#18

Adzan isya berkumandang merdu seperti mengikuti alur angin yang berhembus semilir. Suaranya terkadang jelas dan hilang sama sekali terbawa hembusan angin. Pepohonan seperti terdiam dalam khusyu' panjang berselimut kabut. Suara burung tekukur yang sesekali diselingi erangan burung hantu, seperti jawaban adzan yang menggema menenangkan penduduk hutan. Suasana begitu gelap pekat. Hanya terlihat satu dua cahaya obor di depan pondok para peladang dari balik batang-batang pepohonan.

Di dalam bilik kecilnya, Wati masih membisu dalam diamnya. Rutinitasnya setiap malam sejak kepergian Farhan. Malam adalah waktu panjang yang benar-benar ia gunakan untuk memikirkan Farhan. Itu membuat pak Sumarep ikut bersedih. Ia sudah berusaha mencarinya masuk ke dalam hutan, namun percobaan keduanya gagal. Selain medan yang cukup berat, faktor tenaga dan penglihatan yang telah mulai berkurang, membuat pak Sumarep akhirnya pasrah dan menyerah. Hutan itu terlalu luas. Ia merasa tubuhnya tak sekuat dulu lagi. Sekuat apapun keinginannya untuk memasuki hutan itu, pada akhirnya ia akan kehabisan tenaga dan mungkin saja akan berakhir tewas di dalam hutan.

Berdasarkan peta yang ia dapat dari kehutanan, luas hutan bagian selatan kurang lebih satu juta meter persegi, dengan kepadatan pohon yang sangat tinggi. Pohon-pohon yang menjulang tinggi dan tanaman merambat sebesar paha laki-laki dewasa, seperti pagar hidup yang menghalangi setiap langkah kaki. Walaupun ia telah berjalan setengah hari, ia belum menjumpai macan kumbang yang sering ia dengar dari tetangga. Dia hanya sekali melihat kijang di antara semak-semak belukar. Hal sekecil apapun di dalam hutan itu bisa mencelakan dirinya jika ia tidak berhati-hati. Pak Sumarep mendesah resah. Terkadang ia harus berbohong keluar rumah dengan alasan untuk mencari Farhan, hanya untuk menenangkan hati putrinya. Ia berharap Wati tetap tenang dan tak terlalu memikirkannya.

Dia hanya bisa melihat Wati yang selalu murung jika malam tiba. Dia hanya berharap, pihak kepolisian segera menuntaskan kasus tersebut, minimal nama baik Farhan dikembalikan walaupun kemungkinan terburuknya, ia sudah meninggal dunia.

Pak Sumarep membaringkan tubuhnya pelan di atas tikar pandan lusuhnya. Sambil menatap ke arah alang-alang atap gubuk, dari mulut hitamnya terdengar merdu alunan tembang "Aji Awak".

"Subhanale...lebih susah siq pikiran

Maha Suci Allah, lebih susah aku berpikir...

awakku siq ngene susah

memikirkan badanku yang begini susah...

tur jahil taksir beribu-ribu dose.

lagi bodoh, dikira-kira telah beribu dosa.

Jahil murtad sembahyang

Kebodohan menyebabkan orang murtad, shalatnya...

salaq jari deq bau sikq pirik

menjadi rusak karna hati tidak khusyu'

payu turut karep setan.

Akhirnya ikut bisikan setan.

Lamun araq kebenderan dengan alim

jika ada kebetulan orang alim

aseq lalok badaq ite

semoga menjadi kasihan menasehati kita

jari temah gente daet eraq

jadi balasan di kemudian hari...

anging tengah laguk deqku *ingetang.

sekalipun di dengar tapi tetap tiada ingatan padaku*.

Suara parau pak Sumarep perlahan semakin melemah hingga ia tak sadar mulai pulas dalam tidurnya. Suasana menjadi sepi. Suara parau lantunan tembang telah berganti dengkur panjang .

Wati menoleh memandang wajah ayahnya yang damai dalam tidurnya. Seulas senyum tersungging dari bibirnya. Ia merasakan kedamaian dalam hatinya ketika mendengarkan bait-bait syair yang didendangkan ayahnya, walaupun ia sendiri tidak mengerti sebagian artinya.

Wati membaringkan tubuhnya. Lantunan Fatehah di dalam hatinya ia persembahkan untuk Farhan dan sebagai pembuka lelap tidurnya.

*

*

Sementara itu...

Tiga gelas kopi di hidangkan seorang wanita di atas meja, di depan Harjan, Farhan dan seorang berkaos oblong putih. Dia adalah salah satu utusan pak Wakapolres untuk menemui Farhan.

"Perkenalkan nama saya Hardian. Saya bertugas di polsek Jerowaru sebagai Kanit reskrim," kata Hardian memperkenalkan diri sambil menjabat tangan keduanya. Farhan dan Harjan mengangguk tersenyum.

" Orang-orang di sana mengira saudara Farhan sudah tewas di dalam hutan, karna kemungkinannya kecil sekali untuk selamat," kata Hardian sambil menatap ke arah Farhan. Farhan mendesah.

"Sampai sejauh ini kasusnya Pak," kata Harjan. Sejenak pembicaraan mereka terhenti. Seorang laki-laki berseragam hitam datang dan menyerahkan tiga bungkus rokok kepada Harjan. Setelah laki-laki itu pamit pergi. Harjan menyerahkan satu persatu rokok tersebut kepada Farhan dan Hardian.

"Ini memang kasus yang sangat sulit untuk diungkap. Pihak kami sendiri tidak pernah menerima laporan kematian yang pertama, yaitu almarhumah..., "Hardian berhenti, seperti hendak mengingat sesuatu. "Bu Sarmi maksud Bapak," sahut Farhan mendahului.

"Betul, bu Sarmi. Kematian bu Sarmi mirip sekali dengan kematian pak Mistar. Sama-sama digantung di pohon. Sedangkan kematian Haji Maemun mirip dengan kematian pak Sukar, sama-sama tewas dalam keadaan kepala terpenggal, Tapi bedanya, ada dua pisau yang menancap di dada Haji Maemun dan juga telinga kiri Haji Maemun yang hilang." Hardian menghentikan pembicaraan. Ia mengambil sebatang rokok dari bungkusnya kemudian menyulutnya. Farhan dan Harjan Khusyu' mendengarkan.

"Tidak ada lagi yang bisa kami curigai. Awalnya kami mencurigai seseorang bernama Bahram, namun dari hasil penyidikan, dia dinyatakan bersih." Hardian menatap ke arah Farhan. Farhan menatap gelisah.

"Kecurigaan kami mengarah kepada saudara Farhan, tapi lagi-lagi kami harus berpikir keras karna pristiwa dibakarnya gubuk saudara Farhan, dan saudara Farhan sendiri dinyatakan menghilang di dalam hutan." Kembali Hardian menghisap rokoknya.

Harjan nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Seru juga nih Pak." kata Harjan.

"Sekarang kami lebih fokus ke tempat kejadian. Kami mencurigai ada aktor lain di balik pembunuhan. Karna ladang ketiga korban berada di tempat yang sama, dan kematiannya juga di tempat yang sama, maka fokus kami lebih kepada lokasi," kata Hardian melanjutkan kata-katanya.

"Saya ikut Pak, saya ingin nama baik saya kembali lagi. Saya ingin membantu kepolisian mengungkap kasus ini," kata Farhan.

"Tapi terlalu berisiko mungkin Han. Kamu diam saja di sini," kata Harjan. Farhan menggeleng.

"Saya sudah melewati situasi yang lebih berbahaya dari ini, saya tetap ingin pulang," kata Farhan tegas.

"Ada satu ladang yang letaknya paling terakhir di hutan bagian utara, itu menurut keterangan Bahram. Menurutnya, ladang itu terletak di balik bukit. Saya lupa nama orangnya," kata Hardian. Ia mencoba mengingat-ingat tapi tetap tak bisa.

"Kita hanya bisa mengawasi tempat itu pada malam hari, jika kamu ingin ikut, besok setelah sekitar jam tiga, kita sudah menemukan keberadaan ladang terakhir itu. Sekarang istirahatlah" kata Hardian.

"Boleh saya pulang dulu ke rumah Pak," kata Farhan.

"Saya rasa jangan dulu. kita akan langsung kesana. Pihak kehutanan telah memberi petunjuk tentang jalan-jalan tikus yang ada di sana," kata Hardian. Merekapun sepakat untuk mengakhiri pembicaraan.

Terpopuler

Comments

Dwi Giatno Alkissy

Dwi Giatno Alkissy

Fadli?

2023-04-25

0

Lalu Mustafa Kamal BinNuh

Lalu Mustafa Kamal BinNuh

smoga pelakunya bukan maha guru kita aamin

2022-10-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!