Kabar duka yang tersebar di berita dengan nama korban ada dalam daftar yang disebutkan oleh reporter itu.
Ocha menatap kosong ke arah TV jadul yang dimilikinya menampilkan kondisi ricuh pada saat kecelakaan beruntun itu terjadi. Kejadian itu terjadi kemarin.
Tok! Tok!
“Arocha, buka pintunya.”
Ceklek!
Ocha menatap tetangga rumahnya, yang mana wanita paruh baya itu menangis tersedu.
“Ayo kita ke pemakaman Bi Aika yang akan dilaksanakan 15 menit lagi,” ajak wanita itu. Ocha mengangguk. Wajahnya pucat. Jangan ditanya, mengapa tetangga rumahnya itu juga mengenal Bi Aika? Karena tetangganya itu merupakan teman semasa sekolah Bi Aika.
Saat perjalanan, matanya terpejam. Dia merasa bersalah, karena dia tak bisa menolong para korban, termasuk bibinya sendiri.
Sesaat kemudian, sekelebat bayangan muncul dengan samar. Namun, Ocha masih bisa mengingat dengan baik siapa orang-orang yang terlibat itu. Namun apa daya, dia tidak memiliki apa pun yang mampu ia raih untuk mengancam orang-orang tersebut.
“Akan aku balas kalian suatu hari nanti,” ujarnya pelan dengan mata terpejam namun tangan mengepal erat. Giginya bergemeletuk di dalam mulut.
****
“Ayo Cha, sudah sampai di rumah sakit.” Suara dari tetangganya membuat ia tersadar kembali.
Rumah sakit itu sangat ramai. Banyak keluarga dari korban yang ikut serta dalam masa terakhir hidup korban di dunia sebelum dimakamkan. Termasuk ia beserta wanita yang merupakan tetangganya ini. Mereka diarahkan oleh petugas menuju ruang jenazah yang di depannya sangat ramai.
Ocha semakin mengepalkan erat tangannya, mendengar tangisan sesak dari keluarga korban yang kehilangan anggotanya. Dia menajamkan tatapannya, “Akan kuingat ini, Adriana. Akan ku balas kau lebih kejam dari perbuatan ini. Kehancuran akan segera datang di hidupmu.” Kemudian ia memejamkan matanya.
Ya, Ocha mengingat, bahkan akan sangat mengingat nama itu. Nama orang yang selalu mengganggu ketenangan hidupnya. Bahkan orang tersebut akan sangat puas kala melihatnya menderita. Dendam memang sangat menyedihkan sekaligus menyeramkan. Ocha akan segera mencari tahu penyebab dendam ini terjadi.
Punggungnya dielus lembut membuat Ocha tersadar kembali. Matanya berusaha menetralkan tatapannya. Ia menoleh ke orang yang mengelusnya.
Tetangganya itu menatap ia ragu dan sendu.
“Yang sabar ya, Ocha. Bu Aika pasti akan bahagia di sana, dia sudah tenang.”
Ocha kembali bersedih. Rasa sesak kembali mendatanginya. Ia menyesal, seharusnya, seharusnya ia yang menghampiri Bi Aika ke rumah wanita itu bukan malah mengajak wanita itu bertemu di luar.
“Boleh tidak aku melihat Bi Aika?” tanyanya sengau. Tetangganya mengangguk.
Ocha memasuki ruang jenazah dan diarahkan oleh petugas menuju peti Bibi Aika yang dibuka. Wajah pucat itu. Wajah yang biasanya berseri ketika bertemu dengannya, kini tak akan ada lagi senyum indah di bibir keriput itu.
“Pemakaman akan dilakukan lima menit lagi. Jadi, tenangkan hatimu wahai gadis belia,” ucap seorang dokter. Umur dokter itu sudah tak muda. Tetapi yang membuatnya heran ialah, dokter itu menatap sendu jenazah Bi Aika. Dan, wajahnya familiar di mata Ocha. Ia ingat pernah melihat wajah pria itu.
Sekelebat bayangan hadir di penglihatannya, ia terpejam tanpa sakit. Kilasan bayangan mengenai kehidupan Bi Aika selama ini. Sebelum kemudian wanita itu hidup sebatang kara.
Matanya terbuka kembali, “Dokter Aditama. Mantan suami Bi Aika yang bercerai 12 tahun yang lalu karena kau berselingkuh di belakangnya dengan wanita yang tak lain adalah sahabat mantan istrimu sendiri,” ujarnya, membuat dokter itu terkejut seketika.
“K-kau, bagaimana kau tahu?” tanyanya. Ocha tersenyum miring. Matanya berubah sendu dan tajam.
Ya, tentu saja Ocha tau, bahkan sangat tahu. Di dalam ingatannya tadi dan juga berdasarkan cerita dari Bi Aika sendiri, 12 tahun yang lalu. Bi Aika berumur 26 tahun. Wanita itu sudah menikah dengan dokter Aditama selama 7 tahun, mereka menikah muda. Namun sayang, pernikahan mereka belum dikaruniai anak. Dan kala itu, Bi Aika ingin memberi tahu kabar bahagia mengenai kehamilannya yang dinanti selama 7 tahun itu. Dia datang ke rumah sahabatnya, niatnya ingin memberi tahu lebih dahulu pada sahabatnya tentang kebahagiaan itu, sayangnya, disana malah ia melihat suaminya sedang bercumbu mesra dengan sahabatnya sendiri.
Matanya berkaca-kaca, “Jika bukan karena kau, Bi Aika pasti akan selalu bahagia, tidak hidup kesepian di luar sana. Kau hidup enak tanpa tau bagaimana kabar kehidupan mantan istrimu. Bercerai tidak memberi penjelasan malah langsung pergi. ”
Dokter tersebut menatap jasad Bi Aika sendu. Kemudian menatap lagi Ocha, “Kau gadis belia yang pintar. Aku berterima kasih karena kau sudah peduli dengan mantan istriku. Aku tau siapa kau, Gadis Muda. Aku tahu bagaimana kau hidup bersama mantan istriku beberapa bulan ini.”
“Cih, urusi saja istri dan anakmu di rumah. Bi Aika sudah tidak ada, dia sudah meninggal. Tidak ada yang perlu kau sesali, Dokter,” ucapnya kemudian pergi. Ocha sangat muak melihat wajah itu. Wajah itu, wajah yang selalu membuat bibinya tersakiti, menderita dan seperti menjadi gila. Gila karena terbayang akan rasa kesepiannya selama ini. Memuakkan.
“Urus dengan baik pemakaman bibiku dengan layak,” titah Ocha pada salah seorang perawat yang bertugas mengurus pemakaman semua korban ini.
“Baik.”
Sepertinya, ia membutuhkan ketenangan.
****
Dan, kamar mandi adalah tempat yang dipilih Ocha untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas. Kesedihan dalam dirinya sudah lumayan bisa terkontrol. Ini sudah lewat dari sehari setelah kecelakaan itu terjadi. Ocha menyusuri lantai rumah sakit yang bersih. Memasuki kamar mandi yang ada di koridor rumah sakit yang dilewatinya ini.
Di sebuah ruangan, terdapat seorang lelaki yang berbaring di atas brankar rumah sakit ruangan VVIP kelas 1.
“A-aku di mana ini?”
“Shhh, mengapa sakit sekali”
“Tuan, bagaimana kondisimu, apa yang kau rasakan?”
Suara seorang pria dengan pakaian lengkap jas putihnya. Seorang dokter.
“Kau berada di rumah sakit, Tuan. Kecelakaan yang kemarin kau alami membuatmu berada di sini.”
Pria itu mengangguk dengan tetap memegang kepalanya. Ia terus mengingat, bagaimana bisa ia kecelakaan?
“Kecelakaan?” tanyanya bingung.
Dokter itu mengangguk, “Iya, Tuan. Apa kau tidak mengingatnya?”
Lelaki itu menggeleng.
“Kau ingat siapa namamu?”
Lelaki itu kembali menggeleng.
“Alamatmu?”
Kembali lelaki itu menggeleng. Ia memegang kepalanya yang terasa nyeri.
Dokter itu menghela napas. “Sudah saya duga. Bentrokan yang terjadi di kecelakaan kemarin membuat kepala Tuan terjadi pembekuan darah dan mengakibatkan amnesia.”
“Lalu?” tanya lelaki itu santai. Dia pun bingung.
“Bagaimana cara saya untuk mendapatkan identitas keluargamu, Tuan?”
Lelaki itu mengedikkan bahunya, “Apa aku tak punya ponsel? Barangkali kau bisa menghubungi kerabatku,” usulnya.
Dokter itu merengut, “Ponsel Tuan remuk akibat kecelakaan itu. Dan hanya tersisa kartu-kartumu saja.”
Ah ya, lelaki itu baru mengingat bahwasanya siapa yang bertanggung jawab mengenai pengobatannya ini. Dan mengapa bisa ia di tempatkan di ruang sebagus ini?
Apa dari kartu-kartu yang dimaksud dokter itu?
“Bayar saja biaya pengobatanku dengan itu. Ashh, sakit sekali kepala ini,” keluhnya.
Dokter itu segera memeriksa pria tersebut.
“Sebaiknya kau istirahat, Tuan,” titahnya. Dokter itu keluar dari ruangan pasien.
Sedangkan di luar ruangan, tepatnya di lorong rumah sakit, Arocha berjalan pelan dengan menggerutu di sepanjang jalan.
“Wow, mengapa desain koridor ini sangat indah? Ah iya, aku lupa. Inikan ruangan pasien VVIP. Jelas saja bagus.”
Ocehnya sembari terus berjalan menyusuri koridor. Namun, dia kembali mengingat pria yang menjadi mantan suami dari bibinya. Itu sungguh menjengkelkan. Terlebih, wajah itu tadi hanya terlihat shock bukan sedih.
“Sial. Bagaimana bisa pria itu menemui Bi Aika saat orangnya sudah meninggal?”
Ocehan pelan dari Ocha terdengar di lorong rumah sakit. Ia menuju pintu keluar koridor elegan itu. Jenazah bi Aika sudah ia titipkan pada pihak rumah sakit dan tetangganya. Ia akan menyusul nanti.
“Dia amnesia. Bagaimana kita menghubungi keluarganya jika dia saja tidak tahu? Pria itu sepertinya orang luar negeri, wajahnya begitu asing bagi kita semua.”
Suara itu membuat Ocha penasaran. Ia menghampiri seorang dokter yang sedang bercakap dengan kedua perawat muda. Mengintip, ralat, tepatnya menguping semua pembicaraan mereka.
“Lalu bagaimana, Dokter?” Suara suster itu terdengar.
“Biarkan saja ia tinggal disini sampai dia sembuh. Selanjutnya, terserah dia mau bagaimana.”
“Benar kata dokter, toh pasien itu memiliki banyak kartu yang bisa menopang hidupnya nanti,” kata suster itu menjawab ujaran dokter sebelumnya.
“Amnesia?” Ocha bertanya pada dirinya sendiri. Dia berpikir. Dia berbisik pelan dengan batinnya.
“Ya, Dokter. Kecelakaan tragis itu banyak merengut nyawa, untung saja Tuan ini selamat, walau juga harus kehilangan ingatannya.”
“Ingatan?” Dia kikuk. Bertanya dan tentu geram. Ini semua disebabkan oleh satu orang, meski belum pasti, namun dia akan membuktikannya.
Setelah melihat kepergian ketiga orang itu, Ocha melangkah mendekat pada sebuah ruangan VVIP tepat ketiga orang tadi bercakap. Netranya menatap seorang lelaki yang berbaring di atas brankar mewah rumah sakit. Wajahnya begitu pucat, masih terdapat selang yang menempel di hidung pria itu. Namun, sepertinya lelaki itu sudah sempat sadar terbukti brankar itu sedikit ditinggikan.
“Malang sekali nasibmu, namun kau juga beruntung, karena kau selamat dari kecelakaan maut itu,” gumam Arocha.
Tangannya kembali terkepal. Netranya beralih menatap lurus koridor, tak lagi menatap pasien di balik brankar itu.
“Hidupmu sungguh merugikan orang banyak, Adriana. Kau pasti akan mendapat karma,” katanya bergumam. Waktu akan terus berjalan, dan akan ia pastikan untuk cepat bertindak menghentikan segala perbuatan merugikan dari Adriana.
Ia harus merencanakan rencana ini dengan matang, sebab, Adriana tentu memiliki kuasa, dan ia pasti akan menggunakan kekuasaan itu untuk melindungi dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
ReiRey
aku mampir thor, saing follow yuk😊
2022-09-28
1