Ocha memikirkan perihal pendapat Alexius. Dan ia sepertinya akan kembali menerima pernikahan itu. Tetapi lagi dan lagi, Ocha tetap merasa dan menganggap pernikahan ini hanya sebuah formalitas dalam bentuk kerjasama.
Apakah benar anggapan nya ini?
“Tetapi, dia suamiku. Sudah resmi menjadi suamiku, jadi, ini bukan hanya bentuk kerja sama, kan?!”
Ocha dan Alexius akan bertemu. Tetapi di rumah Ocha. Dengan Alexius yang datang menghampiri sang istri.
****
“Sudah tiga tahun kita menikah. Tetapi, belum juga memiliki bentuk resmi ikatan itu.” Ucap Alexius. Ocha bingung.
“Maksudnya?”
“Hubungan suami istri? Kau paham? Aku menginginkanmu.” Frontal Alexius.
Ocha terkejut setengah mati. Matanya melotot, pipinya merah bak kepiting rebus.
Alexius terkekeh ringan, mengelus mata Ocha yang melotot itu.
“Jangan melotot, aku semakin ingin meresmikan dirimu untuk menjadi milikku seutuhnya.”
Ocha yang gemas menggigit jari Alexius.
“Awwhh. Kau ganas juga ya ternyata.” Kekeh Alexius menggoda. Ocha semakin kesal.
Kapan pembicaraan ini seri----
“Ayo kita bicarakan hal ini.”
us---
Hahaha, baru saja dipikiran Ocha timbul, eh, ternyata sudah mau dimulai.
“Kau setuju dengan keputusanku?”
Ocha mengangguk.
“Apa tanggapanmu?”
“Seharusnya aku yang bertanya. Apa tanggapan orang tuamu?”
Senyuman di bibir Alexius mengecil. Ia merasa bersalah pada istrinya itu.
“Kau tak perlu memikirkan itu. Yang terpenting, pernikahan kita di ketahui oleh seluruh dunia. Aku sudah mempersiapkan semuanya, dan juga mempersiapkan berbagai media untuk berbagi kisah kita ini.”
Ocha mencibir melihat raut wajah suaminya.
Alexius terkekeh sembari memuntir bibir mencibir Ocha.
Rasa dari diri Alexius hadir. Menggebu secara tiba-tiba. Ia menekan kuat hasrat yang muncul tiba-tiba ini. Tetapi tak lagi kuat.
Ia mendekat pada wajah istrinya. Mengelus lembut wajah halus istrinya. Kemudian berbisik tepat pada telinga sang istri, “Aku ingin meminta hakku sekarang juga. Malam ini.”
Alexius tahu tubuh Ocha yang menegang terkejut. Kemudian hendak menjauh, namun sebelum itu, Alexius dengan cepat menahan tengkuk Ocha dan langsung mencium lembut bibir Ocha.
Namun ciuman lembut itu semakin lama semakin kasar dan menuntut. Ocha yang tadinya berontak mulai ikut membalas dan menikmatinya.
Bahkan semakin lama, tangan Alexius semakin meronta masuk mengelus lembut yang ada pada bagian tubuh Ocha dibalik piyama tidur yang dipakai oleh gadis yang sebentar lagi menjadi wanita itu.
“Emhh--”
Ocha melenguh. Semakin saja jiwa kelelakian Alexius meronta hebat. Bahkan, dengan ******* satu kali yang terlontar dari bibir kecil Ocha mampu membuat junior Alexius menegang.
Tangan pria itu merayap semakin jauh, menenangkan hati Ocha yang risau akan Adriana dengan sentuhan kacau. Yang membuat ******* tercipta begitu saja dari bibirnya.
“Emhh... Al--- Ahhh, Geliiihhhh...” Desah Ocha di sela sentuhan sang suami juga kecupan ringan yang diberikan pria itu di sekujur lehernya yang mulai memerah.
Dan kemudian, titik gairah muncul di keduanya. Alexius membuka baju Ocha dengan pelan tanpa tergesa dan masih saling memanggut kembali. Serta Alexius yang menelanjangi tubuhnya sendiri.
“Ini akan sakit, tetapi hanya sebentar. Percaya padaku, selanjutnya hanya ada rasa nyaman untukmu dan untukku sendiri.”
Rayuan Alexius diangguki Ocha. Dan mereka memulai berbagai adegan yang hanya mereka yang tahu. Dan secara resmi, sudah menjadi sepasang suami istri yang memenuhi batin satu sama lain.
****
Di pagi harinya, Ocha terbangun dan menatap Alexius yang masih setia terpejam dengan lengan kekarnya memeluk erat pinggang ramping Ocha. Keduanya masih telanjang, ralat, hanya memakai dalaman. Alexius bertelanjang dada.
Jika diingat, Ocha merasa malu. Namun, tak ada lagi yang ia ragukan. Toh, mereka resmi suami istri. Jadi, sah saja melakukan hal itu.
“Pagi istriku,” suara serak itu membuat degup jantung Ocha berdetak.
Terlebih, kecupan di keningnya membuat ia seperti hilang kesadaran.
“Mengapa pipimu memerah?” kekeh Alexius menggoda.
Sepertinya, ia senang menggoda Ocha. Istrinya yang bertambah cantik kala bersemu merah.
“Kau belum menjawab sapaanku tadi.” Protes pria itu pada wanitanya.
“Pagi juga, suamiku.” Jawabnya dengan senyum manisnya.
Alexius terpejam erat seketika. Ia tak kuat melihat senyum manis dari istrinya. Bahkan disaat pipi bersemu merah itu belum juga hilang. Sungguh, ia sangat gemas dengan wanitanya. Rasa sayang dan cintanya bertambah berkali lipat.
“Setelah ini---” Ucap keduanya bersamaan.
“Kau dulu saja.” Bersamaan lagi.
Ehem.
Ocha berdehem malu. Sedangkan Alexius tersenyum dan lebih memilih mengalah, mengelus pipi Ocha kemudian berucap, “Wanita yang pertama.”
“Jadi gini, apa pernikahan kita nantinya juga hanya untuk bekerja---”
“Stttt. Tidak. Ini benar-benar akan resmi. Tidak kerja sama seperti tiga tahun lalu. Aku akan benar-benar menganggap mu istri dan kita akan hidup bersama selamanya.” Potong Alexius. Dia tahu betul topik yang akan dibincangkan oleh wanitanya ini.
Ocha mendongak meneliti benar atau tidaknya pria itu melalui tatapan.
Tulus.
Tatapan yang diberikan oleh prianya untuknya. Prianya? Ya, Alexius prianya mulai saat ini dan seterusnya.
“Kau jangan pernah menganggapnya hanya sekedar kerja sama. Pernikahan adalah hal sakral menurutmu, dan sekali seumur hidup. Sama halnya denganku.”
****
Malam ini, mereka kembali berpisah. Ocha menyuruh Alexius kembali pada orang tua pria itu. Karena, Alexius harus bekerja dan menjadi pewaris perusahaan bukanlah hal mudah. Ia tak ingin, bilamana suaminya lelah harus bolak-balik begitu jauh untuk bekerja.
“Tapi, aku takut. Mengapa dipikiran ku hanya ada bentuk kerja sama ini dalam pernikahan? Aku tak ingin menganggap pernikahan ini hanya kerja sama.”
Ting
Ting
Ting
Ting
Banyak pesan masuk bersamaan di ponselnya. Ramai sekali, pikirnya.
*Tidur Istriku! Jangan begadang, nanti kau sakit
Jangan lupa makan. Bila kau merindukanku, hubungi aku, tak usah sungkan.
Aku menyayangimu dan mencintaimu selalu
Aku akan menjaga dan melindungimu dari bahaya apapun, mari kita saling terbuka satu sama lain mulai sekarang*.
Pipi Ocha kembali bersemu merah.
Dan Ocha hanya membalas, ‘Ya, Baiklah, terimakasih, selamat malam’
Itupun hanya satu pesan untuk membalas keempat pesan yang ada.
Dan ia benar-benar tidur, menuruti perintah sang suami. Mereka kembali LDR, ralat, jarang bertemu.
****
“Hah! Aku sungguh merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya dan segera meresmikan ke seluruh dunia tentang kita ini. Aku tidak sabar.”
****
“Tolong berhenti, aku minta padamu. Jangan lagi mengganggunya. Sudah cukup dia kehilangan kedua orang tuanya. Sudah cukup dia menderita.”
“Sudah ku bilang, jangan ikut campur terlalu dalam. Dia sudah bukan siapa-siapamu lagi. Akulah adikmu. Sadar!”
“Aku hanya tidak ingin kau menyesal. Suatu saat nanti, kau akan mengetahui kenyataan yang ada. Itu bukan salah keluarga mereka. Bahkan mereka sangat baik pada orang tua kita.”
Salah satu dari mereka marah, mengangkat tangan pertanda memberhentikan pembicaraan, “Aku lelah. jangan ikut campur apapun lagi tentang ini. Aku muak padamu.”
****
Kira-kira, siapa ya mereka di percakapan terakhir itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments