Bab 10

Ocha sudah berulang kali menyuruh Alexius pergi dan melanjutkan kehidupan aslinya. Namun lelaki itu tetap menolak dengan keras.

Hingga akhirnya, Ocha mengambil keputusan terakhir yang bersifat sementara waktu.

“Baiklah jika kau masih ragu tak ingin kembali pada keluargamu. Tetapi, urusan kita dalam rumah tangga kembali seperti semula.”

Alexius melotot tak percaya, menggeram kesal, lesu pula raut wajahnya, “Tak bisa seperti itu. Kita sudah pernah bersepakat untuk menjalani hubungan dengan normal.”

“Kau harus kembali pada keluargamu.” Kekeh Ocha tetap.

Alexius menghela napas, “Aku akan membantumu menyelesaikan urusan ini secepat mungkin, agar kau bisa hidup tenang tanpa kekangan ancaman dari Adriana itu. Setelahnya, aku bisa kembali pada keluargaku sendiri.” Jawab Alexius yakin.

Ocha terkejut dalam diam. Namun, dia juga menginginkan Alexius kembali pada keluarganya.

“Baiklah. Lebih bagus sepertinya.”

****

Singkat saja, sudah dua hari sejak pembicaraan terakhir malam itu. Kini, kedua manusia yang berada dalam satu atap mulai fokus kembali mengumpulkan berbagai informasi penting tentang hidup Adriana beserta tentang bukti kejahatan wanita itu.

“Aku ingin bertanya.” Ujar Alexius tiba-tiba.

Ocha menoleh, “Apa?”

“Bagaimana kau tanpaku?”

Ocha tercengang, “Emm, maksudnya?” Tanyanya balik. Alexius nampak berpikir seraya menimang jawaban atas pertanyaan yang dilontarkannya sendiri.

“Kau memintaku untuk kembali pada keluarga asliku setelah nanti kita berhasil mengumpulkan semua bukti. Lantas, jika kita berpisah, kau sendiri sudahkah siap untuk kehilangan diriku?”

Alexius berkata panjang. Dia hanya ingin berterus terang, memang suka berterus terang. Supaya perasaannya lega dan tak ada yang dipendam terlalu dalam.

Ocha kembali berpikir, dadanya sesak kala mengingat percakapan antara dia dan Bram kala itu, juga perbedaan kasta sebenarnya antara dia dan suaminya saat ini.

“Bukankah siap tak siap aku diharuskan untuk siap kan?” Jawabnya bertanya. Kembali melontarkan sebuah kalimat, “Lalu, bagaimana kau tanpaku?”

Alexius tersenyum singkat pedih, “Kau sendiri tahu, sebenarnya aku tak ingin kembali pada keluargaku jika itu tanpamu. Tetapi sayang sekali, kau menolak dengan keras atas permintaanku kala itu hingga aku tak lagi ingin memaksamu.” Jelasnya.

Ocha menunduk, “Kasta kita...” Ia tak bisa melanjutkannya. Hanya terdiam dengan mata saling memandang satu sama lain.

“Bagiku, kasta tak bermasalah. Kita bisa tinggal satu rumah di keluargaku nanti jika kau mau. Aku bisa menuruti apapun keinginanmu selama ini, yang aku belum bisa turuti.” Selanya.

Ocha menggeleng, “Tapi ini bukan cuma perihal kasta. Ada keluargamu yang harus dipikirkan kedepannya. Pasti mereka mempunyai ideal pasangan untuk anaknya, kau.” Jelasnya lagi.

Alexius menghela napas, “Padahal bila kau tak menolakku, aku ingin hidup selamanya bersamamu.” gumamnya.

“Kau berbicara apa?” Tanya Ocha. Alexius menggeleng pelan, “Tidak.”

Suasana kembali hening. Hanya pembicaraan singkat yang terjadi secara tak sengaja dalam seharian ini.

****

“Tandanya, kita akan menjadi asing lagi ya? Apa pilihanku salah? Tetapi, aku merasa ini keputusan yang tepat.” Gumamnya.

Ocha berada didalam kamar dengan mondar-mandir berterusan. Alexius sedang keluar, katanya ingin membeli stok buah-buahan.

“Tapi, aku kan memang selalu dipaksa menerima keadaan oleh takdir. Jadi, tak ada gunanya menyesali semua keputusanku. Yang terpenting, kita bisa hidup bahagia meski di dua tempat yang berbeda, dan juga, aku akan terbebas dari jahatnya permainan busuk Adriana.” Sambungnya lagi.

Ceklek!

Pintu kamar terbuka, membuat Ocha menoleh. Menatap Alexius yang juga sedang menatapnya.

Sejenak mereka bertatapan, namun Ocha lebih dulu mengalihkan pandangannya sebab ia merasa gugup ditatap sedemikian dalam oleh suaminya, ralat, yang akan menjadi mantan suaminya ini.

Menghela napas kuat, Ocha menekan rasa sesak yang kembali timbul pada dadanya. Baginya, perpisahan adalah hal yang menyedihkan. Entah dipisahkan takdir, ajal, atau pendidikan. Semua sama.

Yah, artinya, kau akan merasa kehilangan dalam perpisahan itu. Apapun caranya, hanya diri sendiri yang bisa menyembuhkan.

“Kenapa wajahmu ditekuk?” Tanya Alexius. Ocha terkekeh, “Tidak.”

“Aku sudah membeli beberapa buah-buahan. Ada buah mangga muda juga, katanya kau mau membuat asinan mangga.” Ujar Alexius. Ocha mengangguk cepat dua kali dengan semangat.

“Baiklah. Terimakasih, kalau gitu, aku pamit ke bawah dulu, mau menata buahnya supaya rapi dan indah dipandang.” Jawabnya ria.

Ocha menghilang dari hadapan Alexius dengan bersenandung kecil dan juga badan serta kepala kontan digerakkan.

Alexius terkekeh, “Kalau seperti itu, dia mirip anak kecil.”

****

“Bukti sudah hampir terkumpul semua. Kau tak perlu khawatir, sedikit lagi, wanita itu akan masuk dalam jeruji besi untuk menerima konsekuensi kejahatannya.” Kata Alexius. Ocha mengangguk.

Ini pekan minggu, jadi keduanya berada dirumah. Istilahnya libur Sabtu-Minggu.

“Kau serius tak ingin hidup satu atap denganku lagi?” tanya Alexius dengan menatap wajah Ocha.

Ocha memalingkan wajahnya, supaya matanya dan Alexius tidak bertemu.

“Ya, keputusanku sudah bulat.”

“Kalau begitu tatap mataku.”

Mampus!

Ocha bisa gugup.

Matanya bisa berubah menjadi berkaca-kaca.

“Ayo, berbaliklah! Tatap aku!”

Ocha berbalik secara perlahan seraya menenangkan hati dan pikirannya.

“Ya, keputusanku sudah bulat.” Jawabnya kembali mengulang jawaban sebelumnya.

Matanya berkaca-kaca saat bertatapan dengan Alexius. Benar bukan, ia tak akan kuat.

Hidup bersama selama tiga tahun dengan pernikahan pura-pura untuk sebuah misi bukanlah perkara yang mudah. Terlebih, berusaha menyingkirkan rasa yang timbul, itu menyakitkan. Apalagi, bila mereka berpisah?

“Kau saja akan menangis saat menatapku. Padahal, kau hanya menjawab, lantas, mengapa berkaca-kaca?”

Huft!

Ocha terlalu malas dan malu untuk menjelaskannya.

“Ya-ya, ini karena aku terharu. Bagaimanapun, kita sudah pernah hidup bersama dalam satu atap selama tiga tahun----”

Alexius mengangguk, “Bahkan, aku tak siap untuk kehilanganmu. Kehilangan seseorang yang menurut kita sangat berharga itu menyakitkan. Bahkan aku tak menginginkan hal ini terjadi padaku.” Jelasnya.

Ocha hendak menjawab,

Namun Alexius lebih dulu melanjutkan ucapannya, “Kau sendiri yang menolakku.” Lanjutnya pelan. Jujur saja, iapun merasa sedih.

“Lantas, apa maumu?”

****

“Ini buktinya. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih tiga tahun, akhirnya hampir semua bukti ini terkumpul. Aku kira akan mudah mencarinya, ternyata sulit. Sebesar itu kekuatan Adriana untuk menutupi segala kejahatannya.”

Ucapan Ocha terdengar lelah dan jenuh. Ia hampir saja menyerah atas usaha mereka berdua. Adriana lumayan misterius, sehingga sedikit sulit dan membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan bukti kejahatan wanita itu.

“Ya, tapi tak apa, yang terpenting, sedikit demi sedikit usaha kita tak mengkhianati hasil. Buktinya, sudah banyak bukti ada ditangan kita. Tunggal beberapa bukti lagi, maka dia sudah bisa dimasukkan dalam sel penjara hingga mati membusuk.” Ucapan Alexius lumayan menusuk, tapi jujur dan betul.

“Dan tinggal beberapa saat itu pula, waktu kita untuk bersama akan perlahan menghilang. Dan saat itu tiba, waktu akan menjemputmu untuk kembali pada kehidupan seorang Alexius sebenarnya, juga meninggalkan diriku untuk selamanya.” Ujar Ocha tiba-tiba. Setelah mengucap kalimat itu, refleks ia menutup mulutnya dengan mata melotot.

“Ternyata ini jawaban juiurmu. Aku senang, ternyata kau tak mengharapkan kepergianku.” Riang Alexius.

“Ya, hidup dalam satu atap selama tiga tahun bukanlah perkara mudah. Benar katamu, terlebih, kita sudah tidur satu kamar, berbagi selimut, sabun mandi, bantal dan juga---”

Cup!

“Sudah, jangan dilanjutkan. Terlalu jujur juga tidak baik.”

Hampir pingsan!

***

~Bersambung~

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!