James menghela nafas sebalnya karena tak punya pilihan lain selain datang ke pesta pernikahan anak dari pamannya yang selama ini tak sekalipun pernah perduli bagaimana dengan bagaimana cara keluarganya bertahan hidup. Dia juga terpaksa membawa Anne untuk ikut bersamanya karena tidak mungkin meninggalkan Anne, nanti kalau orang tuanya bertanya bisa-bisa dia akan di salahkan terutama oleh Ayahnya sendiri yang sudah menganggap Anne seperti putri kandungnya.
Anne, di kini sudah siap untuk berangkat setelah merasa tampilannya cukup baik. Dia menggunakan sebuah dress ketat polos berwarna hitam tapi tak kehilangan kesan mewahnya. Dia menyapukan make up tipis ke wajahnya, menggunakan warna kalem di bibirnya, menggunakan perona pipi yang membuat wajahnya sedikit kemerahan tapi terlihat cocok untuknya. Dengan di hiasi heels kakinya melangkah keluar menuju ke tempat dimana James menunggunya.
" Sayang, aku sudah selesai. " Ucap Anne, dia tersenyum setelahnya saat melihat James menatap ke arahnya dan sempat terdiam beberapa detik.
James yang tanpa sadar terpesona oleh tampilan cantik Anne hari ini sampai lupa akan kebencian yang ia rasakan kepada Anne beberapa saat dan membatin di dalam hati, Cantik! Hanya sebentar, karena tak lama James memalingkan wajah, dia bangkit karena sudah harus segera berangkat juga.
" Kita langsung ke parkiran saja. " Ucap James, Anne tersenyum mengangguk. Dengan cepat dia berjalan untuk Mendekati James lalu meraih lengannya dan memeluknya. James cukup terkejut karenanya sehingga tanpa sadar menatap ke arahnya dengan dahi mengeryit seolah bertanya kenapa harus memeluk lengannya segala?
" Aku kan pakai heels, aku takut jatuh. " Anna menjawab lalu tersenyum setelahnya. James menghela nafas, tapi dia tak bisa melakukan apapun dan membiarkannya saja. Sebenarnya tampilan Anne hari ini memang cukup membuat James terkejut juga terpesona, karena kalau sudah make up ternyata Anne memang sangat cantik, bahkan lebih cantik dibanding Angel. Kalau di pikir-pikir memang Angel terlihat selalu lebih cantik karena wajahnya hampir tidak pernah absen dari make up, kegiatan yang ia jalani di keseharian kan memang butuh Make up untuk mendukung penampilannya.
Satu jam lebih di dalam perjalanan, kini Anne dan James sudah semakin di tempat yang memang ingin dia hadiri. Ayah serta Ibunya James sudah lebih dulu sampai dan sekarang sedang berbincang dengan teman lamanya. Dengan hati-hati Anne melangkahkan kakinya yang menggunakan heels tinggi sembari memeluk lengan James erat-erat. Begitu sampai di dalam sana, James dan Anne di sambut oleh seorang pria paruh baya. Wajahnya memang tersenyum seolah dia adalah orang yang hangat dan ramah, tapi tatapan matanya yang mencemooh jelas terlihat hingga membuat James dan Anne tak ingin berlaku sok ramah atau pun berpura-pura ramah sepertinya.
" Selamat datang, James keponakan ku. " Sapa Pamannya James sembari menyodorkan tangan untuk di sambut oleh James, tapi James malah terlihat acuh dan ogah menerima jabatan tangan dari orang yang wajahnya jelas menunjukan kepalsuan yang menyajikan.
Pamannya James berdecih dan tersenyum sembari menarik kembali tangannya. Kalau melihat situasinya sepertinya dia sengaja menjulurkan tangannya untuk mempermalukan James karena dia tahu James tidak akan menyambut tangan itu. Benar saja, beberapa orang yah melihat itu saling berbisik seolah menuding James adalah keponakan yang sangat tidak sopan dan juga arogan. Sebentar Anne menatap James yang terlihat tak perduli bagaimana wajah pamannya yang tak henti memasang kepalsuan, dia juga tidak perduli dengan pandangan orang lain yang mencemooh kepadanya.
" Berhentilah bersikap sok ramah, kau dan aku tahu benar jika hubungan kita tidak sebaik itu sampai harus berjabat tangan. Aku bukan kau yang tersenyum dengan tatapan penuh kebencian lalu dengan palsunya sengaja menjabat tangan untuk mencuri simpati orang, hah! kau benar-benar tidak berubah dan semakin menjijikan. " James yang sepanjang masuk ke dalam sana terlihat begitu dingin benar-benar tak perduli dnegan yang lain selian mengutarakan bagaimana perasannya yang memang tida pernah menyukai lamanya, keluarga dari Ayahnya yang selalu membuat dadanya sesak ketika dia berada di sana saat kecil.
" Dasar tidak tahu aturan, kalau kau tidak bisa menjaga mulut dan tingkah laku mu seharusnya kau tidak datang kemari! "
Wajah James tak bereaksi, tapi debaran jantung yang menderu tak bisa di elak. Pria tua itu, suara lantang itu adalah milik kakeknya, pria yang selama ini terus mengagungkan putra dari pamannya yang seumuran dengannya. Entah tahu atau tidak, tapi James yang sudah merasakan bagaimana rasanya di dibanding-bandingkan sedari kecil dengan putra dari pamanya sudah terbiasa untuk mendengar kalimat tidak enak dari kakek, juga pamannya sehingga tanpa sadar sudah memendam kebencian dan dendam yang tidak tahu sudah sebesar apa.
" Maaf untuk ini, Ayah. James memanah seperti ini, tolong jangan di perbesar lagi masalahnya. " Pinta Ayahnya James yamg segera datang dan mengentikan pertikaian di hari baik seperti ini. James juga tak mengatakan apapun lagi karena tidak ingin membuat keributan dan dia juga cukup sadar diri jika kehadirannya hanyalah untuk membuat mereka bersenang-senang karena sukses mempermalukan dirinya sama persis seperti yang dia duga saat akan berangkat tadi.
Kakek menghela nafas dengan tatapan acuh, sementara paman kini menatap Anne dengan senyum seperti menemukan target yang akan dia gunakan untuk mempermalukan James.
" Halo istri Keponakan? Aku minta maaf sekali karena tidak datang di pernikahan kalian beberapa waktu lalu. Maklum saja hubungan tidak baik yang terjadi membuat James ogah mengundang kami yang sebenarnya adalah saudara paing kental karena hubungan darah. "
Anne terdiam sebentar, sungguh dia bisa melihat kepalsuan dari mata pamanya James sehingga itu tidak membuatnya nyaman. Anne tersenyum, dia seolah ingin menyampaikan maksud dari wajahnya bahwa dia tidak masalah dengan itu.
" Tidak apa-apa, paman. "
" Sebenarnya aku sudah tahu kau adalah anak dari Bien si pengusaha sukses itu, aku benar-benar merasa lega karena akhirnya James menikah dengan anak dari orang yang selalu berada untuk bisnis keluarga. "
James mengeraskan rahangnya menahan kesal, tali dia juga tidak mampu bereaksi apapun karena ada Ayah dan Ibunya yang pasti juga sedang menahan diri sebisa mereka.
Sejujurnya Anne sama sekali tidak tahu kalau pamannya James akan membahas soal hubungan keluarga mereka yang jelas akan memancing kesalahpahaman orang yang mendengarnya. Anne menarik nafas sejenak menenangkan diri agar sebisa mungkin tak salah bicara sehingga bisa menyelamatkan harga diri suaminya.
" Sebenarnya masalah itu aku kurang paham, hanya saja jika tidak ada Ayah mertuaku bisnis keluarga kami juga tidak akan sebesar ini. Ayah ku dan Ayah mertua begitu bekerja keras, makanya bisa seperti sekarang ini. Soal pernikahan juga tidak perlu berterimakasih begitu, paman. Dari awal awal akulah yang begitu jatuh cinta dengan kak James, jadi jangan menganggap pernikahan ini seperti yang paman pikirkan. " Ucapan Anne barusan benar-benar telah membuat pandangan orang menjadi sedikit berbelok tak lagi mencemooh James.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor
Anne yang kamu benci malah yang menjaga hark martabat kamu Jomes
2022-09-19
0
Sky Blue
Sibuk mikiran James, jmesny sibuk sendiri🥺🥺🥺
2022-09-14
3
Della Eriana
semoga aja suatu saat nanti James bakalan cinta mati sama Anne dan Anne Uda mulai kehilangan perasaannya jadi James tau gimana rasanya gk di hargai sama org yang dicintai
2022-09-12
2