Setelah bertahun-tahun dan melewati beribu bulan, Alexius merasa sedikit banyak ingatannya yang selama ini hilang. Kembali muncul. Ia sedikit perlahan mengingatnya kembali. Ia sungguh merasa senang.
Hatinya senang. Kembali lagi mengingat apa yang terjadi di masa lalu hingga serumit ini.
Soal Adriana?
Ya, ternyata, yang dikatakan mamahnya benar adanya. Dahulu, dia pernah ada percikan rasa pada gadis yang dikenalnya sangat anggun, kalem dan cantik itu.
Namun, kenyataan yang saat ini ia alami, membuat rasa itu hilang begitu saja. Apalagi, dirinya sudah memiliki seorang istri yang cantik, mandiri, perhatian, pengertian padanya.
Untuk cinta? Tak perlu ditanya, akan ada saatnya untuk mengungkapkannya sendiri-sendiri.
Sayang? Tentu saja dia sudah memiliki rasa sayang yang mendalam untuk istrinya.
Dan tentang Adriana? Sungguh, dia sebenarnya takut bahwasanya jika perempuan itu muncul, maka menambah runyam masalah yang ada.
Perasaannya kala itu sudah diketahui oleh Adriana. Bahkan dengan bodoh, dia sendiri mengungkapkan.
Flashback
“Ana, Bolehkah aku mencintaimu?”
Alexius sangat terpesona dengan kecantikan, kelembutan, keanggunan Adriana. Gadis yang dia panggil Ana. Panggilan dekatnya.
“Kau menyukaiku Alex?” Tanyanya. Alexius mengangguk cepat.
“Bolehkah aku mencintai, dan bolehkah aku menjadikanmu kekasihku.”
Adriana kala itu menggeleng.
Alexius merubah wajahnya muram seketika.
“Aku tak ingin berpacaran. Aku ingin langsung menikah. Karena bila sudah terikat pasti, kita takkan bisa menghianati pasangan kita.”
Seketika raut muram itu berubah senyum lebar. Tak menyangka jawaban Adriana akan begitu.
Dengan mengangguk, dia berucap, “Jika begitu, tunggulah aku lima tahun lagi. Aku pastikan, akan meminangmu segera. Dan menjadikanmu istriku di masa depan.”
Flashback end
Alexius meraup wajahnya mengingat kembali masa itu. Bodohnya dia mengucapkan kalimat itu. Yang malah menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
Skakmat.
Dia tak ingin hidupnya hancur. Dan berakhir kehilangan Arocha, baginya, perempuan itu adalah belahan hatinya sekarang dan selamanya.
Ia sungguh benar-benar tulus menyayangi wanitanya.
“Oh ****!!! Tak bisa dibiarkan. Apa aku harus berpura-pura tetap amnesia agar saat Adriana muncul, aku tak mengingat masa lalu itu?”
“Mengapa aku bodoh sekali bisa mengucapkan janji itu. Hancur hidupku!” Resahnya sembari mengacak-acak rambut rapinya dan membungkuk duduk diatas sofa empuk dalam kamarnya.
****
Masa lalu? Ya, Alexius hanya menganggap Adriana masa lalunya. Masa lalu yang hah tepatnya.
Dia tak menyangka, bahwa dulu begitu tergila-gila pada Adriana seperti dia menggilai Arocha sekarang ini. Bedanya, kali ini dia lebih dan sangat menggilai Arocha, bahkan sangat takut kehilangan wanitanya.
Apa dia sudah cinta? Tentu sudah.
****
Drrttttt
Drrttttt
Dalam kebingungan nya memikirkan banyak hal, dia mengangkat telepon. Karena, yang meneleponnya adalah pujaan hatinya, istrinya, Arocha-nya.
“Halo...”
Alexius tersenyum bak orang gila ketika mendengar sapaan halus dari seberang.
“Iya?”
Dia menggigit bibir dalamnya menahan gemas dan rasa ingin berteriak sangking senangnya. Sesederhana itulah dia.
“Emm, kira-kira, kapan kau akan kembali pulang ke rumah kita--Eh rumahku?”
Bolehkah Alexius berteriak. Rumah kita?
Hahahaha, Dia senang sekali. Ocha menganggap rumahnya adalah rumah ia dan wanita itu.
“Kau maunya kapan aku pulang?”
Terdiam. Alexius sendiri menunggu jawaban dari sang pujaan hati.
“Secepatnya.”
Tut.
Oh ****! Salting sudah dirinya.
Secepatnya? Apa artinya wanita itu merindukan dia?
Kalau begitu, berarti sama dengannya. Karena ia pula merindukan wanitanya. Sangat.
****
Sementara di seberang sana. Arocha merutuki dirinya.
“Secepatnya? Tadi aku mengucapkan itu? Bodoh, bodoh, bodoh kau Ocha! Duhh malunya aku!!”
Ocha memukul pelan kepalanya. Dia merasa pipinya panas. Kemudian menenggelamkan wajahnya pada banyak tidurnya yang sudah ia ganti seprainya.
“Apa aku terlihat sangat merindukan dan ingin bertemu dengannya? Jika iya, tolong dunia, bawalah aku kabur!!!” Teriaknya pelan.
Ia gemas pada dirinya sendiri. Yang dengan frontal berucap dengan pede.
Huh.
“Kenapa aku jadi terbayang adegan malam itu sih.. Hilanglah dari pikiranku!!!” Rutuknya pada ingatan nya.
Pipinya semakin memanas.
“Aaaaaaaaa”
Dan... Teriak adalah jalan ninjanya.
****
Sementara itu, Alexius kembali berusaha fokus pada pekerjaan nya. Menandatangani, membaca kontrak dan berkas-berkas penting di hadapannya.
“Otak! Bekerjalah dengan benar.” Memukul pelan kepalanya.
“Hati, bertahanlah dengan tenang!” Memukul pelan bagian hatinya berada. Dada.
“Jantung, berdeguplah dengan wajar.” Rutuknya pada jantungnya yang berdegup cepat.
Mengapa begini?
Jauh saja sudah seperti ini, bagaimana bila dekat?!
Alexius menenggelamkan kepalanya pada meja kerjanya yang penuh berkas itu. Memejamkan matanya menghilangkan rupa cantik Arocha dari ingatannya.
****
Di seberang, tepatnya di sebuah ruangan, yang mana terdapat satu layar yang di tatap. Layar itu, menunjukkan kondisi ruangan kerja Alexius. Tentunya ada Alexius.
“Ck.Ck. Dasar anak muda. Sedang di mabuk asmara sudah seperti ini, apa jadinya bila bersatu nanti?!” Gumam pria itu mengkritik tingkah Alexius.
Tentunya dia tahu apa yang dilakukan Alexius sedari awal. Bahkan saat bertelepon dengan orang di seberang yang entah siapa, dia tebak, yang menelepon putra semata wayangnya itu adalah gadis yang akan dinikahi anaknya itu.
“Segitu gilanya dia mencintai gadis itu?”
****
Malam harinya, Alexius tak pulang ke mansion keluarga Malik maupun apartemennya. Tetapi ia pulang ke rumah istrinya, Rumah kita.
Mengingat itu, pipinya memerah, hatinya senang dan ingin berteriak. Yang ia lakukan hanya mengepalkan tangannya yang ia gunakan menyetir dengan senyuman lebar yang terpatri di bibir manisnya.
“Apa aku gila?! Mengapa aku bisa sebahagia ini?!”
Dia baru ingat. Tak mungkin tak membawa buah tangan apapun. Maka dari itu, ia memilih menelepon sang pujaan hati.
“Halo, kau pasti belum makan malam. Ingin makan apa? Aku belikan. Mumpung aku sedang dijalan.”
“.....”
“Baiklah”
“....”
“Ya. Sampai bertemu nanti.”
Sepertinya dia semakin gila.
Hanya mendengar suara Arocha saja sudah membuat dia bahagia. Malahan otaknya mengingat malam kenikmatan itu. Gila.
“Shit! Janganlah memikirkan hal berlebihan! Cukup pikirkan wajah manis cantik lucunya itu.”
Dia berusaha menenangkan hati, jantung, pikirannya. Kemudian berlanjut membelikan makanan yang dititipkan oleh sang pujaan hati padanya tadi.
Dan ia sendiri tak lupa membeli makanan untuknya.
***
“Ini makanlah.” Titah Alexius sembari memberikan beberapa plastik dihadapan Istrinya, Ehem, Arocha.
Arocha melongo, banyak sekali plastik dihadapannya. Bahkan ada paper bag berlogokan sebuah rumah makan yang tergolong mahal harga makanannya.
“Aku hanya memesan martabak, mengapa kau membelikan aku makanan sebanyak ini? Sayang sekali kalau tak habis.”
Alexius menyengir bodoh.
“Tak apa. Aku ingin kau makan yang banyak. Ku bantu kau menghabiskan sedikit makanan mu.”
Bukan tanpa sebab membeli banyak. Ia tahu betul, Ocha akan merasa lapar bila hanya makan sedikit. Apalagi hanya mengemil tanpa memakan makanan berat. Jadilah ia mampu ke rumah makan langganan keluarganya dan membelikan paket nasi untuk Ocha sekaligus hidangan penutup. Tak lupa membelikan Ocha makanan di pinggir jalan yang sangat disukai wanita itu.
Benar dugaannya, dia hanya memakan satu hamburger dan meminum kopi kaleng. Arocha sudah menghabiskan hampir seluruh makanan yang ia beli. Bahkan saat ini, wanita itu masih lahap memakan tanpa merasa kenyang. Berganti ia yang melongo.
Terkekeh kemudian.
Sembari mengelap sisa kotoran makanan yang menempel di bibir merah alami Ocha, berucap, “Aku senang melihatmu makan dengan lahap. Dengan begitu, kita tak jadi membuang-buang makanan bukan?”
Ocha yang mendengar itu mendongak. Kemudian menyengir lucu.
“Habiskan, lalu kita tidur.”
Ocha mengangguk patuh.
Tak akan ia lepaskan sampai kapanpun wanita seperti Ocha. Wanita tercintanya, tersayangnya, pujaan hatinya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments