Semua sangat membingungkan. Di satu sisi, Ocha tak ingin melepaskan suaminya sebab Ocha merasa damai ketika hidup bersama Alexius. Rasa kesepian tak lagi ada di diri Ocha selama dengan Alexius.
Tetapi, Alexius berperan penting dalam kehidupan sebenarnya, bahkan bisa saja kedua orang tua asli Alexius sangat menginginkan sang anak pulang kembali dengan mereka.
Hebatnya Ocha, ia bisa menyembunyikan hal yang ia ketahui dari Alexius. Meski cerita Alexius semalam membuatnya percaya saja, namun tentunya Ocha mengetahui gerak-gerik lelaki itu.
Jangan ditanya, mengapa bisa ia mengetahui bahasa tubuh Alexius?
Jawabannya ialah, mereka sudah hidup dalam satu atap selama tiga tahun. Tentu saja, mengenal sifat satu lama lain bukan lagi hal tabu.
“Apa kau tidak khawatir bila orang tua kandungmu nanti mencarimu dan memintamu pulang?” Tanya Ocha tiba-tiba.
Pagi ini, mereka sarapan bersama sebelum memulai pekerjaan mereka masing-masing.
“Mereka tidak memintaku pulang.” Singkat Alexius.
Ocha menggeleng, “Mereka mencarimu. Buktinya, mengerahkan seluruh tenaga pencarian untuk mencarimu selama ini. Tidakkah kau rindu dengan mereka?
“Jangan bahas itu. Selesaikan saja sarapan kita. Aku sedang tak ingin membahas hal itu.” Kata Alexius.
Meski nada lelaki itu lembut, namun siapapun tahu bahwa itu dikeluarkan dengan nada lembut namun tegas.
“Baiklah.”
****
Siang hari, toko roti tempat bekerja Ocha selama tiga tahun ini didatangi oleh Bram, asisten Alexius dari keluarga Malik, katanya.
Beruntung, suasana toko roti sedang lega pelanggan, sehingga Ocha bisa berbincang dengan Bram mengenai Alexius.
“Bisakah aku meminta tolong padamu?” Tanya pria itu. Siang ini, dia datang seorang diri.
Ocha mengernyitkan alisnya, “Apa?”
“Tolong bujuk Tuan muda supaya bisa kembali di keluarga Malik. Sebab, tiga tahun lalu, dialah yang sudah dilimpahkan tanggung jawab perusahaan Malik untuk dikelolanya. Jadi, tiga tahun belakangan ini pula, Tuan besar kembali turun tangan untuk mengatasinya. Tetap saja, ini sudah terlalu berat untuk Tuan besar, karena Tuan muda berhasil menaikkan nama perusahaan hingga mencapai pasar target penjualan dunia,”
“Sampai saat ini, belum ada yang berhasil mengalahkan teknik cara kerja Tuan muda selain dia sendiri.” Sambungnya kemudian.
Ocha terdiam. Ia hanya fokus mendengarkan dan mengambil kesimpulan sendiri.
“Tolong kami. Banyak karyawan yang bergantung pada perusahaan Malik untuk hidup mereka. Bila target pasar turun, itu bisa menyebabkan penurunan pemasukan perusahaan juga.” Ujar Bram lagi.
Ocha kembali menyimak.
“Baiklah. Aku akan berusaha.” Balas Ocha setelah lama terdiam.
Bram tersenyum. Ocha melihat senyum lega itu.
Namun entah mengapa, ada perasaan tak rela kala harus melepas hidup Alexius kembali ke orang tua dan hidup lamanya lelaki itu.
Setelah pertemuan siang itu, Ocha lebih banyak diam. Bila dia mengambil sebuah keputusan, ia harus memikirkan konsekuensinya juga.
Pukul 17.00 sore ini, Ocha sedang membereskan rumahnya setelah selesai memasak untuk makan malam.
Ia akan mandi, sebelum itu, ada yang menariknya. Ia menoleh.
“Apa kau tak lelah?” Suara berat nan dalam itu tampak perhatian.
Ocha tersenyum, “Sudah tugasku sebagai seorang istri.”
Alexius mendekat kemudian memeluk Ocha erat. Hal itu membuat Ocha terkejut.
“Aku ingin memelukmu sebentar.” Singkatnya menjelaskan. Ocha mengangguk kaku dalam pelukan itu.
“Ada apa kau memelukku seerat ini? Tak biasanya.” Celetuk Ocha. Alexius hanya diam.
Sudah hampir lima belas menit mereka hanya berdiri sunyi dengan berpelukan, ralat, lebih tepatnya Alexius yang memeluk Ocha erat, sebab Ocha hanya merangkulkan satu tangannya saja membalas pelukan Alexius.
“Apa kau tak lelah? Lepas dulu pelukan ini, aku ingin mandi.” Ujar Ocha. Alexius menggeram.
“Huft. Mengapa cepat sekali. Aku masih ingin memelukmu erat.” Kata Alexius. Ocha salting, pipinya memerah.
“Bisa nanti lagi.” Setelah mengucapkan itu, Ocha melepas paksa pelukan Alexius kemudian berlari menuju kamar mereka untuk membersihkan diri.
****
Malamnya, mereka seperti biasa, mengobrol bersama berdua di teras balkon.
Kembali Alexius memeluk Ocha.
Ocha merasa canggung, “Apa kau benar-benar tak ada niat untuk kembali pada keluargamu?” Tanya Ocha lagi.
Singgungan itu membuat Alexius hanya diam.
“Apa itu tandanya, kau berniat mengusirku?” Sindir Alexius. Ocha terkekeh menggeleng.
“Aku hanya bertanya.” Jawabnya.
Pelukan itu kian erat, terlebih Ocha menumpukkan kedua tangannya diatas punggung tangan Alexius yang memeluk perutnya.
“Apa yang kau lakukan bila aku kembali pada---”
“Bagus. Kembalilah, orang tuamu, perusahaanmu, anak buahmu, karyawanmu, semuanya membutuhkanmu. Hidup mereka bergantung padamu. Perusahaanmu bisa menurun target dan omset, maka kembalilah.” Sela Ocha cepat.
“Kau akan mengikutiku bila aku kembali?” Tanya Alexius kembali.
“Tidak. Aku takut menghambatmu.”
“Tapi---”
****
Hening selama semalam membuat keadaan canggung, ruang makan pun tak lagi seramai biasanya. Meski hanya berdua, celotehan bersautan dari kedua manusia dalam satu ruangan itu tak pernah sepi. Namun, ini berbeda.
Setelah percakapan tak berkelanjutan malam itu di teras balkon, membuat suasana berbeda juga komunikasi mereka yang merenggang. Tak lagi mengobrol malam di teras balkon seperti yang lalu. Hanya makan malam, beberes rumah, dan bersih-bersih badan lalu tidur. Padahal baru satu hari satu malam. Tak bisa dibayangkan bila hari-hari berikutnya sama seperti ini.
Masih ingat di benak Ocha kala ucapan dokter yang memeriksa Alexius. Yang sempat Ocha dengar karena menguping di rumah sakit waktu itu.
Dalam pikirannya bertanya, “Mengapa para dokter tak mengenal Alexius?”
“Mengapa banyak orang tak mengenal raut wajah, suara pria itu?”
“Jika benar, ia pengusaha muda yang bisa mencapai target dunia dalam penjualan produk usahanya, mengapa tak disiarkan ramai didalam berita?”
“Mengapakah?”
Berbagai pertanyaan muncul bersautan dalam pemikiran sempitnya. Terus bertanya-tanya sendiri.
“Apa kau memang berniat untuk terus diam-diaman denganku?”
Pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari belakang punggungnya membuat ia menoleh. Terlihatlah sang suami yang sudah mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai rumahnya sedang berjalan kearahnya.
“Apa?” Tanya balik Ocha. Alexius berdecak.
“Aku sungguh rindu ocehanmu.” Rengek Alexius. Entah darimana datangnya sifat tiba-tiba lelaki ini ada.
“Bahkan aku jarang mengoceh. Kau yang lebih banyak ocehan.” Jawab Ocha. Alexius berdehem malas.
“Jangan diam-diaman seperti ini. Suasananya sungguh membuatku tak nyaman.” Adu Alexius. Wajahnya terlihat memelas menggemaskan.
Ocha mengangguk, “Tidak lagi.” Kata Ocha.
Berbinarlah mata dan raut Alexius. Menandakan bahwa ia sangat senang dengan jawaban Ocha.
“Lebih baik seperti itu. Tak usah hiraukan kata orang-orang. Hidup yang menjalani diri kita sendiri, ada baiknya kita mengabaikan celotehan mereka yang menurut kita tak penting. Terlebih...”
Suasana hening sejenak, Ocha yang sedari tadi diam tak membalas mulai mendongak kala melihat sepasang tangan melingkar erat di perutnya.
“Terlebih apa?”
“Terlebih bila hal itu membuat dirimu dan diriku berjauhan seperti ini.”
Salting sudah hati Ocha. Memerah pula pipinya, ia berusaha sekuat mungkin menyembunyikan senyuman yang ingin dia keluarkan.
“Baiklah kalau begitu, asalkan, kau mau menuruti keinginanku untuk kau kembali ke asalmu,”
****
Bersambung lagi....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments