ayu untuk memajukan perusahaan dan meneruskan kerja keras Papinya.
Ayu dan Sitara memang senang sekali berpesta di klub malam, tetapi semua itu tidak mengurangi komitmen nya dalam pekerjaan. Kurangnya perhatian dari keluarga itulah yang membuat mereka mencari kebahagiaan dengan versi mereka.
“Terus gimana kabar Mas Ustadz calon laki Lo? udah ada kemajuan belum nih? atau jangan-jangan Lo yang berubah niat?” pertanyaan yang semuanya diajukan dalam waktu bersamaan membuat Sitara tertawa keras di ujung sana, sampai ayu sedikit merenggangkan benda pipih nan pintar itu dari telinga nya.
“Ha-ha-ha… Lo ngasih pertanyaan ngalah-ngalahin wartawan gosip yak, ntar Gue bikin jumpa pers aja deh ha - ha - ha” Bukannya memberikan jawaban, Sitara malah membahas yang lainnya. Satu hal yang dia lupa, Zahra dan Fatimah masih menelinga setiap pembicaraannya.
“Jadi kisah Gue dan Ustadz Gaul itu belum ada perkembangan yang hore. Jadi lo harus sabar, karena Gue sekarang lagi seneng-senengnya belajar. Dan Lo tau Yu, Gue ngerasa makin haus ilmu deh tiap kali dengerin Abi atau Ustadz Gaul yang tampan pujaan hati Gue itu lagi ceramah.”
Fatimah yang sedari tadi mendengarkan, hanya tersenyum-senyum samar. Dia ingin mendengarkan semua pendapat Sitara tentang Putra nya.
“HHmm Gue yang udah gak sabar Tara!, secara Lo kan udah ngelamar dia, laah sekarang lamaran Lo di gantung dong Beb?”
Suara Ayu yang makin membahana semakin membuat karyawannya penasaran dengan tingkah bos nya yang sudah duduk di atas meja dengan bersila. Ayu mulai lupa dengan sekitarnya ya hehehe.
“Gue kayaknya mulai menemukan tujuan hidup Yu. Sepertinya Gue akan bersyahadat dalam waktu dekat ini, Gue hanya tinggal menunggu jawaban dari Tuhan atas satu pertanyaan Gue.” Kali ini suara Sitara berubah tegas dan bersungguh-sungguh. Hening. Sesaat dua sahabat ini terdiam saling menyelami kalimat terakhir yang Sitara ucapkan.
“Tapi Yu, Gue juga mulai ada pandangan lain, disini ada dokter ganteng nama nya Yoga. IIhhh wajahnya nya itu ganteng nya 40%, pesona nya 40%, sisa nya entah lah apa yang bikin gue tertarik, naahh kan galau Gue Yu”
Plak
Ayu menepuk dahi nya. Dia yang tadinya sudah pada mode serius dengan cerita Sitara yang ingin bersyahadat, jadi merasa berputar sendiri dunia nya.
Mulai deh Sitara kumat dengan penyakit maruk nya yang pantang liat orang ganteng. dan itu yang bikin Ayu gemas. Sementara Sitara yang sesaat lupa dengan keadaan di ruangan itu, terdiam dan membulatkan mata indahnya yang menatap ke arah pintu masuk.
Entah kemana saja pendengarannya sedari tadi, sehingga dia tidak mendengar ketika pintu ruangannya di ketuk. Tubuh tinggi dan atletis dengan berbalut baju kebesarannya berwarna putih sudah berada dekat dengan brankar nya.
“D-Dokter Yoga?” terbata kalimat yang keluar dari bibir tipis Sitara. Sesaat tubuhnya membeku, sejak kapan dokter tampan ini mendengarkan rumpainnya bersama Ayu?.
Ah entah apa sekarang yang terjadi dengan wajah nya, memerah atau mungkin sudah membiru akibat malu. Dengan cepat dia mematikan sambungan di telepon pintar nya.
.
.
.
Assalamualaikum
Maafkan ya pemirsa.. beberapa hari ini Nuna sakit, jadi absen Up deh kemarin. Jangan lupa Like dan komen ya pemirsa, biar semangat Nuna Nulisnya. terima kasih
Malu tingkat dewa deh ya kalo ketahuan sama pak dokter ini. Gimana nasib Sitara ya setelah ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
makanya direm kalau ngomong Tara jangan kayak bajai laju terus 😅🤣🤣
2023-01-13
2