Hari ini Ocha bersama suaminya. Setelah penjelasan yang mengejutkan dari pria-pria kemarin, Ocha lebih banyak diam.
Dirinya terus bertanya-tanya sendiri.
Apa benar?
Mengapa bisa?
Ia kebingungan. Ingin bertanya pada suaminya, tetapi sudah lebih dari hampir tiga tahun ini, suaminya tak mengingat apapun. Saat periksa di dokter, katanya amnesia total dan sulit untuk kembali mengingat semua hal di masa lalu.
“Apa kau tidak bisa mengingat sedikitpun perihal masa laluku Al?” Ocha berusaha bertanya kepada suaminya.
Rasa penasarannya ia tekan sebisa mungkin. Tetapi tetap saja muncul ke permukaan, membuatnya semakin ingin tahu kebenaran tentang kehidupan asli milik Alexius dahulu.
****
“Apa benar perkataan pria yang mengaku sebagai asisten Alexius kemarin?”
“Kata pria itu, nama Alexius asli sama dengan nama yang aku beri. Sebenarnya siapa Alexius ini?”
“Apa benar dia seorang CEO, pengusaha muda, pemilik dan pewaris perusahaan nomor satu di dunia itu?”
Pertanyaan itu terus saja bergumam dan berkumpul di kepala Ocha. Bila semua benar, Ocha sangat merasa tak pantas untuk bersanding dengan Alexius sekalipun hanya menjalin hubungan palsu.
Bahkan kata pria, asisten Alexius, lelaki itu sangat dipuja banyak manusia dan sangat dijunjung tinggi di keluarganya, disayang karena cucu laki-laki pertama dan tunggal.
Sedangkan Ocha, ia malah mengajak Alexius tinggal sederhana, makan seadanya, bahkan sering memarahi lelaki itu yang salah belanja kebutuhan rumah.
Ocha menggeleng, “Tidak, tidak. Bisa saja mereka salah orang. Aku hanya terkejut. Ya, begitu.” Lirih Ocha meyakinkan diri.
Entah apa yang membuatnya resah. Hanya saja, dia selalu menyangkal pernyataan dari asisten Alexius.
Alexius Fahrizab Malik. Itulah nama asli Alexius di kehidupan nyatanya dahulu. Sebelum kecelakaan itu merenggut semuanya.
Malik.
Itu kata yang diingat oleh Ocha. Karena, Ocha juga mengenal baik keluarga itu melalui televisi. Juga melalui keluarganya dulu sebelum kedua orang tuanya meninggalkan dirinya sendirian di dunia ini.
Sepertinya Ocha harus mengembalikan Alexius pada keluarga Malik. Karena, Alexius adalah sumber dan berlian di keluarga itu.
Salah besar Ocha mengajak lelaki itu bekerja sama. Bisa di hajar dan dipenjarakan bahwasanya banyak orang tahu perlakuan dirinya ke Alexius.
****
Hari berganti hari, perlahan sikap Ocha berubah. Dan Alexius sebagai suaminya menyadari itu. Ia bertanya-tanya sendiri.
“Kau menghindari dariku?” Tanya Alexius menahan Ocha yang hendak pergi setelah menyiapkan sarapannya.
Ocha menatap genggaman tangan Alexius pada lengannya. Dengan perlahan, dia melepaskan genggaman itu. Kemudian menatap Alexius dan tersenyum tipis.
“Tidak. Mungkin perasaanmu saja.” Singkat Ocha menjawab.
Tetapi, Alexius tak sebodoh itu. Hidup bersama satu atap dan satu kamar dengan Ocha membuatnya paham bagaimana sifat istrinya itu.
“Tidak. Aku yakin ada yang mengganggu pikiranmu tentang aku. Duduklah di sampingku.” Titah Alexius seraya menuntun Ocha untuk duduk di kursi makan sampingnya, tempat biasa Ocha duduk.
Mereka terdiam. Namun, Alexius menatap Ocha dengan netra tajam abu-abunya.
Ocha berusaha bersikap biasa saja.
“Jelaskan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu hingga kau memilih untuk menghindari ku?!”
Ocha mendongak, “Aku tak bermaksud menghindari mu, jadi maaf bila kau merasa aku malah menghindari mu.” Jawab Ocha.
Alexius menggeleng, “Sudah hampir satu Minggu, jelas aku sangat tahu perubahan mu. Bahkan, kau tak pernah ingin aku peluk saat akan tidur. Padahal dari dulu, kita saling memeluk saat tidur. Sedangkan sekarang, kau malah memeluk guling mu itu.” Jelas Alexius mengelak.
Ocha terdiam kutu. Malu. Merona pipinya. Alexius tergelak keras.
“Jangan berubah apapun yang terjadi. Bila ada yang mengganggumu, ceritakan padaku. Kau tahu bukan?Aku selalu siap sedia mendengar seluruh celotehan mu tanpa bosan.” Kata Alexius mesra seraya mengelus lembut pipi Ocha yang tersipu.
Ocha menatap mata abu nan tajam milik suaminya. Mata yang penuh pesona dan selalu menatap lembut serta membuatnya luluh.
“Baiklah. Sebaiknya kau makan lebih dulu. Aku mau mandi dulu, sudah risih rasanya. Dan jangan menungguku, karena dalam satu jam ke depan, aku belum selesai mandi.” Putus Ocha seraya menurunkan tangan Alexius yang mengelus pipinya tadi.
Ocha berdiri setelah mengetahui dan memastikan Alexius memulai sarapannya. Dan ia menuju kamar mandi di dalam kamar mereka berdua.
Dalam perjalanannya, Ocha terus memikirkan, benarkah ia harus menjauh dari Alexius?
Itu sama saja akan menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak Alexius.
****
“Memangnya kau sendiri sudah sarapan?” Tanya Alexius tiba-tiba muncul di belakang Ocha, membuat ia terkejut.
“Hm. Sudah, maaf aku sarapan lebih dulu darimu.” Jawabnya.
Alexius mengangguk, “Tak apa. Makanlah dulu bila kau merasa lapar, jangan sering menungguku.” Katanya.
Padahal biasanya, Ocha dan Alexius sangat rutin sarapan, makan siang, makan malam bersama tanpa terlewatkan sedikitpun. Intinya, kebersamaan mereka selalu terjaga.
Terus terang, Alexius sangat bingung dengan sikap Ocha beberapa hari belakangan ini. Sikap istrinya seperti benar-benar menjauh darinya.
“Lain kali aku akan tetap menunggumu seperti biasa.” Balas Ocha. Alexius hanya mengangguk.
Suasana kembali hening. Anehnya
terasa Canggung.
****
“Duduklah, ceritakan padaku apa yang terjadi?” Titah Alexius.
Mereka berdua berada di ruang tengah, Alexius duduk diatas sofa dengan Ocha yang berdiri di hadapan Alexius hanya bersekat meja kaca panjang.
Ocha menghela napas, “Apa?” Baliknya bertanya.
Apalagi ini?
Bahkan waktu canggung pagi itu sudah berlalu dua minggu yang lalu, mengapa Alexius kembali menyuruhnya bercerita. Bercerita apa lagi?
“Aku tahu sebab dari sikapmu yang berubah. Kau menjauhiku, jarang merespon ucapanku, mulai cuek denganku. Meski kau tetap melayaniku seperti biasanya, tetapi dari caramu menatap saat melayaniku jelas berbeda.”
Penjelasan dari suaminya membuat Ocha merasa bersalah.
“M-maafkan aku, bukan maksudku bersikap seperti itu.... Hanya saja...”
Ocha tergugup, bahkan ucapannya terdengar putus-putus serta ragu.
“Apa ini karena para pria itu? Pria yang mengaku sebagai asistenku dan mengenal diriku sebagai atasan mereka itu?”
Ocha refleks mengangguk kontan. Kemudian ia tersadar.
Alexius tersenyum tipis, “Jika itu yang membuatmu jauh dariku, maka jangan lagi mendengar ucapan mereka semua. Karena yang aku butuhkan hanyalah dirimu.”
“Tapi, bila kenyataan yang dijelaskan oleh kelima pria itu adalah kebenaran, apa yang harus aku lakukan?”
“Cukup diam dan hiraukan. Jangan kau pikirkan hingga kau menjauhiku yang notabenenya suamimu sendiri sejak tiga tahun lalu.”
Gila. Ocha hampir gila. Justru, semakin ia menekan dalam rasa penasarannya atas ucapan kelima pria itu, malah semakin menimbulkan keinginan dirinya untuk membuktikan ucapan mereka semua.
“Aku ingin melakukannya, hanya saja itu terlalu sulit. Bila kenyataan itu benar, kau dan aku tak lagi bisa pantas bersanding,”
Terdiam sebentar, suasana hening, dan Alexius yang terus memperhatikan raut wajah Ocha.
“Bagaikan langit dan bumi. Tidak lagi bisa seperti sekarang yang dimana kita sama-sama orang biasa. Bila saat itu tiba, maka jangan lagi kau terkejut bila aku memilih sebuah keputusan yang menurutmu sangat salah.” Lanjutnya kemudian.
****
**Hai guys!
Doakan semoga happy Ending ya!!!
Semoga cerita ini bisa sampai tamat. Minta dukungannya selalu guys yak!!!!
Arigatou*:
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments