Bab 19

Perubahan status mereka secara sah membuat Ocha lagi dan lagi merasa harus menerima Alexius.

Bukan tak mau, Ocha hanya tak enak. Ia merasa, sebenarnya sudah cukup menganggu hidup Alexius selama tiga tahun itu. Dia tak ingin lagi menganggu pria itu.

Pikirnya, setelah masalah rumit ini selesai dan Alexius tuntas memulihkan kembali ingatannya, ia akan bercerai dan pergi meninggalkan Alexius untuk memulai hidup barunya.

Nyatanya, Tuhan tak merestui niatnya. Malah, dia semakin di tekan erat dalam ikatan resmi yang hampir seluruh dunia mengetahuinya. Bahwa, ia adalah Nyonya muda Malik setelah Rosalia Malik.

Namanya berganti Arocha Setiana Dewi Malik. Begitu kata suami sedari tiga tahun lalu hingga kembali lagi saat ini.

Dia dan Alexius bukan menikah lagi tetapi menikah ulang. Alexius bilang, “Anggap kita mengulang serta merayakan anniversary kita ketiga tahun.”

Ya benar, hari pernikahan nya yang sekarang sama dengan tiga tahun yang lalu. Itu semua adalah Alexius yang menentukan. Bahkan, Dia ingat ketika melihat bingkai foto pernikahan sederhananya tiga tahun lalu.

****

Resepsi pernikahan diadakan malam ini, pukul 19.00 di sebuah ballroom hotel termewah milik keluarga Malik yang sangat terkenal mahalnya karena mewahnya.

Tiang-tiang kokoh ballroom mewah itu berlapis kain emas. Dan lampu gantung yang bercahaya emas juga, menambah kesan “wah” untuk para tamu undangan. Dan bagi mereka, ini adalah pernikahan termewah dari seorang pengusaha muda.

Ocha mengenakan gaun mewah yang sangat panjang dengan bertabur mutiara emas terlihat mewah. Begitupun Alexius yang mengenakan Tuxedo dengan warna senada gaun Ocha.

Mereka berjalan beriringan dengan Ocha yang merangkul lengan Alexius erat. Dia gugup. Banyak cahaya kamera yang memotret mereka, menjadikan pernikahan mereka trending nomor satu di televisi mendunia.

Ocha terkejut akan kilau cahaya kamera dari para wartawan yang ramai berdatangan ke acara mewah pernikahan milik penerus utama Malik itu.

Alexius melirik sang istri kemudian tersenyum sangat tipis. Tangan yang semula dirangkul sang istri pun ia lepaskan, beralih merangkul mesra pinggang ramping Arocha.

Sementara itu, ada beberapa keluarga Alexius yang menatap tak suka, marah, tajam kepada kedua pengantin itu. Termasuk, mamah dari Alexius. Mereka sepertinya tak setuju dengan keputusan sepihak Alexius. Anggapan mereka ialah, Ocha mau menikahi Alexius hanya karena harta keluarga Malik yang akan turun dan menjadi milik Alexius.

“Kau sangat cantik mempesona.” Bisik Alexius. Arocha mendengus.

“Jangan memujiku disaat seperti ini. Aku sedang tidak ingin mendengar gombalan busukmu.” Balasnya. Alexius terkekeh pelan.

“Sungguh, aku berbicara fakta. Kau sangat cantik hari ini.”

“Kau! Kalau begitu, di hari-hari biasanya aku tak cantik?!”

Alexius tertawa kecil, tersenyum, kemudian mengelus punggung tangan Arocha lembut.

“Kau cantik, tetap cantik, pakai apapun, dimanapun dan kapanpun, kau akan tetap cantik dan mempesona di mataku.”

Ocha mencibir pelan. Bibirnya manyun seolah meledek perkataan Alexius barusan. Membuat Alexius gemas sembari menggigit bibir dalamnya dengan tangan mengepal didepan wajah Ocha seolah ingin meremat wajah menggemaskan itu.

“Alex, mamah ingin berbicara denganmu!”

****

“Mamah sudah bilang, mamah tak setuju bila kau menikahi wanita biasa seperti perempuan itu.”

Alexius mendesah kesal, “Ini hidupku, mamah tak perlu mengkhawatirkannya. Aku tau, mana yang baik dan tidak untukku. Lagipula, aku mengenalnya sudah lama, jadi aku tahu betul, dia bukan perempuan seperti yang ada dalam pikiran mamah itu.” Jelasnya.

“Benar kata mamahmu, bisa saja dia memiliki perangai untuk menutupi kelakuan busuknya. Kau tidak tahu bagaimana masa lalunya, Alex, ada baiknya berjaga-jaga.” Seloroh bibinya.

“Huh, kalian sama saja. Bahkan kalian hanya menilai dia dalam sekali lihat. Aku sudah mengenalnya lebih dari tiga tahun ini. Bahkan dia yang merawat diriku setelah kecelakaan itu. Seharusnya kalian berterimakasih padanya.” Kesalnya kemudian.

Suasana diruangan itu terlihat kikuk dan memanas. Sedangkan diluar ruangan, Arocha hanya menunggu Alexius sembari menikmati kudapan dengan duduk anteng diatas pelaminan. Sebenarnya, ia tahu, alasan mengapa Alexius dipanggil oleh keluarganya. Tak lain tak bukan, itu pasti tentang pernikahan mereka ini.

Ia memang bukan siapa-siapa, namun ia bukan orang yang berniat jahat dengan memanfaatkan keluarga Malik ini. Terlebih, Alexius anak tunggal dari keluarga Malik yang otomatis akan menjadi penerus keluarga ini.

****

“Seberapa besar kau yakin, bahwa Alex akan tulus mencintaimu.. Sedangkan, diluar sana masih banyak perempuan yang lebih baik darimu.”

Celotehan itu tiba di belakang telinganya. Padahal ia hanya keluar kamar untuk mengambil minum di dapur rumah mewah keluarga Alexius.

Tetapi, mamah Alexius datang dan mengucapkan kalimat tiba-tiba itu.

Yang Ocha lakukan hanya tersenyum tipis tanpa berniat menjawab.

“Ternyata kau tidak punya sopan santun ya. Bagaimana bisa putraku mencintaimu?”

Arocha bingung. Rautnya sangat kentara sekali. Dimana letak tidak sopan santunnya?, pikirnya.

“Kau belum menjawab perkataan ku tadi.” Ucap wanita itu lagi.

Oh, sepertinya Arocha paham.

“Maaf sebelumnya nyonya, kalau perihal itu, kau bisa bertanya sendiri dengan putramu. Sepertinya aku tidak berhak menjawab.”

“Cih, jangan harap mendapat restu dariku. Karena sampai kapanpun, aku tak akan merestuimu menjadi pasangan putraku.”

Cih, Arocha juga tak butuh restu itu.

Bercanda, dia butuh. Hanya perlu menghitung waktu, maka, wanita yang menjadi ibunda dari suaminya ini akan lulus dengan sendirinya. Ia pastikan itu.

Tanpa mendengar balasan dari Ocha, Rosalia berbalik meninggalkan dapur.

*****

“Istriku, Selamat pagi sayang!”

Cup.

Ocha melotot.

Ow! Sungguh pagi yang mengejutkan. Tampaknya, Alexius sudah lebih berani setelah mereka melakukan adegan itu.

“Hei! Apa yang kau lamunkan sepagi ini? Kau belum menjawab pertanyaanku.” Usik Alexius.

Ocha tersenyum, kemudian dengan berani, tangannya terangkat, mengelus pipi Alexius.

“Selamat pagi suamiku.” Balasnya dengan suara serak usai bangun tidur.

Alexius bangkit dari posisi baringnya, menyender pada kepala ranjang, mengelus kepala Ocha lembut seraya menatap teduh Arocha.

“Mau sarapan apa?” tanyanya.

Ocha terkekeh, “Kau maunya apa? Akan aku masakkan!”

Alexius menggerakkan telunjuknya didepan wajah Ocha, “Jangan, disini sudah ada pekerja. Jadi, kau tak usah perlu repot dan capek untuk melayaniku.”

Ocha mengernyitkan dahinya, “Cih, aku ini istrimu. Jadi, melayani sudah tugasku.”

Alexius tersenyum lebar, “Sayang, kau hanya perlu melayaniku di kamar, atau saat aku membutuhkanmu untuk siap sedia di sisiku. Bukan memasak atau membersihkan rumah seperti dulu. Disini, aku bisa memperlakukan mu bak ratu sebenarnya, yang dilayani oleh pekerja bukan hanya melayani. Jadi, ku harap, biasakanlah.” Jelas lebar Alexius.

Ocha hanya mengangguk malas, “Baiklah. Tapi kalau aku bosan, jangan larang aku melakukan hal yang bisa aku lakukan dulu.” Giliran Alexius yang mengangguk, “Baiklah.”

Suasana menjadi diam.

Hingga Alexius berkata, “Jangan pernah pergi meninggalkanku, karena aku tak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan tetap berada di sisimu. Kau hanya perlu percaya padaku. Jika aku salah, jangan ragu untuk mengingatkan ku.”

####

Maaf jarang update!

Ditunggu keantusiasannya!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!