#13

Suara tonggeret dan nyanyian burung kedasih terdengar di kedalaman hutan. Di bawah sebuah pohon Lo, Farhan bersandar melepas lelahnya setelah beberapa lamanya tadi, ia berjibaku menyusuri lebatnya hutan dan semak-semak. Beberapa buah pohon lo yang jatuh di tanah, ia kumpulkan dan mulai memakannya satu persatu.

Farhan mendesah. Dilihatnya dengan seksama pepohonan dan tanaman merambat di sekitarnya. Setelah tadi dengan susah payah melewati berbagai rintangan hingga sampai di tempatnya kini, ia mulai merasa kehausan. Ia harus segera mencari air untuk minum, setidak-tidaknya untuk menelan lebih dalam buah lo yang dimakannya. Sebentar lagi malam, Farhan segera bangkit dan mulai memeriksa pohon-pohon dan tanaman merambat di sekitarnya. Ia harus segera minum untuk memulihkan tenaganya. Di tengah hutan seperti ini, seharusnya ia telah menemukan tanaman kantong semar untuk minumannya,tapi mungkin karna agak gelap, ia belum bisa melihatnya.

Farhan tersenyum. Setelah untuk beberapa saat tadi ia berdiri memandang sekitarnya, ia baru sadar, tanaman merambat yang ia pegang ternyata adalah akar tanaman liana. Tanaman itu tumbuh simpang siur di antara batang-batang pohon, menjulang mengikuti batang-batang pohon. Mungkin ada banyak yang telah ia lewati, karna lebih fokus mencari kantong semar.

Farhan melepas parang yang terikat kuat di pinggangnya. Ia lalu memotong kedua sisi pohon, bagian atas dan bagian bawah, lalu meletakkannya di atas mulutnya dengan posisi mendongak. Dengan lahapnya, Farhan meneguk air yang keluar dari akar tanaman merambat itu. Beningnya air yang mengalir dari akar tanaman itu, perlahan mengembalikan kembali kesegaran tubuh Farhan. Farhan mengikat kembali parang di pinggangnya. Sebelum melanjutkan perjalanan, Farhan mengambil beberapa buah lo yang jatuh di tanah dan memasukkannya ke dalam kantung bajunya. Dia harus segera menemukan ujung dari hutan itu. Ia yakin ujungnya ada di depan sana, karna sayup-sayup ia seperti mendengar gedebur ombak di kejauhan. Dengan hati-hati, Farhan melanjutkan langkah kakinya diiringi dengan doa-doa yang ia panjatkan.

*

*

Nyala obor di depan halaman gubuk pak Sumarep terlihat ke sana kemari tertiup angin. Nyala lampu teplok di dalam rumah yang sesekali meredup, menerangi ruangan dalam gubuk. Pak Sumarep terlihat duduk dengan kaki sebelah diangkat dan menyandarkan tangan kanannya di atas lututnya. Di sampingnya, istrinya, sedang menyelesaikan anyaman bambu yang belum selesai dikerjakan pak Sumarep tadi malam. Tak jauh dari tempat mereka duduk, Wati terbaring di atas dipannya. Wajahnya terlihat sedih dan masih syok dengan keberadaan Farhan kini yang tidak pasti. Kejadian itu membuatnya jadi tak berselera makan. Makanan yang dihidangkan ibunya sama sekali tak ia sentuh. Pikirannya hanya tertuju pada Farhan yang kini entah berada dimana. Masih hidupkah atau sudah mati. Jika pun masih hidup dan berada di dalam hutan, kemungkinan untuk selamat kecil. Ada banyak binatang buas, seperti macan kumbang, sebagaimana cerita orang, berkeliaran di hutan itu. Hutan yang tidak pernah dijelajahi, bahkan oleh polisi kehutanan sekalipun.

"Makanlah Nak, bapak janji, besok pagi bapak bersama Sapri dan Murdi akan mencari Farhan ke hutan. Murdi sudah mengiyakan bapak untuk mencari Farhan lewat laut dengan sampannya," kata pak Sumarep. Ia terus menghisap rokok di tangannya. Wati menoleh lemah.

"Apa yakin Bapak akan berhasil," kata Wati setengah putus asa.

"Kita harus tetap yakin Nak, dan pastinya harus berusaha. Kita tak akan mendapatkan hasil jika kita tidak berusaha terlebih dahulu, sisanya adalah tawakkal dan bersabar." pak Sumarep bangkit dan melangkah pelan menuju biliknya.

"Bu, Bapak istirahat duluan, besok pagi-pagi harus bangun," kata pak Sumarep sebelum membaringkan tubuhnya di atas tikar pandan.

"Ya Pak, tidurlah dulu, Ibu mau selesaikan ini dulu,"kata bu Sumarep. "Dan kamu Wati, makan nasinya dan istirahatlah. Percayalah pada keyakinan ibu, kak Farhan mu masih hidup."

Wati memandang ibunya. Ia tersenyum. Kata-kata ibunya membuat hatinya sedikit tenang. Perlahan ia bangun dan mengambil makanan di sampingnya. Suara sendok yang beradu dengan piring besi mengiringi lelap tidur pak Sumarep.

Penduduk malam mulai bersembunyi di peraduan masing-masing. Para penduduk memilih tidak ke ladang pada malam hari sejak kejadian terbunuhnya Haji Maemun, tak jauh dari ladangnya. Sebagian besar penduduk percaya, bukan Farhan yang membunuh Haji Maemun. Walaupun Farhan merupakan anak dari pak Marwi yang beberapa tahun lalu di gantung oleh kelompok pak Jumerin dan Haji Maemun, namun terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa Farhan adalah pelakunya. Farhan belum mengenal kawasan hutan itu. Apalagi hutan tempat ladang Haji Maemun berada di sisi sebelah timur hutan lindung, sedangkan Farhan berada di sisi sebelah selatan hutan. Harus orang-orang yang sudah menetap lama dan benar-benar mengerti setiap jengkal jalan setapak di hutan itu. Ada lagi yang berpendapat, itu semua adalah teror dari sekelompok orang untuk menakuti warga agar tidak datang ke ladang mereka pada malam hari. Dengan begitu, mereka akan lebih leluasa mengambil hasil tanaman yang ditanam penduduk. Tapi sejauh ini, belum ada warga yang melapor kehilangan buah atau hasil tanaman mereka di ladang. Yang lain lagi lebih ekstrim, mungkin ada iblis yang berkeliaran di tengah hutan pada malam hari.

Farhan masih meraba-raba dalam kegelapan hutan. Ia sudah pasrah karna tidak ada lagi pilihan yang bisa ia ambil selain terus mengikuti kata hatinya. Ini adalah malam keduanya bermalam di hutan dengan luka di sekujur tubuhnya. Bau amis darah yang keluar akibat terantuk pohon dan tertancap duri, menyeruak tersapu angin malam. Jika saja di hutan itu memang benar ada binatang buasnya, maka saat ini ia sedang berada dalam posisi tidak aman. Kemungkinannya untuk hidup memang sangat kecil, tapi ia selalu meneguhkan hatinya, selama ia masih bisa berjalan, masih ada harapan untuk menemukan jalan keluar dari hutan itu. Entah, pohon apa yang kini ada di depannya. Dia harus menemukan tempat yang aman di atas pohon sana untuk beristirahat malam ini. Dia harus mencari tanaman liana yang merambat di sela-sela pohon sebagai tempat tidurnya malam ini. Setidak-tidaknya malam ini ia merasa aman dari binatang buas malam karna jauh dari dasar hutan.

Farhan terus meraba kesana kemari penuh kewaspadaan. Dia menghentikan langkahnya. Tangannya menyentuh beberapa akar tanaman di depannya. Dengan hati-hati ia perlahan merangkak naik. Setelah mendapatkan posisi yang menurutnya nyaman dan aman, ia kemudian merebahkan tubuhnya.

Suara nyamuk yang ramai seperti menguasai malam seperti berebut bernyanyi di telinga Farhan. Namun karna kantuk dan lelah yang sangat akibat perjalanan panjangnya, ia tak sadarkan diri telah lelap dalam tidurnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!