Bab 14: Bos Bawang

Satish yang mendapat kabar subuh tadi dari Ibrahim mengenai keadaan Sitara, langsung bergegas melajukan mobil mewahnya menuju daerah tempat Kyai kharismatik itu ber berada. 

Karena hari masih gelap, Satish melajukan kecepatan yang cukup tinggi. tidak sabar rasanya dia untuk segera bertemu dengan putri nya. Belum lama rasanya Sitara yang mengalami kecelakaan tunggal dan akhirnya bertemu dengan Musa si ustadz gaul dan kekinian itu. 

Sekarang kembali kabar Sitara masuk rumah sakit membuat Satish khawatir. Sitara putri cantiknya itu tidak pernah absen dari tanggung jawabnya dalam pekerjaan. Pekerjaan trading yang dia lakukan dari jarak jauh tidak ada yang zonk. 

Walaupun dia sering sekali berpesta di klub malam dengan teman-temannya, tapi Sitara tidak pernah berbuat lebih dari itu. Dia sangat tau batasan, itu semua untuk dirinya sendiri dan masa depannya. 

Pemasaran dalam maupun luar negeri terus dia lakukan, dan harus Satish akui bahwa penjualan dari perusahaan Santhi Textile terus meningkat. tanpa terasa mobilnya memasuki halaman parkir rumah sakit yang sudah diberitahukan Ibrahim saat sambungan telepon tadi.   

Satish tampak tergesa menyusuri koridor rumah sakit. Tampak raut gelisah menghiasi wajah paruh baya itu. Perasaannya yang sangat gelisah membuat langkah kaki Satish jadi setengah berlari. dia ingin melihat kondisi putrinya. 

Ibrahim dan yang lainnya sudah berada di dalam ruangan Sitara. Setelah kejadian konyol di luar ruangan itu terjadi, akhirnya mereka semua masuk kembali ke ruangan Sitara.

Ceklek

Daun pintu ruangan VIP itu bergerak terbuka. Satish melangkah masuk dengan wajah cemas yang belum juga hilang dari wajah itu. 

Selamat pagi Kyai, Bu Nyai, Musa dan Zahra. Ada apa dengan Sitara, Kyai?” mereka yang ada di situ menjawab salam dari Satish dan tersenyum ramah sambil mengangguk kecil. 

Kyai mensejajarkan langkahnya dengan Satish menuju brankar Sitara. Mus mengekor dari belakang, sementara fatimah yang tadinya duduk di sofa, kembali berdiri untuk menyiapkan minum dan cemilan seadanya untuk Satish dan semuanya. 

“Papa” Sitara yang sedari tadi mengetahui kedatangan Satish, berusaha untuk duduk, tapi kembali dia menghempaskan tubuhnya karena rasa pusing yang mendera.

“Papa disini sayang, kamu tiduran saja jangan dipaksakan untuk duduk.” Satish mengusap rambut sitara yang hitam dan berkilau indah. “Apa yang sudah terjadi Tara?” Sesaat Sitara menatap Musa dan Kyai bergantian. Musa mengangguk kecil sebagai isyarat untuk Sitara mulai bercerita.

“Papa, nampaknya pesantren memiliki musuh atau mungkin orang yang iri. Mereka mengincar perkebunan yang selama ini menjadi salah satu roda ekonomi pesantren. Tara tidak tau, apa yang sudah atau akan mereka lakukan.” Tara menjeda sejenak ceritanya, dia mengambil gelas yang ada di meja dekat brankar nya. 

Satish yang mengetahui hal itu, dengan sigap membantu Sitara untuk minum. “Bisakah kamu ceritakan kejadiannya Tara?” Sitara mengangguk. 

“Awalnya Tara mendengar suara yang mencurigakan dari jendela kamar Zahra, dan …” Sitara menceritakan semuanya secara lengkap. Semua yang mendengarkan terus menyimak sambil terus berfikir, siapa dalang dari semua ini. 

“Mereka menyiramkan pestisida dengan jumlah yang melebihi takaran. hal ini bisa berakibat fatal pada hasil panen nanti pak. Barang bukti sudah kami kumpulkan dan para ninja saat ini juga sudah ditahan oleh para santri.” Musa melanjutkan cerita Sitara.

Musa yang terus memantau perkembangan melalui sambungan telepon dengan para Ustadz di pesantren ,jadi tau keadaan disana seperti apa. Satish mengalihkan pandangannya kepada musa dan kyai.  

“Saya tidak tau kejadian ini sebelumnya. tetapi dari pergerakan mereka saya curiga hal ini sebenarnya sudah sering mereka lakukan.” Musa mencurigai hal tersebut karena tadi ustadz Zain menginformasikan tentang hasil investigasi mereka kepada para ninja. 

Salah satu dari ninja yang mengaku bernama Joko, memberikan keterangan bahwa dia sudah tiga kali ditugaskan bos nya untuk melakukan pengrusakan di kebun pesantren.

“Apakah Kyai memiliki musuh di bisnis ini?” Satish menanyakan hal yang selama ini tidak pernah ada di dalam pikiran Ibrahim. karena selama ini dia merasa tidak ada mengusik siapapun.

Semua hasil kebun, tambak dan kandang ayam itu untuk para santri. Dari awal Ibrahim mendirikan pesantren memang tidak ingin bergantung dari donatur.

Pola pendidikan yang Ibrahim lakukan memang tidak sama dengan pesantren lain. Selain mengajarkan tentang agama, Ibrahim akan menggali potensi santri dalam keterampilan.

Hal ini dilakukan agar kelak mereka bisa melanjutkan hidup di masyarakat dengan bekal ilmu agama dan keterampilan. 

“Saya merasa tidak punya musuh pak Satish, tapi jika orang yang menganggap saya musuh nya, ya saya tidak berani untuk berpikir hal itu.”

“Tunggu dulu, tadi Musa bilang ninja yang bernama Joko mengatakan sudah tiga kali ditugaskan melakukan hal ini. Apakah Kyai sering mengalami gagal panen?” Sitara mulai mengurai benang merah dari peristiwa ini.

“Kalau gagal panen sih gak ya, tapi kita selalu kekurangan untuk memenuhi jumlah yang diminta pelanggan, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti ini. Nah akhirnya kita membeli barang ke pak Ghofur” Ibrahim memberikan informasi yang beberapa masa ini terjadi dengan usaha mereka. 

“Siapa pak Ghofur?” Satish mulai menerka-nerka di dalam pikirannya. “Pak ghofur itu bos bawang, beliau terkenal disini. Dia memiliki kebun bawang puluhan hektar, dan sekarang mulai merambah ke yang lainnya.” Ibrahim menjelaskan tentang Ghofur, juragan bawang yang sudah kaya sejak dia lahir. 

“Sejak kapan Kyai selalu membeli hasil kebunnya?” Kyai tampak berpikir mengingat. “Kurang lebih sekitar enam bulan ini pak. Varian yang ditanam oleh pak Ghofur sama dengan kami, dan itu yang sudah memiliki pelanggan tetap.” 

Musa menganggukkan kepala dan bersilang pandang dengan Ibrahim. Selama ini memang mereka tidak pernah merasa ada persaingan.

Bisnis yang di bangun sejak awal berdirinya pesantren itu tidak untuk mencari kekayaan pribadi, tetapi untuk membiayai para santri yang sebagian besar dari anak-anak tanpa keluarga.

“Tara mencurigai dia Pa!” Sitara langsung menyimpulkan. "Dia sengaja melakukan itu agar bisa memasukkan hasil kebunnya dalam penjualan Abi, Tara yakin itu." 

Satish tampak menganggukkan kepalanya. Kyai dan Musa yang selama ini tidak pernah berprasangka buruk, tampak saling melempar pandang. 

"Sebaiknya kita melakukan investigasi lebih lanjut Kyai. Sampai ketemu siapa dalang dari semua ini. Saya tidak akan tinggal diam jika dalang nya sudah ketemu Kyai!" 

Satish tampak geram dengan orang yang sudah berani mengusik ketentraman pesantren. Mereka bertiga berencana untuk kembali ke pesantren, Ibrahim dan Musa tampak bersemangat karena mendapat dukungan dari Satish. 

latar belakang Satish yang murni pengusaha,, sudah sangat akrab dengan persaingan bisnis seperti ini, mulai dari yang persaingan sehat sampai persaingan dengan cara-cara yang hitam.

Ibrahim dan Musa berangkat dengan menggunakan mobil mereka, sementara Satish memilih untuk mengendarai mobil nya sendiri.

Pelaku bisnis yang dilandasi dengan iman dan taqwa, akan selalu berhati-hati. Allah yang maha segalanya akan membuat diri ini takut akan murka Nya. Begitu juga sebaliknya. 

.

.

.

Assalamualaikum

Mohon dukungan untuk karya Nuna ya pemirsa, maafkan jika masih banyak kesalahan dan kekurangan, Nuna masih terus belajar. terimakasih :)

Gimana ya nasib para Ninja…

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Good job Papa Satish bantu Kyai Ibrahim untuk mengetahui siapa dalangnya.. sini aku bisikin, Ghafur yang selama ini pasok hasil panen ke penjualan Abi Kyai Ibrahim

2023-01-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Kecelakaan
2 Bab 2 : Kita Berbeda
3 Bab 3: Pesantren Istiqomah
4 Bab 4: Keputusan ku
5 BAB 5: Nama ku Sitara
6 Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7 Bab 7: Pindahan
8 Bab 8: Debat Kucing
9 Bab 9: Salah Tangkap
10 Bab 10: Gerombolan Ninja
11 Bab 11: Singa Betina
12 Bab 12: Misi Yang Gagal
13 Bab 13: Dokter Yoga
14 Bab 14: Bos Bawang
15 Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16 Bab 16: Hukuman Yang Beda
17 Bab 17: Tobat Sambel
18 Bab 18: Gantengnya 40%
19 Bab 19: Malunya Aku
20 Bab 20: Waktu Belajar Ku
21 Bab 21: Pulang.
22 Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23 Bab 23: Setajam Samurai
24 Bab 24: Sah
25 Bab 25: Gagal Nikah?
26 Bab 26: Terlihat Tampan
27 Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28 Bab 28: Panggil aku Aby
29 Bab 29: Nikahan Ayu
30 Bab 30: Nubruk Lagi.
31 Bab 31: Nikah Mendadak
32 Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33 Bab 33: Hobi Nubruk
34 Bab 34: Seperti Maling
35 Bab 35: Belajar Bareng 1
36 Bab 36: Belajar bareng 2
37 Bab 37: Salah Paham
38 Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39 Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40 Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41 Bab 41: Gaspol Mas
42 Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43 Bab 43: Hai Tampan
44 Bab 44. Syukuran
45 Bab 45: Daadee Datang
46 Bab 46: Parfum Malam Pertama
47 Bab 47: Dokter Pintu
48 Bab 48: Ketahuan.
49 Bab 49 : Masih sakit?
50 Bab 50: Bertemu Cici
51 Bab 51: Kebakaran
52 Bab 52: Musa kritis
53 Bab 53: Tidak Sanggup
54 Bab 54: Siapa Dev?
55 Bab 55: Obsesi Dev
56 Bab 56: Arya
57 Bab 57: Penyelidikan
58 Bab 58: Gombalan Absurd
59 Bab 60: Face Off
60 Bab 60: Keputusan Face Off
61 Bab 61: Sarung Ninja
62 Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63 Bab 63: Wajah Baru Musa
64 Menjelang Tamat
65 Bab 64: Rencana Party
66 Bab 65: Memaafkan
67 Selamat Tahun Baru 2023
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Bab 1: Kecelakaan
2
Bab 2 : Kita Berbeda
3
Bab 3: Pesantren Istiqomah
4
Bab 4: Keputusan ku
5
BAB 5: Nama ku Sitara
6
Bab 6: Lamar Aku atau kau Ku lamar
7
Bab 7: Pindahan
8
Bab 8: Debat Kucing
9
Bab 9: Salah Tangkap
10
Bab 10: Gerombolan Ninja
11
Bab 11: Singa Betina
12
Bab 12: Misi Yang Gagal
13
Bab 13: Dokter Yoga
14
Bab 14: Bos Bawang
15
Bab 15: Ninja Yang Insyaf
16
Bab 16: Hukuman Yang Beda
17
Bab 17: Tobat Sambel
18
Bab 18: Gantengnya 40%
19
Bab 19: Malunya Aku
20
Bab 20: Waktu Belajar Ku
21
Bab 21: Pulang.
22
Bab 22: Banteng Kehilangan Tanduk
23
Bab 23: Setajam Samurai
24
Bab 24: Sah
25
Bab 25: Gagal Nikah?
26
Bab 26: Terlihat Tampan
27
Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
28
Bab 28: Panggil aku Aby
29
Bab 29: Nikahan Ayu
30
Bab 30: Nubruk Lagi.
31
Bab 31: Nikah Mendadak
32
Bab 32: Mahar Rp. 10.000
33
Bab 33: Hobi Nubruk
34
Bab 34: Seperti Maling
35
Bab 35: Belajar Bareng 1
36
Bab 36: Belajar bareng 2
37
Bab 37: Salah Paham
38
Bab 38; Mau Cepet Punya Anak.
39
Bab 39: Nyari Dokter Kandungan
40
Bab 40: Bersama Dokter Siska Andriani. SpOG
41
Bab 41: Gaspol Mas
42
Bab 42: Aku Bersedia Hidup Bersamamu
43
Bab 43: Hai Tampan
44
Bab 44. Syukuran
45
Bab 45: Daadee Datang
46
Bab 46: Parfum Malam Pertama
47
Bab 47: Dokter Pintu
48
Bab 48: Ketahuan.
49
Bab 49 : Masih sakit?
50
Bab 50: Bertemu Cici
51
Bab 51: Kebakaran
52
Bab 52: Musa kritis
53
Bab 53: Tidak Sanggup
54
Bab 54: Siapa Dev?
55
Bab 55: Obsesi Dev
56
Bab 56: Arya
57
Bab 57: Penyelidikan
58
Bab 58: Gombalan Absurd
59
Bab 60: Face Off
60
Bab 60: Keputusan Face Off
61
Bab 61: Sarung Ninja
62
Bab 62: Mantan Tunangan Ku
63
Bab 63: Wajah Baru Musa
64
Menjelang Tamat
65
Bab 64: Rencana Party
66
Bab 65: Memaafkan
67
Selamat Tahun Baru 2023

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!