Anne menatap dengan berani tatapan mata pamanya James, sungguh dia tidak menyukai sifat Pamannya James yang dengan jelas menunjukkan betapa dia haus akan pujian, dia juga terlihat tak bersalah setelah menuduh James menikahi Anne karena aliansi atau semacamnya. Memang pernikahan semacam itu adalah hal biasa bagi para pembisnis, tapi percayalah jika bagi Ayahnya pernikahan adalah suci yang tidak akan bisa sembarangan saja hanya karena bisnis. Tapi mana mungkin orang lain ingin memahaminya? Apalagi kalau yang ada di pikiran orang tersebut adalah bisnis dan juga uang saja, maka menjelaskan ini adalah hal yang sama sekali tidak akan pernah bisa di mengerti olehnya.
" Iya, maaf kalau ucapan ku menyakiti. Bagaimanapun aku sebagai pamannya James dan keluarga boleh merasa khawatir kan? Sedari kecil James kan tidak berbakat dalam bisnis, sama seperti... Ah maaf lagi ucapan ku semakin melantur. "
Anne memaksakan senyumnya, sekarang dia benar-benar begitu menyadari benar jika kedatangan James dan keluarganya kesana hanyalah untuk lelucon saja, sekalian mereka ingin membuat James dan keluarganya di permalukan oleh para hadirin yang lain. Tidak apa-apa, orang seperti pamannya James ini adalah orang yang tidak memiliki empati, juga tidak perduli bagaimana memperlakukan keluarganya sebagai mana mestinya, jadi Anne juga tidak perlu bersikap sopan kepada orang semacam itu kan?
Anne memindahkan tangannya, dia membuat tangannya menggenggam tangan James, dan jari mereka bertautan seperti pasangan yang saling mencintai dan mengasihi.
" Orang yang memilki kemampuan biasanya adalah orang yang sangat tidak suka banyak bicara. Paman sedari tadi membicarakan banyak hal hanya untuk mengatakan jika James tidak berbakat dalam bisnis entah seperti siapa yang paman maksud. Tapi, aku malah jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa paman bisa berbisnis sedangkan saudara paman dan keponakan paman tidak? Aku malah jadi curiga kalau sebenarnya mereka sengaja tidak di didik untuk berbisnis. "
Pamannya James kini tak bisa lagi berpura-pura tersenyum, dia menatap dengan dingin Anne yang tersenyum dan terlihat sama sekali tidak takut. Wajar saja jika memang Anne tidak takut, karena Pamannya James tentu saja bukanlah ancaman baginya mengingat Ayah dari Anne adalah pembisnis unggul yang memiliki banyak relasi, juga kecekatannya dan kecerdikannya yang sudah tersebar luas dari mulut ke mulut.
" Kau masih terlalu muda, tentu saja kau tidak terlalu paham bagaimana kehidupan ini berjalan, istri keponakan. "
Anne menghela nafasnya.
" Anda terlalu tua untuk tidak paham bagaimana kehidupan yang sesungguhnya, paman. Yang licik boleh berkata dengan percaya diri dan gaya nyentrik, yang jujur boleh saja terlihat terinjak dan hancur. Tapi jangan lupa kalau ada si pemilik kehidupan yang dengan hitungan detik bisa membuat si licik jatuh terperosok hingga mampu di injak-injak oleh si jujur dan terlihat hancur. "
James menatap Anne yang seperti bukan Anne biasanya. Cara senyum itu terlihat anggun, menekan, dingin, dan menjelaskan betapa pentingnya menghargai dirinya.
Paman James jelas semain tidak terima karena semua orang seperti sedang meragukan kualitasnya selama ini. Padahal dia sudah susah payah mendapatkan apa yang di dapatkan sekarang ini, tapi gara-gara seorang wanita muda dia hampir saja di buat jatuh terpuruk.
" Bukan maksudku ingin seperti itu, hanya saja orang yang lahir bodoh memang kadang akan sulit mendapatkan kemampuan, jadi itu sudah pasti kami pahami. Aku hanya terlaku khawatir akan banyak hal yang memang belum akan terjadi.
" Tidak ada orang bodoh di dunia ini, paman. Jangan berbicara seperti itu, paman tidak terlihat berwibawa padahal rumitnya paman adalah orang yang tegas, sopan, pekerja keras juga. Aneh ya karena sedari tadi aku seperti merasa bawa kami sekeluarga ini sedang dipermalukan di acara saudara sendiri, ah benar-benar membuat sedih. " Anne tersenyum, sementara Pamannya James menjadi serba salah sendiri. Jujur saja, melihat James juga adik serta adik iparnya memang membuatnya kesal. Entah mengapa juga dia seperti enggan untuk berbaikan padahal selama ini orang tua James serta James tak pernah merepotkannya sama sekali, apalagi sampai meminta uang.
Pamannya James yang tidak ingin lebih lama menjadi tontonan orang dengan segera beranjak pergi dengan alasan ingin menyambut tamu yang lain.
" Anne, terimakasih karena telah melindungi harga diri kami. " Ucap Ibunya James dengan nada rendah, dia juga menunduk karena merasa malu dengan menantunya karena akhirnya Anne harus melihat betapa tidak di hargainya mereka oleh keluarga sendiri.
Anne meraih tangan Ibu mertuanya, dia tersenyum karena tidak tega melihat Ibu mertuanya seperti menahan tangis.
" Ibu mertua kenapa bicara seperti itu? Aku kan sudah menikah dengan kak James, aku juga anak Ibu dan Ayah mertua, jadi tidak masalah aku melakukan ini. "
Di sisi lain, sepasang mata sedari tadi terus menatap Anne dengan tatapan intens. Sungguh dia begitu terpesona dengan cara Anne melindungi James beserta keluarganya. Wajahnya padahal masih terlihat muda, tapi cara berbicara penuh perhitungan itu benar-benar menunjukan benar betapa tingginya kualitas seorang Anne.
Pria itu adalah Arthur, dia adalah anak pertama dari pamannya James. Arthur adalah cucu yang paling di banggakan oleh Kakeknya James. Selain di anggap sebagai penerus usaha sang kakek dan Ayahnya, pria itu juga dikenal dengan wajah Kakek dan juga Ayahnya di dalam dunia bisnis.
Dia tersenyum melihat Anne karena merasa jika Anne sangat mendekati kriterianya, meksipun dia tahu jika Anne adalah istri dari sepupunya sendiri, Arthur benar-benar tidak perduli. Pria yang sudah menduda tanpa anak itu benar-benar serius ingin mendekati Anne dan menjadikan Anne sebagai istrinya karena yakin benar bahwa sebenarnya Anne memiliki bakat yang mungkin di sembunyikan, dan Arthur juga yakin bahwa Anne memiliki keberuntungan yang cukup tinggi.
Tak di sangka-snagka ada seorang ada seorang pembisnis yang menghampiri James lalu mengajaknya mengobrol. Pertama-tama obrolan mereka hanyalah tentang bisa basi saja, tapi selain kama justru semakin menjurus ke dunia bisnis hingga membuat James begitu tertarik padanya. Untuk bisa mengobrol lebih nyaman James mengajak pria itu untuk ke tempat yang agak sepi sehingga bisa fokus untuk mengobrol. Padahal pria itu adalah orang yang di suruh Arthur untuk membuat James dan Anne berpisah sehingga dia bisa mengobrol sebentar dengan Anne.
Tak ingin membuang waktu karena orang tua James juga sudah mulai sibuk dengan kegiatannya, Arthur dengan segera menghampiri Anne, dia tersenyum dan menyapa sopan membuat Anne tak memiliki kewaspadaan padanya.
" Selamat malam, istrinya James? "
" Kau siapa? " Tanya Anne bingung karena memang ini juga pertama kali mereka bertemu.
" Seharusnya kita berkenalan dulu kan? "
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor
2022-09-19
0
Sky Blue
Smangat buatmu anne🥺🥺
2022-09-14
2
Della Eriana
semangat trs ya
2022-09-13
2