Bab 15

Alexius dan Arocha kembali bertemu. Mereka mendiskusikan Adriana. Perempuan yang mengusik ketenangan hidup Ocha itu belum juga ditemukan, membuat Ocha tak tenang.

Alexius memutuskan untuk meminta seluruh pengawalnya untuk berpencar ke beberapa daerah guna mencari keberadaan Adriana yang masih saja bersembunyi hingga detik ini.

Dan, Bram, asistennya juga tak tahu menahu lagi kabar mengenai Adriana. Bahkan, pria itu juga sama, kehilangan jejak.

Adriana. Wanita itu sungguh pintar bersembunyi. Apa jangan-jangan ada sebuah kekuasaan yang membantunya bersembunyi?

Anehnya, semakin maraknya kabar Adriana yang belum ditemukan dan belum muncul, hal itu malah menjadi rasa aneh dalam diri Ocha.

Semakin hari, perasaannya gundah tak karuan. Dia tak bisa tenang. Rasanya seperti dihimpit rasa takut dan beribu-ribu bayang-bayang kegelapan.

Namun, Ocha tetaplah Ocha. Ia lebih memendamnya sendiri tanpa memberi tahukan pada Alexius.

****

“Ya, hubungi aku terus. Beritahu aku perkembangan tentang persembunyian wanita itu.”

“....”

“Ya. Karena aku ingin wanitaku tetap bahagia dan hidup tenang di dunia.”

Dan, Alexius tetaplah Alexius.

****

“Aku akan menemukan waktu yang tepat untuk mengejutkan Arocha. Aku harus membuatnya menderita, atau mungkin.... kesakitan? HAHAHAHA!”

“Bukankah ini sangat keterlaluan ya?”

“Kau ini bicara apa?! Memang sudah seharusnya dia menderita!”

“Ck, ck. Kau sudah terlalu jauh berencana membuatnya menderita. Sudah seharusnya dia berbahagia!”

“Jangan ikut campur lagi!”

****

Arocha merenungkan segala hal rumit yang telah terjadi pada hidupnya ini. Kemampuannya tak lagi ia rasakan beberapa waktu ini. Apa kemampuan itu sudah menghilang darinya?!

Tentang Adriana yang selalu berputar dipikirannya. Ia berpikir, apa kesalahan dirinya, keluarganya di masa lalu pada hidup Adriana?

Dan, mengapa harus ia yang tak mengerti apapun yang menanggungnya?

Dan tentang Alexius. Mengapa ia selalu merasa tak asing pada pria itu, terlebih saat menatap mata pria itu. Mengapa sangat familiar?

Mengapa juga bisa terperosok terlalu jauh pada Alexius?

Padahal ia pikir, pertemuan mereka juga tak disengaja.

Apa ini rencana Tuhan mempertemukan mereka?

Namun, apa iya harus sampai menjadi sepasang suami-istri yang terlihat asing?

“Huft, pusing sekali memikirkan banyak hal rumit ini, lagipula, sampai kapan masalah Adriana ini? Sungguh, aku sudah suntuk dan lelah mengahadapi ini.”

Arocha memilih untuk memejamkan matanya sebentar setelah membaringkan tubuhnya di ranjang dengan lembut dan nyaman.

Bulan menjadi saksi, bagaimana perasaan dan kelelahan diri Arocha tentang hidupnya itu.

Drrttttt

Drrttttt

Drrttttt

Ringtone yang berasal dari ponsel Ocha diatas nakas terdengar. Dengan malas, ia berusaha membuka matanya yang terasa lengket. Kemudian menggunakan tangan panjangnya mengambil ponsel itu tanpa bangkit dari ranjang empuknya.

“Halo” sapanya tanpa melihat siapa yang meneleponnya pagi buta itu.

Tangan satunya yang tidak ia gunakan memegang telepon itu menatap jam dinding yang menempel di kamarnya. Menunjukkan pukul 04.15 pagi.

Ocha hanya mampu menghela napas. Dan mengernyit heran, “Halo, ini siapa?” sapanya lagi. Kemudian, matanya menatap layar ponsel yang hanya menampilkan nomor asing.

ASTAGA!

Mengapa ia bisa sebodoh ini mengangkat telepon dari orang asing.

“Kau hanya perlu berhati-hati. Banyak hal jahat di dunia ini yang ingin mengusik hidupmu. Terlebih teka-teki dari seseorang yang tengah kau dan pasanganmu cari. Dia masih hidup, dan hidup nyaman dengan rencana busuk untuk mencelakakan dan membuat hidupmu tak tenang.”

Terdiam sejenak dengan suasana sunyi. Ocha hanya mendengar helaan napas dari seberang sana. Dan yang Ocha bingungkan, suara yang menelponnya ini suara pria. Namun yang pasti, bukan Alexius.

“Yang penting, kau harus tetap waspada dan berjaga diri. Ingat! Kejahatan diluar sana menantimu.”

Tut.

Sambungan telepon mati. Ocha semakin dibuat kebingungan. Seketika itu, ia merasa resah. Mata yang tadinya masih mengantuk dan malas untuk bangkit mulai terbuka lebar dan segar.

Ia menggigit jari kukunya tanpa sadar. Ia resah, takut. Seperti ada hal mengganjal setelah mendengar suara pria di telepon tadi.

Dan setelah mengumpulkan keberanian, dengan melawan rasa takut karena Kekepoan nya itu, akhirnya Ocha menekan kembali nomor asing yang ada di riwayat teratas log panggilan ponselnya.

“Nomor yang anda tuju----”

Astaga!

Nomor itu sudah tak aktif lagi. Lalu Ocha mencoba melacak nomor itu dengan kemampuan sok-tahuan Ocha. Namun, lagi dan lagi, nomor itu tak dapat dilacak keberadaannya. Nomor itu hilang, hangus, mati.

Ocha mengacak rambutnya risau. Entah mengapa, hatinya menjadi begini?!

Kacau.

Apa ia harus menghubungi nomor Alexius ?

Tetapi, sudah lama ia tak berkomunikasi dengan pria itu. Ia tak ingin menganggu Alexius lebih dulu. Kasian pria itu, pasti sedang sibuk mengurusi perusahaan Malik itu.

Dan, Ocha tak ingin memperpanjang kerisauannya.

“Mungkin, ini hanya perasaanku saja. Kan, beberapa hari ini sudah tak ada lagi gangguan. Dan juga, bisa jadi pria itu salah sambung.” gumamnya menenangkan hatinya sendiri.

Ocha berusaha berbaring, menutup mata dan menaikkan kembali selimut hangat tebalnya. Namun yang terjadi? Tak lagi ada rasa kantuk. Malah rasa cemas itu semakin timbul.

Ocha berusaha menggunakan kemampuannya itu untuk menerawang masa depan tentang hidupnya. Namun gagal, semua hanya kegelapan yang ada.

“Tak mungkin terjadi hal buruk. Semua sudah baik-baik saja.”

“Ya. Aku yakin itu.”

Berbagai kata sudah ia ucapkan guna menenangkan hatinya yang risau pagi ini. Tetapi, rasa itu tak bisa hilang.

****

Ting,

Ting,

Ting,

Pesan masuk terpampang di notif pop-up ponselnya. Ocha hanya melirik tanpa mengambil ponselnya.

Ocha mengantuk tapi tak bisa tidur. Sejak pagi buta tadi ia bangun, tak bisa lagi tertidur hingga siang ini. Dan yang ia lakukan hanya duduk bersandar pada kepala ranjangnya yang empuk dan lumayan tinggi. Masih dengan selimut yang menutupi kaki hingga perutnya.

Dan pikirannya yang entah hilang memikirkan apa. Yang pasti, dia ingin memejamkan matanya yang tak bisa ia pejamkan.

Setelah dirasa lelah merenung, Ocha menghela napas dan meraih ponselnya mengecek siapa yang mengirim pesan padanya.

*Intinya, mulai saat ini, kau harus lebih waspada dan berhati-hati dibandingkan sebelumnya.

Jangan gegabah dalam mengambil keputusan, kesimpulan atau apapun yang berhubungan dengan masa lalumu ataupun keluargamu

Dan ingat! Kau wajib dan harus tetap memberi tahu aku apapun yang terjadi dan yang membuat dirimu tak bisa hidup tenang. Dimana pun, dan kapan pun*.

Ocha membaca satu persatu pesan itu dengan lirih. Kemudian berpikir.

“Haruskah aku memberi tahu Alexius?”

Ting

Satu pesan muncul lagi.

Aku masih suamimu, dan sudah seharusnya seorang istri terbuka dengan suaminya tentang hal apapun yang menyangkut hidupnya.

Dan Ocha sudah menemukan jawaban. Yang ia lakukan, siang ini akan mandi, membersihkan diri, rumahnya tanpa keluar rumah maupun membuka tirai rumahnya. Kemudian ia akan memasak, bersyukur kemarin sudah berbelanja begitu banyak kebutuhan dapur. Dan ia akan bersantai dirumah, misalnya membaca novel, menonton televisi dengan volume pelan atau bisa juga menonton video tentang kehidupan anak bayi?

Ya, ia akan mengalihkan pikiran suntuknya sejenak.

****

Siang menjelang sore, pikiran buruknya lumayan bisa pergi. Tetapi ternyata hanya sejenak. Menjelang Maghrib, pikiran itu kembali datang.

Ocha mematikan televisi, mensunyikan rumahnya, ia mematikan semua lampu rumahnya kecuali lampu jalan depan rumahnya dan dapur rumahnya. Karena hanya dua itu yang tak mencolok. Bahkan kamarnya ia buat remang supaya terlihat seperti kosong tak ada orang.

Dengan risau, ia mondar-mandir didepan ranjangnya. Menggigit kukunya, mengacak rambut, bahkan meraup wajahnya berulang kali tak membuat risaunya hilang. Setelah beribu keputusan, akhirnya ia memilih untuk menghubungi Alexius lagi terlebih dahulu.

“Halo”

“Ada apa istriku?”

Suara berat itu tetap sama. Gemar membuatnya salting. Padahal suasana sedang tak menentu.

Bahkan, Ocha hampir lupa tujuannya menghubungi suaminya kembali.

“Aku ingin bercerita. Bisakah kau menemaniku malam ini?”

Suara kekehan terdengar diseberang. Ocha menggigit kukunya semakin dalam.

“Baiklah, aku akan berangkat sekarang juga.”

Suara itu hilang dengan sambungan telepon yang usai.

Jantungnya berdegup cepat. Risaunya semakin menjadi. Ia harus segera mungkin membicarakan ini pada Alexius, suaminya.

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!