Setelah acara pertemuan Arocha dengan lelaki asing yang mengaku amnesia itu akhirnya Ocha mendapatkan sebuah ide.
Yang dimana ide itu ialah, mengajak kerja sama antara mereka dengan berpura-pura menjadi sebuah pasangan. Maka dari itu, bila mereka tinggal satu atap, tentu tidak akan menimbulkan kecurigaan tetangga barunya.
“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Lantas, bukti apa yang akan kita berikan pada mereka bila mereka bertanya status kita?”
Ocha menghela napas, ”Kau ingin tinggal dimana hah?! Kau pikir, mencari pelaku itu mudah?” marah Ocha.
Lelaki itu gusar, “Bukti apa yang akan kita berikan pada mereka bila bertanya status kita berdua ini?”
Ocha menjawab dengan mudah, “Aku akan membuat pernikahan palsu denganmu untuk melancarkan kerja sama kita. Kita harus tinggal serumah untuk terus memikirkan kelanjutan pencarian pelaku itu,” ide Ocha.
Lelaki itu mendelik, “Hah! Kau sudah gila?! Pernikahan adalah hal sakral. Aku tak mau.” Tolaknya.
Ocha berdecak kesal.
“Ya sudah kalau tidak mau. Itu keputusanmu sendiri. Aku bisa mencari orang lain yang akan aku ajak kerja sama dalam kasus ini,” jawabnya percaya diri. Namun dia tau, tentunya tak semudah itu. Kecuali, orang yang memberinya pesan kemarin. Itu karena orang tersebut juga kehilangan anggota keluarganya.
Lelaki itu menggeleng, “Baiklah, aku ikuti saranmu. Tapi, kau tetap harus membantu aku mencari identitas asliku.”
Ocha mengangguk, “Baiklah. Deal?”
Lelaki itu mengangguk cepat, “Deal.” Ucapnya dengan mengulurkan tangannya pada Ocha. Yang langsung dibalasnya.
****
Arocha tidak perduli. Dia tidak perduli bahwa lelaki itu tidak tahu identitasnya. Yang dia perdulikan, dia akan memiliki teman untuk bekerjasama. Bagaimanapun caranya, Adriana harus tertangkap dengan cepat. Wanita itu harus merasakan penderitaannya.
“Apa kau sudah siap?” tanya suara bariton di belakangnya.
Ocha menoleh, posisinya duduk disofa pinggir jendela kamar.
“Ya.” Singkatnya. Hari ini, mereka akan mengurus suatu hal penting untuk melancarkan usaha mereka. Yaitu, rencana pernikahan palsu mereka.
“Kalau begitu, ayo berangkat. Mobil yang ku sewa sudah tiba.” Ajak pria itu.
Ocha menurutinya. Mereka berjalan beriringan menuju pintu rumah. Tentu saja mobil yang di sewa pria itu tidak ada didepan rumah barunya. Karena dia tinggal di gang sempit dan hanya kendaraan beroda dua yang bisa masuk.
Mereka terus berjalan dengan sunyi tanpa suara hingga ujung gang. Bahkan Ocha merasa perjalanan ini jauh. Padahal jarak rumahnya pada ujung gang hanya 50 meter saja. Sangat dekat.
“Kenapa hanya diam? Apa kau sedang berpikir untuk merubah keputusan ini?” tanya pria itu lagi. Suaranya sangat besar, ya selayaknya seumuran pria itu. Tetapi entah kenapa, cukup terdengar halus.
“Tidak. Keputusan ini akan terus berlanjut.”
****
“Atas nama siapa? Dan untuk apa?”
Ocha berdehem.
“Namaku Arocha, dan calon suamiku bernama Alexius. Tapi, calon suamiku ini belum mempunyai identitas. Jadi kami ingin membuat identitas baru untuknya. Apa bisa?”
Ocha gugup. Entah apa sebabnya. Pria dihadapannya tampak berpikir.
“Baiklah. Apa identitas baru yang akan kau buat untuk suamimu?” tanya pria itu lagi.
“Namanya Alexius.” Jawab Ocha. Pria itu mengerut.
“Hanya itu?” tanyanya. Ocha mengangguk.
“Baiklah. Akan aku buatkan. Ini mudah,”
“Terima kasih.”
****
Pernikahan palsu mereka telah sah secara agama dan hukum. Mereka telah menjadi sepasang suami istri meski hanya semata tanpa diketahui siapapun.
“Lantas, apa rencana kita selanjutnya?”
Ocha yang ditanya begitu lantas terdiam. Dirinya juga bingung. Dia dan Alexius sudah sah sekarang. Jadi bila mana Adriana mendengar kabar ini, pasti wanita itu akan mencari tahunya. Dia pastikan saat itu akan terjadi.
“Kita ikuti dulu alurnya. Yang pasti, kita harus saling membantu. Karena ini juga demi tujuan bersama kita. Hingga pengorbanan kita takkan sia-sia.” Ucapnya.
Tok tok tok
Ketukan pintu utama rumahnya yang berlantai dua ini terdengar.
Lantas menghampiri pintu kemudian membukanya. Terlihatlah didepan tubuhnya, seorang pria tua yang memakai topi dengan baju compang-camping.
“Permisi, ada yang bisa aku bantu Tuan?”
Pria itu mendongak, kumisnya berwarna putih terlihat, “Apa kau tahu dimana cucuku tinggal?”
Ocha mengernyitkan alisnya bingung dan heran. Cucu?
“Ehm maaf sebelumnya Tuan. Ini rumahku. Baru saja aku beli beberapa bulan lalu. Dan Aku tak kenal siapa cucu Tuan.” Jawab Ocha.
Pria itu mengangguk, “Ya sudah. Baiklah kalau begitu. Aku pamit.”
“Loh, kok langsung pergi?” gumam Ocha bertanya. Aneh saja. Pria tua itu tidak ingin bertanya lagi?
“Ada apa?” pertanyaan itu muncul dari suaminya yang baru tiba di belakang punggungnya.
Ocha menoleh, “Itu, tadi ada pria tua yang mencari cucunya. Tapi saat aku menjawab sesuai pernyataanku, beliau langsung pergi. Sungguh aneh.” Jawab Ocha.
Alexius dengan berani mengelus punggung Ocha lembut, “Biarkan saja. Mungkin pria itu ingin mencari cucunya ditempat lain karena yang menghuni rumah ini bukan cucunya tetapi kau.” Jawabnya. Ocha mengangguk.
“Ya mungkin saja.”
****
“Sudah bos. Gadis itu ada disana. Tetapi sepertinya, dia tidak sendiri.”
“Lantas, bersama siapa dia?”
“Aku pun kurang tahu.”
“Ya sudah. Tetap awasi gadis itu.”
Ya, percakapan singkat kedua orang itu menyangkut seorang gadis yang bernama Arocha.
Dan entah darimana mereka tahu bahwa identitas Ocha ditempat ini telah terkuak oleh mereka. Dan tampaknya, kehidupan Ocha harus lebih berhati-hati agar tak ceroboh. Masalahnya, ini mengenai nyawa.
***
“Sepertinya banyak sekali manusia yang menginginkan nyawamu?!” geram Alexius. Ocha tertawa terbahak.
“Tentu saja. Nyawaku kan memang berharga. Memangnya kau! Menghilang saja tidak ada yang mencari.” Katanya dan lanjut tertawa.
Alexius geram. Meski perkataan istrinya ini benar. Namun tetap saja ia tidak terima.
“Jangan sombong. Ini bisa membahayakan dirinya bodoh!” peringat Alexius. Ocha langsung berhenti tertawa.
“Eh benar juga. Tapi aku tak khawatir, karena sekarang kau ada di sisiku. Dan kita akan terus bersama sampai tujuan kita tercapai.” Jawab Ocha ringan. Bahkan dia tak menyadari saat ini pipi Alexius telah memerah hingga telinganya.
****
“Sebutkan saja rencana kita selanjutnya, maka aku akan dengan mudah membantumu.”
“Ya. Tentu saja. Tetapi, kau harus tetap berhati-hati. Masalahnya, orang yang kita cari ini sudah pernah membunuh banyak nyawa secara bersamaan melalui orang lain di satu waktu.”
“Ya kau benar.”
Ocha berpikir, begitupun Alexius saat ini mereka berdua sedang berada di ruang makan rumah sederhana Ocha dengan muka serius. Raut konyol yang bisa terpampang di muka mereka juga hilang.
“Kita harus menyusun rencana ini dengan pintar. Jika tidak, maka salah satu dari kita akan kembali menjadi incarannya.”
Kalimat itu membuat Ocha terdiam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments