#19

Alarm berdering ketika waktu telah menunjukkan pukul tiga dini hari. Farhan segera bangun dari tidurnya. Harjan yang ikut terbangun karna suara alarm, segera bangkit. Melihat Farhan sudah berdiri di sampingnya, Ia melangkah menuju lemari di dekat meja kerjanya dan mengeluarkan beberapa potong pakaian untuk Farhan.

"Pakailah, kamu akan kedinginan di luar sana, ini juga bawa, kamu akan membutuhkannya nanti," kata Harjan ketika menyerahkan jaket wol tebal dan dua bungkus rokok kepada Farhan.

"Jika tidak karna tugasku di sini, aku pasti sudah ikut," sambungnya.

Farhan tersenyum.

"Terimakasih Jan, segala bantuanmu akan selalu aku ingat." Farhan memeluk Harjan. Setelah bersalaman, Farhan segera melangkah keluar.

"Tunggu dulu Han." Farhan menghentikan langkahnya. Ia melihat Harjan kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari. Harjan mendekat ke arahnya.

"Jika butuh sesuatu, segera hubungi aku. Nomorku dan nomermu sudah aku catat di sana," kata Harjan sambil menyerahkan sebuab hp kepada Farhan. Farhan menatap Harjan. Ada gelagat ingin mengembalikan hp tapi Harjan segera mencegahnya.

"Tak ada waktu, cepatlah, pak Hardian menunggu,"kata Harjan.

Kembali Farhan memeluk erat tubuh Harjan. Dia pun segera keluar dan mendapati Hardian sudah berada di luar menunggunya.

Keduanya pun berangkat. Motor yang ditunggangi keduanyapun mulai melaju di jalanan berkerikil.

Angin yang berhembus dari arah laut terdengar kencang menghempas. Sepeda motor yang ditumpangi keduanya terus melaju menembus pekat malam hutan belantara. Setelah satu jam lamanya di atas kendaraan, Hardian memutuskan berhenti di sebuah jalan yang mulai menyempit, karna di kiri kananya dipenuhi semak-semak. Hardian turun dan memberi isyarat kepada Farhan untuk menunggunya sejenak. Ia terlihat membungkuk memeriksa semak-semak di depannya. Dia memberi isyarat agar Farhan mendekat.

"Aku rasa ini dia jalan pintas menuju perkampungan baru, bantu aku membuka jalan ini," kata Hardian ketika Farhan sudah berada di dekatnya. Keduanya pun terlihat mulai menyingkirkan semak-semak yang menghalangi jalan. Jalan di depan mereka hanya jalan setapak yang tersembunyi. Orang yang tak jeli, tak akan melihat jalan itu. Jalannya agak menurun karna tempat mereka berdiri merupakan perbukitan yang lebih tinggi.

Setelah beberapa semak penghalang berhasil mereka singkirkan, keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan. Jalan yang mereka lalui di depan mereka benar-benar sempit dan sulit. Beberapa kali sepeda motor yang mereka tumpangi terpleset akibat jalan yang licin, juga ranting-ranting pohon yang menghadang di tengah jalan. Terkadang, mereka turun dan mununtun sepeda motor, jika jalan yang mereka temui sulit dilalu dengan sepeda motor.

Setelah satu jam lamanya mereka menyusuri jalan gelap dan sempit, akhirnya mereka sampai di pos jaga kehutanan, yang terletak di pertigaan jalan. Di pos itu sudah menunggu dua orang petugas dari polisi kehutanan.

"Kayaknya gak bisa Pak kalau harus jalan kaki," kata salah satu petugas jaga yang sedang menghangatkan tubuhnya di depan api unggun yang menyala, ketika Hardian berniat menitip sepeda motornya di pos jaga.

"Benar Pak, dari hasil pendataan, ladang terakhir di hutan bagian utara berjarak sekitar tiga kilo," kata petugas yang lain. Ia menoleh ke arah temannya dan memberi tanda dengan kepalanya untuk mengambil sesuatu di dalam pos. Tidak beberapa lama, ia keluar dengan membawa sebuah peta dan menggelarnya di depan.

"Ini dia perkiraan lokasinya. Kalau kita pakai motor, maka kita akan meninggalkannya di sini dan selanjutnya harus berjalan kaki," kata Hardian sambil menunjuk ke arah peta.

"Ayo Han, kita berangkat," sambungnya menatap Farhan. Farhan mengangguk. Sebuah bungkusan hitam diserahkan petugas kepada Farhan.

"Ini untuk sarapan Pak,"

"Oh ya, terimakasih," kata Hardian. Mereka berdua memutuskan berangkat dan kembali memulai perjalanan.

*

"Aku mohon lepaskan aku. Aku janji tidak akan menceritakan semua ini kepada orang-orang kampung," terdengar rintihan seorang perempuan ketika menyadari seseorang meletakkan sepiring makanan di depannya. Kedua tangannya yang terikat tali, menahan tubuhnya yang lemah agar tidak tersungkur.

Lelaki berjaket hitam dengan rambut lusuh di depannya menyodorkan makanan itu dengan kakinya. Ia lalu melangkah ke arah mulut gua dan keluar. Laki-laki itu berdiri di kegelapan, memandang sekitarnya yang masih gelap. Senter di tangannya diarahkannya ke mulut gua yang seluruhnya ditutupi tanaman merambat dan tanaman pakis. Nyaris tak terlihat. Orang-orang yang kebetulan lewat tidak akan tahu, di bawah cengkraman akar-akar pohon besar terdapat sebuah gua peninggalan zaman penjajahan jepang yang tersembunyi. Setelah memastikan sekitarnya aman, laki-laki itu melangkah meninggalkan tempat itu.

Perlahan langit di ufuk timur memperlihatkan warna keemasannya membelah dingin hutan. Kabut-kabut terlihat menyelimuti sebagian beberapa bagian hutan. Suara-suara kicauan burung seperti membangunkan penduduk hutan dari bisu panjangnya.

Farhan dan Hardian memutuskan untuk berhenti di dekat sebuah pohon beringin besar di tepi jalan setapak. Mereka mulai memeriksa kaki dan tangan mereka yang luka akibat goresan semak-semak maupun ranting-ranting pohon yang menghalangi selama perjalanan. Setelah memeriksa kondisi sekitar pohon, Hardian mendorong sepeda motornya dan menyembunyikannya di balik akar lebat pohon beringin.

Sinar matahari pagi yang menembus barisan pohon, memperlihatkan jalan di depan mereka yang menanjak. Setelah memeriksa dengan seksama, mereka berdua sepakat memastikan bahwa jalan menanjak itu adalah bukit terakhir di kawasan hutan bagian utara.

"Aku yakin, ladang terakhir ada di balik bukit itu, kecuali ada peladang gelap, yang secara ilegal membuka hutan," kata Hardian. Ia mengajak Farhan duduk di bawah pohon beringin. Farhan menyodorkan plastik berisi nasi bungkus kepada Hardian.

"Hutan ini begitu luas, ke depannya, dinas kehutanan harus menambah personelnya agar semua lokasi bisa terjangkau sepenuhnya," kata Farhan sambil mulai menyantap makanannya. Hardian mengangguk. Dia terlihat begitu lahap menyantap sarapan paginya.

"Kita harus bersabar di tempat ini sampai malam tiba. Jika hari ini kita tidak mendapati apa-apa, kita akan pulang sebentar dan kembali lagi sampai kita menemukan hal penting terkait kasus ini."Hardian bangkit dan menepuk pundak Farhan. Farhan mengangguk setuju. Mereka berduapun kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sesekali Farhan mengisi tas plastik di tangannya dengan buah bery yang ia temukan dalam perjalanan. Pengalamannya selama pelarian, mengajarkannya bahwa buah-buahan sekecilpun sangat berharga di dalam hutan.

Sinar matahari sudah tidak terlihat lagi, akibat halimun tebal yang hampir memenuhi seluruh permukaan hutan. Suasana gelap dalam hutan dan semak serta tanaman merambat yang sering ditemui dalam perjalanan, agak memperlambat gerakan mereka. Ditambah lagi medan yang sulit karna semakin menanjak tajam.

Hardian melirik ke arah jam tangannya. Sudah pukul 9 pagi. Ia mengambil botol minuman yang terikat di pinggangnya. Setelah meminumnya seteguk, ia memberikannya kepada Farhan. Belum ada tanda-tanda area perladangan di depan atau di samping kiri dan kanan mereka. Hutannya masih lebat. Keduanya mulai putus asa dan mulai meragukan bahwa jalan yang mereka adalah jalan yang salah.

"Kita istirahat dulu Han, sudah tiga jam kita berjalan, namun belum juga ada tanda-tanda ada ladang di sekitar kita," kata Hardian dengan nafas yang tidak stabil.

Farhan mendesah dan duduk di dekat Hardian.

"Kita sudah terlalu jauh Pak. Usul saya, kita lanjutkan saja perjalanan kita. Jalannya masih menanjak, dan kita belum menemukan jalan menurun. Itu artinya masih ada harapan menemukan ladang terakhir itu," kata Farhan mencoba memberi semangat. Hardian mengangguk, masih berusaha menstabilkan nafasnya.

Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Farhan dan Hardian saling pandang. Suara itu semakin dekat. Farhan mendongak. Beberapa tetes air menimpa wajahnya. Dedaunan kering pepohonan berguguran tertiup angin bersama hujan yang mulai turun.

"Hujan Pak," kata Farhan sambil berlarian ke arah kumpulan tanaman talas tak jauh dari tempatnya berdiri. Hardian mengikuti dan berteduh di bawah daun talas.

"Kayaknya perjalanan kita tambah sulit," celetuk Farhan. Hardian tersenyum.

"Jangan sampai rokok dan korek apinya habis. Lebih baik kita gak makan dari pada gak ngerokok," bisik Hardian. Dengan sigap, Farhan memeriksa kantung jaketnya.

"Aman Pak,"katanya sambil tersenyum.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!