Anne menangis di dalam toilet karena tidak ingin satu pun orang melihatnya. Sakit, juga begitu hancur hatinya. Padahal dia mencintai sepenuh hati pria yang bernama James yang juga adalah suaminya sendiri. Jika saja waktu bisa di ulang, tentu saja dia akan memilih untuk terus mencintai dalam diam, dia akan membiarkan Angel dan James menikah asalkan mereka bahagia. Tapi, bukankah semuanya sudah terjadi? Sekarang kakaknya dan juga Gerry sudah resmi menjadi suami istri, James sendiri juga sudah menjadi suaminya.
Anne menyeka air matanya, ini sudah cukup lama dia meninggalkan acara dan pasti orang tuanya akan khawatir. Entah James sudah kembali atau belum, sekarang adalah waktunya untuk segera kembali, baru kalau dia sudah tenang akan kembali memikirkan bagaimana selanjutnya nanti.
Anne membuang nafasnya, dia berjalan keluar dan membenahi dirinya. Sebisa mungkin dia menarik bibirnya agar terbentuk senyuman untuk menyembunyikan besarnya luka yang ia rasakan saat ini.
Benar saja, begitu kembali ke sana orang tuanya benar-benar kebingungan mencari keberadaannya, dengan segera Anne berhambur memeluk Ibunya erat-erat sembari menangis. Maklum saja, menyembunyikan kesedihan di hadapan salah satu orang tuanya bukanlah hal yang bisa ia lakukan.
" Kenapa sayang? kenapa menangis? " Ibunya Anne kebingungan sendiri, tapi dia tetap menepuk pelan punggung anaknya agar sedikit lebih tenang.
" Tidak ada, aku tidak sedih. Aku hanya terbaru, sekarang dua anak perempuan Ibu sudah menikah, kami akan pergi bersama suami kami, lalu Ayah dan Ibu akan tinggal berdua saja. "
Ibunya Anne mengeratkan pelukannya, memang Iya di balik behagainya putri mereka menikah, itu juga artinya mereka harus siap jauh dari putri mereka yang jelas akan tinggal bersama suami mereka.
" Padahal Ibu tidak sedang mengingat itu, tapi gara-gara kau mengatakannya Ibu jadi ikut menangis kan? " Ibunya Anne menangis seperti Anne tapi dengan perasaan yang berbeda. Anne menangis karena kecewa dengan apa yang terjadi, Ibunya Anne menangis karena akan jauh dari semua putri berharganya.
Ayah Bien yang melihat anak istrinya menangis tentu saja tidak bisa diam, dia berjalan mendekati mereka, dan memeluk keduanya dengan hangat. Entah akan jadi seperti apa kehidupan kedua putrinya, entah dia akan di salahkan dengan semua ini, tentu saja pada akhirnya dia hanya bisa menerima dengan lapang dada.
Angel tak ingin ketinggalan, dia juga berlari untuk memeluk keluarganya. Kejadian itu membuat para tamu undangan kembali menatap haru. Selama keluarga Ayah Bien adalah keluarga yang terkenal harmonis, kedua putrinya juga tumbuh dengan penuh kasih juga cinta, mereka saling mencintai dan menyayangi meski sekali dua kali juga pernah bertengkar saat mereka kecil.
Angel, gadis itu juga menangis sesegukan. Dia bukan terharu, tapi dia sedih karena yakin benar momen untuk mereka bersama pasti tidak akan sebanyak biasanya.
" Sudahlah, kita sedang berbahagia jadi berhentilah menangis ya? " Ucap Ayah Bien mengusap kedua kepala putrinya yang kini beralih memeluknya.
Beberapa saat kemudian, tepatnya setelah pesta pernikahan itu selesai. Sekarang James dan Anne berada di perjalanan pulang, tak satupun dari mereka yang terlihat ingin bicara. James diam dengan pemikirannya sendiri, sementara Anne diam karena merasa akan sia-sia saja berbosa-basi karena itu pasti akan membuat James muak.
Anne menghela nafas, rasanya begitu sesak setiap kali mengingat betapa membahagiakannya yang terjadi semalam, tapi saat tahu benar bahwa hak itu hanyalah kesalahpahaman saja, rasanya sulit sekali bernafas, bahkan ingin berpura-pura tersenyum juga dia tidak mampu melakukanya.
Satu jam lebih di dalam perjalanan, akhirnya James dan Anne sampai di apartemen mereka. Masih tak bicara, mereka benar-benar seperti orang asing yang tak saling kenal.
" Aku akan pergi menemui teman, mungkin juga tidak akan pulang. " Ucap James seraya membuka lemari pakaian. Anne tak menjawab, tentulah dia tahu pasti James akan pulang dengan keadaan mabuk nanti.
" Silahkan, hati-hati di jalan. "
James sebentar mengeryit karena merasa jika nada bicara Anne barusan sangat dingin. Padahal dia tahu benar hari ini dia tidak banyak bicara dengannya, jadi apa yang membuat Anne kesal?
Tak mau ambil pusing, James segera berjalan keluar apartemen. Tujuannya hanya satu sekarang ini, menemui sahabatnya yang juga sedang berada club malam. Bukan untuk bersenang-senang, tapi James ingin melupakan sejenak masalah hati yang mengganggunya. Sedangkan Anne, dia hanya bisa duduk di pinggiran tempat tidur dengan perasaan hampa. Padahal dia pikir dia telah menemukan kebahagiaan setelah semua penderitaan karena rasa sakit yang timbul dari tubuhnya yang lemah sejak kecil. Sayang sekali, sepertinya Tuhan masih belum memberikan kebahagiaan lain selain dari orang tuanya.
" Besok harus periksa kesehatan lagi? " Gumam Anne saat mengingat tanggal berapa sekarang ini. Sudah lah, percuma juga memikirkan hal yang terlalu menyedihkan seperti sekarang ini. Anne bangkit untuk membersihkan diri dan setelah itu barulah dia beranjak untuk tidur. Masalah ini biar dia pikirkan besok lagi, hari ini dia cukup lelah jadi dia tidak ingin memikirkan yang berat-berat dulu.
Pukul empat pagi, suara pintu apartemen di ketuk dengan begitu kuat hingga Anne terperanjak. Sayup-sayup matanya, tapi dia tetap berusaha bangkit dari posisinya. Sudah bisa menebak, orang yang mengetuk pintu dengan begitu kuat dan tak sabaran pastilah James.
Benar saja, tapi ada satu lagi pria yang memapah James.
" Halo selamat malam? Aku mengantarkan James, dia mabuk parah soalnya. "
" Selamat pagi, baiklah kalau begitu, terimakasih. "
Sahabat James menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Benar saja, ini kan memang sudah lagi meksipun matahari masih belum terbit. Karena dia tidak tega membiarkan Anne membawa James yang jelas berat, dia membantu untuk membawa James sampai ke dalam, barulah setelah itu dia pamit kepada Anne.
" Terimakasih atas bantuannya, kedepannya maaf juga kalau merepotkan seperti sekarang ini. "
" Ah, tidak apa-apa kok, santai saja. Aku dan James sudah lama saling kenal, jadi jangan sungkan. "
Anne tersenyum dan mengangguk.
" Oh iya! Kenalkan, namaku Don. " Pria itu menyodorkan telapak tangannya, segera juga Anne menerima jabatan tangan itu.
" Anne. "
" Oke, kalau begitu aku pulang dulu. "
" Iya, terimakasih. "
Setelah itu Anne membantu James untuk masuk ke dalam kamar, lalu melepaskan sepatu juga jaket. Seperti kemarin, baru saja selesai meletakkan sepatu dan jaket, James terbangun dan muntah di sembarang tempat. Anne menghela nafas, padahal yang membuat James seperti ini adalah kakaknya, kenapa dia malah menjadi begitu sibuk mengurus James? Anne menatap James sebentar, kesal dan sakit sekali mengingat perkataan James sehingga Anne tak tahan untuk tidak memukul wajah James.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Meiliani Pelangi
sampai kapan kamu sabar menghadapi James yang begitu, Anne?
2022-10-11
1
Naviah
semangat thor💪
nyesek banget bacanya 😭🤧
2022-09-19
1
rosediana
lanjutt
2022-09-18
0