Mereka sedang kalang kabut. Berita yang diberitahukan Ocha padanya membuat Alexius harus bertindak cepat.
“Bagaimana cara perempuan itu melarikan diri? Apa dia tahu kalau aku sedang mencarinya?”
Alexius mondar-mandir didalam ruangan kerjanya. Ya, setelah hari itu, Alexius memutuskan untuk kembali pada keluarganya dan dengan senang hati, ayah dari lelaki itu mengajari serta mewariskan seluruh perusahaannya untuk lelaki itu.
Dan dalam ruang kerjanya saat ini, ada beberapa bodyguard juga Bram, asistennya.
“Pasti ada penghianat.” Putusnya dengan duduk kembali di kursi kebesarannya sekarang.
Bram, sang asisten mendekat kemudian berdiri di samping kursinya, “Benar, aku juga sepemikiran denganmu Tuan. Rencana yang Tuan susun sangat rahasia bahkan hanya dari kita-kita saja yang tahu, lantas tak mungkin begitu saja tersebar.”
Alexius mengangguk seraya mengelus dagu bawahnya yang mulus tanpa bulu-bulu halus.
Dia mendongak menatap satu persatu mata dari para bodyguardnya. Dengan tatapan tajam, ia bertanya, “Siapa salah satu dari kalian yang tak ada disini? Mengapa jumlah kalian kurang dua?” Tanyanya dengan tajam.
Memang benar, ia diam-diam menghitung banyaknya bodyguard yang kumpul, namun tidak seperti biasanya karena jumlah mereka kurang dua.
“Izin menjawab Tuan,” Jawab salah satunya yang dipanggil Alexius cepat. “Dua diantaranya, yang satu dia sedang sakit karena saya sendiri satu kamar dengannya, semalam badannya panas dan muncul lebam-lebam ditubuhnya yang katanya alergi. Dan yang satunya lagi, saya kurang tahu Tuan.”
Jawaban itu cukup jelas, namun Alexius tak bisa percaya begitu saja. Dan demi keselamatan Ocha, perempuan sekaligus wanita yang berharga di hidupnya itu, ia harus berjaga-jaga dengan semua orang di dunia ini. Kecuali, Ocha.
****
Malam harinya setelah pulang kerja, Alexius bergegas menuju rumah Ocha untuk menemui wanita itu.
Ceklek!
Setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, akhirnya pintu itu terbuka. Dengan penerangan lampu yang tak terlalu terang, Alexius memasuki rumah sederhana itu. Yang pernah ia tinggali selama tiga tahun.
“Kau sudah makan?” Tanya Alexius. Ocha menggeleng.
“Ck, untung aku membawakan makanan dan juga beberapa bahan belanjaan untuk bisa kau masak besok. Nih, buka dan makanlah dulu.” Ucap Alexius seraya memberikan satu paper bag berwarna putih berlogo suatu restoran pada Ocha. Kemudian ia bangkit dari sofa itu menuju dapur rumah Ocha.
Dengan cekatan, lelaki itu menata berbagai macam sayuran, buah-buahan, dan juga daging segar serta beberapa minuman dan makanan instan dalam lemari pendingin Ocha.
Setelah itu, ia mencuci tangan dan mengambil segelas air berukuran lumayan besar untuk diminum istrinya nanti.
Istri? Ya, mereka masing sepasang suami-istri. Sebab Alexius sendiri tak ingin mengakhiri hubungan mereka ini.
“Nih, minumlah.” Ujar Alexius. Ocha mengangguk, “Terima kasih.”
Setelah selesai makan dan membereskan semuanya, mereka tetap duduk di sofa dengan menatap televisi namun pikiran yang berbeda-beda.
“Bagaimana keadaan selama ini? Sudah empat hari yang lalu kau mengabari aku perihal hilangnya wanita itu. Kau tau kabar itu dari siapa?” Tanya Alexius memulai lagi percakapan.
Ocha menjawab, “Dari Bram, asisten mu.” Singkat, namun membuat Alexius berpikir keras.
Kemudian ia dan Ocha saling bertatapan secara mendadak.
“Bram?” Tanyanya memastikan, Ocha mengangguk. Alexius melanjutkan ucapannya, “Tetapi, Bram belum berbicara apapun padaku perihal hilangnya wanita itu, bahkan dia seperti tak tahu apapun hilangnya wanita itu. Buktinya, siang tadi saat di kantor, dia hanya berbicara seperlunya seperti orang yang tak tahu wanita itu hilang.”
Ocha terdiam.
“Kau hanya perlu berhati-hati pada orang sekitarmu. Karena di dunia ini, tak banyak orang yang benar-benar bisa dipercaya.” Saran Ocha. Karena, ia sendiripun tak ingin banyak pikiran terlebih perihal Bram.
“Yang aku percaya di dunia ini, hanya kau. tak ada yang lain, aku sudah berjanji akan hal itu.”
Ocha menggeleng, “Tak seharusnya kau mempercayaiku begitu dalamnya. Nanti kau bisa merasakan sakit atas rasa kepercayaan itu padaku.”
Alexius terkekeh, “Aku sulit percaya pada ucapan seseorang, dan hanya ucapan mu lah yang aku percaya saat ini.”
Mereka terdiam sejenak dengan kembali menonton televisi yang menayangkan sebuah drama kolosal China.
“Tadi siang, semua bodyguard ku juga Bram berkumpul didalam ruanganku atas perintahku. Namun, ada dua orang yang tak hadir. Dan saat aku bertanya, salah satu bodyguard ku menjawab, dia bilang bahwa satu temannya sakit dan buktinya dia ketahui karena mereka satu kamar. Sedangkan yang satunya, dia tidak tahu apapun. Sedangkan dari ceritamu, kau tahu hilangnya wanita itu dari Bram, padahal Bram tak bilang apapun padaku.” Ceritanya pada Ocha setelah lama terdiam.
Ocha terdiam, tak tahu harus merespon apa.
“Aku tak bisa percaya pada siapapun bukan? Dan benar, sepertinya hanya kau yang perlu aku percaya. Karena aku ada disini, untuk melindungi mu. Aku akan meminta bantuan ayahku secara diam-diam tanpa diketahui orang lain.” Ucapnya.
Ocha menatap sendu Alexius, “Sepertinya, kita benar-benar harus berpisah, agar kau tak lagi memusingkan keadaanku dan bisa hidup tenang seperti dulu di kehidupanmu sendiri.” Katanya pelan. Namun, meski pelan, Alexius dapat mendengarnya dengan jelas.
“Tidak. Aku akan terus bersamamu. Sampai kapanpun.” Putusnya dengan tegas.
Gila saja kalau ia lebih memilih meninggalkan Ocha. Bahkan, Ocha adalah perempuan yang sudah menolongnya dahulu, dan mereka sudah menjadi sepasang suami-istri. Tak mungkin ia meninggalkan perempuan itu dikala sedang kalut-kalutnya. Bahkan dalam keadaan bahagia pun, dia takkan meninggalkan Ocha. Kecuali, Ocha sendiri yang memaksanya.
****
“Pokoknya, kau harus tetap waspada dimana pun keberadaan mu. Karena, posisimu sedang dalam pengawasan sekarang.” Saran Alexius. Ocha mengangguk.
“Tentu saja. Aku akan melindungi diriku sendiri.”
Alexius memeluk Ocha tanpa izin. Ocha terkejut saat dipeluk begitu erat dengan pria yang masih suaminya ini.
“Kau istriku, tetapi kenapa kau tak ingin tinggal denganku?” Gumam tanyanya.
Ocha tertawa dalam pelukan itu, “Kita berbeda. Itu yang membuatku tak ingin menganggu hidupmu yang sudah sempurna itu.” Terus terangnya.
Alexius menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ocha seraya mengecup leher mulus istrinya pelan.
“Bahkan, tanpamu, hidupku terasa sepi. Tanpa disadari, aku sudah terbiasa hidup denganmu, berdua bersamamu.” Lirihnya yang terdengar jelas di telinga Ocha.
Ocha terdiam. Dia lagi-lagi tak bisa berkutik, bila berbicara, ia takut bahwa salah ucapan sehingga menyakiti lelaki tulus dihadapannya ini.
“Ya, ku tahu. Bahkan, karenamu juga aku tak merasa kesepian lagi.” Jawab Ocha dengan lirih.
Alexius tersenyum lebar dan mendongak menjauh dari leher istrinya, meski tangannya tetap memeluk erat pinggang sang istri.
“Bagaimana kalau kau tinggal bersamaku?” Tanyanya lagi. Sudah berulang kali Alexius bertanya.
Kali ini, dengan harap ia menatap mata Ocha, namun lagi dan lagi Ocha menggeleng dengan helaan nafas yang terdengar keras. Alexius melesuhkan bahunya.
“Ya sudah tak apa. Mungkin belum saatnya. Tapi, kau harus jaga diri. Kau harus janji padaku, untuk tetap menjaga dirimu sendiri dengan baik. Terutama, dari ancaman orang-orang seperti Adriana. Bagiku, kau yang terpenting. Apalagi saat ini, kita sudah jarang untuk bersama.” Kata Alexius menjelaskan.
Ocha tersenyum mengangguk lagi, tangannya terangkat mengelus lembut rambut hitam lebat milik suaminya.
“Jangan khawatir. Jarak kita tidak jauh, kita masih bisa bertemu. Dan aku pastikan, akan menjaga sendiri diriku ini. Karena bagaimanapun, hidup ini juga milikku.” Katanya.
Alexius mengangguk puas. Meski ada rasa yang terus mengganjal.
****
**Bersambung....
Jangan lupa dukungannya guys!!!!
see you**;)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments