Polres Lombok Timur terutama Satuan Reserse Kriminal kembali disibukkan dengan kasus pembunuhan beruntun di perkampungan baru di kawasan hutan rarangan. Kasus pertama masih dalam proses penyelidikan dan memintai keterangan para saksi, kini laporan pembunuhan kembali di terima. Dua orang terbunuh dalam satu malam di tempat yang sama. Kasus yang sulit diungkapkan karna sebagian saksi yang dipanggil merupakan korban pembunuhan. Polres Selong pun mulai menurunkan intel ke kawasan hutan itu.
Kawasan hutan rarangan kembali gempar dengan ditemukannya mayat dua orang laki-laki yang dikenali sebagai Mistar dan pak Sukar. Pembunuhan yang beruntun dan masih menjadi misteri sebab pelakunya belum terungkap, membuat warga menjadi ketakutan. Sebagian dari mereka memilih mengungsi dan pindah dari kawasan itu mencari tempat yang lebih aman, tak terkecuali keluarga Mistar dan pak Sukar. Mereka takut mereka juga termasuk incaran pembunuh misterius itu. Farhan yang menjadi tertuduh utama dalam kasus itu pun menghilang entah kemana.
Dusun kecil itu kembali menjadi sunyi dan lengang. Hanya petugas dari polisi kehutanan yang terlihat menambah pos-pos penjagaan di tempat-tempat yang disinyalir rawan tindak kejahatan. Dari warga sendiri, Bahram lah satu-satunya yang memilih tetap bertahan di tempat itu.
Bahram sudah berkali-kali dipanggil untuk pemeriksaan di Polres, namun sejauh ini Bahram tidak menunjukkan keterlibatannya dalam kasus pembunuhan tersebut, walaupun ia sering terlihat dengan korban-korban yang terbunuh. Bahram bersih dan tak terkait apapun, baik pembunuhan maupun pembakaran gubuk milik Farhan. Hanya tinggal Farhan, yang keberadaannya belum diketahui.
*
*
Sementara itu di kedalaman hutan, Farhan sudah mulai menemukan titik terang ujung dari hutan itu. Sudah dua hari ia terseok-seok mencari arah yang benar untuk keluar dari hutan itu. Ketika suara ombak yang ia gunakan sebagai penuntunnya, seringkali mengarahkannya ke jalur yang membingungkan. Ia merasa seperti berputar di tempat yang sama.
Farhan mengernyitkan keningnya. Tempat yang ia temukan kini berbeda sekali dengan tempat yang telah ia lalui. Luasnya kurang lebih 3 are. Tidak ada pepohonan yang tumbuh di areal itu. Hanya tanaman setinggi kurang lebih dua meter, daunnya seperti jari-jari dan bunganya kecil-kecil dalam dompolan di ujung ranting. Farhan mencoba lebih keras berpikir. Ia seperti mengenal dan pernah melihat tanaman itu. Tanaman itu pasti sengaja di tanam dan itu artinya, ia bukanlah satu-satunya orang yang pernah masuk ke kawasan hutan itu.
Farhan semakin mendekat. Dipetiknya beberapa daun dari tanaman itu lalu kembali bersembunyi di balik pohon. Farhan mengangguk-angguk kecil. Dia sudah mulai mengenal daun tanaman itu. Itu ganja. Ia pernah berteman dengan pengedar ganja yang sengaja menanam ganja dalam pot di rumahnya. Ia perkirakan masa panen tanaman ganja di depannya tinggal satu bulan lagi.
"Luar biasa," desah Farhan. Di tempat yang sangat jauh dan tersembunyi di kedalaman hutan, ada orang yang menggunakannya sebagai tempat yang aman untuk menanam barang haram itu. Dan ia yakin, jalur pengangkutan ganja setelah panen nanti pasti melewati jalur laut. Dan itu berarti ia sudah berada di ujung hutan. Kembali Farhan mengangguk. Dari bibirnya terkulum senyum sinis.
"Aku tahu siapa kamu. Jika kasusku telah selesai, aku akan memburumu,"desah Farhan.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Farhan mengorek lumut-lumut yang menempel disebuah batu di dekat pohon tempatnya bersembunyi. Ia lalu memeras airnya tepat di atas mulutnya. Sebagian lagi ia masukkan ke dalam saku baju untuk persiapan minum selama perjalanan.
Farhan terus berjalan. Keberadaan ladang ganja, suara gedebur ombak serta bau khas laut yang tercium, memberinya perangsang semangatnya yang hampir pupus. Ditambah lagi dengan suara menggericau dari gerombolan kera di atas pohon are, membuatnya tak mau berhenti berjalan walau langkahnya terseok-seok.
Dan, Farhan akhirnya tersenyum lebar. Kini ia berdiri di ujung tebing dengan kedalaman 5 meter. Dibawahnya ombak besar bergulung menghempas tebing. Inilah jalan satu-satunya yang harus ia lalui. Walaupun berat, ia harus mencari cara agar sampai di sebuah pantai yang terlihat di ujung sana.
Farhan menghempaskan tubuhnya di atas rumput menghijau di bawahnya. Sambil melepas lelah, ia mulai berpikir bagaimana caranya ia akan menuruni tebing di bawahnya. Ia harus menunggu, mungkin beberapa jam untuk memastikan pasang dan surutnya air dibawah tebing. Mungkin itu juga yang sedang ditunggu oleh gerombolan kera di atas pohon dekat tebing.
Farhan tiba-tiba kembali teringat ladang ganja yang ia temukan tadi. Ia perkirakan jaraknya satu kilo dari ujung tebing. Jika laut adalah jalur satu-satunya untuk mengangkutnya, maka tidak mungkin yang empunya ganja itu melemparnya dari atas. Pasti ada sesuatu yang digunakan untuk membawanya ke bawah. Farhan bangkit dan mencoba memeriksa sisi-sisi tebing, namun ia tak menemukan tanda apapun. Ia kembali dan membaringkan tubuhnya di atas hamparan rumput.
*
*
Matahari sudah condong ke arah barat. Farhan membuka matanya. Baru kali ini ia merasakan tidur yang nyenyak sejak pelariannya tiga hari lalu. Terdengar suara azan sayup-sayup dari kejauhan. Farhan menggeleng dengan senyum yang mengembang. Suara azan itu benar-benar menenangkan hatinya. Ia seperti berada di tengah-tengah canda riang Wati dan keluarganya. Ia begitu rindu dengan gadia itu. Rasanya sudah bertahun-tahun tidak melihatnya. Dia berjanji, setelah kasusnya selesai ia kan melamar gadis itu.
Gerombolan kera kembali terdengar riuh mengerih. Farhan menoleh. Gerombolan kera itu sudah terlihat turun dari pepohonan. Hanya terlihat satu kera berukuran besar di pucuk pohon. Farhan bangkit dan mulai memperhatikan dengan seksama bagaimana kera-kera itu menuruni tebing. Kera-kera itu terlihat berjejer ke bawah seperti sedang memegang sebuah tali panjang secara bersamaan. Farhan lebih mendekat dan ia melihat sebuah tali panjang berukuran besar menjuntai ke bawah. Seperti perkiraannya, pemilik ganja pasti sudah memikirkan matang-matang cara menurunkan ganjanya ke bawah.
Farhan mulai menuruni tebing, setelah memastikan gerombolan kera berpencar ke daratan laut yang airnya telah surut. Dengan sangat hati-hati ia memijakkan kakinya di lubang-lubang tebing sambil sesekali menengok ke atas. Setelah untuk beberapa lama Farhan berjibaku menuruni tebing, akhirnya ia berhasil mendaratkan kakinya. Farhan menutup wajahnya dan mulai menangis. Dia seperti menemukan dunia baru setelah tiga hari lamanya ia seperti masuk ke dalam peradaban lama. Hutan yang gelap dan luas, yang tanpa bantuan dari Tuhan ia tak akan mampu melewatinya. Petualangan yang menegangkan sekaligus pengalamannya paling berharga.
Farhan menoleh ke atas tebing setinggi lima meter di atasnya. Seperti dunia lain dan ia baru keluar darinya. Namun perjuangannya masih panjang. Ia harus mengarungi perairan di depannya.
Farhan melangkah menyusuri permukaan laut yang airnya telah surut. Hanya seratus langkah saja, dan semakin ke tengah, air laut sudah sampai lutut kakinya. Farhan meringis. Beberapa luka di kakinya terasa perih ketika bersentuhan dengan air laut.
Farhan membuka celana levis yang dipakainya. Ada sesuatu berbentuk bola berwarna biru dalam jumlah banyak yang ia lihat mengapung di tengah laut. Ia tidak tahu apa itu, tapi ia harus mempersiapkan stamina untuk mencapai ujung bola-bola itu. Farhan membuka jaketnya dan memasukkannya ke dalam air. Ia mencoba memasukkan udara ke dalam jaket yang dibentuknya bundar di dalam air. Ia harus mencobanya terlebih dahulu karna sebelumnya, ia hanya pernah membacanya di sebuah surat kabar. Perlahan Farhan mulai berenang ke tengah. Ia mengatur nafasnya sebaik mungkin agar tidak cepat lelah. Sesekali ia berhenti dan mengapungkan tubuhnya di permukaan laut. Farhan bersyukur, kebiasaan baiknya membaca buku telah memberikannya banyak pengetahuan terutama untuk bertahan hidup. Farhan menatap bola-bola biru yang terkadang muncul dan tenggelam oleh gelombang laut. Ia harus segera melanjutkan berenang sebelum air laut pasang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments