#14

Mistar terlihat sedang memindahkan beberapa tandan buah pisang yang baru saja ia ambil dari batangnya. Sekitar sepuluh meter dari pondoknya. Pak Sukar yang ladangnya bersebelahan dengan ladang Mistar, terlihat juga sedang memetik beberapa buah berry yang tumbuh di pematang yang memisahkan ladangnya dengan ladang Mistar. Beberapa kali ia terlihat menepuk nyamuk-nyamuk yang berkumpul di tangan dan wajahnya. Bintik-bintik akibat gigitan nyamuk terlihat hampir memenuhi kedua lengan tangan dan batang lehernya.

Di antara rerimbunan pohon pisang, tak jauh dari tempat Mistar duduk, seseorang nampak sedang memperhatikan mereka. Pakaian hijaunya yang kumuh dengan wajah yang ditutupi sarung, ditambah lagi dengan suasana hutan yang mulai gelap dan juga berkabut, menyamarkan pandangan orang yang melihat ke arah rerimbunan pohon pisang. Matanya yang tajam mengisyaratkan kemarahan dan kebencian. Kuku-kuku tajamnya menancap kuat di batang pohon pisang tempat tangannya menempel.

"Ngopi dulu Pak Sukar," panggil Mistar. Ia melambaikan tangannya ke arah pak Sukar sambil melangkah menuju pondoknya. Buah bery yang dipetiknya dimasukkannya satu persatu ke dalam tas kresek dan menggantungnya di ranting pohon. Ia kemudian mendekat ke tempat Mistar.

"Gak nginep Mistar,"kata pak Sukar sambil menggaruk acak ke seluruh tubuhnya.

"Gak ah Pak, banyak nyamuk,"jawab Mistar. Kopi yang ada di depannya diseduhnya kemudian meletakkannya di depan pak Sukar. Pak Sukar langsung menyeruputnya.

"Banyak nyamuk atau takut." Pak Sukar tersenyum. Ia terus menggaruk sisa gigitan nyamuk di tangannya. Mistar menoleh. Dikatakan takut oleh pak Sukar, ia sedikit emosi. Tapi ia diam saja.

"Mistar, jangan bilang-bilang ya soal ceritaku dua minggu yang lalu, tentang keinginanku memenggal kepala Haji Maemun. Itu semua akibat kekesalanku karna Haji Maemun tidak memberiku sepeserpun hasil penjualan tanah yang diserobot dari anak almarhum pak Kusnari," kata pak Sukar, masih dengan tidak menoleh ke arah Mistar. Mistar mengambil pisang-pisang di depannya kemudian memasukkannya ke dalam karung.

"Kenapa tiba-tiba Pak Sukar bicara seperti itu," kata Mistar.

"Farhan saja kita bakar rumahnya karna kita mendengarnya mengancam akan memenggal kepala Haji Maemun, padahal belum ada bukti dia yang melakukannya,"

"Tapi Farhan itu anaknya pak Marwi, bisa jadi ia memang pelakunya. Seperti yang aku katakan tempo hari, mungkin saja ia ingin balas dendam," tukas Mistar.

"Ya, tapi orang bodoh macam Bahram sepertinya mulai mencurigaiku juga, hanya karna ia pernah mendengarku ingin memenggal kepala Haji Maemun." Pak Sukar mengambil dua batang rokok dari saku bajunya, dan melemparkannya sebatang kepada Mistar.

"Ah, gak mungkin Pak. Perasaan Pak Sukar saja," Mistar tersenyum. Rokok yang dilempar pak Sukar segera ditangkapnya.

"Siapa yang gak sakit hati, berhari-hari saya ikut menemaninya mengukur tanah, mencari pembeli, bolak-balik ke desa, tapi tak sepeserpun aku dikasihnya bagian,"kata pak Sukar. "Kalau kamu enak, gak pernah ikut tapi dapat bagian banyak. Kamu memang pintar menjilat Haji Maemun,"

Mistar menoleh. Emosinya yang tadinya hilang kembali memuncak.

"Maksud Pak Sukar? Aku menjilat Haji Maemun bagaimana," kata Mistar mempertegas.

"Alah, jangan pura-pura gak tahu Mistar. Aku tahu kamu sudah membeli tanah di rumah mertuamu. Dimana kamu bisa dapat uang sebanyak itu kalau tidak dikasih Haji Maemun,"

Mistar berdiri. Ia benar-benar marah mendengar kata-kata pak Sukar.

"Anjing kamu Pak Sukar. Jangan terlalu menghinaku seperti itu. Kamu yang lebih panas jadi anjing peliharaan Haji Maemun. Dan jangan-jangan memang benar Pak Sukar yang telah membunuh Haji Maemun," balas Mistar sengit sambil menunjuk wajah pak Sukar. Mendengar Mistar berani berkata keras kepadanya, pak Sukar ikut-ikutan naik pitam. Dia berdiri.

"Jaga ucapanmu Mistar, sejak kapan kamu berani menunjuk-nunjuk seperti itu ke arahku," kata pak Sukar dengan wajah memerah menatap wajah Mistar.

"Sejak Pak Sukar mengata-ngataiku anjing penjilat,"kata Mistar tak kalah sengit, "

"Kamu memang anjing penjilat, bangsat!" kata pak Sukar. Kali ini tangannya menjitak kepala Mistar. Emosi Mistar tak terbendung lagi. Parang yang terselip di pinggang kirinya di cabut dan dengan cepat ia tebas kepala pak Sukar hingga terputus.

Kepala pak Sukar menggelinding dan berputar di tengah-tengah tanaman kol milik Mistar. Darahnya muncrat mengikuti potongan kepala yang berputar. Suaranya yang menakutkan, mengagetkan burung-burung kecil di ranting-ranting pohon.

Mistar tercengang. Ia terkejut ketika ia melihat tubuh tanpa kepala pak Sukar tersungkur di depannya dengan darah menyembur.

Untuk beberapa saat Mistar masih termangu di tempatnya. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tangannya gemetar hingga parang yang digenggamnya perlahan terlepas.

Tubuh Mistar terhempas di tanah. tubuhnya yang gemetaran membuat kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Dadanya berdebar lebih cepat, beradu dengan ritme nafasnya.

Kini Mistar hanya bisa menatap tubuh tanpa kepala di depannya. Hari sudah mulai gelap dan dia belum bisa memikirkan cara untuk menyingkirkannya mayat di depannya.

Mistar bangkit. Parang yang tergeletak di sampingnya di ambilnya kembali. Ia menatap ke arah ladangnya. Setelah berpikir lama, Ia memutuskan untuk menggali lubang di tengah-tengah tanaman kol miliknya.

Tubuh tanpa kepala pak Sukar di seret Mistar menuju lubang yang telah digalinya. Kepala pak Sukar yang tersangkut di tanaman ubi jalar dikeluarkanya dan melemparkannya ke dalam lubang.

Kini ia harus memikirkan jawaban jika keluarga pak Sukar menanyakan keberadaan pak Sukar. Dialah orang yang akan ditanya terlebih dahulu. Itu pasti. Istri pak Sukar tahu kalau dia dan pak Sukar berangkat bersama-sama tadi siang menuju ladang. Mistar mendongak, bola matanya yang berputar kesana kemari seperti mengikuti arah pikiran yang mulai bekerja. Mistar mendesah panjang. Ia terpaksa harus menginap malam ini di ladang. Ia akan berpura-pura hilang mencari pak Sukar jika orang mulai mulai mencari keberadaan mereka.

Namun tiba-tiba Mistar memegang lehernya. Seperti ada kawat keras yang mulai melilit lehernya. Leher Mistar tercekik, hanya erangan kesakitan yang bercampur dengan nafas yang tertahan. Seseorang berpakaian hijau kumuh seperti hantu yang tak terlihat dalam kegelapan, menarik dengan kuat kawat yang melilit di leher Mistar. Semakin kuat hingga akhirnya Mistar tidak bergerak lagi. Sepi dan hening. Ia tersungkur di tanah. Sosok misterius itu kemudian menyeret tubuh Mistar ke tempat dimana ia menguburkan mayat pak Sukar.

Sosok misterius itu melangkah ke arah hutan dengan langkah pincang, hingga hilang di balik kegelapan. Tapi tak beberapa lama kemudan, ia kembali dengan membawa tali panjang. Leher Mistar kemudian diikat dan ia mulai mengereknya ke atas pohon di samping pondok.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!