Sementara di tempat lain, di saat penghuni hutan bersembunyi di peraduannya, Tiga orang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahunan terlihat duduk di dekat perapian. Mereka itu adalah Haji Maemun, pak Sukar dan Pak Mistar.
Berita tentang masih hidupnya anak pak Marwi sudah terdengar di telinga mereka. Mereka masih tidak percaya jika anak pak Marwi masih hidup. Mereka bertiga yakin anak itu ada di dalam rumah dan hangus terbakar di dalamnya pada saat kejadian.
"Informasi ini perlu kita telusuri. Bukannya aku takut dengan kedatangan anak itu, aku hanya belum percaya anak itu masih hidup. Aku yakin sekali hanya pak Marwi yang keluar dari rumah itu,"kata Haji Maemun memulai pembicaraan.
"Atau jangan-jangan anak itu memang tidak ada di dalam rumah," kata Sukar menimpali.
"Mustahil, aku sendiri yang melakukan pengintaian malam itu. Aku lihat sendiri pak Marwi sedang menyuapi anak itu," kata pak Mistar berusaha meyakinkan kedua temannya.
Haji Maemun mengusap-usap jenggot tipisnya. Ia mengangguk-angguk kecil seperti memikirkan sesuatu. Ia masih belum mau menyambung pembicaraan teman-temannya.
"Tapi menurut cerita yang aku dengar, anak itu memang ada di di dalam rumah, tapi saudara misan pak Marwi yaitu pak Ahmad yang menyelamatkan anak itu," kata pak Sukar dengan nada yang menyimpan kekhawatiran.
"Tapi bagaimana bisa. Kita sama sekali tidak pernah melihat pak Ahmad di rumah itu, ataupun di sekitar rumah," kata pak Mistar penasaran.
"Mungkin waktu itu kita sibuk mengamankan pak Marwi sehingga kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah," jawab pak Sukar.
"Mungkin saja, tapi kita perlu mencari tahu masalah ini. Jika memang benar itu adalah anaknya pak Marwi, kita perlu tahu apakah tujuannya kesini untuk berladang atau untuk tujuan lain. Balas dendam barangkali," kata pak Mistar. Mendengar itu, Haji Maemun menatap ke arah pak Mistar.
"Balas dendam apa. Sampai sekarang kasus itu tidak pernah bisa diungkap. Mau balas dendam sama siapa. Dia tidak bisa balas dendam kepada massa yang tidak bisa dihitung dalam gelap," katanya dengan nada agak keras.
"Tapi masalahnya sekarang pak haji, teman-teman pejabat kita dulu, baik di kepolisian maupun dinas kehutanan sudah banyak yang meninggal dan pensiun. Jika ada yang mengusut lagi kasus ini, itu akan berakibat buruk pada kita," kata Mistar khawatir.
"Sudah sudah, tak usah memikirkan sesuatu yang tidak akan terjadi. Dari dulu kita bisa mengatasi masalah kita dengan uang. Jika ada yang mencoba mengungkit dan mencari-cari pelakunya, itu artinya ia sedang lapar dan butuh uang." Haji Maemun terdiam sejenak dan memandang kedua temannya.
"Memangnya persediaan uang yang dulu kita bagi dengan pak Jumerin sudah habis," sambungnya lagi.
Pak Sukar tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Masih ada cuma sudah dipindahkan ke tanah,"
"Gampang, kita kasih tanah saja. Keamanan kita yang terjamin lebih berharga dari pada sejumlah uang yang bisa kita dapatkan kembali nanti. Tenang saja, minggu-minggu ini banyak proyek dari pemerintah yang bisa di handle oleh kelompok kita," kata Haji Maemun berusaha menenangkan mereka.
Mistar terlihat menguap beberapa kali.
"Kayaknya aku sudah mengantuk. Besok pagi-pagi sekali aku harus ke desa mengambil pupuk pesanan warga. Jadi saya pamit pulang dulu pak haji," kata Mistar sambil bangkit perlahan dari duduknya. Begitupun juga dengan pak Sukar. Setelah berpamitan dengan Haji Maemun, mereka beranjak dari tempatnya.
Haji Maemun masih duduk termenung di tempat duduknya. Tatapannya lekat ke arah api yang menyala di perapian. Batang-batang kayu kering yang sudah dibelah di masukkannya lagi ke dalam perapian ketika nyala api mulai redup. Sebatang rokok ia keluarkan dari bungkusnya. Ia lalu mengambil pemantik api dan menyulut rokoknya. Ia mendesah sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
Teka-teki tentang anak pak Marwi yang masih hidup memenuhi pikirannya. Dia harus segera mengirim seseorang untuk pergi menyelidikinya. Walaupun berita kedatangannya tidak terlalu merisaukannya, tapi ia berfikir harus mencari cara jika apa yang dikhawatirkan teman-temannya tadi benar-benar terjadi nanti.
Haji Maemun terlihat mulai menguap. Rokok yang masih setengah di tangannya ia lemparkan ke dalam perapian. Ia lalu mengambil bantal yang ada di sampingnya dan ia membaringkan tubuhnya di atas tikar.
Tapi baru saja ia terlelap, suara ketukan terdengar dari luar rumah. Haji Maemun meraih parang di samping kiri ia terbaring. Ia masih menunggu suara ketukan pintu terdengar lagi.
"Siapa di sana," kata Haji Maemun setengah berteriak ketika untuk beberapa lamanya tak terdengar apapun di luar sana.
"Saya Pak Haji, Bahram," kata seseorang di luar sana.
"Ada apa malam-malam begini Bahram. Kalau ada yang penting kamu datang besok saja," kata Haji Maemun. Ia melepas parang di tangannya dan kembali melepas tubuhnya berbaring.
"Ini penting sekali Pak Haji. Besok aku harus pergi ke kota jadi tidak bisa menemui pak haji," kata seorang yang dipanggil Bahram di luar rumah. Haji Maemun terlihat kesal. Ia bangkit dan melangkah menuju pintu dan perlahan membukanya. Suara pintu yang berdret mengagetkan Bahram. Lelaki pendek bertubuh gempal dengan brewok tebalnya tersenyum .
"Kalau sampai berita yang kamu bawa tidak penting, aku potong kepalamu," kata Haji Maemun terlihat kesal.
Bahram menoleh ke sekelilingnya, setelah itu ia lebih mendekat lagi.
"Ini penting sekali Pak Haji. Tadi ada beberapa orang datang ke ladang pak haji. Mereka mengaku dari Yayasan Qudwatusshalihin. Katanya mereka mau ketemu Pak Haji untuk membicarakan tanah milik yayasan," kata Bahram. Mendengar itu, lagi-lagi Haji Maimun menggebrak pintu dengan tangannya.
"Masalah bertambah lagi. Pokoknya kalau nanti kamu ketemu lagi sama mereka, bilang sama mereka tidak ada lagi tanah yayasan. Itu adalah menjadi milik saya sekarang. Enak saja mau mengambil setelah sekian tahun tidak pernah diurus," kata Haji Maemun berang.
"Tapi mereka hanya ingin bertemu dengan pak haji. Jika pak haji tidak mau ketemu, mereka mengancam akan membawa masalah ini ke pengadilan," kata Bahram dengan surau parau, takut kata-katanya semakin membuat Haji Maemun marah.
"Kapan katanya mau kesini lagi," tanya Haji Maemun. Bahram seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Kalau gak salah hari rabu Pak haji. Berarti tiga hari lagi."
Haji Maemun terdiam mengusap-usap alis sebelah kirinya dengan telapak tangannya, berharap rasa gelisah dalam pikirannya pergi.
"Ya sudah, besok kalau kamu jadi ke kota jangan lupa mampir ke kantor desa. Beritahu masalah ini ke Pak BPD, pak Nurman. Bilang kalau aku menunggunya besok hari senin," kata Haji Maemun. Bahram mengangguk.
"Ya sudah pulang sana. Aku mau tidur," kata Haji Maemun. Bahram hanya terdiam membuat haji Maemun urung menutup pintu.
"Lho, kok kamu masih disini. Mau apa lagi kamu," kata Haji Maemun ketika melihat Bahram masih berdiri tersenyum menggaruk-garuk kepalanya.
"Begini Pak, sebenarnya besok ke kota itu masih belum pasti Pak. Kalau besok saya punya ongkos berarti saya jadi ke kota. Kalau gak ya saya tunggu ada uang dulu," kata Bahram.
Haji Maemun terlihat kesal dan masuk ke dalam kamarnya. Tak berapa lama kemudian, ia kembali.
"Yang ada dipikiranmu cuma uang dan upah saja. Belum kerja sudah minta upah. Nih." Haji Maemun menyodorkan beberapa lembar uang ke arah Bahram. Dengan tersipu malu Bahram mengambilnya.
Bahram kemudian pamit dan segera melangkah meninggalkan rumah Haji Maemun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Lina Nur
cerita nya seru jg...
2023-05-23
1