James mengusap wajahnya yang kasar, dia benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri yang sempat kehilangan kontrol. Beberapa saat lalu James yang tidak tahan dengan cara Anne menggodanya akhirnya terseret dan terbuai hingga melakukan apa yang yang seharusnya tidak ia lakukan meski sadar benar ini adalah hal yang wajah bagi pasangan suami dan istri.
James menatap sebentar Anne yang sudah tertidur pulas karena kelelahan, sementara dia hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi. Sebenarnya saat melakukan itu dengan Anne beberapa saat tadi, yang di bayangkan oleh James adalah wajah cantik Angel sehingga dia tanpa sadar dengan semangat melakukanya.
Sekarang hubungan di antara mereka sudah semakin erat, dan bukan tidak mungkin akan sulit bagi James berpisah dengan Anne nantinya. Entah ini akan membuat keluarganya hancur atau apa, tapi James sudah memiliki siasat untuk segera bangkit dan berusaha semaksimal mungkin agar bisa membebaskan diri dari tali kekang Ayah Bien yang tak lain adalah Ayah mertuanya.
James menghela nafas sebentar, dia ingat benar hari dimana dia di remehkan oleh kakek nya sendiri, jadi penting juga untuknya bangkit dan mandiri agar dia bisa bebas dari keluarga Anne dan memilih jalan hidupnya sendiri.
Esok paginya, Anne tersenyum malu-malu bahkan sampai di meja makan. Sungguh dia tidak bisa menghilangkan bayangan apa yang terjadi semalam antara di dan James, James benar-benar membuatnya bahagia luar biasa, dia juga merasa sangat tidak ingin malam itu berakhir.
Berbeda dengan James yang malah tampak tak senang, apalagi sekarang dia sedang berhadapan dengan Angel yang sama sekali tak mengeluarkan suara saat sarapan pagi. Melihat dari diamnya Angel, pasti dia sangat terluka dengan pernikahan antara James dan Anne. Saat pesta pernikahan di gelar juga Angel sama sekali tak muncul, dia lebih memilih berada jauh dari Anne dan James karena tidak ingin semakin terluka.
" Sayang, bagaimana rencana selanjutnya? Kau mau tetap tinggal disini, atau mau pisah rumah? Bagaimanapun keputusan kalian tentu saja kami akan mendukung, asalkan kalian bahagia. " Ucap Ibunya Anne menatap Anne dan James bergantian.
" Aku akan mengikuti keputusan suamiku, Bu. Bagaimana denganmu, sayang? " Tanya Anne kepada James yang saat itu malah sedang sibuk memikirkan Angel.
" Hah? Apa? " James menatap Anne dengan tatapan terkejut, dia sampai tak sadar bahwa selama itu dia tak sekalipun memakan makanan yang sedari tadi ia aduk-aduk.
Anne tak mengambil pusing meski tahu suaminya ternyata tak mendengarkannya sama sekali, dia dengan percaya diri mengulangi pertanyaan Ibunya.
" Ibuku bertanya, apakah setelah ini kita akan tinggal disini, atau akan memilih hidup bersama di lain tempat? "
James terdiam sebentar, sebenarnya tinggal di sana juga dia memiliki untung karena bisa melihat Angel setiap saat, tapi belenggu dari Ayah Bien pasti akan semakin kuat dan seenaknya saja. Dengan yakin James mengatakan keputusannya yang di anggap sangat amat tepat sekali.
" Kami akan tinggal di apartemen, setelah ini aku akan pergi untuk melihat beberapa apartemen yang mungkin akan cocok untuk kami berdua. Bagaimanapun kami ingin tetap hidup mandiri, dan semoga saja Anne betah tinggal di tempat yang tidak senyaman dan seluas biasanya. "
Anne mengangguk sembari tersenyum, di dalam hatinya berkata bahwa jangankan di apartemen, di kos-kosan yang kamar mandi satu untuk bersama dia juga tidak akan mempermasalahkannya. Baginya yang paling penting adalah hidup bersama dengan James, selalu mesra dan rukun maka dia yakin hidupnya akan baik-baik saja. Pemikiran yang naif memang, tapi memang begitulah Anne.
" Baiklah, kami akan mendukung saja. Tapi jika membutuhkan bantuan apapun, tolong jangan sungkan, anggap saja Ibu ini Ibu kandungmu. "
James memaksakan senyumnya, semetara Ayah Bien terdiam dengan tatapan dingin. Jelas saja dia tahu dan bisa menebak dari awal kalau James pasti akan memilih untuk tinggal di luar, karena James pasti ingin lepas dari pengawasannya, dan juga bisa bebas mengatur dan memperlakukan Anne. Tapi sebagai orang tua dari Anne dia tentu tidak akan membiarkan begitu saja putrinya di bawa pergi tanpa pengawasan. Selama Anne baik-baik saja dan mampu menjalaninya, Ayah Bien memang tidak akan ikut campur, tapi kalau sampai Anne terluka atau menangis, dia adalah orang terdepan yang akan menjadi obat serta memberikan efek jera kepada James.
" Oh iya, bukan depan adalah pertunangan Angel dan Gerry, kalian harus datang sebelum acara di mulai ya? Meksipun di sini banyak yang membantu untuk mempersiapkannya, tapi kalau kalian sudah datang kesini tentu saja Ibu akan lebih tenang. " Ucap Ibunya Anne dengan mimik lembut seperti biasanya.
" Tentu saja, Ibu. " Ucap Anne dan James kompak.
Setelah selesai sarapan, James berniat keluar rumah, tujuannya adalah untuk mencari apartemen yang akan dia tinggali dan berada di dekat unit milik sahabatnya. Tapi begitu mengeluarkan mobil, dia melihat Angel yang juga ingin keluar untuk pergi ke kantor. Angel adalah anak pertama, usianya juga sudah dua puluh delapan tahun, dan dia sangat suka bekerja jadi tidak heran kalau dia terus menunda waktu untuk menikah.
" Kau mau ke kantor? " Tanya James. Awalnya Angel terdiam, tapi tak lama dia mengangguk tanpa kata.
" Mau aku antar tidak? Aku juga mau keluar untuk melihat apartemen yang akan aku tinggali. "
Angel menghela nafas, dia menatap kedua bola mata James sebentar.
" Maaf, aku tidak ingin ada yang salah paham. Kau tahu sendiri kalau orang tua ku sudah mengetahui hubungan kita sebelumnya kan? Aku juga tidak tega kalau sampai Anne sedih gara-gara aku. "
James terdiam menahan kesal, bukan kesal karena penolakan dari Angel, tali dia kesal karena lagi-lagi Anne yang menjadi sebab. Padahal Angel sudah banyak berkorban untuk Anne, bahkan sampai rela menyetujui pernikahan bersama Gerry hanya demi adiknya yang bahkan tidak tahu terimakasih itu.
" Angel, apa harus kita seperti ini? "
Angel menundukkan pandangan, sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya dia tidak rela James menikah dengan Adiknya, tapi mau bagaimana lagi kalau Ayahnya sudah membuat keputusan dia juga tidak berani menolaknya.
" James, aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi keputusan Ayahku bukan hal yang bisa aku bantah. Ayahku sangat tepat jika memprediksikan sesuatu, aku hanya bisa mematuhinya tanpa bisa mengeluh karena aku juga yakin pilihan serta keputusan Ayahku adalah hal yang tepat. "
James mencengkram kemudi mobilnya. Sebegitu percaya lah mereka dengan prediksi Ayahnya? Bahkan peramal juga belum tentu sehebat itu dalam memprediksi masa depan, bagaimana bisa hanya orang biasa bisa melakukannya? Jika tentang bisnis tentu saja itu masih masuk akal, tapi ini tentang kehidupan dan masa depan putrinya kan?
Semuanya jelas gara-gara Anne!
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Naviah
semangat thor💪
Anne bucin banget sama James
2022-09-19
0
Santi
28 tahun ini mah 😄
2022-09-17
1
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
tapi kalo emang anne udah digituin terus mo di tinggal ntar ya kasihan anne ntar ....
angel c udah bner sikapnya ...
2022-09-14
2