#16

Hari telah mulai gelap. Suasana di tengah laut terdengar ramai oleh suara mesin sampan nelayan dan spead boat yang lalu lalang. Di tepi laut terlihat benderang dengan cahaya-cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk di tepi pantai. Pun dengan kerlap kerlip dari bara rokok dari para pemancing yang berjejer di tepi tebing. Gedebur ombak bersahut-sahutan. Angin menghempas keras. Aroma laut yang khas tercium. Sesekali terlihat sinar senter led super diarahkan ke setiap sudut dari rumah-rumah apung di tengah laut, tempat berjaga karyawan perusahaan mutiara.

"Apung satu, monitor situasi aman. Apung satu, situasi aman," terdengar suara dari handy talky di salah satu rumah apung. Seorang laki-laki dengan seragam hitam mematikan senternya dan melangkah menuju handy talky yang tergantung di sudut apung. Sebelum menjawab panggilan di seberang, ia kembali menoleh kesana kemari mengamati sekelilingnya.

"Pos satu melaporkan aman, situasi terkendali, ganti."Laki-laki itu kembali menggantung handy talky di tempatnya semula.

"Pos dua, situasi, ganti,"

"Pos dua aman, ganti,"

"Pos lima melapor. Pos lima melapor, Patroli barat mohon memeriksa sekitar satu kilo dari pos lima. Ada batangan mencurigakan, ganti. Patroli barat, mohon di copy, sekitar trol wilayah barat"

"Pos barat siap memeriksa, ganti."

Suara boat terdengar menderu dari kejauhan. Lajunya yang kencang membelah permukaan air dan menimbulkan gelombang besar. Sinar senter dari boat yang melaju kencang menyilaukan Farhan yang sedang berpegangan di salah satu bola yang mengapung. Ia terlihat menggigil kedinginan saat gelombang besar akibat laju spead boat menghempas tubuhnya. Farhan mencoba menegakkan kepalanya, berharap petugas yang datang bisa melihatnya dengan jelas. Tapi karna kedinginan, salah satu tangan Farhan terlepas dari pegangannya. Tubuhnya terasa lemah dan tangannya kaku. Dia merasa sudah tidak kuat lagi berpegangan. Farhan pasrah dan membiarkan ombak menghempas tubuhnya. Laki-laki di atas boat segera mematikan mesin boatnya. Sinar senter di arahkannya ke samping agar tidak menyilaukan mata Farhan. Ia menatap Farhan yang mendongak ke arahnya.

"Lapor Patroli barat, mohon info terkait batangan mengapung, ganti," terdengar panggilan dari handy talky di saku bajunya.

"Patroli barat melapor, ada warga yang tenggelam, sedang di evakuasi."

Laki-laki di atas boat mengulurkan tangannya dan meraih tubuh Farhan naik ke atas boat. Farhan terbaring lemah. Laki-laki itu menyodorkannya minuman, tapi Farhan tak merespon. sepertinya ia tak sadarkan diri. Laki-laki itu segera menyalakan mesin dan suara speda boat meraung dan melaju ke arah pesisir.

Malam berhembus dingin. Angin menghempas-hempas menimbulkan suara kesiar di dedaunan pepohonan yang berjejer rapi di sebuah jalan berbatu, di dekat sebuah gerbang besar beratap rumbai.

PT. Autore pearl culture Segui Lombok Timur. Tulisan yang terpampang di pintu gerbang masuk sederhana yang terbuat dari kawat sisa tempat menggantung kerang mutiara. Di samping pintu gerbang, terdapat pos jaga berukuran 4 x 5 dan terlihat tiga orang laki-laki sedang duduk berjaga di dalamnya. Masuk lebih dalam, beberapa gazebo dan rumah-rumah panggung ukuran besar dengan dinding anyaman bambu, terlihat berjejer menghadap laut. Letaknya tiga meter dari permukaan laut. Beberapa orang di bangunan mirip pos jaga dan terletak paling ujung, terlihat mengarahkan senter berukuran besar ke arah bola-bola yang mengapung di tengah laut.

Beberapa orang yang sedang menikmati kopi di gazebo bangkit ketika melihat salah satu temannya memapah Farhan ke arah mereka. Mereka segera membantu membopong tubuh Farhan. Farhan yang masih tak sadarkan diri kemudian dibawa masuk ke salah satu ruangan. Pakaian Farhan yang basah mereka ganti dan berusaha menyadarkan Farhan.

"Salah satu dari kita harus melaporkan ini pada manajer Harjan."

Seseorang bangkit dan segera menuju sebuah rumah panggung besar yang terlihat lebih mewah dari bangunan lain. Seorang bertubuh gempal melangkah ke arah pintu ketika terdengar seseorang mengetuknya.

"Lapor, Pak Manajer, ada warga yang tenggelam yang kami selamatkan di pondok. Mohon diperiksa," Kata laki-laki itu ketika melihat Harjan berdiri di balik pintu.

"Ya sudah, tunggu aku di sana." Harjan mengambil jaketnya dan segera keluar.

Harjan memperhatikan wajah kusut dengan rambut panjang yang terbaring lemah di ranjang. Sepertinya ia mengenalnya, tapi ia agak ragu. Dia memeriksanya lebih dekat dan ia terkejut.

"Astaghfirullah, Farhan," desahnya. Ia lalu berdiri.

"Bawa ke kamarku," kata Harjan. Ia terlihat panik. Ia kemudian melangkah keluar dan orang-orang yang ada di sana segera membopong tubuh Farhan menuju ruangan Harjan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!