Setelah melakukan shalat subuh, mereka kembali pada tugasnya masing-masing. para Ninja yang tadinya di ikat di kursi dengan tangan dan kaki yang terikat. sekarang mereka dibiarkan duduk lesehan di pendopo.
Dua orang santri nampak membawa makanan dan minuman. Para ninja yang yang menjadi tawanan bingung, makanan dihidangkan untuk mereka dan para ustadz yang bertugas menjaga mereka.
“Mari kita sarapan dulu mas-mas semuanya, maaf hanya sarapan sederhana yang bisa kami hidangkan." Ustadz Zain membuka pembicaraan.
"I-iya ustadz, terimakasih banyak, jadi gak enak kita klo begini ustadz hehehe." Ninja yang bernama Joko, tampak tidak enak, karena diperlakukan sangat baik oleh para ustadz. Tapi pada kenyataannya dia lapar.
"Ayo lur (sedulur), ndang dipangan, rejeki ojo di tolak!" (Ayo saudara, cepat dimakan, rejeki jangan ditolak). Joko dengan wajah sumringah mengajak teman-teman nya untuk segera makan.
Sesaat dia lupa dengan statusnya sebagai tamu yang tak diharapkan. Rasa lapar yang luar biasa merayapi ruang lambung nya, membuat hatinya berbunga saat di suguhkan sarapan yang sangat diharapkan.
"Aku ora penak e, awake dewe ki wes gawe salah, lah kok malah di jamu ngene Jok?" (Aku nggak enak, kita ini sudah bikin salah, kok diberi makan). Salah satu ninja yang bernama sarmin berbisik malu-malu.
"Wes ayo Min, jangan banyak omong!" Joko dan yang lainnya langsung menyantap makanan yang dihidangkan dengan semangat, karena memang mereka sangat lapar.
Para ninja masih bertanya-tanya di hati mereka, hukuman apa yang akan mereka terima, bayangan menyeramkan sering melintas. Sarapan yang terhidang, kandas sudah.
Kesadaran Joko akan statusnya sebagai tawanan pun sudah kembali, sehingga pada suapan terakhir dia memikirkan hukuman atau siksaan apa yang akan mereka terima.
Biasanya jika sudah tertangkap begini, habis lah badan ini babak belur, muka bonyok. Boro-boro di kasih makan, di kasih minum aja sudah suatu keajaiban.
Bruummm
Bruummm
Dua buah mobil tampak terparkir di halaman parkir pesantren. Tampak Ibrahim, Musa dan Satish keluar dari mobil. Tampak wajah Musa yang tidak bisa di sembunyikan lelah nya, tetapi tidak mengurangi ketampanan serta kharisma yang selalu membuat adem yang melihat.
Mereka bertiga langsung menuju pendopo, dan mereka yang menunggu disana tampak bersiap menyambut. Satish yang sudah kesal ingin sekali rasanya memberikan pelajaran kepada para Ninja yang sudah kurang ajar tersebut.
Sesekali Satish melihat ekspresi Ibrahim dan Musa. bapak dan anak itu memiliki ketampanan berbeda. walau sudah termakan usia, Ibrahim masih terlihat garis-garis ketampanan dan wibawa. berjalan tenang dengan wajah tak beriak.
Terbuat dari apa orang ini, sehingga memiliki ketenangan seperti ini. padahal Putrinya sudah menjadi korban dari keserakahan mereka. Satish terus saja menduga-duga.
“Assalamualaikum, kedatangan tamu kita rupanya.” Secara bersamaan mereka menjawab salam Ibrahim dan Musa. para ninja tertunduk malu. Ibrahim menduduki Kursi kebesarannya yang tanpa kaki. Sehingga tetap lesehan.
Sesaat pandangannya menyapu para Ninja yang duduk berjejer. “Saya dengan dari Ustadz Zain yang melakukan interogasi semalam sudah ada yang mengakui, kalau kegiatan merusak hasil kebun kami sudah tiga kali kalian lakukan.”
Sesaat Kyai menjeda kalimatnya sambil terus menatap teduh kepada mereka, dan mereka tetap bergeming. “Siapa yang bernama Joko? bisakah memberikan keterangan dengan jujur?”
Orang yang disebut nama nya mendadak gemetar. Dengan perlakuan baik ini hatinya berperang sendiri, merasa tidak pantas untuk terus menyakiti. Tetapi tidak mungkin dia membocorkan siapa yang sudah mempekerjakan mereka. Perang batin membuat keringat dingin mengucur deras dari kening nya.
“Nak joko, apakah kamu bersedia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ehem..” Joko berdehem untuk mengurangi kecanggungannya. “Mohon maaf Kyai, kami hanya disuruh, kami tidak ada niat untuk mencelakai perkebunan di pesantren ini, kami mohon maafkan kami Kyai.”
Karena bingung harus berkata apa, Joko hanya mampu mengatakan kalau dia hanyalah seorang pekerja. tetapi itu bukanlah keterangan yang diharapkan.
“Kenapa bos kalian menyuruh hal yang salah seperti ini?” Kembali jantung mereka berlima berdegup kencang. Serba salah, serba tidak enak, walau mereka preman bayaran, ternyata hati nurani mereka masih bisa disentuh dengan kebaikan.
“Anu- ini- eh gimana ya Kyai, saya pasrah lah, Kyai mau apakan kami” kegugupan dan rasa putus asa menguasai hati dan pikiran. Seperti memakan buah simalakama, jujur akan disiksa oleh anak buah Kyai, dan sudah pasti akan dihukum juga oleh bos nya.
"Anu -anu.. giliran udah begini aja, gugup, semalem waktu belum ketangkep gayanya udah kayak ninja hatori aja!" salah satu santri yang tampak geram, menggerutu, tapi cukup di dengar oleh Kyai.
Kyai hanya tersenyum serta melirik sebentar ke arah santri nya yang tampak emosi. Sementara para ninja masih bingung harus bagaimana.
Jika memilih untuk tidak jujur, hati nurani mereka semua pun berontak. mereka berlima tampak saling melempar pandang, seakan lewat sorotan mata, mereka saling berkata dan setuju suara mereka di wakilkan oleh Joko.
Sesaat Ibrahim menarik nafas dalam dan tampak berpikir sejenak. “Bismillahirrohmanirrohim, begini saudara ku semua, saya memutuskan untuk memaafkan apa yang sudah saudara kita lakukan. Karena di awal tadi mereka sudah meminta maaf. Tetapi Bisakah kalian mengantarkan saya kepada bos kalian?”
Saat kata maaf diucapkan oleh Kyai tadi menggema dan membuat beberapa orang tampak tidak terima, tapi memilih diam karena menunggu langkah apa berikutnya yang akan diambil oleh kyai.
Sementara, para ninja yang tadinya serentak mengangkat kepala yang tadinya menunduk, raut wajah lega dan sumringah menghiasi wajah-wajah lelah mereka.
Tetapi dalam waktu yang singkat kelegaan itu berubah menjadi ketakutan. “Ma-maaf Kyai, bagaimana nasib kami nanti?” Kyai mengusap wajahnya kasar. “kalau memang kalian tidak ingin membawa saya kesana, tolong katakan siapa yang sudah membayar kalian?”
Para ninja kompak melakukan musyawarah, mereka saling berbisik, Kyai memberikan waktu untuk mereka berembug.
Mereka menemukan kesimpulan, pertimbangannya karena mereka sudah diperlakukan dengan sangat baik, padahal mereka sudah membuat anggota keluarga Kyai masuk rumah sakit akibat pertarungan yang mereka sebabkan.
“Pak Kyai, sebenarnya yang membayar kami selama ini adalah pak Ghofur” joko menyebutkan nama itu sambil memejamkan mata nya. Dia menunggu reaksi Kyai. Ajaib, kenapa Kyai dan yang lainnya sangat tenang?
Baiklah, terimakasih atas kejujuran yang sudah kalian lakukan, sekarang kalian silahkan beristirahat. Musa, Zain tolong berikan ruang untuk tamu kita beristirahat. perlakukan mereka selayaknya tamu!”
Semua yang hadir tampak terkejut dengan keputusan Kyai. mereka merasa tidak terima, semudah itu Kyai memutuskan hal yang besar seperti ini.
Musa dan Zain melaksanakan perintah Kyai, mereka menggiring kelima orang ninja yang hanya bisa berterimakasih dengan kebaikan Kyai. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti Musa dan Zain.
"Semoga mereka menyadari kesalahan yang sudah dilakukan ya mas Ustadz, seru juga klo suatu hari nanti mereka ikut ngaji kesini, menjadi Ninja yang insyaf hehehe."
"Ha-ha-ha waahh jadi makin semangat itu nanti santri yang lainnya, ustadz Zain siap mendidik mereka ya?" Musa yang mendengar harapan Zain jadi ikut tertawa dan berharap yang sama.
Sementara di tempat lain, tampak Frans yang sedari tadi mengintai, bingung, karena para tawanan di perlakukan dengan baik. Sekarang apa yang harus dilakukannya? Tugasnya di awal membantu para ninja untuk lolos.
Tapi ternyata mereka malah tampak enak-enakan sarapan pagi dan sekarang malah digiring ke sebuah bangunan yang bertuliskan, RUANGAN UNTUK TAMU.
Frans yang tidak membawa hasil dari kerja nya, memutuskan untuk kembali ke markas Ghofur. Dia sudah mempersiapkan apa yang akan dilaporkan.
Para ninja sama sekali tidak ada yang disakiti, bahkan sekarang mereka akan menikmati waktu istirahat sampai menunggu keputusan berikutnya.
“APA! MEREKA TIDAK DISIKSA?!” Suara Ghofur yang membahana memenuhi ruangan membuat Frans tersurut langkahnya ke belakang sambil menutup telinga nya.
.
.
.
Assalamualaikum
Jangan lupa Like ya pemirsa dan ikuti terus cerita nya
Gemess ya liat pak Ghofur ini, kok malah kaget anak buah nya gak disiksa, harusnya kan seneng yak.. jadi penasaran deeh…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
iya biar mereka insyaf Ghafur dari tipu dayamu
2023-01-13
0