Pak Sumarep tertegun di antara orang-orang yang berkerumun menyaksikan gubuk Farhan yang sudah ludes terbakar. Hawa hutan yang dingin berubah panas karna kayu-kayu dari gubuk Farhan yang terbakar masih menyisakan bara api yang menyala. Wati sendiri masih tidak sadarkan diri setelah beberapa kali jatuh pingsan. Beberapa kali ia menjerit memanggil nama Farhan ketika sadarnya. Pak Sumarep pun terlihat tak henti-henti menyalahkan diri atas keterlambatannya menyambangi Farhan. Wati sudah beberapa kali mengingatkannya tentang situasi yang kini menimpa Farhan. Wati pantas menyalahkannya. Ia harus menunggu nyala api yang masih menyala untuk memastikan Farhan selamat atau ikut terbakar dalam gubuk. Beberapa orang masih terlihat bergotong-royong mengangkut air di telaga dekat ladang untuk mematikan api. Yang lain mulai membongkar beberapa balok kayu yang menumpuk karna ambruk.
"Aku yakin Farhan masih hidup dan berhasil menyelamatkan diri, tidak ada tanda-tanda keberadaannya di sini."kata seseorang saat selesai memeriksa reruntuhan. Pak Sumarep ikut memeriksa, ingin memastikan apa yang dikatakan orang di sebelahnya.
Pak Sumarep mendesah dan menatap orang di sampingnya.
"Aku pikir juga begitu, Alhamdulillah, dia selamat dari kebakaran. Tapi kita belum bisa memastikan, apakah dia melarikan diri atau diculik oleh pembakar gubuk ini. Ini mirip sekali dengan pembakaran rumah ayahnya beberapa tahun lalu," kata pak Sumarep sambil menatap ke arah hutan di depannya.
"Pak Sumarep, sini sebentar Pak," teriak seseorang dari arah ladang. Pak Sumarep dan beberapa orang mendekat. Pak Sumarep mengarahkan sinar senternya ke arah bekas darah di rerumputan dan taman liar. Semakin ke kedalaman hutan, ia masih melihat ceceran darah walaupun jaraknya berjauhan.
"Aku yakin Pak Sumarep, Nak Farhan melarikan diri ke dalam hutan. Kita berdoa saja orang yang membakar gubuknya tidak mengejarnya," kata seseorang lagi.
"Kira-kira ada yang pernah masuk kedalam sana Pak," tanya pak Sumarep, kali ini ia mengarahkan pandangannya ke semua orang di depannya. Mereka saling pandang.
"Saya pernah Pak Sumarep, tapi hanya beberapa meter saja. Saya tidak berani lebih jauh takut kesasar. Hutan dan semak-semaknya sangat lebat,"kata seorang berpeci hitam yang duduk paling belakang. "Hutannya sangat luas dan lebat walaupun berujung di tepi laut. Curam dan menakutkan," sambungnya.
*
*
Suara kokok ayam terdengar dari arah perkampungan sebelah. Pak Sumarep masih terdiam di dekat puing-puing gubuk Farhan yang hancur terbakar. Orang-orang sudah pulang dan suasana kembali sepi. Sesekali ia arahkan sinar senternya ke arah pepohonan di depannya, berharap Farhan muncul dan keluar dari persembunyiannya. Pagi-pagi nanti ia berniat memasuki hutan, siapa tahu ia bisa menemukan Farhan melalui bercak-bercak darah, yang mungkin saja ia temukan lagi di dalam hutan. Ia merasa bersalah dan malu pulang ketika nanti ia tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya.
Tak terasa pagi telah menyingsing. Kabut-kabut mulai terlihat menutupi batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi. Orang-orang mulai terlihat berdatangan kembali, ingin menyaksikan gubuk Farhan yang terbakar.
Pak Sumarep sudah tidak terlihat di lokasi kejadian. Pagi-pagi sekali ia telah masuk ke dalam hutan berbekal jejak darah yang terlihat di semak-semak dekat ladang. Terlihat ada bekas-bekas semak-semak yang di potong. Tapi pak Sumarep tidak bisa memastikannya. Terlalu banyak jejak. Ia yakin telah terjadi pengejaran oleh beberapa orang.
Pak Sumarep terdiam. Dia sedang berada di dalam hutan yang benar-benar tak terjamah. Jangankan berlari, untuk melangkahkan kaki saja sangat sulit. Rapatnya pepohonan yang tumbuh menjulang dengan ukuran yang sangat besar, ditambah lagi dengan semak-semak yang seperti perangkap mematikan. Seperti berada dipermulaan malam. Gelap dengan suara-suara aneh dan menakutkan.
Pak Sumarep berpikir sejenak. Setelah merasa tubuhnya tak mampu melanjutkan perjalanan, ia memutuskan untuk kembali pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments