#02

Seorang laki-laki berambut gondrong menghentikan laju sepeda motornya dan berhenti di sebuah warung kecil di sisi jalan. Ia terlihat mengamati suasana sekitarnya yang tampak sepi.

Sebelum turun dari motornya, terlebih dahulu ia menurunkan lipatan kedua lengan bajunya. Ia mencoba menutupi tato yang ada di lengan tangannya sebelah kiri. Tas ransel di pundaknya ia turunkan.Setelah melihat sebentar ke sekelilingnya yang sepi, ia kemudian turun dari motornya dan meletakkan ranselnya di atas meja di depan sebuah warung kecil.

Ia mencoba mencari pemilik warung. Tidak ada orang disana. Ia mencoba memanggil. Seorang perempuan tua terlihat berjalan amat pelan ke arahnya dengan memikul beberapa ranting kayu kering. Melihat pemuda itu berdiri di depan warung, ia mempercepat langkahnya.

"Maaf nak, tadi ibu sedang mencari kayu bakar. Mau pesen kopi?" kata perempuan tua itu. Ranting-ranting kayu yang dibawanya di lepaskannya di sisi perapian.Laki-laki itu tersenyum.

"Boleh Bu," kata laki-laki itu. Ia lalu duduk. Sebungkus rokok di dalam tas ransel diambilnya. Ia lalu meraih satu batang kemudian menyulutnya.

Secangkir kopi panas sudah tersaji di depannya. Perempuan tua itu sesekali terdiam memperhatikan tato yang sesekali menyembul dari balik lengan baju laki-laki itu ketika tertiup angin. Laki-laki itu terlihat kedinginan. Beberapa kali ia terlihat menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menghalau dingin yang menyerang tubuhnya. Tatapannya kesana kemari memperhatikan suasana kampung yang sepi. Rokok di tangannya ia hisap dalam-dalam.

"Sudah ramai ya Bu di sini," kata laki-laki itu tanpa membalikkan tubuhnya . Ia terlihat asik mengarahkan matanya kesana kemari. Perempuan tua itu tidak langsung menjawab. Dia sibuk memindahkan air panas yang dimasaknya di sebuah panci kecil ke dalam sebuah termos usang. Laki-laki itu menoleh, ia menyangka perempuan tua itu tidak mendengar ucapannya. Ia mencoba menegur perempuan tua itu.

"Sudah sepuluh tahun Nak. Tapi yang mau pindah cuma sepuluh orang," jawab perempuan tua itu. Tangannya sibuk menghalau kepulan asap dari tungku api di depannya.

"Kamu sendiri mau kemana Nak," tanya perempuan tua.

"Aku mau ke gubuk sebelah. Kenal sama almarhum pak Marwi Bu," kata laki-laki itu setelah terdiam beberapa saat. Ia menatap wajah perempuan tua yang terlihat seperti hendak berbicara panjang. "Saya Farhan anaknya," sambung laki-laki yang memperkenalkan dirinya Farhan itu. Dia sengaja mendahului memberitahukan identitasnya kepada bu Sarmi, agar perempuan tua itu tidak bercerita yang tidak-tidak tentang ayahnya. Farhan melihat dengan seksama wajah perempuan tua itu. Tampak sekali perempuan tua itu sedikit kaget ketika ia memperkenalkan dirinya sebagai anak almarhum pak Marwi. Pelan-pelan Farhan mulai mengenali sosok perempuan tua itu.

"Dan Nenek adalah Nenek Sarmi bukan? kalau gak salah, dulu Nenek tinggal di dekat pos kehutanan. Dulu saya sering membelikan ayah rokok di warung Nenek." Farhan melihat ada perubahan yang jelas yang tampak dari wajah bu Sarmi.

Terlihat jelas ekspresi kekagetan dari wajah perempuan tua itu. Wajahnya seketika terlihat pucat. Mungkin ia menyangka bahwa anak laki-laki pak Marwi sudah tewas terbakar dalam kejadian dua puluh tahun yang lalu itu.

"Anaknya pak Marwi? bukankah anaknya pak Marwi sudah mati," tanya bu Sarmi keheranan. Ia belum percaya jika pemuda yang mengaku anak pak Marwi itu, memang benar-benar anaknya pak Marwi.

"Saya memang anaknya pak Marwi. Saya diselamatkan paman saya saat kejadian itu terjadi." Farhan terdiam. Tatapan nanarnya mengisyaratkan bahwa ingatannya sedang terbang jauh ke masa lalu.

"Masya Allah Nak, nenek kira kamu sudah meninggal," kata bu Sarmi dengan suara parau seperti menyimpan sebuah penyesalan. Ia mengusap-usap punggung Farhan. Farhan membiarkan saja tangan tua bu Sarmi mengusap punggungnya. Sesekali tangan tuanya meraba wajah dan rambut Farhan. Sekalipun ia mulai merasa muak, tapi ia biarkan saja tangan tua itu memegang wajahnya. Bagaimanapun juga, apa yang pernah dilakukan nenek Sarmi dua puluh tahun lalu kepada ayahnya sangat menyakitkan hatinya. Tapi melihatnya yang sudah tak berdaya dalam ketuaannya, ia berusaha memaafkannya.

"Setelah kejadian itu, paman Ahmad membawaku ke rumahnya. Ia takut orang-orang pada saat itu ikut melampiaskan kemarahan mereka kepadaku." Farhan berusaha tetap tenang. Ia mencoba menahan agar emosinya tetap terkendali. Pandangannya jauh menerawang menembus lebatnya hutan.

"Nenek sama sekali tidak tahu Nak. Pada saat itu nenek sedang ada di ladang. Begitu pulang, nenek sudah mendapatkan berita tentang rumahmu yang terbakar," kata bu Sarmi . Ia memperhatikan dengan seksama wajah pemuda di depannya. Seperti mencoba mencari tanda-tanda masa kecil pemuda di sampingnya. Ketika sesekali Farhan melirik ke arahnya, bu Sarmi cepat-cepat mengalihkan pandangannya jauh ke arah rerimbunan pohon.

Farhan mendesah dan tersenyum setengah mencibir.

"Sampai saat ini, saya belum tahu apa sebenarnya sebab sehingga rumah saya dibakar dan ayah saya digantung. Saya sama sekali tidak pernah melihat ayah saya melakukan ritual-ritual aneh, seperti yang mereka tuduhkan. Justru yang sering dilakukan ayah saya adalah membongkar kecurangan tetua-tetua yang seenaknya mengambil lahan orang. Itu yang sering saya dengar waktu kecil. Ayah sering mendapat aduan dari ahli waris tanah ketika ayah mereka meninggal. Sebagian tetua kampung mengambil lahan mereka dengan alasan almarhum ayah mereka hanya numpang tanam. Semua kita disini hanya punya hak garap, tapi sudah ada batas dan surat garap resmi dari pemerintah." Farhan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Yang lebih mengherankan saya, apa dasarnya sehingga mereka menuduh ayah saya sebagai tukang santet. Padahal ayah saya hanya seorang guru ngaji," sambung Farhan panjang lebar dan terdengar penuh kekesalan. Ia sepertinya sengaja menyindir bu Sarmi. Farhan tahu, bu Sarmi juga merupakan salah satu istri tetua kampung yang getol memprovokasi suaminya untuk mengusir ayahnya.

Bu Sarmi hanya terdiam. Dia tampak sungkan menatap Farhan.

"Makanya saya sekarang pulang untuk memenuhi pesan almarhumah ibu saya. Saya harus kembali dan mengisi kembali lahan saya," kata Farhan mencoba mempertegas.

"Tapi kayaknya tanah almarhum ayahmu sudah di garap seseorang," kata bu Sarmi. Farhan menoleh.

" Benar Nek, tapi orang itu adalah orang suruhan saya, namanya pak Sumarep. Surat tanahnya masih lengkap dan bukan termasuk lahan kehutanan. Jadi tidak ada batas hak untuk menggarapnya."

Farhan bangkit dan mengambil beberapa lembar uang kertas dari dalam saku celana levisnya. Ia menyerahkan satu lembar uang lima ribuan kepada bu Sarmi.

"Ambil semua Nek, gak usah kasih kembaliannya," kata Farhan. Ia lalu mengangkat tas ranselnya dan meletakkannya di pundak. Ia lalu menyalakan sepeda motornya.

"Saya pergi dulu Nek, kapan-kapan saya mampir lagi," kata Farhan berpamitan kepada bu Sarmi. Bu Sarmi hanya tersenyum. Masih dengan mata penuh selidik.

Dengan pelan Farhan mengarahkan sepeda motornya menghindari kerikil-kerikil yang berserakan di tengah jalan. Di belakangnya, bu Sarmi masih membuntutinya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Farhan menghentikan sepeda motornya ketika sampai di sebuah jalan kecil setengah menanjak di sebelah kanannya.

Dia merasa tak banyak yang berubah dari tempat itu. Jalan menuju ladang dan rumahnya dulu masih seperti dahulu. Hanya tampak gerbang masuk yang terbuat dari batang kayu dan bambu. Selebihnya masih seperti dahulu.

Farhan membelokkan arah motornya dan mulai menyusuri jalan menanjak di depannya. Kurang lebih tiga ratus meter dari tempatnya berbelok, Farhan menghentikan sepeda motornya ketika sudah sampai di dekat sebuah bangunan kecil, yang keseluruhannya terbuat dari kayu jati. Melihat bentuk bangunan itu, ia langsung bisa mengenalinya. Bentuk bangunan itu sesuai gambar yang ia kirim ke penjaga ladangnya.

Seseorang berperawakan kurus dengan topi yang terbuat dari tanaman pandan nampak mendekat ke arahnya. Ia tersenyum. Itu pak Sumarep, orang yang ia suruh menjaga ladangnya. Pak Sumarep juga termasuk salah satu saksi kekejaman orang-orang saat pembakaran dan pembunuhan ayahnya. Ia juga yang menyembunyikannya saat orang-orang menggeruduk rumahnya sebelum dibawa oleh pamannya.

"Akhirnya pulang juga si ganteng. Saya sudah gak kerasan di sini, gak ada teman ngobrol," kata pak Sumarep. Farhan tersenyum. Ia mencium tangan Pak Sumarep kemudian memeluknya. Pak Sumarep kemudian mengajak Farhan masuk ke dalam gubuk.

Farhan melepas ransel di pundaknya dan meletakkannya di pundaknya sebagai sandaran.

Ia mendesah dan bangkit. Ia mulai mengawasi suasana sekelilingnya. Telaga kecil di ujung ladangnya terlihat sudah tertutup tanah sebagiannya. Di sana dulu ada pohon singon besar tempat ayahnya digantung. Tapi ia tidak melihatnya lagi. Mungkin sudah ambruk atau sudah ditebang.

"Oya Pak, Saya kok ingat dulu punya teman namanya Fadli. Apa sekarang dia masih hidup?" tanya Farhan sambil mendekat kembali ke tempat pak Sumarep masih duduk.

"Fadli? Fadli yang mana maksud Nak Farhan," kata pak Sumarep sambil mencoba mengingat-ingat.

"Itu lho Pak, yang anaknya pernah jatuh di telaga itu. Yang dulu sering dibawakan almarhum bapak makanan," jawab Farhan sambil mengarahkan pandangan pak Sumarep ke arah telaga.

Pak Sumarep mengernyitkan keningnya.

"Oh itu, si Fadli, bapak sampai lupa namanya. Bapak juga jarang melihatnya. Kalau gak salah, sekarang ia tinggal di kampung baru. Kamu pasti lewat sana tadi, yang ada warung kopi di pinggir jalan." Pak Sumarep menyulut sebatang rokok. Ia menawarkannya kepada Farhan, namun Farhan menolak.

"Ow itu, Tadi saya sempat minum kopi di sana. Kayaknya pemilik warung itu adalah nenek Sarmi,"

"Betul, itu memang nenek Sarmi. Setelah suaminya meninggal, ia hidup sebatang kara. Anaknya satu persatu pergi meninggalkan merantau ke Malaysia. Sekarang ia sudah jatuh miskin." Pak Sumarep terdiam sejenak. "Kalau bapak ingat nenek itu, ingin rasanya bapak menggantung lehernya di pohon. Dia lah yang memprovokasi warga untuk membunuh ayahmu," sambung pak Sumarep kesal. Rokok lintingan di tangannya yang sempat mati disulutnya kembali lalu dihisapnya dalam-dalam. Farhan hanya menunduk mendengar cerita pak Sumarep.

"Tapi Allah Maha Adil, Allah telah membalas perbuatan suaminya. Ia tewas tertimbun pohon singon di ladang yang ia serobot. Salah satu penasehatnya, pak Udin, juga tewas mengenaskan. Rumahnya dirampok dan potongan kepalanya ditemukan terpisah dengan badannya." Pak Sumarep mendesah panjang. Tatapannya masih mengisyaratkan kenangan pahit masa lalu.

"Sekarang yang masih tersisa dari gerombolan perampok tanah itu tinggal pak Sukar, Haji Maemun, dan pak Mistar," sambung pak Sumarep. Ia benar-benar masih ingat kejadian dua puluh tahun yang lalu.

Farhan mendesah dan mengusap rambut yang menjuntai di wajahnya ke belakang. Ia menepuk-nepuk bahu pak Sumarep.

"Sudahlah Pak, mengungkit-ungkit masa lalu hanya akan membuat kita sedih. Ayah sudah tenang bersama ibu di alam sana," kata Farhan tegar. Pak Sumarep mengangguk.

"Oya Nak Farhan, sebentar lagi tanaman kol kita akan segera kita panen. Menurut saudagar yang akan membeli kol kita, insya Allah tiga hari lagi kita bisa memanennya. Adikmu Wati juga akan kesini untuk membantu kita," kata pak Sumarep. Ia berdiri dan mengajak Farhan berkeliling. Farhan mulai memeriksa tanaman kol yang tumbuh subur memenuhi ladang.

"Oya Pak, apa dik Wati sering kesini membantu Bapak," kata Farhan ketika teringat Wati, anaknya pak Sumarep yang juga teman bermainnya dulu waktu kecil.

"Sekali seminggu ia kesini jika pamanmu Rohimin pergi mancing ke laut. Dia malah gak mau pulang kalau sudah di sini. Rencana bapak, kami akan menjual tanah yang di desa dan pindah ke sini. Anak-anak kampung sebelah banyak yang belajar baca Qur'an sama bapak. Saya ajak adikmu Wati kesini biar ada yang bantu bapak mengajar."

Farhan mengangguk. Karna ia merasa lelah dan mulai mengantuk, ia berpamitan untuk istirahat sejenak di gubuk.

Terpopuler

Comments

🦆 Wega kwek kwek 🦆

🦆 Wega kwek kwek 🦆

saat membaca nih novel langsung bermunculan ilustrasi 2nya sudah kubayangkan betapa indahnya hutan nya,adem dibawah pohon

2024-12-16

1

Lina Nur

Lina Nur

koq gak ada yg komen ya....

2023-05-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!