Bab 5

Tak terasa, waktu telah berlalu. Sebulan telah lalu.

Malam ini, kedua pasangan yang baru resmi sebulan itu berdiri berdua diujung balkon kamar mereka menatap kelamnya langit malam yang cuacanya terlihat mendung.

“Apa menurutmu keputusan yang kau ambil sudah sangat benar?”

Pertanyaan yang terlontar dari mulut Alexius membuat Ocha tersadar dari keheningan malam. Ia menoleh. Netranya menatap sang lelaki yang telah menjadi suaminya.

“Ya. Dan kau adalah orang yang tepat.”

“Apa alasannya?” tanya lelaki itu lagi. Kali ini, alisnya berlipat kedalam, mengerut menampilkan raut bingung.

Ocha tersenyum tenang, “Itu bukan urusanmu. Tak terlalu penting. Tetapi satu hal yang pasti, suatu saat kau akan mengerti.” Jawabnya.

Dan keheningan timbul kembali.

****

Sungguh tak terasa, waktu begitu cepat bergulir. Pagi hingga malam tak terasa cepat berganti.

Seiring berjalannya waktu, Ocha mulai terbiasa hidup bersama lelaki asing yang dinamainya Alexius. Mereka mulai akrab. Tiga tahun tinggal satu atap sudah mampu menghilangkan sedikit kecanggungan yang ada.

“Kali ini, apa yang kau ingat Al?” tanya Ocha.

Selain mencari bukti bersama, Ocha mulai membantu Alexius untuk menggali ingatan lelaki itu yang juga belum seutuhnya kembali. Meski sudah berjalan lama, tetapi lelaki itu selalu merasa sakit saat akan mengingat kejadian tiga tahun lalu.

Dan juga, Adriana yang sangat sulit ia gali informasinya. Dan bila bertanya, bagaimana mereka berdua bertahan hidup? Jawabannya karena mereka bekerja. Hingga bisa membangun usaha sendiri, berdua.

“Susah sekali mengingatnya Cha. Kejadian itu sangat rumit ku pahami. Apa kau juga tak tahu sedikitpun awal mula kecelakaan itu terjadi?” tanya balik lelaki itu. Ocha menggeleng.

“Yah. Lalu kita harus bagaimana?” Sungguh, sangat sering Ocha hampir menyerah karena frustasi. Ternyata kasus ini rumit. Dan mengenai orang yang kala itu dimintai tolong Ocha, dia sudah pindah beserta keluarga besarnya dan berusaha mengikhlaskan apa yang telah terjadi.

Ocha melihat Alexius terpejam kemudian terbuka kembali matanya.

Terlihat raut berbinar, “Aku ingat sedikit.” Mendengar kalimat itu, Ocha langsung tersenyum puas.

“Sebutkan.” titahnya berbinar.

“Mobil Honda Civic warna merah pekat berhenti di samping truk putih besar yang mengangkut makanan ringan. Kemudian, mobil itu melaju di belakang mobilku bersama truk itu. Tidak lama kemudian, mobil itu berhenti di pinggir jalan yang sepi, sedangkan truk itu tetap berada di belakangku dengan laju. Dan saat berada di lampu lalu lintas, truk itu dengan sengaja malah menambah laju truk bukan malah mengurangi padahal jelas saja warna lampu sudah berubah merah.” Alexius menggeram sakit sejenak. Ocha mengelus bahunya lembut untuk menenangkan. “Setelah itu, truk menabrak banyak mobil yang tidak bersalah di depannya termasuk aku beserta mobilku. Selanjutnya.... Ah aku tak ingat, rasanya sakit.” Sambungnya.

Ocha terdiam, tangannya tak henti mengelus bahu suaminya.

Matanya terpejam, memegang bahu suaminya usai lelaki itu bercerita dan memejamkan matanya kembali. Tak lama dari itu, mata Ocha terbuka dan berwarna putih seutuhnya, ia akan mengingat dan menggali informasi melalui bahu suaminya. Dan energi yang ia gunakan pastinya akan sangat banyak.

Brak!

Pyaar!

Bruk!

Cittt ....

“Bibi!” Teriakan Ocha membuat orang di sekeliling tersedu. Tabrakan beruntun yang juga menyebabkan orang tersayangnya tersangkut di dalamnya.

Berakibat dari satu truk bermuatan besar yang mengakibatkan beberapa mobil terpental termasuk kendaraan lain dan juga beberapa manusia yang mengalami luka. Dan, Bibi Aika ialah salah satu wanita yang ikut dalam daftar korban. Naasnya, beliau tewas di tempat saat itu juga.

Ocha menangis. Dia tersedu keras. Dia masih syok, tak bisa menerima apa yang baru saja ia alami.

Langkahnya membawa dia untuk menghampiri tubuh sang bibi yang sudah remuk karena terpental jauh. Tangannya terkepal, memeluk tubuh penuh darah Bi Aika. Memangku dengan sayang kepala korban itu. Kemudian kepalanya mendongak ke langit.

“Kenapa kau ambil nyawanya, Tuhan?! Mengapa kau harus mengambil satu-satunya manusia yang aku miliki di dunia ini?!” teriaknya penuh emosi.

Matanya tak bisa berbohong. Ia terus memeluk erat tubuh sang bibi, tak perduli bahwa ia berlumuran darah.

Tubuhnya ditarik oleh petugas rumah sakit yang mengangkut korban kecelakaan, dan dengan mata kepalanya, dia melihat tubuh Bibi Aika dimasukkan ke dalam mobil ambulance.

Sayangnya, Ocha kurang teliti sehingga kala itu, dia hanya fokus pada tragedi kecelakaan itu tanpa tahu bahwa penyebab segala hilangnya puluhan nyawa itu karena satu manusia yang ada di dalam ramainya lingkaran manusia di sana.

Pintasan ingatan hanya intinya yang Ocha ingat saat kejadian itu. Ia melepaskan genggaman tangannya pada bahu sang suami.

“Ada apa? Kau mengingatnya?” Tanya Alexius. Ocha menggeleng. Tentu saja gelengan kepala yang menjawab pertanyaan suaminya. Bila saja Ocha bisa menelisik lebih dalam kejadian itu, ia takkan menjadi istri dari Alexius saat ini.

Dalam ingatan Ocha, seperti ada suatu hal yang menghalangi, Ocha sendiri tidak tahu bagaimana cara menghapus penghalang tersebut. Ocha ingin, hidupnya bisa tenang sedia kala dan tak lagi mendapat gangguan, ancaman dari Adriana yang kejam itu.

****

“Boleh aku bertanya padamu?” Tanya Alexius. Oh iya, baru Ocha ingin beri tahu, Alexius adalah tipikal lelaki yang gemar bertanya. Wajahnya tegas namun tatapannya sangat polos.

Ocha mengangguk, “Tentu saja. Tanyakanlah.” Jawab Ocha.

“Kenapa kau memberiku nama Alexius? Dan kenapa hanya Alexius saja tanpa pelengkap?” Tanyanya.

Bagus. Itu pertanyaan yang bagus. Saatnya Ocha memberi penjelasan pada suaminya.

“Karena aku suka.” Jawabnya singkat terlebih dahulu. Mimik wajah Ocha berubah kala melihat raut kebingungan suaminya yang sepertinya sedang menerka-nerka sebuah jawaban yang tepat.

“Ck. Bukan itu yang aku mau. Beritahu aku.” Titah lelaki itu mutlak. Ocha menghela napas dan tersenyum.

“Alexius memiliki arti yang sangat bagus. Menurut studi numerologi, nama "Alexius" mempunyai kepribadian Pemrakarsa, pelopor, pemimpin, bebas, pekerja keras, individualis. Dan juga....”

“Juga apa?” Serbu Alexius.

“Kau mirip seperti lelaki di masa kecilku. Laki-laki yang menjadi teman pertamaku kala itu. Maka dari itu, aku memberimu nama Alexius, nama yang sama seperti ‘Al’ teman masa kecilku. Lelaki favoritku dulu.”

Entah mengapa, wajah Alexius berubah bak kepiting rebus. Merah sekali, bahkan hingga telinganya terlihat memerah. Ocha yang melihatnya tidak khawatir karena ia tahu, suaminya ini sedang salting.

“Kau lucu sekali. Badan besar, tetapi hati bak boneka Hello Kitty yang imut itu. Hahaha.” gurau Ocha seraya tertawa diakhir kalimatnya.

Semakin bertambah merahlah Alexius itu.

****

Bulan dan bintang menampakkan diri di tengahnya malam. Angin semilir yang dingin tak membuat kedua orang yang sejak sore berada di balkon itu beranjak dari tempatnya.

Setelah acara bertanya dan menjawab perihal nama Alexius, keduanya terdiam hening menikmati terbenamnya matahari di langit senja. Hingga malam ini yang langitnya terlihat terang, wajah keduanya sangat tenang.

“Ocha...” Panggil Alexius. Ocha berdehem saja.

“Apa ini rumah aslimu? Tetapi, mengapa pertama kali kau mengajakku datang kesini, tak ada seorang yang mengenalmu?” tanya Alexius. Ocha melirik lelaki itu.

“Bukan. Rumah ini ku beli tiga tahun lalu. Tepatnya setelah kecelakaan itu terjadi, melalui uang hasil penjualan rumah lama keluargaku untuk membeli dan menghidupiku selama ini. Dan tentu saja para tetangga tak mengenalku, sebabnya karena memang aku orang baru.” Jelasnya. Alexius mengangguk paham.

“Lalu, apa sangkut pautnya dirimu dengan pelaku kecelakaan itu?” tanya Alexius lagi.

Ocha tersenyum singkat, “Pelaku itu yang membuat hancur hidupku bertubi-tubi. Dulu, orang tuaku pergi juga karena orang itu. Dan sekarang, orang terdekatku pergi juga karena orang itu.”

“Dari mana kau tahu pelaku itu adalah orang yang sama dalam kehilanganmu atas orang tuamu?”

“Karena saat itu, aku dibantu oleh seseorang yang juga kehilangan keluarganya atas kecelakaan beruntun yang terjadi. Orang itu sempat membantuku untuk sekedar mencari identitas sang pelaku. Dan yah, dia adalah orang yang sama yang kedua kalinya menghancurkan hidupku secara sadis.”

Alexius turut prihatin.

“Aku akan menjadi temanmu. Kau tidak perlu ragu dan takut akan kehilangan seseorang lagi dalam hidupmu.” Kata Alexius secara tiba-tiba.

Ocha tersenyum simpul, “Bagaimana setelah kau mengetahui dan mengingat semua tentang dirimu dan kehidupanmu, kau pergi meninggalkan aku?”

Alexius tertegun, “Emm.. Itu...”

**BERSAMBUNG ---

JANGAN LUPA KOMEN APABILA ADA KESALAHAN KETIKAN... TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA SELALU❤️**

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!