Bab 12

Setelah sekian pendapat dan perdebatan dilalui oleh pasangan suami istri tersebut yaitu Arocha dan Alexius. Akhirnya Alexius memilih menuruti keinginan sang istri dengan tetap memantau kehidupan Ocha melalui jarak jauh.

Ya, Alexius tak akan memaksa Ocha, karena keputusan seseorang terkadang tak bisa dipaksakan. Yang terpenting adalah, ia masih bisa bertemu dengan Ocha kapanpun.

“Ini semua adalah bukti kejahatan milik Adriana Elijah, orang yang telah terlibat besar dalam kecelakaan beruntun tiga tahun lalu.” Ujar Alexius seraya menyerahkan semua bukti itu diatas meja di depannya ini, juga didepan mata seorang Kepala Polisi.

Kepala Polisi itu mengangguk, “Baik. Kami akan mengecek dan menangkap orang yang terbukti dalam kejahatan tersebut.”

Alexius mengangguk, matanya menelisik Kepala Polisi itu dengan curiga, namun tetap dengan tatapan datar.

Ia bangkit berdiri, “Baik, segera selesaikan tugasmu. Aku akan menanyakan ini secepatnya.”

****

“Bagaimana? Apa kau sudah yakin tentang semua bukti itu?”

Pertanyaan itu terlontar dari pria paruh baya yang sangat mirip dengannya, Ayahnya, Ibrahim Malik.

Alexius menatap kemudian mengangguk, “Tentu saja. Itu semua bukti aku dapat melalui seluruh bawahanku juga kerja sama antara aku dengan istriku.” Jawabnya angkuh.

Jawaban itu sontak membuat tawa membahana yang berasal dari suara Ibrahim Malik itu membuat Alexius mengernyit heran.

“Tak ada yang lucu disini, A-Ayah.” Sengitnya.

Ibrahim menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan kiri. Kemudian bertepuk tangan.

“Alexius, anakku,” Panggilnya kemudian mendekat pada tempat anaknya duduk, dan ia pun ikut menduduki kursi sofa di hadapan anaknya, “Kau terlalu percaya begitu besar pada seseorang. Hingga itulah yang membuatmu terlihat begitu bodoh.”

“Cih. Jangan mengejekku,” protes Alexius. Namun, Ibrahim malah terkekeh.

“Itu nyata, katanya kau ingin melindungi istrimu, tetapi kau malah semakin akan membuat istrimu itu terperosok jauh. Kau bahkan belum mengenal jauh sepintar dan selicik apa musuhmu itu. Dan, kau terlalu mempercayai semua bawahan mu,” ujar Ibrahim. Dia menghela napas kemudian menatap sendu anaknya, “Kau harus berhati-hati dengan semua orang. Termasuk orang terdekatmu sendiri, sekalipun itu aku dan bundamu.” Lanjut Ibrahim.

Alexius heran, kenapa zaman sekarang masih ada orang tua seperti bapak Ibrahim Malik ini. Dimana-mana, orang tua ingin dipercayai oleh anaknya, lah bapak ini, malah mengharuskan anaknya untuk berhati-hati padanya sendiri.

Dunia yang aneh. Memang lebih baik, dia hidup dengan istrinya.

“Mengapa Ayah menyuruhku untuk tak percaya pada semua orang. Apa alasannya?”

“Karena, bila kepercayaan itu dihancurkan oleh seseorang yang kau percayai, kau sendiri yang akan dihempaskan oleh rasa sakit akan penghianatan itu.” Jelas Ibrahim.

Baiklah, perkataan ayahnya ini kurang lebih hampir sama dengan sang istri jika dimaknai.

“Oh dua lelaki tercintaku!!!” teriakan merdu itu membuat kedua lelaki berbeda usia tersebut menoleh kearah suara.

“Apa kabar anakku?!” pekikan suara wanita itu hampir membuat telinga keduanya tuli sangking merdu dan nyaringnya.

“Baik.” Jawabnya singkat dengan anggukan.

“Kalian sedang membahas apa?” Kekepoan wanita itu membuat Ibrahim menegang.

Tidak boleh ada yang tahu pembahasan tadi.

“Oh, tadi lagi bah---”

“Bahas istri putra semata wayang kita. Dia takut kalau kau tidak akan membuka restu untuk mereka. Bahkan mereka dengan tega menikah tanpa mengundang kita, orang tuanya. Padahal kita hanya punya satu putra saja kan?!” Serobot Ibrahim. Alexius mendelik. Namun, Ibrahim memberi kode dengan mengedipkan satu matanya.

Alexius terdiam. Dia juga ingin mendengar reaksi bundanya ini.

Meski Alexius masih ragu juga belum terlalu menerima keadaan ini, ia akan berusaha terbiasa demi sang istri.

Ah, ia jadi merindukan istrinya itu.

“Jadi, kau sudah menikah?”

Alexius mengangguk.

“Apa perempuan itu baik?”

Alexius mengangguk.

“Apa dia cantik?”

Alexius mengangguk lagi.

“Apa dia membuatmu bahagia?”

Tentu saja anggukan dua kali dari Alexius. Binar bahagia ada di mata wanita yang menjadi bundanya ini.

“Apa dia kaya? Gelarnya apa? Profesi dia apa? Keluarganya kaya seperti kita kan?”

Pertanyaan itu membuat rahang Alexius mengeras. Juga tangannya terkepal.

Mengapa harus harta?!

Melihat anaknya terdiam, Rosalia, bunda Alexius menggoyangkan lengan anaknya dengan tatapan menagih jawaban.

Alexius menggeleng, senyuman Rosalia hilang berganti dengan tatapan tajam.

“Bagaimana kalau dia wanita murahan, matre dan hanya mengincar hartamu saja?!”

Alexius semakin menekan dalam kepalan tangannya. Ia tak suka dengan perkataan ibundanya. Hanya dia yang mengenal baik buruknya Ocha, wanita berharganya.

“Dia tidak matre. Dia merawat dan menyayangiku dengan tulus. Dia bekerja banting tulang untuk makan kami waktu itu, dia bahkan menemaniku selama tiga tahun itu. Kami hidup bersama, kami berjuang bersama, dan...”

“Aku mencintainya.”

Plak

“Kau tak boleh mencintainya Alex!”

Pekikan dari bundanya membuat ia menghela napas. Jujur saja, emosinya sulit di kontrol. Terlebih bila hal itu menyangkut perasaan juga Arocha-nya.

“Itu hak Alex bunda.”

Belaan dari Ibrahim membuat Alexius tersenyum tipis. Sepertinya hanya sang ayah yang mengerti dirinya disini.

“Tapi ayah, bunda tak mau bahwa nantinya Alex akan tersakiti.”

Baik, Alex mengerti permasalahan ini. Ia mengerti perasaan bundanya. Tak akan ada ibu yang mau bahwa anaknya disakiti terlebih oleh orang yang dicintai anaknya sendiri.

“Bund, percaya sama Alex. Dia adalah wanita yang baik, dia penyayang, dan menyayangi Alex dengan tulus. Bahkan, uang yang Alex beri selama ini juga tak pernah dia pakai sepeser pun. Dia masih tetap bekerja walaupun Alex selalu mengirimnya uang beratus juta,”

Alexius berhenti sejenak.

“Jika bukan karena dia, Alex tak akan ada disini dan kembali bersama kalian. Karena meski hidup sederhana dan banting tulang, Alex merasa sangat bersyukur.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Alexius pergi meninggalkan kedua orang tuanya untuk kembali ke rumah Ocha. Ya, dia akan menginap di sana malam ini.

****

“Mengapa kau datang kesini?! Seharusnya kau beristirahat.”

“Hanya ingin.”

Alexius tertidur di atas ranjang dengan menutup matanya menggunakan lengan kanannya. Matanya terpejam.

“Tidakkah kau lelah? Kasur disini tidak seempuk di rumahmu sekarang. Badanmu bisa sakit nanti.” Ucap Ocha seraya berjalan menuju Alexius. Mendekati ranjang dan duduk di pinggirnya, di samping tubuh Alexius yang terlentang.

“Sudah tiga tahun aku sering meniduri ranjang ini. Bagiku biasa saja. Aku rindu tidur disini, lebih tepatnya merindukan orang yang tidur denganku di ranjang ini.” Ucapnya dengan melanjutkannya didalam hati saja.

Ocha menggeleng heran, dia menjauhkan lengan Alexius yang masih menutup mata pria itu.

Sejenak mereka bertatapan. Alexius mengelus tengkuk Ocha, kemudian meraihnya dan mendekatkan kepala mereka.

Cup!

“Kau ini-- suka sekali menyosor.” Kesal Ocha. Ia terkejut.

Alexius hanya terkekeh, ia bangkit untuk duduk. Bersandar pada kepala ranjang.

“Mendekatlah, dan peluk aku.” Titah Alexius. Ocha menurutinya.

Mereka terdiam sunyi malam ini di ranjang kecil yang dingin rumah mereka.

“Apa kau benar-benar tak ingin tinggal denganku?” Tanya Alexius. Ocha menggeleng dalam dekapan itu.

Alexius menghela napas.

“Mengapa kau tiba-tiba datang kesini?”

“Memangnya tak boleh?”

“Boleh. Tetapi aneh saja. Ini bahkan sudah berlalu seminggu kita tak bertemu, lalu kau dat---”

“Karena aku merindukanmu.”

“Apa ada masalah?” Tanya Ocha dengan mendongak untuk menatap suaminya ini.

Alexius tersenyum kecil dan menggeleng seraya menatap lembut mata Ocha.

“Aku hanya benar-benar merindukanmu.”

Suasana kembali hening.

“Apa jika aku tinggal bersamamu, hubungan kita direstui?”

....

****

Bersambung!

See you lagi!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!