#08

Pagi-pagi sekali Wati sudah berangkat menemui Farhan. Seperti biasa rantang berisi makanan dan ubi goreng selalu dihantarkannya sebagai sarapan Farhan dan pak Sumarep sebelum bekerja di ladang. Suasana di gubuk Farhan masih terlihat sepi. Mungkin Farhan masih tidur. Setelah meletakkan rantang di dalam dapur, Wati kembali dengan membawa sapu lidi dan mulai membersihkan dedaunan di halaman.

Farhan keluar. Melihat Farhan berdiri di depan pintu,Wati tersenyum tapi seketika ekspresinya berubah ketika ada sesuatu di pipi kiri Farhan. Nampak hitam dan lebam. Wati mendekat. Farhan mencoba memalingkan pipi sebelah kirinya agar tak terlihat Wati, tapi Wati lebih dulu memegang tangannya.

"Pipimu kenapa Kak,"tanya Wati sambil terus memperhatikan pipi Farhan. Farhan tersenyum.

"Gak apa-apa dik, tadi malam terantuk tembok, sudah, nanti sembuh sendiri kok," kata Farhan mencoba menenangkan Wati yang terlihat cemas.

Wati berbalik dan melangkah menuju semak-semak di samping gubuk. Ada sesuatu yang dicarinya. Dia terlihat memetik beberapa lembar daun dari semak-semak. Setelah dirasa cukup, ia kembali ke gubuk. Ia nampak mulai menumbuk beberapa lembar daun yang dipetiknya tadi. Setelah halus, ia kemudian keluar menemui Farhan. Tangannya mulai mengoleskan daun yang telah ditumbuknya ke pipi Farhan.

Pak Sumarep terlihat dari kejauhan. Farhan menarik pelan tangan Wati dari wajahnya. Ia takut pak Sumarep melihatnya. Wati tahu ayahnya datang, tapi ia terus memoleskan ramuan ke pipi Farhan.

"Kita gak berbuat macem-macem Kak, gak perlu takut bapak marah. Justru bapak akan marah jika Wati tak mengurus Kakak," kata Wati.

"Lho, kamu kenapa Nak Farhan," pak Sumarep kaget melihat wajah Farhan. Farhan tersenyum.

"Katanya tadi malam terantuk tembok pak," kata Wati mendahului Farhan.

"Kamu olesi apa wajah kakakmu,"tanya pak Sumarep.

"Ini daun kopasanda Pak,"jawab Wati. Setelah ia rasa cukup, ia pun menyuruh Farhan duduk.

"Duduk Pak, sebentar Wati buatkan kopi." Wati mempersilahkan pak Sumarep duduk. Ia lalu melangkah menuju dapur. Beberapa pisang dan ubi goreng dalam rantang ia pindahkan ke dalam piring. Ia kembali dan menghidangkannya di depan Farhan dan pak Sumarep.

"Bagaimana caranya Nak Farhan kok bisa nabrak tembok," kata pak Sumarep. Bungkus tembakau di dalam saku bajunya ia keluarkannya. Ia kemudian mulai melinting rokok. Farhan tersenyum dan ikut melinting tembakau.

"Gelap pak, saya terlalu ngantuk,"

"Mana rumahnya orang yang bernama Farhan di sini." Terdengar teriakan dari arah samping gubuk. Farhan dan pak Sumarep saling pandang. Setelah untuk kedua kalinya suara teriakan itu terdengar, mereka berdua segera keluar, begitu juga Wati yang sedang berada di dapur. Ia segera menyongsong Farhan dan pak Sumarep keluar.

Pak Haji Maemun, Bahram dan pak Sukar terlihat berdiri di tepi jalan. Melihat Farhan dan pak Sumarep di depan, Ia dan kedua temannya segera turun mendekat.

"Punya sopan santun gak kalian. Berteriak tanpa sebab. Kalian punya adat gak,"teriak pak Sumarep.

"Aku gak punya urusan sama kamu Sumarep. Aku hanya punya urusan dengan anak kurang ajar itu," kata Haji Maemun sambil menunjuk ke arah Farhan.

"Dengan siapapun kamu berurusan, aku ada di sini. Jangan seenaknya kamu bertingkah paling berkuasa di sini. Ini bukan seperti di kampungmu,"kata pak Sumarep tegas.

"Hei Sumarep, kamu lihat ini," Haji Maemun menunjuk ke arah pelipisnya yang masih terlihat lebam. "Ini akibat perbuatan anak bangsat itu," sambung Haji Maemun. Mendengar umpatan Haji Maemun, darah Farhan mendidih. Emosinya memuncak. Kedua tangannya bergetar. Pak Sumarep memegang tangan Farhan. Ia membisikinya agar menahan diri.

"Terus, maksud kamu datang hari ini apa,"tanya pak Sumarep garang. Tatapan Haji Maemun tajam.

"Aku ingin menghajar anak itu. Aku akan membuatnya lebih menderita dari ayahnya, karna mereka berdua sama-sama bangsat." Haji Maemun bersedekap. Ia tahu Farhan akan emosi jika ayahnya disebut. Dia ingin Farhan marah dan memukulnya lagi. Itu akan ia jadikan bukti untuk melaporkannya ke polisi.

Begitu nama ayahnya disebut, emosi Farhan semakin memuncak. Sesuai dengan rencana Haji Maemun,Farhan terpancing. Pak Sumarep tidak punya waktu menahan Farhan. Tendangan Farhan melayang ke arah kepala Haji Maemun. Kopiah putihnya melayang dan jatuh di tanah. Beberapa orang yang dari tadi mulai berkumpul berusaha datang melerai.

"Aku sudah peringatkan untuk tidak membawa-bawa nama ayahku. Kembali biar kupenggal kepalamu,"teriak Farhan.

"Ingat kamu, besok kamu akan mendekam dipenjara,"kata Haji Maemun setelah untuk beberapa lama memegang kepalanya akibat tendangan Farhan. Setelah mengatakan itu, ia mengajak pak Sukar dan Bahram meninggalkan tempat itu. Selama perjalanan, tak henti-hentinya ia memarahi pak Sukar dan Bahram yang tidak mencoba menepis tendangan Farhan.

Farhan masih duduk menundukkan kepala di halaman gubuknya. Wati masih setia menemaninya di sampingnya. Beberapa kali ia mengusap-usap punggung Farhan, berusaha menenangkannya. Sesekali terdengar istighfar dari mulutnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!