Anne terdiam melihat betapa ramahnya pria yang kini menyapanya, dia terlihat seperti meilki maksud, tapi Anne juga merasa aneh kalau tiba-tiba mengusir atau menjauhi pria itu. Sempat memang terlintas di pikirannya, apakah pria yang tersenyum di hadapannya adalah pria yang hanya ingin membuat dirinya dalam kondisi sulit nantinya. Tapi mau bagiamana lagi selain meyambut saja karena tempat dimana dia berdiri bukanlah miliknya sehingga terasa aneh jika dia mengusirnya.
Arthur mengulurkan tangannya berharap Anne meyambutnya sehingga dia bisa mengobrol lebih jauh nantinya. Anne menerima uluran tangan itu, dia sedikit tersenyum meski enggan melakukannya. Begitu mereka sudah bersalaman Anne dengan cepat ingin melepaskan tangannya, tali Arthur dengan wajah seolah mengisyaratkan tengah bercanda menahannya sebentar.
" Ini benar-benar pertama kali bagiku berkenalan dengan seseorang yang begitu terburu-buru saat bersalaman. " Ujarnya, lalu kembali tersenyum dan melepaskan tangan Anne. Bagaimanapun dia tidak bisa bersikap berlebihan karena dia sudah melihat sendiri bahwa Anne bukanlah wanita yang mudah untuk di dekati. Selain itu dia sudah mendengar beberapa informasi dari Ayahnya tentan pengantin wanita James yang katanya adalah anak dari pengusaha besar, orang itu lah yang selama ini membantu bisnis Ayahnya James sehingga perusahaan milik mereka bertahan hingga sekarang ini.
Anne lagi-lagi hanya bisa memaksakan senyumnya, dia benar-benar mencoba untuk bersikap biasa saja meja sebenarnya dia tengah menahan rasa sebal yang luar biasa kepada pria yang begitu sok akrab dengannya. Ini bukan masalah sok jual mahal lalu menunjukan bagaimana kualitasnya sebagai seorang wanita, dibandingkan seperti itu Anne memang lebih memilih menahan diri untuk menghormati orang di sekitar agar tak terkesan suka merendahkan orang lain dengan sikap angkuh seperti kakaknya.
" Oh ya, kalau boleh tahu siapa namamu? " Arthur tentu saja sudah tahu benar siapa nama wanita yang berdiri di hadapannya yang tak lain juga adalah istri dari sepupunya sendiri. Tapi dia kan adalah pria yang membutuhkan sikap bosabasi agar bisa lebih dekat dengan lawan jenis.
" Anne. " Jawab Anne singkat sembari terus berharap agar pria di hadapannya ini segera menyingkir dan mencari saja wanita lain untuk bicara. Karena merasa sudah harus mengakhiri pembicaraan ini agar tak membuat James salah sangka nantinya, Anne berpura-pura membenahi rambut bagian depannya dengan jemari yang dihiasi cincin pernikahan. Tentu saja niatnya adalah untuk menunjukan kepada Arthur bahwa dia sudah menikah alias sudah menjadi milik orang lain.
Arthur tersenyum tipis, dia paham benar bahwa Anne sengaja memperlihatkan cincin pernikahan sebagai peringatan untuk segera menjauh darinya karena dia telah bersuami. Sayang sekali, Arthur tidak akan semudah itu menyerah, dan dia tahu benar bagaimana membuat Anne menikmati obrolan mereka sekarang.
" Oh iya, sepertinya aku pernah melihatmu di sala satu galeri lukisan, itu kalau aku tidak salah ingat. Ah, juga juga pernah melihat lukisan yang dibuat oleh Anne, apa aku sok tahu dengan ingatan samar-samar ini ya? "
Anne sedikit terkejut, sebenarnya dia memang melukis beberapa lukisan dan menitipkannya di galery milik kenalan Ibunya. Awalnya itu hanya untuk mengusir jenuh saja karena Anne lebih sering berada di dalam rumah di banding yang lainnya. Tidak di sangka kalau lukisan miliknya bisa di bilang cukup terkenal, hanya sana Anne tidak pernah menceritakan ini kepada orang luar selain keluarganya sendiri.
" Aku memang pernah melukis beberapa lukisan, tapi aku tida yakin kalau yang kau ingat itu memang karyaku atau bukan. "
" Ah benarkah? Kalau tidak salah ingat lukisan yang waktu itu aku lihat adalah lukisan orang tua yang memeluk setangkai bunga lili. Aku sangat menyukai lukisan itu, aku juga sudah membujuk agar bisa membeli lukisan itu, tapi sayang sekali lukisan itu sama sekali tidak dijual. Aku hanya ingat nama pelukisnya saja, Anne. "
Anne tersenyum, kali ini senyumnya bukan karena terpaksa, tapi dia benar-benar merasa lumayan juga ketika karyanya bisa membuat orang lain tertarik. Sebenarnya dari empat lukisan yang dia buat, lukisan orang tua memeluk bunga lili adalah yang paling banyak diminati oleh orang, hanya saja Anne memang tidak menjual karyanya dan hanya ingin karyanya di pamerkan saja. Minat untuk membeli lukisan orang tua memeluk bunga lili tentu saja bukan Arthur seorang, karena sebelumnya juga sudah banyak orang yang ingin membelinya.
" Terimakasih karena sudah tertarik dengan lukisan itu. "
" Jadi itu benar lukisan mu ya? Ah, benar-benar beruntung sekali bisa bertemu langsung dengan lukisan yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. " Arthur dan Anne sama-sama tersenyum.
James yang baru saja kembali benar-benar tak bisa menyembunyikan kekesalannya melihat Anne dan Arthur saling tersenyum seperti sedang saling menggoda. Tanpa pikir panjang dia segera melajukan langkah kakinya, dengan tatapan marah dia meraih pergelangan tangan Anne dan menatap Arthur dengan tatapan marah.
" Jangan mencoba membuatku marah, aku tidak akan sungkan membuat perhitungan denganmu. " Ucap James pelan dan hanya bisa di dengar jelas oleh Arthur, sementara samar-samar oleh Anne.
Masih belum puas memperingatkan Arthur, James dengan langkah kaki cepat membawa Anne keluar dari sana tak perduli betapa kesulitannya Anne dengan heels setinggi itu mengikuti langkah kaki James yang lebat dan cepat. Sesampainya di parkiran mobil yang sepi, James melepaskan cengkraman tangannya dan hampir saja membuat Anne terjatuh kalau saja tidak menahan tubuhnya dengan memegang mobil di sana.
" Kenapa kau tidak tahu malu hah?! Apa kau sengaja menggoda pria dengan kecentilan mu itu? "
Anne terdiam dengan tatapan terkejut, sungguh ini adalah kali pertama baginya untuk melihat James berbicara dengan kalimat yang tidak mengenakan dan juga nadanya yang terdengar begitu kasar.
" Sayang, aku tidak berniat menggoda pria itu, kami hanya- "
" Wanita tidak tahu malu cenderung tidak akan mengakuinya, jadi tutup saja mulutmu dan simpan saja sendiri penjelasan mu yang tidak penting! "
James membuka pintu mobilnya, dan menutup dengan kasar begitu dia berada di dalam. Dengan segera Anne ikut masuk, sebenarnya ini sangat menyakitkan untuknya, tapi mau bagaimana lagi kalau rasa cinta yang ia miliki begitu menuntut untuk terus berlapang dada?
" Maaf, sayang. " Ucap Anne begitu dia sampai di dalam mobil. James tak menghiraukannya dan memilih fokus untuk melakukan mobilnya.
Selama di perjalanan pulang Anne terus berpikir bagaimana dia akan mengakhiri pertengkaran ini, tapi sampai dirumah pun dia masih tak bisa menemukan caranya. Sedangkan James terus saja menunjukan kemarahannya yang semakin membuat Anna kebingungan.
Ah, tapi tiba-tiba Anne jadi teringat akan sebuah adegan yang mirip dengan sebuah film yang pernah ia tonton.
" Sayang, apa kau cemburu Hem? " Goda Anne.
James yang kalau itu sedang memainkan ponselnya terlihat jelas tidak setuju, tapi Anne malah jadi semakin ingin menggodanya.
" Sayang, mengaku saja kalau cemburu. "
James terlihat semakin marah, dia menendang kipas angin yang belum lama ini dia beli hingga patah dan remuk menjadi beberapa bagian.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Meiliani Pelangi
Anne jaga sikapmu, jangan terlalu agresif dan menunjukkan cintamu yg berlebihan ke James.
biarkan James bucin yg mengejarmu dan mencintaimu begitu dalam.
2022-10-11
3
Naviah
ya ampun sayang banget kipas anginnya 😅
2022-09-19
2
Santi
Kang kipas pasti seneng nih dagangannya laku...
sering dirusak pasti sering beli lagi..
mau jualan kipas ah.. dekat apartemen di James
2022-09-17
1