Bersama Lelaki Impianku

Bersama Lelaki Impianku

Bab 1

Arocha Setiana Dewi atau biasa disapa Ocha. Gadis belia berusia 18 tahun yang baru lulus dari sekolah menengahnya. Ia hidup di zaman modern atau millenial.

Ocha bukanlah gadis yang mempunyai segalanya. Dia hanya anak yatim piatu yang hidup sendirian di dalam rumah sederhananya yang syukurnya masih layak untuk ditinggali.

Ocha hidup tanpa bergelantungan pada siapa pun, karena dia tidak ingin merepotkan siapa pun. Tentunya dengan hidupnya yang serba sederhana.

Kedua orang tuanya dahulu sama-sama anak tunggal, jadi kala mereka meninggal, dia tidak akan memiliki saudara atau sepupu semacamnya.

Bibi Aika, ia selalu mencari wanita sebatang kara itu kala biasanya dia bingung mendapatkan solusi.

Mereka bertemu di suatu tempat. Saat itu, Ocha sedang berbelanja kebutuhan dapur rumahnya. Namun dia lupa membawa uangnya, sehingga dia lebih memilih meninggalkan belanjaannya. Namun, seorang wanita yang berumur setengah abad itu menghampirinya dengan membawa dua buah paper bag besar. Ocha kebingungan kala itu, namun si wanita itu ingin bahwa Ocha menerima pemberiannya.

“Terima saja ini. Aku tau, kau sangat butuh barang ini,” kata wanita renta itu. Ocha mengernyitkan alisnya, merasa tak enak dan malu. Tentu saja.

“Bibi, terima kasih. Tak usah repot-repot. Aku bisa membelinya lain kali,” tolak Ocha sungkan. Wanita itu tentu saja menolak.

“Tidak. Cepat terima ini saja. Aku ikhlas membantumu. Anggap saja, sekarang kau sedang beruntung dan mendapat rezeki dadakan,” ucap cepat wanita itu. Segera saja Ocha menerima paper bag dari tangan wanita itu.

Dia memeriksa isi dalam paper bag yang diterimanya. Lengkap, sama seperti yang tadi diambilnya untuk keperluannya.

“Ini, kartu namaku. Kau terima saja. Jika nanti kau membutuhkannya, kau bisa datang padaku,” ucap wanita itu. Ocha tersenyum segan. Wajahnya merasa tak enak. Sungguh dirinya malu dan merasa merepotkan.

“Terima kasih, Bibi,” balasnya dengan membungkukkan tubuhnya 180 derajat.

Wanita itu pergi dengan melayangkan tangannya sebagai tanda berpamitan pada Ocha. Ocha tersenyum. Matanya menatap kartu nama di tangannya. Kemudian beralih pada belanjanya.

“Ah, baik sekali wanita itu. Mengingatkan ku kembali pada Ibu,” batinnya.

****

Setelah pertemuan itu, Ocha ingin kembali menemui wanita itu. Namanya Bi Aika. Wanita berusia lima puluh dua tahun yang hidup sebatang kara. Hidupnya berlimpah harta, namun sendirian.

Bahkan, kesan pertama Ocha mendatangi rumah Bi Aika adalah, sangat mewah. Rumah dengan dua lantai yang banyak dilapisi kaca, dengan kolam dan air mancur di halaman depannya kemudian beberapa mobil mewah yang terparkir rapi sejajar di dalam garasi yang terbuka itu.

“Permisi, apa benar ini alamat Aika Rosmala?” tanya Ocha ragu pada satpam rumah mewah itu.

Dia berada di luar gerbang Bi Aika. Tentunya, dia harus sopan saat akan berkunjung. Apalagi dirinya datang tanpa komunikasi dengan sang pemilik rumah.

“Iya benar, Non. Ada yang bisa aku bantu?” tanya seorang satpam berbadan gemuk berlarian dari dalam pos satpam menuju pagar tepat Arocha berdiri.

Ocha tersenyum puas mendengar jawaban itu, “Boleh aku bertemu dengan pemilik rumah?”

“Kalau boleh tahu, atas nama siapa?”

“Arocha. Gadis yang pernah ditolong pemilik rumah, dibelikan barang belanjaannya dan bertemu di supermarket.”

Satpam itu bergegas menuju interkom yang tertempel di balik tembok pagar.

“Permisi, Bu, maaf mengganggu waktunya. Ini ada tamu, atas nama Arocha, katanya gadis itu pernah bertemu Ibu di supermarket. Dia gadis yang barangnya dibelikan oleh Ibu waktu lalu,” ujar satpam itu.

“Suruh saja dia masuk. Aku mengenal orang itu.”

Ocha tersenyum.

Satpam itu beralih menghampiri Ocha kembali. Kemudian menundukkan badannya, dan membuka pagar besar itu, ternyata otomatis.

Bukankah ini sangat mewah? Ah, Ocha rasanya malu dan sia-sia datang kesini bila untuk mengganti uang belanja milik Bi Aika jika saja rumahnya semewah ini ternyata. Uangnya bukanlah apa-apa.

“Silahkan masuk, Non. Ibu sudah menunggu di dalam. Tadi aku lihat beliau ada di ruang tengah,” ucap satpam itu. Ocha mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan senyuman.

Dia mulai berjalan untuk menyusuri rumah mewah ini, yang besar dan indah. Seperti rumah-rumah di luar negeri. Kakinya berjalan di atas lantai keramik bercorak batu kristal yang tertempel di atas tanah halaman rumah bi Aika.

“Ketuk tidak, ya?” tanyanya pada diri sendiri. Ia berdiri ragu di depan pintu utama rumah Bi Aika.

Matanya melirik bel rumah yang terpasang di balik bunga besar depan jendela pintu utama.

Ocha menekan bel itu. Hingga menunggu beberapa menit, terbukalah pintu besar yang mewah itu.

Terpampang wajah si pemilik rumah yang kala itu menolongnya. Ocha tersenyum canggung. Pasalnya, wajah wanita tua ini sangat buruk, tak ada senyum.

“Masuk,” titahnya sekali kemudian berjalan pergi meninggalkan Ocha di tempat.

Setelah sadar, dia segera mengikuti langkah pemilik rumah. Yang menuju ruang tengah, sepertinya pemilik rumah sedang sibuk. Bi Aika sudah duduk di sana dengan berbagai kertas berhamburan di atas meja, dan orang tersebut duduk di atas sofa mewah berwarna abu-abu itu.

“Duduk,” titahnya lagi. Ocha bergegas duduk di sofa tunggal di hadapan Bi Aika. Ia menunduk ragu.

“Em, sebelumnya aku izin memperkenalkan diri. Namaku Arocha Setiana Dewi. Terima kasih sudah membantuku untuk membayar belanjaanku dua minggu lalu. Aku baru sempat datang kemari karena harus lebih dulu mengumpulkan uang.”

Bi Aika menghentikan kegiatannya. Kemudian ia menatap Arocha. Gadis itu menatap mata Bi Aika.

“Berapa usiamu?” tanya Bi Aika.

Ocha mengernyit, namun tetap menjawab.

“Tahun ini, delapan belas tahun.”

“Kapan kau ulang tahun?” tanyanya lagi.

“Tanggal tiga belas bulan lalu.”

Sejenak, Ocha menatap sekelebat rasa terkejut di mata Bi Aika.

“Dimana orang tuamu? Kenapa kau mencari uang sendiri di usia semuda itu?” tanya Bi Aika lagi.

“Orang tua ku sudah meninggal dua tahun lalu. Dan, aku hidup sebatang kara. Hingga menghidupi kehidupanku sendiri adalah hal yang wajar,” jawab Ocha. Bi Aika mengangguk. Matanya tetap menatap Ocha, Ocha merasa getaran dalam dadanya kala melihat tatapan itu.

“Ada urusan penting apa sampai kau datang kemari?”

“Aku ingin mengembalikan uang Bibi yang digunakan untuk membayar hasil belanjaanku dua minggu lalu,” jawab Ocha seraya mengeluarkan amplop putih yang di dalamnya tentu ada uang ganti yang dimaksudnya.

Bi Aika tersenyum, “Tak usah. Aku tak butuh. Itu hanya sedikit, bahkan kurang untuk mencukupi hidupmu selama sebulan. Sudah kubilang, anggap saja kau mendapat rezeki dadakan,” tolak Bi Aika. Ocha tersenyum tak enak.

“Tetapi, aku berhutang budi padamu, Bi.”

“Kalau gitu, balas hutang budi itu dengan kau menjadi temanku di masa tuaku ini.”

Ocha terkejut. Ini nyata?

“Apa kau serius, Bibi?” tanyanya. Bi Aika mengangguk.

“Untuk apa aku bercanda. Kau mau?”

Ocha tersenyum. Kebetulan apa ini dirinya pun hidup sendiri di dunia ini. Melewati susah senangnya sendirian. Akhirnya, dia akan kembali memiliki keluarga.

“Ya, aku terima. Sekarang, kita menjadi keluarga, bukan?” kata Ocha bertanya. Dia tersenyum senang. Matanya berbinar bahagia. Anggukan itu terasa sangat menyenangkan di kepala Ocha.

“Yeah, we’re are family now. Jika kau butuh aku, kau bisa mencariku,” titah Bi Aika. Rautnya pun tak kalah senang. Dia mendekat ke Ocha dan segera memeluk gadis itu.

Ocha memeluk erat Bi Aika. Ia tak akan menyiakan waktu dan kesempatan ini. Dirinya akan kembali memiliki teman hidup di dunia. Namun, dia tak akan berpacu pada bibi barunya. Ia akan tetap hidup dengan mandiri, akan ia usahakan.

****

Sudah beberapa bulan mereka saling mengenal. Hingga keakraban mereka semakin kuat. Bahkan sekarang sudah layaknya keluarga kandung.

Siang ini, Arocha sedang bersiap-siap untuk menemui seseorang yang berarti di hidupnya beberapa bulan terakhir ini.

Posisi Arocha ada di trotoar jalan raya yang sangat padat. Dia berhenti di depan sebuah kotak telepon umum. Dia bersandar di bollard yang terpasang di pinggir trotoar. Tangannya memegang telepon genggamnya, yang menampilkan sambungan telepon pada Bi Aika, dan tertulis kata ‘tersambung’ tanpa ada panggilan diangkat.

“Duh, Bibi Aika ke mana, sih?” Matanya menoleh untuk mencari-cari tubuh sang bibi, yang bisa saja ditelan oleh ramainya para manusia.

“Ocha!” teriakan itu berasal dari belakang punggungnya. Dia menoleh mencari sumber suara. Senyumnya terpampang. Akhirnya ia akan kembali bertemu dengan sang bibi, keluarga barunya itu. Setelah sebulan berlalu dengan penuh kesibukan diri mereka masing-masing.

Hiruk pikuk ramainya manusia berada di jalan tak membuat Ocha tuli akan teriakan itu.

Hingga, suatu kecelakaan maut membuatnya memunculkan rasa terkejutnya. Dan apalagi, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwasanya tubuh sang bibi yang berada di seberang jalan itu terpental jauh akibat tabrakan motor dan mobil yang disebabkan oleh sebuah truk oleng.

Brak!

Pyar!

Bruk!

Cittt ....

“Bibi!” Teriakan Ocha membuat orang di sekeliling tersedu. Tabrakan beruntun yang juga menyebabkan orang tersayangnya tersangkut di dalamnya.

Berakibat dari satu truk bermuatan besar yang mengakibatkan beberapa mobil terpental termasuk kendaraan lain dan juga beberapa manusia yang mengalami luka. Dan, Bibi Aika ialah salah satu wanita yang ikut dalam daftar korban. Naasnya, beliau tewas di tempat saat itu juga.

Ocha menangis. Dia tersedu keras. Dia masih syok, tak bisa menerima apa yang baru saja ia alami.

Langkahnya membawa dia untuk menghampiri tubuh sang bibi yang sudah remuk karena terpental jauh. Tangannya terkepal, memeluk tubuh penuh darah Bi Aika. Memangku dengan sayang kepala korban itu. Kemudian kepalanya mendongak ke langit.

“Kenapa kau ambil nyawanya, Tuhan?! Mengapa kau harus mengambil satu-satunya manusia yang aku miliki di dunia ini?!” teriaknya penuh emosi.

Matanya tak bisa berbohong. Ia terus memeluk erat tubuh sang bibi, tak perduli bahwa ia berlumuran darah.

Tubuhnya ditarik oleh petugas rumah sakit yang mengangkut korban kecelakaan, dan dengan mata kepalanya, dia melihat tubuh Bibi Aika dimasukkan ke dalam mobil ambulance.

Sayangnya, Ocha kurang teliti sehingga kala itu, dia hanya fokus pada tragedi kecelakaan itu tanpa tahu bahwa penyebab segala hilangnya puluhan nyawa itu karena satu manusia yang ada di dalam ramainya lingkaran manusia di sana.

“Akhirnya, aku puas melihatmu seperti ini Arocha. Ini belum seberapa, tunggu saja selanjutnya. Hidupmu tak akan tenang,” gumam seseorang yang wajahnya tertutup tudung hoodie hingga wajahnya tak diketahui. Ekspresi orang itu tersenyum miring dan puas. Matanya tertutup satu perban, hidungnya ditindik indah.

Orang itu memilih pergi setelah menatap raut kehancuran Arocha yang sangat membuatnya bahagia.

Dia sangat puas akan tragedi tersebut tanpa memerdulikan keluarga korban lain yang ikut tersangkut akan rasa dendamnya ini.

Terpopuler

Comments

ReiRey

ReiRey

Salam kenal thor..

2022-09-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!