#11

Pak, perasaan Wati kok gak enak dari tadi. Wati jadi kepikiran terus sama Kak Farhan. Kapan Bapak mau kesana.” Wati membuka pintu jendela gubuknya. Pandangannya jauh menembus kegelapan malam. Ia cemas karna tetap tidak bisa melihat nyala obor di depan halaman gubuk Farhan. Lebatnya pepohonan dan semak-semak yang memagari bagian depan rumahnya menghalangi pandangannya.

Pak Sumarep tetap melanjutkan pekerjaannya. Tangannya sibuk mengikat batang-batang bambu yang telah ia haluskan satu sama lainnya. Tanggung. Tinggal sedikit, dan ia harus menyelesaikannya segera. Ia tersenyum sembari menoleh ke arah Wati. Wati sudah tidak malu lagi mengungkapkan kegelisahannya terhadap Farhan. Dari sejak maghrib tadi, ia berulang-ulang mengingatkannya untuk menemani Farhan.

“Sebentar lagi Nak, ini juga baru jam 8. Kamu ke dapur dulu sana, rebus singkongnya dan masakkan juga air panas buat ngopi nanti,”

Wati mendesah kesal. wajahnya terlihat cemberut. Ayahnya terlihat terlalu santai dan itu semakin membuatnya semakin resah. Ia menutup pintu dan melangkah menuju dapur.

“Apa enggak bisa dilanjutkan besok Pak. Anak gadisnya lagi gelisah begitu kok gak diperhatikan.” Terdengar suara bu Sumarep dari dalam kamarnya.

“Iya Bu, sedikit saja, ini sudah mulai selesai,” jawab pak Sumarep. Merasa didesak, pak Sumarep bangkit dan melangkah menuju kamarnya. Senter dan parang segera disiapkannya dan duduk di luar rumah sambil menunggu Wati selesai memasakkannya air.

Farhan masih terlihat berjaga di samping gubuknya. Ia memilih duduk agak tersembunyi di antara rerimbunan pohon singkong yang tumbuh di samping gubuknya. Mengingat pristiwa yang terjadi antara dirinya dengan Haji Maemun, dan kecurigaan orang-orang dekat Haji Maemun kepada dirinya sebagai satu-satunya orang yang pantas dijadikan tersangka pembunuhan itu, sepatutnya ia waspada terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi malam ini. Mengingat sedari maghrib tadi ia merasakan perasaan yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Kegelisahan dan rasa cemas yang berlebihan, ia jadikan pertanda bahwa malam ini tidak akan baik-baik saja. Ditambah lagi, ketika ia ingat bagaimana tatapan-tatapan tidak senang, yang diperlihatkan orang-orang saat ia ikut menyaksikan mayat Haji Maemun.

Farhan menoleh. Pak Sumarep tidak kunjung juga datang setelah tadi sore ia berjanji akan datang menemaninya malam ini. Farhan meraih parang yang ada di sampingnya dan meletakkannya di pangkuannya.

Hawa dingin semakin terasa menusuk. Jaket tebal yang dipakainya tidak mampu mengusir hawa dingin yang membuat tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Farhan menguap. Ia melirik ke arah cangkir aluminium besar di sampingnya. Itu sisa kopinya tadi. Belum sampai satu menit. Biasanya ia akan terjaga hingga pertengahan malam jika sudah menyeruput segelas kopi. Tapi ia merasa aneh, rasa kantuk tiba-tiba datang dan memaksanya berkali-kali menguap. Ditambah lagi hawa dingin yang menusuk, membuatnya terpaksa masuk ke dalam gubuk.

Rasa kantuk yang dirasakan Farhan terasa semakin berat. Ia menyelonjorkan kakinya dan mulai merebahkan tubuhnya.

Farhan seperti mendengar suara semak-semak terbakar di antara sadar dan tidurnya. Namun ia tak terlalu menghiraukannya. Ia merasa seperti berada di depan sebuah perapian yang sangat besar di antara hamparan salju yang membeku. Tubuhnya yang tadi menggigil kedinginan, perlahan mulai terasa hangat. Ia mulai hanyut jauh dalam tidur pulasnya.

Farhan seperti melihat sesuatu berwarna putih yang tergantung di sebuah pohon. Karna mencurigakan, Farhan meraih parang di dekatnya dan dengan mengendap-endap ia melangkah mendekat. Sesuatu yang tergantung itu bergoyang kesana kemari, terhempas angin yang tiba-tiba berhembus kencang. Farhan tertegun. Sesuatu itu kini jatuh tepat di depannya. Jantung Farhan berdebar. Dibukanya kain putih yang membungkus sesuatu di dalamnya. Dan betapa terkejutnya Farhan, potongan kepala tanpa badan membelalak ke arahnya.

BRUK! KRAK!

Farhan melonjak kaget. Beberapa bambu penyangga atap rumah gubuknya roboh dan hampir mengenai tubuhnya. Ketika melihat ke arah samping, api tiba-tiba sudah menjalar mengepung gubuknya. Farhan panik, api semakin membesar. Beberapa obor yang menyala seperti sengaja dilempar dari luar dan mengenai sisi gubuk yang belum terbakar. Kini Farhan sudah terkepung oleh kobaran api yang menyambar.

Farhan membuka jaket yang dikenakannya dan mulai menutup kepalanya. Parang yang masih tergeletak di atas tempat tidur diambil dan diikatnya kuat di pinggangnya. Sambil menutup hidung, ia mulai mengambil ancang-ancang dan melompat menerjang kobaran api. Tubuh Farhan terguling jauh hingga ke tengah ladang.

“Jangan sampai anak itu lolos, ayo, kejar dia.”

Farhan berusaha bangkit. Ia melihat tiga orang berpakaian serba hitam berlari ke arahnya. Dengan sekuat tenaga, Farhan berlari menerjang semak-semak di depannya.

"Kita harus berpencar, aku yakin anak itu masih ada di sekitar sini. Ia tidak akan bisa pergi jauh," kata seseorang memanggil teman-temannya. Farhan masih bersembunyi di balik sebuah pohon beringin tak jauh dari orang-orang itu. Dia yakin, tinggal menunggu waktu saja sampai orang-orang itu menemukan persembuyiannya. Pohon beringin itu adalah yang paling besar di antara pohon di sekitarnya. Jika saja mereka mengarahkan senter mereka ke arah pohon itu, sudah bisa dipastikan, mereka akan curiga dan mendatanginya. Ia harus segera mencari persembunyian lain.

Krak!

Farhan menginjak salah satu ranting kayu dan menimbulkan bunyi yang keras.

"He, itu dia," teriak salah seorang. Farhan segera membalikkan tubuhnya dan mulai berlari sekencangnya. Begitu juga orang-orang yang mengejarnya. Beberapa kali Farhan harus terjatuh menabrak pohon-pohon di depannya. Namun ia terus berlari menghindari kejaran orang-orang di belakangnya.

Sinar senter terlihat menyala menembus semak-semak dan batang pepohonan. Orang-orang berpakaian serba hitam itu menghentikan pencarian mereka ketika berada di ujung hutan.

"Dia lolos, kita sudah menyisir tempat ini. Mungkin anak itu bersembunyi di ujung hutan yang lain," kata seseorang sambil terus menyisir pinggiran jurang.

"Kenapa kita tidak mencarinya saja ke sebelah selatan," usul yang lain.

"Jangan, terlalu berbahaya. Kata Bahram, itu sarang macan kumbang,"

"Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang,"

"Kita pulang saja dan laporkan pada pak Sukar. Sudahlah, anak itu tidak akan bisa pulang lagi ke rumahnya."

Suara langkah kaki mereka terdengar mulai menjauh. Farhan, yang sedari tadi menahan tubuhnya bergelantungan di akar-akar pepohonan di tepi tebing, perlahan mulai mengangkat tubuhnya. Ia meringis kesakitan saat saat membaringkan tubuhnya di semak-semak. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Bau amis darah tercium. Untuk sesaat Farhan masih terdiam menenangkan perasaannya. Hampir saja tadi ia terjatuh ke laut jika saja tubuhnya tidak tersangkut di akar-akar pohon. Dan kini ia belum memikirkan kemana ia harus melangkah pergi. Ia belum bisa kembali, sebelum pelaku sebenarnya dari pmbunuhan Haji Maemun terungkap. Untuk saat ini ia harus memikirkan cara untuk terlibat dalam pengungkapan kasus ini.

.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!