Alexius tak percaya dengan perkataan Ocha. Baginya, Arocha lebih penting. Hidup dalam satu atap selama kurang lebih tiga tahun ini membuat Alexius sangat berterimakasih pada Ocha, istrinya. Meski mereka awalnya hanya menikah untuk bekerja sama, tetapi tak apa, Alexius selalu menyayangi Ocha dalam keadaan apapun. Tugasnya melindungi Ocha masih berlaku sampai kapanpun, sebab perempuan itu adalah istrinya, kekasihnya.
Perkataan Ocha semalam, membuatnya terus kepikiran. Ia takut, sangat takut.
Ia harus segera menemui pria yang mengaku sebagai asistennya.
Alexius mencoba menyalakan ponselnya. Kemudian ia mencari kontak yang sudah ia beri nama 'Bram'. Segera saja ia menghubungi pria yang pernah 'sok akrab dengannya kala itu.
“Bisakah kita bertemu?”
“Baik Tuan. Mau dimana kita bertemu Tuan?”
Tampak Alexius berpikir sejenak. Ia tidak mau terlalu basa-basi.
“Di Taman Margapati jalan Merpati, dan aku minta tolong, berikan seluruh bukti perihal kehidupanku yang katanya kau mengenalku sedari lama. Aku butuh bukti itu.”
Terdengar desas-desus dari seberang sana. Dan juga pekikan histeris dari si asisten, Bram.
“Siap Tuan. Akan segera saya laksanakan.”
“Pukul 18.30, harus sudah ada disana. Aku tak mau terlalu malam berada di luar rumah.”
Kemudian, telepon diputus satu pihak, dari pihak Alexius.
****
Pukul 17.50 sore ini, Alexius sudah bersiap dengan pakaian rapinya berupa celana bahan panjang dipadukan kemeja berwarna senada serta sepatu casualnya.
Saat menuruni ujung tangga, matanya bertatapan dengan Ocha yang sepertinya baru selesai memasak untuk makan malam nanti.
“Kau mau kemana?”
Ocha bertanya. Dari raut saja sudah sangat jelas bahwa perempuan itu penasaran dengan penampilan berbedanya.
“Aku ada urusan dulu, nanti aku pastikan pulang tepat waktu supaya bisa makan malam bersamamu.” Hanya itu jawaban yang tercetus dari mulut Alexius.
Mulut Ocha kembali terbuka, “Urusan apa?”
Alexius bingung, pria itu menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. Lantas menjawab dengan tatapan yakin supaya perempuan dihadapannya ini tak curiga padanya.
“Bertemu teman kerjaku. Kau tau bukan? Mereka semua lelaki dan juga tak mungkin aku mengajakmu, bukan?”
Jawaban suaminya ada benarnya, pikir Ocha.
Ocha mengangguk, “Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Aku akan menunggumu untuk makan malam nanti.”
Alexius tersenyum mengangguk. Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Ocha yang terus menatap punggung belakang pria itu.
****
Jarak tempuh rumah Alexius menuju taman lumayan jauh, hingga ia memilih untuk berangkat lebih awal dari rumah karena dia bisa tepat waktu sampai sana juga pulang ke rumah tepat waktu sesuai janjinya pada istrinya tadi.
Pukul 18.20 tepat Alexius sampai di taman Margapati. Taman itu lumayan sepi. Pilihan yang tepat.
Di salah satu sudut taman, di bangku taman itu, netra Alexius melihat beberapa pria berbadan kekar memakai baju hitam duduk disana dengan beberapa diantaranya berdiri tegap.
Ehem.
Deheman singkat itu membuat seluruh pria berbadan kekar itu berdiri tegap dan menghadap Alexius. Kemudian mereka serentak membungkukkan tubuhnya 180 derajat.
Alexius terkejut. Mengapa mereka memperlakukan dia bagaikan orang yang sangat disegani?
“Apa yang kalian lakukan?!” sentak Alexius.
Sontak para pria itu berdiri tegap kembali.
“Ini kebiasaan Tuan. Biasanya kami akan melakukan hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada Tuan besar, tuan muda juga nyonya.” Jelas salah satu pria yang mukanya sudah ia kenali, Bram.
“Aku?”
“Ya Tuan.”
****
Setelah itu, Alexius menerima beberapa lembar kertas yang dirangkap dalam satu dokumen. Tentunya berisi tentang identitas Alexius.
Alexius membacanya dengan seksama, suasana di taman hening. Para pria yang mengenal Alexius sebagai bosnya itu hanya menatap Alexius.
“Ini nyata?”
“Jelas bos. Itu identitas asli bos.”
Ucapan Bram, membuat Alexius mengangguk paham. Ia pun membuka halaman demi halaman dalam dokumen itu.
Tak jarang alisnya ikut mengernyit menyesuaikan ekspresi wajahnya.
“Jadi, nama orang tuaku adalah Ibrahim Malik dan Rosalia Malik?”
“Benar bos.”
“Aku benar-benar keturunan keluarga Malik?”
“Iya bos.”
“Lantas, mengapa saat aku menghilang dari jangkauan kalian dan lupa ingatan, tak satupun dari kalian mencariku?”
“Tidak bos. Kami bahkan Tuan besar sudah berusaha mengerahkan seluruh tenaga pencarian untuk mencari Tuan muda. Tapi, tetap saja kami tidak ada yang berhasil. Hingga kemudian pencarian kami berakhir saat bertemu Tuan muda di jembatan kala itu.”
Penjelasan itu lumayan lengkap.
Biodata Tn. Alexius Fahrizab Malik
Bernama lengkap Alexius Fahrizab Malik. Memiliki nama panggilan Alexius atau Xius atau Alex. Berusia 23 tahun. Anak tunggal dari pasangan Ibrahim Malik dan Rosalia Malik. Pewaris utama perusahaan Malik.
....
Dan tentunya masih banyak lagi. Juga lengkap. Hal ini membuat Alexius yakin bahwa ini adalah identitas aslinya. Karena dalam dokumen itupun disertakan pula foto-foto masa kecilnya hingga foto keluarganya juga penyertaan tanggal dan tahun foto itu terjadi.
****
Usai pertemuan tadi, pukul 20.00 malam, Alexius sampai di rumah. Ia menepati janjinya untuk makan malam bersama sang istri setelah kebut-kebutan di jalan menyalip banyak kendaraan.
“Ternyata kau adalah lelaki yang menepati janji.”
Celetukan dari sang istri yang dilihatnya sedang duduk di kursi makan itu membuatnya terkekeh kecil.
“Tentu saja. Jadi lelaki itu harus bisa menepati ucapannya. Karena kebanyakan laki-laki itu yang di genggam ucapannya baru tindakannya.” Jelasnya.
Ocha mengangguk. “Benar juga.”
“Ya sudah ayo makan. Aku sudah lapar.” Ajak Alexius. Ocha tertawa.
“Memangnya kau tidak mengganjal perutmu tadi?”
“Tentu saja tidak. Aku kan menghargai istriku yang sudah memasak dan menungguku di rumah.”
Dan kemudian, mereka berdua tertawa bersama dengan mesra.
****
Seperti kebiasaan mereka. Malam hari, digunakan mereka untuk mengobrol di balkon berdua.
“Tadi mengobrol apa saja dengan temanmu?” Tanya Ocha penasaran.
Alexius tertegun sejenak. Kemudian berdehem singkat.
“Hanya obrolan ringan. Yah tentunya seputar pekerjaan. Berat ringannya pekerjaan selama ini, juga tentang pemimpin kerja kita.” Balasnya berusaha tenang yang diakhiri dengan kekehan garing.
Ocha mengangguk.
“Seru ya obrolan lelaki.”
“Biasa saja. Kau kan juga sering mengobrol denganku. Aku kan lelaki.” Jawab Alexius seraya candaan.
“Tapi berbeda.”
“Apa bedanya?”
“Bisa saja kau tak ada rahasia dengan temanmu. Berbeda denganku. Yang bahkan meski satu atap, kita hanya bertemu beberapa jam dalam sehari karena waktu kita lebih banyak dihabiskan dalam bekerja.” Jelas Ocha. Alexius seketika merasa bersalah.
Karena rasa bersalah itu muncul, ia mendekat pada tubuh Ocha, memeluk sang istri erat nan hangat.
Dengan menyenderkan dagunya di bahu sang istri, Alexius berbisik lirih, “Bahkan bila kau meminta untuk kita bisa mengobrol banyak hal dalam banyak waktu, sebisa mungkin aku akan menuruti keinginanmu,”
Ocha merinding. Suara Alexius berkali-kali lebih berat kala berbisik lirih.
“Kau tahu? Hal yang sulit aku terima adalah, aku kehilangan dirimu. Maka, aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku apapun sebabnya. Karena, sampai kapanpun, tak akan pernah aku melepaskan dirimu dari genggamanku.” Sambungnya lagi.
Setelah mengucapkan kalimat panjang itu, Alexius terus memberikan rasa bertubi-tubi dalam hati Ocha. Apalagi setelah itu,
Cup.
****
**Bersambung...
Dukungannya ya sayang**!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments