Bab 13

Sejak malam itu Alexius datang dengan tiba-tiba dan pertanyaan dari Ocha yang tak ada jawaban, keduanya tak lagi saling berkomunikasi sekedar memberi kabar.

Ralat, hanya Ocha yang tak tahu bagaimana kabar suaminya itu. Sedangkan tanpa sepengetahuan Ocha, Alexius selalu memantau perkembangan nya dalam keadaan apapun.

Bahkan sekarang, Alexius sedang memantau Ocha yang sedang bermain bersama teman barunya, kalau tak salah dari informasi yang ia dapatkan, perempuan itu bernama Arana.

Terlihat dari raut wajah Ocha yang begitu ceria bermain dan bercerita dengan perempuan itu. Sepertinya orang baik.

“Tuan, kapan kita akan kembali ke perusahaan? Tuan ingatkan, satu jam lagi ada pertemuan bisnis dengan klien dari Kanada.”

Ucapan dari Bram membuat Alexius menoleh. Mengalihkan pandangannya dari wanita tersayangnya, Ocha.

Dengan melihat jam di tangannya, Alexius mengangguk dan bangkit berdiri untuk meninggalkan taman ini, “Ayo!”

****

Ocha sebenarnya sedari tadi merasa diperhatikan, namun saat ia menoleh, tak ada siapapun di tempat itu.

“Ada apa Cha?” Tanya Arana.

Perkenalkan, dia Arana, usianya sama dengan Ocha. Nasib mereka juga sama. Bedanya bentuk tubuh dan wajah mereka saja.

Bila Ocha terlihat seperti orang-orang bule, namun Arana sangat orang Asia.

Ocha memiliki warna mata coklat, sedang Arana coklat kehitaman. Dan warna kulit mereka serta rambut berbeda.

Ya memang berbeda, karena mereka juga tak sedarah, tak sekandungan.

“Tidak. Aku hanya merasa diperhatikan tadi. Apa kau tak merasa begitu?!” Tanya Ocha kembali.

Arana menggeleng, “Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Taman ini masih sepi.”

Benar yang dikatakan Arana. Mungkin hanya perasaannya saja.

“Oh ya, cincin di jarimu itu seperti cincin pernikahan,”

Ocha menegang,

“Apa kau sudah menikah?”

****

Sudah hampir seminggu Ocha dikeluarkan dari tempat kerjanya. Itu karena, dia pernah terlambat lebih dari tiga kali. Lalu tiba-tiba saat bekerja kembali, dia langsung diberi pesangon dengan atasannya. Apa tidak bisa diberi sedikit keringanan? Padahal sepikirnya, selama bekerja disini, tak pernah sekalipun Ocha membolos atau membuat masalah. Bahkan, bosnya itu sendiri yang mengatakan bahwa ia akan terus mempertahankan karyawan seperti dirinya.

Toh, terlambat kerja selama tiga hari lebih itu karena dia memiliki alasan. Bukan kesiangan, tetapi dia membuat makanan yang akan ia jual setelah pulang bekerja. Ternyata, memang bukan rezekinya lagi bekerja di toko kue itu.

Ocha bingung harus melamar kerja dimana lagi. Sebab, dia sendiri tak ada pengalaman, bahkan pendidikan terakhirnya hanya SMA.

Dia pernah melamar kerja di perusahaan besar, dengan memberanikan diri ia melamar sebagai Office Girl, namun ditolak dengan alasan tidak terima pekerja yang belum berpengalaman.

Sepertinya belum rezeki Ocha bekerja di perusahaan itu, padahal bila dipikir, gaji disana bisa buat bertahan hidup selama dua bulan.

Duh Ocha, padahal bisa pakai uang dari Alexius yang sudah tersimpan beratus-ratus juta didalam ATM miliknya.

Ocha memilih untuk menjual kue-kue dan beberapa jajanan lain saja. Yang lumayan uangnya bisa dia pakai untuk makan dan kebutuhan pokok lainnya. Untung seribu untung, rumah yang ditempatinya adalah miliknya sendiri bukan kontrakan, bila tidak, ia akan pusing untuk membayar ini itu.

“Kue, Kue! Ayok beli Kue!” Teriak Ocha dari satu gang ke gang lain.

Seketika saat ia berteriak, banyak yang datang, dari kalangan anak-anak maupun ibu-ibu. Ya, mereka memang langganan Ocha. Karena kue yang Ocha jual enak dan harganya murah. Mulai dari seribuan hingga lima ribuan dengan ukuran yang besar.

Ocha menjual sekitar seribu kue sehari. Dia membuat adonan kue itu malam hari, dan melanjutkannya di pagi hari, kemudian berjualan di siang menjelang sore hari. Maka dari itu, cepat laris juga karena jam-jam itu merupakan jam pulang sekolah dan kerja.

“Mbak, Mbak!!! Mau beli kuenya!”

Ckitt!!

Ocha mengerem dadak laju sepeda jualannya. Kemudian menoleh, dia menganga. Ada seorang ibu-ibu yang berpakaian anggun.

Wanita itu berlari kearahnya, dan berhenti kemudian menunjuk semua kue sisa jualannya.

Ocha menganga, “Ada yang bisa dibantu?”

“Mau beli semua kue ini, berapa ya?” Tanya wanita itu. Ocha tersenyum.

“Sebentar, di kemas dulu.” Jawabnya dan wanita itu mengangguk.

“Semuanya tiga puluh lima ribu.” Kata Ocha.

Wanita itu berbinar, “Loh, cuma segitu? Ini banyak loh.” Kejutnya.

Ocha mengangguk, “Iya, kue ini ada yang harga dua ribuan dan paling mahal lima ribu.” Jawabnya.

“Wah, sebesar ini?”

Ocha mengangguk dengan masih tersenyum.

“Ya sudah, ini uangnya. Tak usah dikembalikan, anggap saja sebagai tambahan untuk berbelanja bahan kue.”

“Nyonya tidak mau mencobanya dulu?” Tanya pengawal wanita itu, bajunya berwarna hitam rapi seperti pengawal pada dasarnya.

Wanita itu mengangguk, “Mau saya coba dulu. Tunggu disini!” Titahnya pada Ocha yang dianggukinya.

“Wah!!!Ini enak sekali. Saya mau pesan tiga ratus bungkus bisa?!” Tanya wanita itu keras.

Ocha tersenyum makin lebar.

“Mau yang harga berapa Bu? seribuan ada, dua ribu, tiga ribu atau lima ribu?”

“Yang saya makan ini berapa harganya?”

“Oh itu, lima ribuan Bu,”

“Ya, saya pesan ini saja. Antar ke alamat ini saja.” Kata wanita itu kemudian berpamitan pergi meninggalkan Ocha yang tersenyum lebar.

“Baik sekali wanita itu. Bila saja mertuaku seperti itu, pasti aku sudah---”

“Tidak, tidak. Lebih baik aku hidup mandiri.”

****

Setelah mengantarkan pesanan kue di rumah mewah milik wanita yang memesan kuenya itu, ia kembali ke rumah dengan lelah. Hari ini, dia libur berjualan, sebab, dia sudah mendapat orderan yang bisa cukup untuk membeli modal bahan hari berikutnya.

Tring!

Tring!

Tring!

Ada tiga email yang masuk didalam ponsel lama milik Ocha.

Ocha yang sedang menghitung uang tabungannya itu menoleh dan meraih ponselnya yang berjarak lima meter darinya.

Seketika, ia melotot terkejut.

“Tidak mungkin!” Lirihnya.

Tak lama dari itu, matanya berbinar dan mulutnya tersenyum lebar, sesaat kemudian berubah menjadi tangisan bahagia.

“Akhirnya aku bekerja, sepertinya harus membagikan kue gratis untuk kebahagiaan ini.”

****

Tuk

Tuk

Tuk

Ketukan suara sepatu heels dua centi milk Ocha terdengar. Ia berjalan mendekati meja resepsionis.

Setelah dipertimbangkan, perusahaan ini adalah perusahaan pertama yang ia pilih dan balas email-nya.

Meski perusahaan baru, namun ini sangat menarik, sebab dalam mesin pencarian, Perusahaan inilah perusahaan kecil yang berubah menjadi besar dan terkenal dalam sekejap.

Nama perusahaan ini ialah Roxius Company's.

Perusahaan yang bergerak di bidang fashion, kuliner, dan wisata. Dan, itulah sebabnya Ocha menerima perusahaan ini. Sebab, ia sangat gemar dengan kuliner, dan fashion.

“Siapa?” Singkat resepsionis itu yang ramah.

Ocha tersenyum ramah kembali, “Arocha Setiana Dewi.”

“Oh peserta interview, silahkan menuju lift dan naik ke lantai lima. Disana sudah tertera bagian HRD yang ingin kau pilih dalam bidang apa.”

Semakin senanglah Ocha, setelah mengucapkan rasa terima kasih, ia bergegas menuju lift.

Didalam ruang kotak itu, Ocha tersenyum, ternyata perusahaan yang dipilihnya tak salah.

“Enak sekali, bisa memilih ingin bekerja di bidang apa saja.” Lirihnya.

Ting!

Pintu lift terbuka, ia kemudian menuruti kata resepsionis itu tadi. Dengan tanpa ragu, ia memasuki ruang kuliner yang pertama. Ternyata, banyak juga orang yang sudah selesai interview.

Tok tok tok

Lebih dulu utamakan ketuk pintu, setelah ada teriakan 'Masuk' barulah ia melangkah masuk dengan sopan namun tegas.

“Silahkan duduk.”

Waw, Ocha kira, lelaki yang akan meng-interviewnya ini sudah tua, ternyata masih sangat muda. Seperti seumuran dengan Alexius.

Ocha duduk. Dan memulai interview itu.

****

Dengan deg-deg an menunggu hasil penerimaan interview itu keluar, bersama dengan banyaknya manusia di sana, hanya dia yang terdiam.

Ocha berharap bisa diterima di perusahaan ini. Meski dia sudah dulu merasa pesimis karena pendidikannya kalah dengan pelamar yang lain, namun harus tetap optimis.

Gilirannya sekarang dipanggil.

“Selamat, Arocha Setiana Dewi, kau di terima bekerja disini dengan bagian pembagian resep kuliner yang ditentukan. Sudah bisa mulai bekerja besok pukul delapan pagi sampai disini.”

Ocha tersenyum lebar, gummy smilenya terlihat. Dan ia beranjak pergi setelah kembali mengucapkan terima kasih.

Dan tanpa ia tahu, bahwa seseorang yang menganggap dia berharga lah yang banyak ikut campur tentang pekerjaannya ini.

Dan dilakukan, demi Ocha bisa hidup bahagia dengan ekonomi yang tercukupi tanpa harus berusaha payah menghadapi panasnya api-api kompor dan oven kue, roti itu.

****

Bersambung!

See you lagi...

Ditunggu dukungan dan responnya!!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!