#09

Suasana kembali lengang setelah acara zikir malam ketiga kematian bu Sarmi usai. Sampah-sampah plastik dan daun pisang sisa tempat ala kadar untuk jamaah zikir, berserakan di jalan terhempas angin. Suasana yang tadinya hidup dengan berbagai topik pembicaraan, kembali mati. Sunyi dan mencekam.

Seperti biasa, malam berhembus dingin. Suara kesiar angin di dedaunan pohon pinus terdengar bertabrakan satu sama lain. Menciptakan suara khas bagi penghuni malam. Suara burung hantu terdengar menggema,seperti memantul di batang-batang pohon di kedalaman hutan.

Sesosok tubuh terlihat mengendap-endap di antara batang-batang pohon pinus. Matanya nyalang kesana kemari mengikuti gerak gerik Haji Maemun yang tampak kebingungan mencari jalan pulang. Dia seperti tak ingin kehilangan Haji Maemun. Kemana Haji Maemun melangkahkan kakinya, ia terus membuntutinya.

Haji Maemun seperti kehilangan arah ketika hendak pulang dari ladangnya. Tadi menjelang maghrib, beberapa tetangganya memberitahukannya bahwa tanaman warga yang berdekatan dengan ladangnya, telah dirusak oleh segerombolan kera. Bahkan informasi yang ia terima, gerombolan kera-kera itu sudah mulai memasuki ladangnya. Dia segera bergegas dan menunggu sejenak di ladangnya. Sebelum pulang, ia sempat membuat orang-orangan yang ia letakkan di pinggir-pinggir ladangnya. Tapi ketika pulang isya tadi untuk mengikuti acara zikiran di rumah almarhum bu Sarmi, ia seperti orang asing yang tak tahu jalan pulang. Ia tiba-tiba seperti orang kebingungan, yang tak tahu arah pulang. Padahal sudah empat puluh tahun lebih ia lalu lalang di hutan itu. Setiap jengkal jalan di hutan itu, baik jalan yang pintas maupun yang sering dilalui para peladang. Baik siang maupun malam. Tapi malam ini, setiap kali ia berjalan, langkah kakinya selalu berakhir di tempat yang sama. Ia benar-benar heran, ia tetap tak bisa menemukan jalan pulang. Langkah kakinya tetap berakhir di tempatnya kini berdiri. Karna kesalnya, berkali-kali ia berteriak dan *******-***** rambutnya keras.

Haji Maemun akhirnya memilih duduk melepas penatnya di sebuah batang kayu yang tumbang di antara deretan batang pohon pinus. Sinar senter yang dipegangnya sudah mulai redup karna daya baterainya habis untuk perjalanan bolak-baliknya beberapa jam yang lalu. Nafasnya masih terengah-engah. Kedua bola matanya bergerak kesana kemari, masih berusaha menebak jalan yang benar untuk pulang. Haji Maemun kembali mendesah kesal. Ia benar-benar bingung kenapa ia sampai kesasar seperti itu. Ia merasa seperti sedang masuk ke dunia lain.

Haji Maemun memejamkan matanya. Mulutnya mulai komat-kamit membaca mantra turun-temurun yang diberikan almarhum kakeknya ketika tersesat di dalam hutan. Tapi belum sempat menyelesaikannya, Haji Maemun membuka matanya. Matanya awas melirik kesana kemari.

Terdengar suara seperti langkah orang berjalan di semak-semak. Haji Maemun menoleh ke belakang dan bangkit. Diarahkannya senter di tangannya, namun senter hanya menyala sebentar kemudian redup dan akhirnya mati. Haji Maemun mendesah. Ia kembali duduk dan memasang pendengarannya menyimak setiap gerakan yang terdengar di sekelilingnya. Hutan terlihat hitam dan gelap. Dinginnya hawa malam itu, dengan tubuh yang tak digerakkan, membuat tubuh Haji Maemun menggigil kedinginan. Ia merapatkan kedua tangannya ke tubuhnya agar tubuhnya tetap hangat. Haji Maemun mendesah kesal. Tak ada sama sekali yang bisa ia lakukan. Kebingungannya membuatnya tidak bisa berpikir. Ia pun tidak bisa menghubungi seseorang untuk membantunya karna hp nya tak dibawanya saat ke ladang tadi.

Suara menggeretas terdengar lagi dari arah belakang. Haji Maemun kembali menoleh. Sebuah parang yang diselipkannya di pinggang dikeluarkannya. Ia lalu mengeluarkannya dari sarungnya. Matanya awas mengawasi sekitarnya. Telinganya dipasang dengan seksama mendengarkan suara yang terkadang hilang dan terdengar kembali itu. Beberapa binatang buas mulai terpikir dalam tebakannya. Mungkin babi hutan atau macan kumbang, yang katanya pernah terlihat warga muncul di kawasan itu.

Suara menggeretas itu kembali terdengar, namun kini dari arah sampingnya. Haji Maemun menoleh dan bangkit. Ia mundur beberapa langkah, tetap dengan posisi siap siaga. Parang di tangannya di genggamnya erat. Siap membabat apa saja yang ada di hadapannya.

Wush...

Sebuah pisau melesat cepat dalam kegelapan dan menancap di dada Haji Maemun. Haji Maemun terkejut dan memegang dadanya. Salah satu tangannya meraba-raba. Sebuah pisau kecil dengan beberapa senti ujungnya telah menancap di dada kirinya. Haji Maemun meringis. Rasa sakit dan perih mulai terasa di dadanya. Satu sosok bayangan hitam bercadar terlihat berdiri tegap di depan Haji Maemun yang sedang berusaha mencabut pisau dari dadanya.

Tubuh Haji Maemun goyah ketika ia telah berhasil mencabut pisau di dadanya. Darah segar mengalir membasahi baju yang dipakainya.

Sosok hitam itu terlihat bergerak. Satu buah pisau melesat lagi dengan cepatnya, mengarah ke dada Haji Maemun. Haji Maemun mengerang dan berteriak kesakitan. Teriakannya mengagetkan penghuni hutan. Parang yang dipegangnya terlepas, disusul dengan tubuhnya yang perlahan ambruk di tanah. Haji Maemun berusaha menahan darah yang mengalir di dadanya. Pisau yang menancap di dada sebelah kanannya terlalu dalam. Tenaganya juga sudah mulai lemah untuk mencabutnya. Ia menggeser tubuhnya perlahan dan menyandarkannya di batang pohon. Haji Maemun menatap ketakutan sosok misterius yang berdiri di depannya.

Sosok hitam itu lebih mendekat. Dengan langkah pincang, ia terlihat tenang sembari mengumbar senyum dinginnya. Haji Maemun mencoba memberi isyarat dengan tangannya agar sosok misterius di depannya tidak menyakitinya lagi. Darah segar mengalir deras dari dada Haji Maemun. Sosok misterius itu membungkukkan badannya dan mengambil parang milik Haji Maemun yang tergeletak di depannya. Haji Maemun menyatukan kedua telapak tangannya, memohon agar laki-laki itu tidak menyakitinya. Tapi tangan sosok misterius itu mulai mengayunkan parang di tangannya. Haji Maemun menangis menghiba. Tapi sosok misterius itu sepertinya tidak terpengaruh. Ia mengangkat tinggi-tinggi parang di tangannya. Dan, sekali tebas, kepala Haji Maemun menggelinding di semak-semak. Bunyi darah yang menyembur dari tenggorokan Haji Maemun, mengeluarkan suara yang menakutkan penghuni malam.

Sosok misterius itu melempar parang yang ada di tangannya ke arah tubuh Haji Maemun yang bersimbah darah. Sabuk hitam yang melilit di pinggang Haji Maemun diambilnya. Ia kemudian melilitkannya di pinggangnya sendiri. Sosok misterius itu tersenyum puas. Setelah meludah ke arah tubuh Haji Maemun beberapa kali, ia membalikkan tubuhnya dan melangkah tenang memasuki hutan. Sosok misteriusnya hilang dalam gelapnya hutan.

Malam semakin beranjak larut. Suara tokek yang terdengar di antara batang-batang pohon, memantul ke seluruh sudut hutan. Kawanan semut bersiul memanggil kawanannya lebih banyak. Bau anyir darah menyeruak terbawa angin. Menerobos sela-sela hutan, menarik para binatang malam untuk mendekat.

Terpopuler

Comments

Dwi Giatno Alkissy

Dwi Giatno Alkissy

siapa itu?

2023-04-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!