#17

Farhan perlahan membuka matanya. Pandangannya tertuju pada lampu duduk bercahaya temaram di sebuah meja di sampingnya berbaring. Ia melihat ke arah selimut yang menyelubungi tubuhnya. Tak seperti malam sebelumnya, ketika ia terbangun dan mendapati dirinya terbaring di tengah gelap hutan dengan tubuh bergetar menahan dingin. Kali ini ia merasakan tubuhnya terasa hangat walaupun ia merasa pegal sakit di sekujur tubuhnya. Namun perlahan ia memaksakan dirinya bangkit dan menyandarkan tubuhnya. Untuk sejenak ia hanya memandang ke sekeliling ruangan yang keseluruhannya di tutupi pagar anyaman bambu. Dia mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru dialaminya. Ia hanya ingat telah berenang beberapa kilo setelah turun dari tebing tinggi dan seseorang menyelamatkannya. Mungkin sekarang ia sedang berada di rumah orang yang telah menolongnya.

Suara pintu berdret. Farhan menoleh. Seorang laki-laki bertubuh gempal terlihat berdiri di balik pintu, seperti sedang memperhatikannya.

Hei, Farhan, kamu sudah bangun rupanya," sapa laki-laki itu. Farhan mengernyitkan dahinya. Ia seperti mengenal suara laki-laki itu. Laki-laki itu terlihat mendekat menuju lampu duduk di atas meja dan mematikannya. Setelah itu ia menyalakan lampu neon yang tergantung di tengah langit-langit ruangan. Suasana di dalam ruangan itu seketika menjadi terang benderang.

Farhan menutup wajahnya dengan telapak tangannya karna silau. Setelah beberapa saat, ia melepaskan telapak tangannya. Perlahan ia mulai mengenali orang yang kini sudah duduk di sampingnya.

"Harjan? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Farhan. Harjan tersenyum. Ia menaikkan salah satu kakinya di atas satu kakinya yang lain. Ia menatap Farhan.

"Justru aku yang harus bertanya seperti itu Han. Aku kan sudah bilang, aku manajer di sini. Nah, pertanyaannya, kamu kenapa kok tiba-tiba tenggelam di tengah laut. Sudah pergi mancing?" kata Harjan sambil terus tersenyum. Harjan memegang pundak Farhan.

"Ceritanya panjang Jan," desah Farhan. Harjan kembali tersenyum.

"Sepanjang apapun itu, aku tetap di sini, mau semalaman bercerita, its ok bro," kata Harjan seraya menepuk pundak Farhan. Farhan mendesah panjang. Ia menundukkan kepalanya lemah.

" Aku sekarang sedang dapat musibah Jan. Telah terjadi pembunuhan di kampungku, dan aku mereka tuduh sebagai tersangka, hanya karna aku ini anak orang yang penduduk kampung bakar rumahnya beberapa tahun lalu. Mereka menuduhku melakukan pembunuhan untuk balas dendam atas kematian ayahku beberapa tahun yang lalu," kata Farhan mulai bercerita. Harjan nampak mendengarkan dengan seksama. Dia mengangguk kecil, isyarat agar Farhan melanjutkan ceritanya.

"Orang-orang itu telah membakar gubukku dan aku terpaksa melarikan diri ke dalam hutan. Selama tiga hari aku mencari jalan keluar dari hutan dan akhirnya terdampar di sini." Harjan mengambil air botol kemasan dan memberikannya kepada Farhan.

"Mungkin polisi juga sedang mengejarku saat ini, dan aku masih bingung bagaimana cara keluar dari masalah ini." Farhan membuka botol minuman dan meminumnya. Dari raut mukanya, ia terlihat resah dan cemas.

Kembali Harjan menganggukkan kepalanya.

"Tenang Han. Inilah gunanya teman. Aku akan bantu kamu semampuku. Aku kenal baik sama pak Wakapolres. Insya Allah, nanti aku akan tanyakan kasus ini pada beliau. Kamu tenang saja. Untuk sementara kamu istirahat dengan tenang di sini sampai tubuhmu sehat kembali, dan tentunya setelah kasusmu selesai." Harjan kemudian bangkit dan melangkah keluar. Dia memberi isyarat dengan tangannya kepada dua orang wanita yang ada di dapur untuk segera mengantarkan Farhan makanan.

*

*

Farhan terlihat begitu lahap menyantap makanan yang tadi dibawakan petugas dapur perusahaan untuknya. Setelah selama tiga hari tiga malam lamanya ia hanya menyantap dedaunan dan buah-buahan di dalam hutan, kali ini perutnya benar-benar rindu menghabiskan semua makanan di depannya. Ayam panggang utuh dengan kuah kerang mutiara habis dilahapnya. Piring kotor itu kini penuh dengan tulang-tulang ayam dan kulit kerang.

"Ok, baik, baik, terimakasih Pak atas infomasinya." terdengar suara Harjan dari arah luar. Farhan penasaran. Dari tadi ia mencoba menguping pembicaraan Harjan dengan seseorang melalui telpon. Tak berselang lama, Harjan masuk dan kembali duduk di dekat Farhan. Sejenak ia memperhatikan makanan yang hampir tak bersisa di depan Farhan. Harjan tersenyum. Melihat Harjan memperhatikan sisa makanan di depannya, ia ikut tersenyum tersipu malu.

"Mau aku ambilkan lagi makanan?" kata Harjan.

"Sudah, sudah cukup, Jan. Aku sudah kenyang." Farhan menggaruk-garuk kepalanya.

"Maaf, aku tak menyisakan untukmu," lanjut Farhan dengan suara lirih. Sontak Harjan tertawa sembari menepuk-nepuk pundak Farhan.

"Kamu ternyata benar-benar lapar, Han. Gak apa-apa,kalau kamu mau, aku bisa menyuruh petugas dapur memanggangkan untukmu lagi satu ekor ayam, eh, tiga lagi juga gak apa-apa," kata Harjan. Tawanya kembali terdengar. Farhan mengusap-usap wajahnya sambil tersenyum.

"Saya sudah membicarakan kasusmu dengan pak Wakapolres. Beliau sempat menyebut namamu," kata Harjan setelah tawa keduanya reda.

Farhan menatap Harjan. Tatapan matanya memperlihatkan kekhawatirannya. Harjan tersenyum.

"Tenang, kamu belum menjadi tersangka kok. Mereka hanya butuh keteranganmu. Sekarang sudah ada intel yang sudah diterjunkan ke lokasi." Harjan mengeluarkan sebungkus rokok dan pematik api dari dalam sakunya. Ia mengambil sebatang kemudian menyulutnya. Asap rokok mengepul memenuhi ruangan. Dia menyodorkan bungkus rokok di tangannya kepada Farhan. Farhan mengambilnya dan langsung menyulutnya.

"Tenang saja Han, kamu aman. Pak Waka sudah menjamin itu. Besok saja jika kamu mau, kamu bisa pulang. Sudah ada pos polisi di tempat itu. Keamananmu terjamin sampai pelaku sebenarnya tertangkap," kata Harjan. Ia kembali menghisap rokoknya.

"O ya Han." Harjan memeriksa hp nya, "Pak Sukar dan..., sebentar,...,mmmh...,sebentar..., pak Mistar...,"

Farhan mengernyitkan dahinya begitu mendengar nama-nama orang yang bermasalah dengannya.

"Kenapa dengan mereka Jan," kata Farhan penasaran begitu mendengar nama pak Sukar dan Mistar.

"Satu hari yang lalu, mereka ditemukan tewas di ladang mereka dengan kondisi sangat mengenaskan, srek," kata Harjan sambil memperagakan leher yang dipotong dengan telapak tangannya.

Farhan terdiam. Berarti sudah ada empat orang yang terbunuh. Pembunuh yang misterius, batin Farhan.

Terdengar suara hp berdering di saku Harjan. Harjan meraih hp nya dan mengangkatnya.

"Oh ya benar Pak, saya sendiri," Harjan terdiam mendengarkan dengan seksama suara dari seberang.

"Baik Pak, saya tunggu." Harjan menutup hp nya. Ia menatap Farhan.

"Salah seorang petugas akan datang kesini. Pak Waka yang langsung menelponnya. Yah, kita ngobrol-ngobrol lah di sini,"kata Harjan. "Tenang, dia tidak akan menangkapmu," sambung Harjan ketika melihat Farhan menatap ke arahnya.

Farhan kembali menyandarkan tubuhnya. Sebatang rokok yang ditawarkan Harjan mulai disulutnya. Asap rokok mulai mengepul memenuhi ruangan.

Suara angin masih terdengar kencang menghempas, sesekali diselingi gedebur ombak pasang. Setelah menghabiskan sebatang rokok di tangannya, ia membaringkan tubuhnya. Dia mencoba memejamkan matanya sejenak sambil menunggu kedatangan utusan dari kepolisian.

Terpopuler

Comments

Dwi Giatno Alkissy

Dwi Giatno Alkissy

Pelakunya sepertinya mengarah ke Fadli

2023-04-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!