James dengan senyum di wajahnya membawa Anne untuk melihat satu persatu ruangan yang tersedia di sana. Dia menunjukan kamar tamu sederhana mereka, ada sebuah sofa duduk yang hanya bisa di duduki dua orang saja, juga satu meja bulat berukuran sedang, sebuah vas bunga plastik sebagai hiasan. Memang sangat jauh berbeda, bahkan dengan tempat tinggal pembantu rumahnya juga masih bagus tempat tinggal pembantunya, tapi Anne yang sudah bersikeras untuk mengabdikan diri kepada suaminya mencoba menerima saja apapun yang mampu suaminya berikan. Tidak munafik jika awalnya dia merasa agak kurang yakin dan bahkan sempat ingin menwarkan uang miliknya agar James membeli atau menyewa tempat yang lebih baik, tapi dia takut James tersinggung dan merasa di rendahkan oleh istrinya sendiri, jadi Anne memilih untuk menerima apa yang mampu suaminya berikan, dan belajar tetap bersyukur apapun yang ada.
" Bagaimana? Apa kau suka ruang tamunya? " James bertanya dengan tatapan dalam, senyum miring juga terbit karena sepertinya Anne mulai merasa tidak nyaman dengan ruangan pertama yah dia tunjukan.
" Kau pasti sengaja membeli sofa yang hanya bisa di duduki berdua agar kita selalu mesra ya? " Anne tersenyum begitu lepas, dia juga menatap James dengan binar bahagia penuh cinta yang membuat James terkejut dan lagi-lagi harus kehilangan senyum dan harapan untuk dia bisa melihat wajah Anne yang kecewa sehingga dia bisa sedikit saja merasakan bahagia.
Tenang James, batinnya menggerutu. Masih ada ruangan lain yang dia harapkan bisa membuat Anne tak nyaman, lalu perlahan dia nanti akan mulai tidak tahan dan lagi-lagi perpisahan adalah ujung atau akhir yang di harapkan James.
" Ini adalah dapur yang akan kita gunakan untuk mengolah makanan. "
Kali ini James benar-benar yakin benar kalau Anne pasti akan merasa tidak nyaman, Selian tembok dapur yang sudah ada sebagian berjamur, perabotan yang James sediakan di sana juga sangat sederhana dan cenderung kualitas hampir paling buruk. Sayang, benar-benar sangat di sayangkan Anne masih bisa mengelak nafas lega seolah tak masalah dengan keadaan dapurnya. Sejujurnya Anne agak risih melihat tembok yang berjamur, tapi bisa di bersihkan atau dirapihkan jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Kalau untuk perabotan dapur jelas dia tidak tahu tentang kualitas produk karena dia sama sekali tidak pernah memegang alat dapur.
" Cukup bagus kok, nanti aku akan belajar banyak dari dapur ini. " Ucap Anne dengan senyum yang terlihat jelas tidak di buat-buat sehingga membuat James malah menjadi semakin kesal.
Sialan!
Oke, ini adalah kamar kamar tidur mereka, apakah masih bisa tersenyum atau tidak Anne nantinya, yang jelas James memiliki keyakinan kalau Anne pasti akan merasa tidak senang.
" Ini adalah kamar tidur kita. "
Anne terdiam sebentar sembari menoleh ke kanan dan ke kiri melihat satu persatu isi kamar yang sangat jauh berbeda dengan kamarnya. Tentulah berbeda, tapi dia juga tidak boleh mengeluh kan? Memang benar dia begitu terbiasa hidup berkecukupan, di manja tidak boleh melakukan ini, tidak boleh melakukan itu karena orang tuanya memiliki ketakutan tersendiri untuk Anne. Tapi kali ini dia menikah dengan pria yang tidak sekaya Ayahnya, jadi mau tidak mau dia tetap harus menerima, jangan mengeluh agar suami tidak berkecil hati, asalkan mau usaha di iringi doa pasti Tuhan akan memberikan kenyamanan, serta rezki agar kedepannya mereka bisa hidup lebih baik, dan tinggal di tempat yang lebih baik lagi.
" Iya, ini juga bagus kok. Aku suka tempat tidurnya, dengan lebar ranjang ini berarti kita akan tidur berdekatan terus kan? Sayang, kau pasti terus memikirkan itu saat membeli semua barang-barang di sini ya? " Anne tersenyum bahagia, dia bahkan sekarang duduk di atas tempat tidur dan menepuk bantal beberapa kali lalu mencoba untuk berbaring.
" Ini nyaman! Ah, kalau tidur sembari dipeluk oleh mu pasti akan lebih nyaman, iya kan sayang? " Anne tersenyum menatap James yang kini terdiam tak bisa berkata-kata. Sungguh dia benci senyum indah yang terbit di wajah Anne. Sebenarnya dia membeli sofa berukuran kecil dan paling murah di toko hanya karena ingin Anne tidak nyaman, sama seperti ranjang tidur, tapi sialnya Anne malah menganggapnya ingin selalu bermesraan di balik barang serba kecil itu.
James terdiam sembari menatap Anne yang kini berjalan melihat-lihat isi kamar mereka. Sungguh dia benci semua ini, sungguh dia tidak suka dengan Anne, apalagi harus hidup bersama di tempat kecil dan tidak nyaman itu. Tapi kalau di pikir-pikir lagi, dia seperti nya belum kalah total kan? Karena seiring berjalannya waktu dia kan bisa menyiksa Anne dengan caranya sendiri.
" Sayang, tidak ada pendingin ruangannya ya? " Tanya Anne sembari celingukan mencari pendingin ruangan.
" Ah, aku lupa bilang padamu. Kita menggunakan ini, apa tidak masalah? Kalau tidak nyaman kau bisa- "
" Tidak masalah kok, bagaimana cara menghidupkannya? " Belum juga selesai James berbicara Anne malah tiba-tiba terlihat sangat antusias dengan kipas angin kecil yang di pegang oleh James sekarang ini.
" Wah, nyaman sekali! Rasanya seperti berdiri di tengah sawah dan di terpa angin ya? " Anne dengan polosnya berandai-andai. Bukan sok polos atau bagaimana, Anne sebelumya memang sama sekali tidak pernah menggunakan kipas angin. Tentu saja itu karena tubuh Anne kan dulu sangat gampang sekali sakit, bahkan sampai sekarang pun Anne masih mandi dengan air hangat sesuai permintaan orang tuanya meski Dokter mengatakan jika tubuhnya sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
James lagi-lagi kehilangan kata-kata dan larut oleh kebencian karena harus melihat lagi senyum di wajah Anne yang membuatnya begitu frustasi.
Tak lama terdengar suara perut berbunyi, dengan malu-malu Anne tersenyum sembari memegangi perutnya. Iya, itu adalah suara kerut Anne yang begitu nyaring menandakan bahwa dia merasa lapar sekarang ini.
James tiba-tiba memiliki ide baru, dia dengan wajah sok baik meminta izin kepada Anne untuk keluar mencari makanan, karena kalau ingin mengolah makanan di apartemen itu James harus menyiapkan dulu bahan-bahannya dan jelas membuatnya kerepotan nanti.
Dengan sengaja James berlama-lama di luar rumah, mungkin dia jam dia berputar-putar dengan mobilnya, dia sengaja melakukan itu karena ingin membuat Anne kelaparan dulu. Setelah cukup puas berputar mengelilingi jalanan, James dengan sengaja membeli nasi pinggir jalan yang ia yakini Anne pasti tidak akan menyukainya.
Setelah sampai di rumah dia melihat Anne duduk dengan wajah tak biasa. Iya, dia pasti sudah sangat kelaparan kan?
" Sayang? Sudah pulang? " Anne tersenyum menyambut kedatangan James.
" Maaf lama, tadi aku antri di restauran mahal tapi sudah keburu habis, jadi aku beli nas rames saja. "
" Oh tidak apa-apa kok. "
James memperhatikan Anne membuat bungkus nasi itu, lalu perlahan menyuapkan makanan ke mulutnya.
Heh! Lidah orang kaya sepertimu pasti langsung mual memakan itu!
" Wah, rasanya enak sekali! Ini lebih enak dari pada masakan koki di rumah Ayah! "
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Marhaban ya Nur17
James" konyol
2025-01-30
0
Sulati Cus
siksaan g sesuai harapan 😂
2022-12-06
3
Aneuk Pocut
bngettt nyesal nyaaa
2022-11-09
0