Sebulan telah berlalu setelah percakapan antara Ocha dan Alexius di balkon kamar dalam semilirnya angin malam.
Dan sebulan itulah, bukti kejahatan Adriana telah terkumpul. Itu karena, kerja keras antara mereka berdua yang tak padam.
Mereka berjuang berpencar pada suatu daerah yang bersinggungan dengan Adriana menurut ingatan Ocha. Dari sanalah mereka mendapat informasi mengenai Adriana secara langsung dan detail. Dan beruntungnya, kecelakaan yang menyangkut kedua orang tuanya kala itu, terekam dalam CCTV di sebuah jalan mereka terbunuh. Dan lengkap pula wajah-wajah para pelaku tersebut.
“Apa kau senang atas semua bukti yang kita dapat?”
Ocha menoleh menatap suami tiga tahunnya ini, lelaki yang bisa menjadi temannya dengan tingkah gemar bertanya-nya.
“Tentu saja. Tapi, maafkan aku, jika aku belum bisa membantumu memulihkan segala ingatanmu yang hilang. Padahal waktu tiga tahun sangatlah cukup untuk membantumu mencari identitas aslimu.” Sendu Ocha.
Alexius mengangkat tangannya untuk mengelus lembut kepala Ocha.
“Tidak papa. Bahkan jika aku tidak lagi mengingat perihal jati diriku pun tak apa. Aku sudah senang hidup denganmu, menjadi suamimu, dan teman ceritamu.” Jawab Alexius dengan tertawa. Ocha terpana.
Lagi-lagi Ocha merasa heran. Apa ia harus beruntung mendapatkan suami yang tampan, pengertian, sabar, dan juga gagah seperti lelaki di hadapannya ini?
Rasanya sangat sulit di mengerti.
***
Hari ini, Ocha dan Alexius berencana untuk berbelanja bersama. Kini mereka tengah bersiap.
Tapi, ada yang mengherankan. Sepagi ini, pukul 08.00 ini, sudah ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Padahal para tetangga sedang tidak ada dirumah masing-masing, sebab mereka semua sedang berwisata.
“Siapa yang mengetuk pintu?Mengapa tumben sekali?” tanya Ocha heran. Posisinya sedang duduk di tepi ranjang menyisir rambut sepunggungnya dengan menatap Alexius melalui cermin yang ada didalam kamar mereka.
Ya. Mereka tentu sudah tidur bersama sejak lama. Tetapi tanpa melakukan hal yang sewajarnya dilakukan oleh suami istri.
“Bukankah hari ini semua tetangga kita berwisata? Kata mereka berangkat hari ini subuh tadi kan?” tanya balik Alexius seraya mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Ocha tadi.
Sementara itu, ketukan pintu berbunyi semakin keras. Orang yang mengetuknya itu seperti tidak bisa bersabar sedikitpun.
Ocha dan Alexius khawatir. Sebab mereka takut bilamana itu orang-orang jahat. Jadilah mereka memutuskan untuk keluar berdua bersama.
Ocha membuka sedikit tirai di jendela rumahnya. Dan benar saja, berdirilah disana sekitar lima pria bertubuh kekar dengan kacamata hitam.
Sontak Ocha menutup tirai tersebut pelan. Netra-nya menatap Alexius.
“Ada lima orang bertubuh kekar dengan masing-masing mengenakan kacamata hitam. Aku takut, siapa mereka?” bisik Ocha pada suaminya. Alexius pun ikut terkejut. Pasalnya mereka tak punya sekalipun masalah dengan orang sekitar selama tiga tahun ini.
“Aku hadapi saja mereka.” Putus Alexius. Tangan Alexius hendak mencapai gagang pintu, tetapi Ocha menahan tangannya. Genggaman tangan Ocha sangat erat.
“OCHA. KELUAR KAU. KAMI TAHU KAU DIDALAM. BOS SUDAH MENUNGGUMU!” teriak kasar orang di luar itu. Tubuh Ocha menegang. Alexius menatapnya.
“Itu orang suruhan Adriana.” Singkat Ocha ketakutan.
Dia tidak mau bahkan belum siap untuk kembali merasakan derita dari wanita egois dan kejam seperti Adriana. Bahkan bukti yang mereka kumpulkan belum diberikan kepada pihak yang berwenang.
“Untung saja semua bukti sudah kita titipkan kepada tetangga kepercayaan kita.” Kata Alexius pelan.
Alexius menggenggam tangan Ocha erat yang gemetar. Langkahnya didepan menuntun Ocha melewati jalan di pintu belakang setelah mengambil semua barang penting, seperti dompet, ATM, surat rumah, dan semua berkas penting.
“Ayo kita lewat sini.” Ajak Alexius.
Membuka pintu belakang, kemudian terlihatlah tembok tinggi yang membentengi. Alexius melihat keadaan, syukurlah suruhan Adriana tak mengepung rumah mereka. Alexius menggendong Ocha dan meletakkan tubuh Ocha di batas tembok atas.
“Pejamkan matamu jika kau takut. Kau takkan jatuh selama ada aku. Cukup diam dan jangan mengeluarkan suara.” Bisik pelan Alexius seraya memandang Ocha dari bawah.
Sementara itu, ketukan terdengar semakin jelas serta teriakan kelima orang didepan sana.
Alexius melompat melewati tembok itu setelah membuat ancang-ancang. Dengan cepat ia sampai dibalik tembok tinggi itu. Dengan menengadahkan kedua tangannya siap untuk menangkap istrinya.
“Lompatlah dengan tenang, cepat dan yakin. Tak usah takut jatuh, aku akan menjagamu dari sini.” Kata Alexius.
“Ini sangat tinggi, aku takut.” Lirih Ocha. Sementara Alexius menggeleng, kemudian tetap berusaha menyakinkan Ocha. Hingga Ocha memilih menuruti Alexius untuk melompat turun ke bawah. Dan dengan sigap, Alexius menerima Ocha dalam gendongannya.
Kemudian Alexius menurunkan tubuh Ocha, mereka berdua berlari dengan pelan tanpa suara agar para pria berbaju hitam di luar tak dengar derap kaki juga suara dari belakang rumah.
Mereka berdua sudah keluar dari daerah rumah mereka, terus berlari menghindari para pria itu.
Sementara di rumah Ocha, kelima pria berbadan kekar itu mendengar derap langkah kaki yang menjauh. Salah satu telinga dari kelima pria itu sangat tajam. Sedari tadi ia diam, tetapi dia tau bahwa orang pemilik rumah baru saja pergi.
“Orang yang kita cari sudah pergi. Aku mendengar derap langkah kaki menjauh.” Ucapnya kepada teman-temannya.
Sontak saja, keempat temannya menghadap pria itu. Mereka percaya akan kelebihan yang dimiliki pria itu. Mereka bergegas berlari mengejar Ocha.
Benar saja, saat mereka sudah sampai di arah belakang rumah milik Ocha, mereka melihat dua orang berlari, bertepatan dengan mereka yang sedang mencari salah satu dari orang itu.
“LARI! KEJAR MEREKA!” teriak ketua dari keempat pria itu. Merekapun berlari bersama. Mengejar, dan berusaha meraih Ocha yang tangannya nampak digenggam erat oleh lelaki di samping perempuan itu.
“Ck, Sial. Aku harus menghubungi bos.” Umpatnya.
****
“Al, aku lelah.” Lirih Ocha. Alexius yang mendengar lirihan tersebut menoleh ke belakang.
Terlihat wajah lelah Ocha yang hampir pucat. Alexius mencari sebuah pohon besar untuk sekedar bersembunyi. Tetapi, dirasa tak ada pohon, ia pun berhenti berlari kemudian dengan cepat menyuruh Ocha untuk menaiki punggungnya. Dengan tubuh lemas, Ocha naik ke atas punggungnya.
“Woi berhenti!!!” Teriak suara itu lagi. Alexius semakin mengencangkan larinya.
Di depan sana, ada sebuah jembatan. Tetapi, ada banyak mobil hitam yang berhenti. Lalu keluarlah banyak pria berbaju hitam lagi. Alexius berusaha untuk mencari arah lain. Ia begitu terkejut melihat banyaknya pria suruhan Adriana untuk menangkap Ocha.
“TUAN, BERHENTI!” Tetapi anehnya, Pria berbaju hitam yang keluar dari mobil itu berteriak memanggilnya bukan lagi Ocha.
Namun, dia takkan percaya. Bisa saja orang-orang itu benar suruhan Adriana. Dia tetap kekeh untuk berlari. Tak ada rasa lelah untuk melindungi istrinya ini.
Ada sebanyak enam mobil hitam itu melaju kencang, memepet tubuh Alexius yang menggendong Ocha. Kemudian keenam mobil itu melingkar mengurung mereka berdua. Alexius tak bisa lagi melangkahkan kakinya pergi.
“Aku takut. Aku tak mau tertangkap. Lindungi aku.” Kata Ocha gemetar. Alexius menolehkan sedikit kepalanya melihat raut wajah Ocha yang disembunyikan di ceruk lehernya.
Salah satu pria yang memakai baju hitam itu keluar dari mobil diikuti yang lain. Pria itu mendekat dengan raut senang juga cemas.
“Benarkan ini Tuan? Tuan kemana saja? Tuan besar dan nyonya sudah menyebar luaskan berita hilangnya Tuan. Syukurlah kami bisa menemukan Tuan.” Ucap panjang pria itu. Alexius terdiam.
“Mereka siapa?” tanya lirih Ocha. Semakin mengeratkan pegangannya di leher Alexius.
“Kalian siapa?” Pertanyaan singkat Alexius membuat senyum yang terpatri di bibir pria yang berbicara itu hilang.
“Maksud Tuan? Saya Bram, asisten Tuan muda yang diutus oleh Tuan besar.” Jawabnya.
Ocha mendongak kemudian menatap banyaknya pria berbaju hitam disekelilingnya.
“Dia amnesia. Sudah sedari tiga tahun yang lalu, dia juga hidup bersamaku. Kalian jangan mengaku-ngaku mengenalnya. Aku tahu kalian bukanlah orang baik.” ketua Ocha. Tak mungkin ia akan percaya begitu saja. Terlebih banyak pria berbaju hitam itu.
Jujur, mereka lebih menyeramkan dibanding dengan suruhan Adriana tadi.
****
“Ish. Mengapa mereka terus mengikuti kita Al?” gumam Ocha. Alexius tak tahu.
Orang-orang itu terus mengikuti langkah Alexius dan Ocha dari belakang. Ada yang berjalan, ada juga yang mengendarai mobil hitam itu.
Alexius menghentikan langkahnya. Ia menoleh, kemudian membalikkan badannya. Langkah orang-orang itu ikut berhenti.
“Kenapa kalian terus mengikuti kami?” tanya Alexius ketus. Jujur saja, sebenarnya ia ikut risih. Bukan Ocha saja.
“Tentu saja untuk melindungi, mengawasi Tuan. Itu sudah tugas kami.” Jawab pria yang mengaku sebagai asistennya tadi.
Alexius pusing, ia tak mau lagi terlalu memikirkan orang-orang itu. Ia hanya ingin cepat sampai di supermarket membeli keperluannya dan istrinya lalu kembali ke rumah.
Ocha melepaskan genggamannya dengan Alexius ketika sudah sampai di pintu supermarket. Membuat Alexius menoleh.
Mengangkat satu alisnya bertanya, “Mengapa kau lepas genggamannya?Biasanya tak pernah dilepas.” Tanya Alexius. Suaranya kencang, mimik wajah Ocha malu. Meronalah pipinya.
“K-kau masuk dulu saja. Aku ada perlu sedikit. Nanti ku susul kau di bagian buah-buahan.” Titah Ocha. Alexius mengangguk dan langsung memasuki supermarket.
Ocha membalikkan badannya, tangannya menghentikan langkah pria-pria yang tadi mengikutinya bersama suaminya.
Dengan tegap tanpa takut lagi, ia bertanya.
“Siapa kalian? Kalian mengenal suamiku?” tanya Ocha. Terlihat raut terkejut di wajah-wajah orang itu.
“Kami ajudan yang ditugaskan untuk mencari dan menjaga Tuan muda yang hilang tiga tahun lalu.”
“Bisa kau jelaskan? Bagaimana kehidupan, latar belakang juga penjelasan lengkap tentang suamiku?” Pinta Ocha bertanya. Matanya menatap di salah satu pria yang mengaku sebagai asisten suaminya tadi. Ia ingat wajahnya.
Pria itu sadar, kemudian bergegas menjawab.
“Sebenarnya, Tuan muda adalah....”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments