Bab 16

Setelah semua cara mereka lalui. Alexius memilih untuk menawarkan sebuah pernikahan. Kalau dulu, Ocha yang menawarkan, sekarang sebaliknya.

Sebab ternyata, keluarganya dengan keluarga Adriana saling mengenal.

“Tetapi, bukankah kita sudah resmi menikah? Nyatanya, kabar pernikahan kita dulu tak berhasil memancing kemunculan wanita itu?”

Ocha berusaha protes. Tak lagi mau mengulang rencana yang sama. Yang pasti, rasa risau itu tak juga menghilang dari hatinya. Ia ingin menghilangkan rasa ini.

“Tentu bisa. Karena, ternyata, keluarga Adriana sangat mengenal keluargaku. Dan, kabar tentang diriku yang sudah ditemukan kembali dan mengambil alih perusahaan, maka kegemparan pernikahan kita ini akan lebih meluas. Dan akan memancing keluarga wanita itu untuk memunculkan muka mereka.”

Ocha berpikir, ada benarnya juga perkataan Alexius. Tetapi, apa harus mereka kembali mempermainkan pernikahan?

Tetapi bagi Alexius, dia hanya ingin mengakui dan memamerkan pada seluruh dunia, bahwa ia sudah memiliki pasangan yang cantik dan baiknya bak bidadari ini. Agar seluruh dunia tahu, bahwa Alexius telah memenangkan hidup seorang Arocha.

“Bagaimana? Apa kau setuju, istriku?”

Alexius bertanya seraya menatap lembut wajah Ocha. Membuat perempuan itu salting kembali.

“Baiklah. Kau atur semuanya.”

Alexius tersenyum pongah bahagia.

“Kau tak perlu risau. Aku yakin, tak lama lagi, semua masalah ini selesai. Dan hubungan kita akan terus berlanjut hingga dipisahkan oleh maut.” Ucap Alexius sembari mengelus pipi Ocha lembut dan tangan satunya merapikan anak rambut Ocha yang berantakan itu.

****

Sudah lama sejak pertemuan dan pembahasan mengenai pernikahan yang akan dilaksanakan kembali oleh mereka itu terjadi. Kini keduanya hidup masing-masing lagi.

Anehnya, Alexius belum juga bisa mengingat potongan masa lalu pria itu yang hilang.

Dan, mengapa Alexius seperti tak ada niatan untuk kembali memulihkan ingatan nya itu?

Entahlah, yang pasti, semua terasa membingungkan baginya.

****

“Untuk apa kau menyuruh pekerja papah untuk menyiapkan sebuah pernikahan mewah? Siapa yang akan menikah?”

Pertanyaan itu terlontar dari mulut papahnya, Ibrahim Malik. Pertanyaan itulah yang sudah ia duga akan keluar dari jiwa Kekepoan papahnya.

Alexius tersenyum. Entah mengapa, ia senang kala papahnya bertanya itu. Lantas ia menjawab dengan mengangguk, kemudian menghampiri papahnya yang ternyata sedang duduk pula dengan mamahnya di sofa mewah ruang tengah mansion Malik ini.

“Ya pah. Alex akan menikahi seorang gadis.” Ucapnya tenang dan bangga, masih dengan senyum yang ada di wajah tampannya.

Kedua orang tuanya mengernyit.

“Siapa gadis itu?”

“Dia gadis sederhana yang mampu membuat Alexius berdebar setiap hari.” Jawabnya dengan ekspresi bodoh masih dengan senyum lebarnya.

Ibrahim menggeleng takjub, eskpresi yang ditunjukkan putranya ini benar-benar seperti orang yang jatuh hati.

“Apa dia dari keluarga berada seperti kita?”

Pertanyaan tak terduga terlontar dari mulut mamahnya yang kerap berucap halus. Senyuman di bibir Alexius menghilang. Ia terkejut.

Apa benar, sikap mamahnya seperti ini? Saat seperti ini, salahkan ingatan nya yang hilang itu.

“Dia orang biasa, sederhana yang hidup mandiri, sendirian tanpa teman. Namun yang pasti, dialah yang mengajarkan Alex hidup dalam berbagai keadaan juga kebahagiaan, ketenangan, kenyamanan.”

Ibrahim tersenyum mendengar jawaban putra nya. Berbeda hal dengan Rosalia yang tampak tak setuju.

“Tidak. Kau harus mencari pasangan yang setara dengan kita. Jika tidak, itu sama saja, kau hanya akan dimanfaatkan oleh wanita itu.”

Alexius sendiri tak paham dengan jalan pikiran sang ibu. Mengapa bisa berpikir demikian, padahal jelas sekali mereka berdua belum dipertemukan satu sama lain. Maksudnya, Ocha dan ibunya.

“Mamah belum melihat gadis itu sendiri. Menurut Alex, dia orang yang tepat untuk Alex. Nyatanya, saat dia tahu bahwa Alex anak keluarga Malik, tak ada setitik pun dari dia memanfaatkan Alex. Dia tetap bekerja, tak pernah memakai uang Alex sepeser pun.” Belanya untuk Ocha.

“Mamah bahkan lebih setuju kau menikah dengan anak sahabat mamah.”

Ya, sudah ia duga. Pasti yang di maksud mamahnya itu adalah Adriana.

1

2

...

“Lebih baik memilih Adriana. Bibit, bebet dan bobotnya sudah jelas. Keluarganya juga setara dan sudah dekat dengan kita. Toh, dulu juga kau sangat menyukai Adriana kan?”

Benar bukan? Pasti Adriana.

Bram pernah bilang, bahwa keluarganya dengan Adriana bersahabat. Ralat, ibunya dan ibu wanita itu. Tetapi, keluarganya tak mengenal jauh latar belakang keluarga gadis itu yang licik.

Dan, fakta mengejutkan, ia pernah menyukai Adriana? Apa benar? Tak mungkin bukan?!

“Kau pasti lupa ya? Dulu, kau memohon pada mamah untuk mendekatkan dirimu pada Adriana. Gadis yang cantik, anggun, kalem, sopan, baik dan berpendidikan. Selalu berpakaian rapi dan sopan. Bahkan, pertama kali melihat, mamah sangat suka dengan gadis itu.”

Mamahnya berbinar ketika membicarakan, menuju Adriana. Sepertinya, wanita yang pernah memperjuangkan hidup untuk melahirkannya itu sangat menyukai gadis seperti Adriana.

Alexius memutar bola matanya malas. Kemudian menatap sang papah yang mengedikkan bahu acuh.

Apa papahnya juga menyukai dia bersama Adriana? Tidak mungkin kan?!

****

“Mengapa semakin hari, hatiku semakin risau? Dan mengapa beberapa hari belakangan ini, aku selalu bermimpi bertemu bunda dan ayah?”

Langkah Arocha mendekati nakas didekat ranjang tidurnya. Membuka laci nakas paling bawah, dan mengambil bingkai foto keluarga yang ia simpan rapat di laci itu.

Di foto itu, terdapat bunda, ayah, seorang anak laki-laki, juga anak kecil yang berada dalam gendongan sang ayah.

Tangannya mengelus foto itu. Tepat pada sang ayah, ia berucap, “Hai ayah. Bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali ya ayah pergi. Apa super hero Ocha bahagia hidup di alam yang baru?”

Kemudian beralih pada sang bunda, “Hai bunda, orang yang telah melahirkan Ocha. Terimakasih ya sudah memberikan Ocha kesempatan hidup di dunia ini. Bagaimana kabar bunda disana? Apa bahagia?”

Beralih lagi pada seorang anak laki-laki yang tersenyum kecil di foto itu, mengelusnya lembut dan tersenyum, “Hai cinta kedua Ocha. Bagaimana kabarnya? Kakak hilang dimana? Apa tidak merindukan Cha?”

Ocha benar anak tunggal, dan anak laki-laki itu ialah anak yang dititipkan pada orang tuanya. Katanya sih, anak dari teman orang tuanya. Namun, kecelakaan yang merenggut orang tuanya, juga bersamaan dengan kakaknya yang hilang. Dan ini sudah beberapa tahun berlalu. Kemampuan yang dimilikinya juga tak bisa ia gunakan untuk mengingat masa lalu itu, aneh bukan?

“Kalian semua apa kabar? Kenapa kalian tak mengajak Ocha juga? Disini Ocha lelah, sendirian, kebingungan, kesepian. Kalian tega sekali membiarkan Ocha hidup di dunia ini tanpa teman!”

Ocha mengelus kembali foto itu keseluruhan. Air matanya luruh. Ingatannya tentang masa kecilnya dulu kala bersama keluarganya selalu suka tiada duka. Namun kini kebalikannya.

“Ocha harap, kalian selalu tenang disana dengan kebahagiaan kalian sendiri ya? Ocha sudah ikhlas melepas kalian. Ocha akan berusaha dan lebih bersabar lagi untuk hidup sendiri di dunia ini.”

Katanya yang kemudian memutuskan untuk tertidur lelap.

****

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!