#05

Seperti biasanya, Matahari pagi hanya terlihat sebentar menyeruakkan sinarnya di antara batang-batang pepohonan pinus. Kabut dan lebatnya hutan menghalau sinar matahari yang berusaha menghangatkan semak-semak kecil di bawah pepohonan besar.

Pagi-pagi sekali Farhan sudah terbangun dari tidurnya. Ranting-ranting yang masih basah oleh embun dikumpulkannya di depan gubuk. Rutinitas yang selalu ia lakukan sejak kedatangannya tiga hari yang lalu. Dia belum pernah menikmati pagi yang begitu hening selama ia berada di kota menyelesaikan kuliahnya. Menikmati tanaman kol yang mengembang, juga hijaunya dedaunan strawberry di depannya. Belum juga suara-suara burung dan sesekali ayam hutan yang menambah cerianya pagi.

Ranting-ranting kering yang ia kumpulkan mulai dibakarnya. Di atas sebuah batang pohon besar yang tumbang ia duduk sambil menikmati secangkir kopi panas buatannya.

Pak Sumarep belum juga terlihat keluar menyambanginya. Sejak kedatangannya, pak Sumarep tidak lagi tinggal bersamanya. Dia punya satu rumah di ladang miliknya sendiri. Hanya pada malam pertama kedatangannya pak Sumarep menemaninya tidur. Jarak gubuknya dengan gubuk pak Sumarep berjarak sekitar dua ratus meter saja. Hanya saja gubuk milik pak Sumarep tidak bisa terlihat dari gubuknya karna ditutupi pepohonan besar.

"Sudah waktunya bapak menempati rumah sebelah. Ibumu dan juga adikmu Wati sebentar lagi mau pindah ke sini. Jadi mulai malam ini terpaksa bapak harus meninggalkanmu sendiri di sini," kata pak Sumarep saat merapikan barang-barang yang ia simpan di gubuk Farhan.

Farhan memperhatikan jam tangannya. Tak terasa sudah jam sembilan pagi. Suara burung tekukur yang bertengger di puncak pohon akasia terdengar membelah hening hutan. Farhan bangkit dan melangkah ke dalam gubuk. Ia mengambil sabit yang terselip di pagar bambu. Topi hitam yang tergantung di dekat pintu disambarnya. Ia lalu keluar dan kemudian mulai berjalan menyusuri sela-sela tanaman kol. Sudah waktunya ia mempraktikkan apa yang ia dapatkan saat kuliah di Fakultas Pertanian. Harus ada hasil yang lebih banyak dari petani-petani lain agar nanti ilmu yang ia terapkan bisa diterima oleh masyarakat.

Terlihat pak Sumarep mendekat ke arahnya. Farhan tersenyum saat pak Sumarep mengacungkan jempolnya.

"Bapak tak sabaran menunggu masa tanam berikutnya. Bapak pingin lihat hasil dari seorang sarjana pertanian."

Farhan tersenyum.

"Bapaklah Master pertaniannya. Lihat bagaimana tanaman-tanaman ini begitu riang di tangan bapak," kata Farhan bergantian mengacungi jempol pada pak Sumarep setelah menunjuk ke arah tanaman-tanaman di sekitarnya. Pak Sumarep hanya tersenyum dan duduk. Ia mulai mengarahkan mata sabitnya ke arah rumput-rumput dan tanaman liar di sela-sela tanaman kol. Farhan segera mengikutinya dari arah samping.

"O ya pak, dik Wati kok belum datang." Farhan melonggarkan sedikit celana levisnya. Lututnya terasa sakit saat duduk menekuknya.

"Seharusnya ia sudah datang sejak tadi. Bapak tadi terlambat ke sini karna kedatangan sepupu bapak. Seharusnya Adikmu bersama dia, tapi gak jadi karna ibumu ngotot mau ikut pindah hari ini. Jadi terpaksa harus pakai mobil pickup untuk membawa barang-barang," kata pak Sumarep. Ia terus saja menyabit rumput di depannya.

"Ow, jadi tadi pemancing yang lewat depan rumah adalah sepupu bapak," kata Farhan ketika mengingat tadi pagi-pagi sekali ada seorang laki-laki lewat di depan gubuknya menggunakan sepeda motor.

"Betul, itu sepupu bapak. Dia mau mancing di pantai Segui," jawab pak Sumarep.

"Tapi insya Allah adikmu Wati akan datang hari ini. Mungkin sedang dalam perjalanan," sambung pak Sumarep. Farhan mengangguk. Sudah lama sekali ia tak pernah bertemu dengan gadis itu. Sudah pasti saat ini ia sudah menjelma menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Saat masih kecil dulu,ia sudah bisa menangkap gurat-gurat kecantikan di wajahnya. Farhan tersenyum. Sejak pak Sumarep memberitahukan kedatangan Wati, ia jadi tak sabar ingin segera melihatnya.

Tak terasa matahari sudah berada di atas kepala. Sinarnya yang terkadang redup ditutupi awan yang sesekali melintas, cukup membuat hangat tubuh mereka.

"Pak, Istirahat dulu. Kita ngopi-ngopi dulu di gubuk," ucap Farhan. Kakinya diselonjorkannya lurus dan mulai mengurutnya pelan. Setelah untuk beberapa lamanya tadi kakinya ditekuk terus, kakinya terasa ngilu dan capek.

"Ya udah sana Nak Farhan duluan. Bapak mau memetik beberapa buah strawberry dan mentimun untuk makan kita nanti," kata pak Sumarep. Ia kemudian bangkit dan melangkah ke arah tanaman strawberry dan mentimun tak jauh dari tempatnya. Farhan bangun dan berjalan menuju gubuk. Sesampainya di gubuk, Farhan langsung memasak air. Sambil menunggu air yang dimasaknya dalam kendi mendidih, ia membaringkan santai tubuhnya di atas rerumputan hijau.

Terdengar suara mobil menderu dari kejauhan. Farhan bangkit dan menengok ke arah sumber suara. Dari kejauhan terlihat sebuah mobil kijang warna hitam melaju pelan menaiki jalanan yang menanjak. Farhan berfikir Itu mungkin mobil yang membawa Wati dan bu Sumarep. Farhan bangkit dan segera memanggil pak Sumarep.

"Pak, itu mungkin mobilnya ibu dan dik Wati." Mendengar panggilan Farhan, pak Sumarep yang masih asik memetik beberapa buah strawbery menoleh dan mulai mengamati dengan seksama mobil yang melintas di depannya. Pak Sumarep menyilangkan kedua tangannya, isyarat bahwa yang datang bukan istri dan anaknya.

Farhan masih berdiri menatap mobil yang semakin mendekat ke arahnya. Tiba di dekat gubuknya, mobil itu berhenti. Ada tiga orang bersarung memakai peci hitam yang keluar dari dalam mobil. Satu orang lagi berambut gondrong memakai kaca mata hitam terlihat keluar paling belakang.

Farhan mengerutkan keningnya. Matanya memincing mencoba melihat dengan seksama orang-orang yang berjalan ke arahnya. Tiga orang bersarung dan berpeci hitam sama sekali tidak dikenalnya,tapi lelaki gondrong berkaca mata hitam dengan langkah seperti sengaja dibuat-buat itu mengingatkannya pada seseorang.

Farhan tersenyum. Lelaki gondrong berkaca mata hitam berlari-lari kecil mendahuli tiga orang berpeci hitam di depannya.

"Farhan sahabatku. Kenapa kamu belum mengenalku juga. Kau lupa langkah ini hah," kata laki-laki gondrong itu membuka kaca matanya. Ia mempraktikkan kembali cara berjalannya dan sedikit melebarkan dadanya memberi isyarat agar Farhan datang memeluknya. Farhanpun mendekat dan memeluk laki-laki itu.

"Masya Allah Harjan. Kalau kamu tidak membuka kaca matamu, mungkin seharian aku berdiri di sini menatapmu. Masya Allah, kamu kok gemuk sekali," kata Farhan sambil menepuk-nepuk perut Harjan. Harjan tertawa dan mempersilahkan Farhan kembali menepuk perutnya. Setelah puas bercengkrama, Farhan kemudian mempersilahkan Harjan dan ketiga temannya masuk ke dalam.

"Alhamdulillah akhirnya ketemu lagi. Sayak kira setelah lulus kuliah kita akan sulit bertemu lagi," kata Farhan. Ia mengambil beberapa gelas yang terbuat dari batok kelapa, kemudian mulai menyeduh kopi untuk tamunya.

"Han, tolong tiga gelas kopinya pakai gula sedikit saja. Ustadz yang tiga ini ngopinya beda," kata Harjan saat melihat Farhan mulai menaruhkan gula ke dalam gelas. Ia melirik ketiga temannya yang tampak tersenyum.

"Begini saja, gulanya biar yang bersangkutan yang menakar. Takut nanti gak sesuai selera," kata Farhan menyodorkan tempat gula kepada tiga orang yang oleh Harjan dipanggil ustadz itu.

"Oh ya, saya jadi lupa memperkenalkan teman-teman saya ini." Harjan membalikkan badannya dan hendak memperkenalkan ketiga temannya. Harjan mengurungkan niatnya ketika pak Sumarep datang dan menyalaminya satu persatu.

"Pak, ini teman kuliah saya dulu di Mataram, namanya Harjan," kata Farhan menunjuk Harjan. Harjan menganggukkan kepalanya.

"Jadi saya lanjutkan ya perkenalannya," kata Harjan setelah pak Sumarep duduk di samping Farhan.

"Ini ustadz-ustadz kita dari Yayasan qudwatusshalihin Pemondah. Kebetulan saya dulu pernah mondok di sana waktu masih Tsanawiyah. Ini namanya Ustadz Hamdi, yang ini Ustadz Ramlan dan yang paling ujung namanya ustadz Kamal. Mereka-mereka ini adalah putra-putra dari almarhum pendiri yayasan Qudwatusshalihin." Harjan mulai memperkenalkan ketiganya kepada Farhan dan pak Sumarep. Farhan dan pak Sumarep mengangguk.

"Mereka ini adalah pengurus Yayasan, dan kedatangan mereka ke sini adalah untuk mengurus tanah yang katanya diklaim oleh_ siapa namanya ustadz." Harjan menoleh ke arah ustadz Ramlan.

"Haji Maemun," bisik ustadz Ramlan.

"Yah, Haji Maemun."

Terlihat pak Sumarep mendengus. Kepalanya diarahkannya ke kiri dan ke kanan ketika mendengar nama Haji Maemun di sebut. Tampak juga Farhan mengangguk-ngangguk kecil sambil menundukkkan kepala.

"Orang yang serakah. Jangan panggil Haji. Dia tidak pernah pergi ke Mekkah. Dia cuma nginep di rumah temannya di Jakarta," suara kekeh tawa Harjan pecah, "Iya benar, banyak saksinya kok," sambung pak Sumarep

Ustadz Kamal terlihat mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tas pinggangnya. Beberapa lembar kertas itu kemudian ia gelar di hadapannya.

"Dulu ketika almarhum ayah kami masih hidup, ada sebuah perjanjian yang telah disepakati dengan Haji Maemun." Terlihat masih sibuk membolak-balikkan lembaran. Ustadz Ramlan terlihat terlihat mulai membantu.

"Sebentar Nak ustadz, gak usah pake Haji. Pak Maemun saja. Kayaknya gak enak gelar itu disandang orang seperti dia," kata pak Sumarep memotong pembicaraan ustadz Kamal. Ustadz Kamal tersenyum, begitu juga dengan yang lain.

"Isi perjanjiannya, Haji Maemun, eh maaf," ustadz Kamal meralat ucapannya. "Pak Maemun harus menyetorkan lima belas persen dari hasil panen kepada pihak yayasan. Tapi sayang pak Maemun hanya pernah menyetor tiga kali saja. Itupun hanya dua juta saja," kata ustadz Kamal melanjutkan pembicaraannya.

Pak Sumarep tersenyum ketus. Ia tampak menggeleng tak percaya. Tanah yayasan seluas lima hektar lebih hanya disumbang dua juta dan dicicil tiga kali.

"Kemarin kami sudah mencoba menghubungi pak Maemun tapi tetap tak bisa dihubungi. Kami ingin meminta laporan pak Maemun terkait setoran-setorannya ke yayasan. Tapi belakangan kami dapat informasi bahwa pak Maemun tidak mengakui kalau tanah itu adalah tanah yayasan,"

"Saya baru tahu kalau selama ini tanah milik yayasan itu dikelola oleh pak Maemun. Jadi apa tindakan selanjutnya dari yayasan Nak ustadz," lanjut pak Sumarep.

"Kami harus berkoordinasi dulu dengan pihak kehutanan. Jika dengan bukti-bukti surat ini pak Maemun masih saja bersikeras, maka terpaksa kami akan menempuh jalur hukum," kata ustadz Ramlan ikut bicara.

"Intinya kami siap membantu yayasan untuk menyelesaikan masalah ini. Dan satu lagi, ajang silaturrahim kita pada hari ini semoga dapat menjadikan kita saling membantu berbagai permasalahan di tempat ini," kata Harjan yang langsung disambut anggukan setuju teman-temannya.

"Oya Jan, kamu sekarang tinggal dimana". Farhan meraih tempat tembakau kering di depan Harjan setelah Harjan selesai melinting rokoknya.

"Oya, jadi lupa. Sekarang kita bertetangga lo Han. Aku sekarang ditugaskan sebagai manajer di Perusahaan mutiara yang ada di laut Segui." Harjan menyulut rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam.

"Hebat, tapi kok bisa? dari mana kamu tahu kalau di sini ada budi daya kerang mutiara," tanya Farhan setengah penasaran. Harjan tersenyum.

"Alhamdulillah, sekarang seluruh saham perusahaan itu sudah dikuasai perusahaan milik pamanku." Harjan kembali menghisap rokoknya. Farhan tersenyum mengacungkan jempolnya.

...*****...

Terdengar Azan lamat-lamat mengalun menembus celah-celah batang pepohonan terbawa angin yang berhembus. Merasa urusan mereka sudah beres, Harjan dan ketiga temannya pamit pulang.

"Oya Farhan, jangan lupa main-main ke segui. Ajak juga paman Sumarep," kata Harjan saat hendak menaiki mobil. Farhan tersenyum dan memeluk tubuh Harjan. Tak beberapa lama kemudian, mobil yang ditumpanginya melaju menuruni jalan berbatu.

Baru beberapa menit mereka istirahat di gubuk, terdengar suara klakson mobil dari arah yang tak begitu jauh. Pak Sumarep yang saat itu sedang mengikat tumpukan kayu kering yang di kumpulkannya segera menoleh. Farhan yang baru saja membaringkan tubuhnyapun ikut terbangun. Ia segera merapikan rambut dan mengusap wajahnya.

"Nak Farhan, bapak tinggal dulu ya, kayaknya ibu dan adikmu sudah datang. Bapak mau bantu mereka menurunkan barang-barang. Nanti saya ajak dia main-main kesini." pak Sumarep memasukkan setengah badannya ke dalam gubuk.

"Saya ikut Pak." Farhan merapikan pakaiannya dan keluar.

"Nak Farhan istirahat saja dulu. Barang-barang adikmu gak terlalu banyak kok,"kata pak Sumarep. Farhan tak menjawab, ia langsung saja mengikuti langkah pak Sumarep mengikuti mobil bak terbuka dari belakang.

Seorang gadis yang duduk di bagian depan mobil terus memperhatikan seorang laki-laki ganteng, berperawakan tinggi yang menemani pak Sumarep dari kaca spion mobil. Ia belum bisa menjawab pertanyaan ibunya yang duduk di samping terkait sosok laki-laki itu. Mereka berdua sama-sama penasaran.

Dan ketika mobil itu berhenti di depan gubuk pak Sumarep, laki-laki itu dengan sigapnya mulai menurunkan barang-barang di mobil.

Farhan diam saja sambil tersenyum ketika Wati dan bu Sumarep memperhatikannya. Ia sengaja membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Dia ingin Wati dan ibunya terus penasaran kepadanya. Dia terus membantu pak Sumarep memindahkan barang ke dalam gubuk.

Setelah selesai, Farhan mendekati bu Sumarep dan mencium tangannya. Bu Sumarep masih melirik penasaran. Wati yang berdiri di samping ibunya pun didekati oleh Farhan dan mengajaknya salaman.

"Ibu dan adikmu belum saya kasih tahu tentang kedatanganmu, makanya mereka berdua tidak mengenalmu",kata pak Sumarep sambil duduk di bangku panjang depan gubuk.

"Ayo Nak Farhan, duduk sini." pak Sumarep mempersilahkan Farhan duduk di sampingnya.

Demi mendengar nama Farhan di sebut,bu Sumarep dan Wati saling pandang. Keduanya pun segera berhamburan mendekati Farhan.

"Astaga Kak, kok gak ngomong-ngomong dari tadi?", ayo, salamannya di ulang lagi,"kata Wati sambil meraih tangan Farhan dan menciumnya.

"Bapakmu memang suka melihat kita penasaran. Maaf Nak Farhan kalau tadi kami tidak menghiraukan Nak Farhan,"sahut bu Sumarep.

"Wati, masuk sana, buatkan kopi untuk kami,"suruh pak Sumarep pada Wati. Wati masuk dengan senyum yang terkulum di bibirnya.

"Nak Farhan, bapak saya tinggal dulu. Bapak mau ajak ibu ke tetangga sebelah. Dia mau ketemu teman lama. Kamu di sini dulu sama adikmu." Farhan mengangguk. Setelah memberitahukan Wati yang masih di dapur, pak Sumarep dan istrinya mulai menyusuri jalan setapak.

Wati masih melihat wajah Farhan dari lubang-lubang kecil pagar dapur. Banyak yang berubah dari teman sepermainannya dulu itu. Walaupun ada sebagian gurat-gurat masa lalu yang membuatnya perlahan menemukan wajah Farhan yang dulu. Sebagai gadis remaja, darahnya serasa berdesir melihat wajah Farhan yang rupawan. Putih, ganteng dan postur tubuh tinggi yang ideal. Dia berpikir, mungkin selama ini ia belum menerima seseorang dalam hidupnya karna menunggu dipertemukan dengan Farhan.

Karna pak Sumarep tidak ada di tempat, Wati hanya menghidangkan segelas kopi untuk Farhan. Satu toples kue kering yang ia bawa dari desa di keluarkannya dan dihidangkan di atas potongan kayu jati di depan Farhan. Farhan tersenyum ketika Wati mempersilahkannya minum. Entah, tiba-tiba saja keduanya merasa kikuk. Wati belum juga mengangkat kepalanya. Kedua kakinya gantian digarukkan satu sama lainnya. Tak beda dengan Farhan, dia terlihat sibuk membunyikan jari-jari tangannya. Sesekali ia mendesah pelan seperti hendak mengatakan sesuatu yang lama tertahan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!