Satish yang mendapat kabar subuh tadi dari Ibrahim mengenai keadaan Sitara, langsung bergegas melajukan mobil mewahnya menuju daerah tempat Kyai kharismatik itu ber berada.
Karena hari masih gelap, Satish melajukan kecepatan yang cukup tinggi. tidak sabar rasanya dia untuk segera bertemu dengan putri nya. Belum lama rasanya Sitara yang mengalami kecelakaan tunggal dan akhirnya bertemu dengan Musa si ustadz gaul dan kekinian itu.
Sekarang kembali kabar Sitara masuk rumah sakit membuat Satish khawatir. Sitara putri cantiknya itu tidak pernah absen dari tanggung jawabnya dalam pekerjaan. Pekerjaan trading yang dia lakukan dari jarak jauh tidak ada yang zonk.
Walaupun dia sering sekali berpesta di klub malam dengan teman-temannya, tapi Sitara tidak pernah berbuat lebih dari itu. Dia sangat tau batasan, itu semua untuk dirinya sendiri dan masa depannya.
Pemasaran dalam maupun luar negeri terus dia lakukan, dan harus Satish akui bahwa penjualan dari perusahaan Santhi Textile terus meningkat. tanpa terasa mobilnya memasuki halaman parkir rumah sakit yang sudah diberitahukan Ibrahim saat sambungan telepon tadi.
Satish tampak tergesa menyusuri koridor rumah sakit. Tampak raut gelisah menghiasi wajah paruh baya itu. Perasaannya yang sangat gelisah membuat langkah kaki Satish jadi setengah berlari. dia ingin melihat kondisi putrinya.
Ibrahim dan yang lainnya sudah berada di dalam ruangan Sitara. Setelah kejadian konyol di luar ruangan itu terjadi, akhirnya mereka semua masuk kembali ke ruangan Sitara.
Ceklek
Daun pintu ruangan VIP itu bergerak terbuka. Satish melangkah masuk dengan wajah cemas yang belum juga hilang dari wajah itu.
Selamat pagi Kyai, Bu Nyai, Musa dan Zahra. Ada apa dengan Sitara, Kyai?” mereka yang ada di situ menjawab salam dari Satish dan tersenyum ramah sambil mengangguk kecil.
Kyai mensejajarkan langkahnya dengan Satish menuju brankar Sitara. Mus mengekor dari belakang, sementara fatimah yang tadinya duduk di sofa, kembali berdiri untuk menyiapkan minum dan cemilan seadanya untuk Satish dan semuanya.
“Papa” Sitara yang sedari tadi mengetahui kedatangan Satish, berusaha untuk duduk, tapi kembali dia menghempaskan tubuhnya karena rasa pusing yang mendera.
“Papa disini sayang, kamu tiduran saja jangan dipaksakan untuk duduk.” Satish mengusap rambut sitara yang hitam dan berkilau indah. “Apa yang sudah terjadi Tara?” Sesaat Sitara menatap Musa dan Kyai bergantian. Musa mengangguk kecil sebagai isyarat untuk Sitara mulai bercerita.
“Papa, nampaknya pesantren memiliki musuh atau mungkin orang yang iri. Mereka mengincar perkebunan yang selama ini menjadi salah satu roda ekonomi pesantren. Tara tidak tau, apa yang sudah atau akan mereka lakukan.” Tara menjeda sejenak ceritanya, dia mengambil gelas yang ada di meja dekat brankar nya.
Satish yang mengetahui hal itu, dengan sigap membantu Sitara untuk minum. “Bisakah kamu ceritakan kejadiannya Tara?” Sitara mengangguk.
“Awalnya Tara mendengar suara yang mencurigakan dari jendela kamar Zahra, dan …” Sitara menceritakan semuanya secara lengkap. Semua yang mendengarkan terus menyimak sambil terus berfikir, siapa dalang dari semua ini.
“Mereka menyiramkan pestisida dengan jumlah yang melebihi takaran. hal ini bisa berakibat fatal pada hasil panen nanti pak. Barang bukti sudah kami kumpulkan dan para ninja saat ini juga sudah ditahan oleh para santri.” Musa melanjutkan cerita Sitara.
Musa yang terus memantau perkembangan melalui sambungan telepon dengan para Ustadz di pesantren ,jadi tau keadaan disana seperti apa. Satish mengalihkan pandangannya kepada musa dan kyai.
“Saya tidak tau kejadian ini sebelumnya. tetapi dari pergerakan mereka saya curiga hal ini sebenarnya sudah sering mereka lakukan.” Musa mencurigai hal tersebut karena tadi ustadz Zain menginformasikan tentang hasil investigasi mereka kepada para ninja.
Salah satu dari ninja yang mengaku bernama Joko, memberikan keterangan bahwa dia sudah tiga kali ditugaskan bos nya untuk melakukan pengrusakan di kebun pesantren.
“Apakah Kyai memiliki musuh di bisnis ini?” Satish menanyakan hal yang selama ini tidak pernah ada di dalam pikiran Ibrahim. karena selama ini dia merasa tidak ada mengusik siapapun.
Semua hasil kebun, tambak dan kandang ayam itu untuk para santri. Dari awal Ibrahim mendirikan pesantren memang tidak ingin bergantung dari donatur.
Pola pendidikan yang Ibrahim lakukan memang tidak sama dengan pesantren lain. Selain mengajarkan tentang agama, Ibrahim akan menggali potensi santri dalam keterampilan.
Hal ini dilakukan agar kelak mereka bisa melanjutkan hidup di masyarakat dengan bekal ilmu agama dan keterampilan.
“Saya merasa tidak punya musuh pak Satish, tapi jika orang yang menganggap saya musuh nya, ya saya tidak berani untuk berpikir hal itu.”
“Tunggu dulu, tadi Musa bilang ninja yang bernama Joko mengatakan sudah tiga kali ditugaskan melakukan hal ini. Apakah Kyai sering mengalami gagal panen?” Sitara mulai mengurai benang merah dari peristiwa ini.
“Kalau gagal panen sih gak ya, tapi kita selalu kekurangan untuk memenuhi jumlah yang diminta pelanggan, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti ini. Nah akhirnya kita membeli barang ke pak Ghofur” Ibrahim memberikan informasi yang beberapa masa ini terjadi dengan usaha mereka.
“Siapa pak Ghofur?” Satish mulai menerka-nerka di dalam pikirannya. “Pak ghofur itu bos bawang, beliau terkenal disini. Dia memiliki kebun bawang puluhan hektar, dan sekarang mulai merambah ke yang lainnya.” Ibrahim menjelaskan tentang Ghofur, juragan bawang yang sudah kaya sejak dia lahir.
“Sejak kapan Kyai selalu membeli hasil kebunnya?” Kyai tampak berpikir mengingat. “Kurang lebih sekitar enam bulan ini pak. Varian yang ditanam oleh pak Ghofur sama dengan kami, dan itu yang sudah memiliki pelanggan tetap.”
Musa menganggukkan kepala dan bersilang pandang dengan Ibrahim. Selama ini memang mereka tidak pernah merasa ada persaingan.
Bisnis yang di bangun sejak awal berdirinya pesantren itu tidak untuk mencari kekayaan pribadi, tetapi untuk membiayai para santri yang sebagian besar dari anak-anak tanpa keluarga.
“Tara mencurigai dia Pa!” Sitara langsung menyimpulkan. "Dia sengaja melakukan itu agar bisa memasukkan hasil kebunnya dalam penjualan Abi, Tara yakin itu."
Satish tampak menganggukkan kepalanya. Kyai dan Musa yang selama ini tidak pernah berprasangka buruk, tampak saling melempar pandang.
"Sebaiknya kita melakukan investigasi lebih lanjut Kyai. Sampai ketemu siapa dalang dari semua ini. Saya tidak akan tinggal diam jika dalang nya sudah ketemu Kyai!"
Satish tampak geram dengan orang yang sudah berani mengusik ketentraman pesantren. Mereka bertiga berencana untuk kembali ke pesantren, Ibrahim dan Musa tampak bersemangat karena mendapat dukungan dari Satish.
latar belakang Satish yang murni pengusaha,, sudah sangat akrab dengan persaingan bisnis seperti ini, mulai dari yang persaingan sehat sampai persaingan dengan cara-cara yang hitam.
Ibrahim dan Musa berangkat dengan menggunakan mobil mereka, sementara Satish memilih untuk mengendarai mobil nya sendiri.
Pelaku bisnis yang dilandasi dengan iman dan taqwa, akan selalu berhati-hati. Allah yang maha segalanya akan membuat diri ini takut akan murka Nya. Begitu juga sebaliknya.
.
.
.
Assalamualaikum
Mohon dukungan untuk karya Nuna ya pemirsa, maafkan jika masih banyak kesalahan dan kekurangan, Nuna masih terus belajar. terimakasih :)
Gimana ya nasib para Ninja…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Defi
Good job Papa Satish bantu Kyai Ibrahim untuk mengetahui siapa dalangnya.. sini aku bisikin, Ghafur yang selama ini pasok hasil panen ke penjualan Abi Kyai Ibrahim
2023-01-13
1