Suasana di sebuah pekuburan umum nampak khidmat siang itu. Kabut masih terlihat memenuhi separuh permukaan pepohonan pinus di kaki bukit. Membuatnya seperti sebuah benteng hitam dari kejauhan.
Prosesi pemakaman bu Sarmi telah selesai. Pak Sumarep dan Farhan yang duduk di sudut tembok pemakaman terlihat mengikuti orang-orang yang satu persatu mulai membubarkan diri. Ada sekitar tiga puluh orang yang hadir dalam pemakaman itu.
Farhan masih duduk di jok motornya, menunggu pak Sumarep yang masih terlihat mengobrol dengan orang-orang yang ditemuinya.
Farhan merasa ada yang aneh di pemakaman itu. Itu ia rasakan sejak ia tiba di tempat itu. Dia merasa selalu diperhatikan oleh orang-orang di pemakaman. Mata mereka seperti tertuju kepadanya. Bahkan ketika ia duduk di atas motornya sembari menunggu pak Sumarep datang, orang-orang masih saja melihatnya dengan tatapan yang ia tak mengerti. Bahkan ada beberapa orang yang sengaja mencari tempat duduk hanya untuk melihatnya. Mereka berbisik satu sama lain seperti sedang membicarakannya. Farhan mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Tadi, ketika baru saja tiba di tempatnya parkir, ada seorang pak Haji dan dua orang yang bersamanya menatapnya dengan tatapan aneh. Semakin membuatnya bingung dan bertanya-tanya.
"Maaf Nak Farhan, sudah lama menunggu. Biasanya acara-acara seperti ini baru bisa ketemu teman lama. Maklum hari-hari mereka dihabiskan di ladang," kata pak Sumarep begitu tiba di depan Farhan. Ia terlihat melambaikan tangan kepada tiga orang yang duduk di jalan seberang.
"Gak apa-apa Pak,"Farhan tersenyum,"Langsung pulang Pak,"sambung Farhan. Pak Sumarep mengangguk. Farhan kemudian menyalakan motornya dan perlahan meninggalkan tempat itu.
"Saya kok aneh sama orang-orang di pemakaman Pak, sepertinya mereka semua memperhatikan saya." Farhan membuka pembicaraan di atas kendaraan yang melaju pelan. Pak Sumarep tersenyum.
"Mereka heran mungkin kamu sendirian paling ganteng di pemakaman,"canda pak Sumarep. Mendengar itu Farhan tersenyum,"Tadi, saat bertemu teman-teman bapak, semua juga bertanya tentang kamu. Mereka kaget ketika bapak cerita kalau kamu itu anaknya pak Marwi, mereka mengira kamu sudah mati,"sambung pak Sumarep. Farhan mengangguk mulai mengerti.
"O ya, mungkin tadi kamu sempat memperhatikan laki-laki berkopiah putih bersama dua orang di pintu pemakaman,"lanjut pak Sumarep. Kembali Farhan mengangguk.
"Itu namanya pak Maemun, yang dua lagi namanya pak Sukar dan Mistar. Mereka itulah orang-orang yang mengacau di wilayah ini. Mereka itu aktor di balik terbunuhnya ayahmu."Farhan kembali mengangguk.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan gubuk Farhan. Wati bersama bu Sumarep terlihat sedang membersihkan ubi kayu di samping gubuk. Melihat Farhan dan pak Sumarep tiba, Wati buru-buru memasak air. Ubi kayu yang ia rebus beberapa menit lalu dipindahkannya ke dalam piring. Farhan dan pak Sumarep sepakat memilih untuk duduk di tepi telaga sambil menunggu Wati mengantarkan mereka kopi.
Sesosok laki-laki gempal terlihat bersembunyi di balik sebuah pohon, tak jauh dari tempat Farhan dan pak Sumarep duduk. Dia seperti mengawasi keduanya. Tatapan laki-laki itu teralihkan ketika melihat Wati menghampiri keduanya. Dia tampak menggeleng-geleng, sepertinya ia takjub melihat kecantikan Wati.
Perlahan laki-laki bertubuh gempal itu mundur, tetap dengan posisi menunduk, takut orang-orang yang di intainya melihat ke tempat persembunyiannya. Sejurus kemudian ia telah menghilang di balik pepohonan.
Kabut terlihat mulai menyelubungi kawasan hutan. Seperti lukisan kapas yang menempel di permukaan bebukitan. Gelap mulai menebarkan sayapnya, membuat hening suasana hutan. Farhan masih menunggu pak Sumarep usai shalat isya. Malam ini mereka berencana ikut zikir malam pertama di tempat bu Sarmi. Tapi pak Sumarep urung ikut karna tiba-tiba ia merasa kurang sehat. Farhan pun melanjutkan perjalanan seorang diri.
Farhan memarkir sepeda motornya di seberang jalan. Tampak orang-orang sudah terlihat bersila memenuhi sisi jalan dekat gubuk bu Sarmi. Farhan terdiam sejenak. Ia berpikir, ia pasti akan jadi pusat perhatian ketika mendekat dan duduk di dekat orang-orang itu. Seperti yang dialaminya ketika di pemakaman tadi siang.
Farhan memperbaiki letak peci hitamnya. Rambutnya yang panjang ia masukkan seluruhnya ke dalam peci. Setelah beberapa kali mengambil nafas, ia mulai mendekat. Dan seperti yang ia pikirkan, seluruh mata mulai tertuju ke arahnya.
Farhan mengucap salam. Orang-orang yang duduk di sisi jalan mempersilahkan dirinya untuk mengisi tikar yang masih kosong. Ketika hendak mengambil posisi duduk ke tempat yang ditunjukkan, kaki Farhan tak sengaja menginjak tangan kiri Haji Maemun. Haji Maemun meringis kesakitan sambil memegang tangan kirinya. Sumpah serapah terdengar di antar suara ringisannya. Tatapan orang-orang yang hadir tertuju ke arah Haji Maemun. Melihat Haji Maemun meringis kesakitan, Farhan segera memegang tangan Haji Maemun. Beberapa kali terdengar Farhan meminta maaf.
Tatapan mata Haji Maemun tajam. Mukanya memerah. Sebuah tamparan keras mengarah ke wajah Farhan. Farhan memegang wajahnya. Orang-orang yang melihat segera datang menengahi.
Haji Maemun berdiri dan hendak menarik tubuh Farhan, tapi orang-orang segera menahannya.
"Anjing kamu, punya mata harus dipakai." Haji Maemun menunjuk-nunjuk ke arah muka Farhan. Farhan hanya terdiam. Ia mengaku salah dan lagi-lagi meminta maaf.
"Kamu anaknya Marwi ya, anjing! Kamu sama bangsatnya dengan ayahmu."
Demi mendengar kata-kata Haji Maemun, darah Farhan seketika mendidih. Kepalan tangannya menerobos tubuh orang-orang di depannya dan telak mengenai pelipis kiri Haji Maemun. Haji Maemun oleng. Hampir saja ia tersungkur di tanah sebelum orang-orang memegangnya.
Suasana semakin riuh. Bahram dan Mistar, entah dari mana datangnya, bergantian melayangkan pukulannya ke arah Farhan. Tapi banyaknya orang yang berkumpul membuat suasana dapat segera diatasi.
"Ingat, Pak Maemun, aku tidak marah saat kamu memukulku, karna aku merasa salah. Tapi jika kau mengatakan yang tidak-tidak tentang ayahku, aku tidak akan segan-segan memotong kepalamu," kata Farhan dengan nada ancaman kepada Haji Maemun. Haji Maemun tak menjawab, ia masih meringis kesakitan memegang pelipisnya yang berdarah.
Salah seorang menarik tubuh Farhan agak menjauh dari tempat kejadian. Orang itu menyarankan agar Farhan pulang untuk meghindari hal-hal yang tak diinginkan. Farhan pun mengiyakan dan tak beberapa lama kemudian, motornya sudah melaju kencang menembus gelap hutan.
Sesosok bayangan hitam terlihat di balik pohon besar tak jauh dari tempat kejadian. Ia nampak memperhatikan keributan yang terjadi antara Farhan dan Haji Maemun. Tak lama kemudian sosok itu hilang di balik rimbun semak-semak.
*
Farhan masih memegang pipi sebelah kirinya yang masih terasa perih. Ia tak sempat mengelak dari sebuah pukulan yang mendarat di wajahnya tadi saat kejadian. Ia tidak tahu siapa yang memukulnya tadi. Yang jelas bukan Haji Maemun karna pada saat itu ia tampak masih oleng akibat pukulannya. Itu mungkin pukulan salah satu anak buah Haji Maemun. Karna masih terasa perih, ia mengambil handuk kecil di penjemuran kemudian merendamnya ke dalam air. Ia lalu menempelkannya di wajahnya.
Suasana sekitar terlihat sepi. Suara burung tekukur terdengar merdu membelah hening malam di antara suara melata malam. Farhan masuk ke dalam gubuknya dan membaringkan tubuhnya. Hening malam mengantarkannya perlahan ke dalam lelap tidurnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments