#03

Matahari telah tenggelam di balik lebatnya hutan. Kabut mulai tebal menyelimuti. Hawa dingin menusuk. Seluruh penghuni hutan bersembunyi di balik selimut dan perapian malam. Suara gagak sesekali terdengar memantul di batang-batang pohon. Pepohonan pinus seperti menara hantu dalam kegelapan. Sepi dan sunyi.

Dua orang pria yang tadi pagi menikmati kopi di warung kopi bu Sarmi, terlihat menyalakan api di sebuah perapian besar yang terbuat dari tanah liat, di depan tempat mereka duduk bersila. Salah seorang dari mereka menuangkan air panas ke dalam cangkir aluminium berukuran besar. Ia menggesernya sedikit ke dekat api yang menyala, berharap kopi yang diseduhnya tetap hangat.

Seorang lagi berdiri mengambil selimut lusuh motif garis-garis yang tergantung pada tali jemuran. Jaket hitam yang ia pakai sepertinya tak cukup hangat mengusir dingin tubuhnya. Sebelum duduk, ia melilitkan selimut itu di tubuhnya.

"Oya Nasir, tadi aku ngopi lagi di warungnya bu Sarmi. Dia bercerita kalau anaknya Almarhum pak Marwi tadi pagi sempat ngopi di warungnya".

Orang yang dipanggil Nasir itu mengernyitkan dahinya. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Beberapa ranting kecil dimasukkannya ke dalam tungku api. Nyala api di dalam perapian semakin membesar.

"Anaknya Almarhum Pak Marwi? Yang dulu dibakar rumahnya dan digantung di pohon?" Kata Nasir seperti tidak percaya. Temannya mengangguk. Nasir tersenyum. Kedua telapak tangannya dihadapkannya dekat ke perapian.

"Yang benar saja Badrol, bukankah anaknya Pak Marwi ikut juga terbakar di dalam rumah?" Kata Nasir kepada temannya yang ia panggil Badrol. Badrol terdiam sejenak.

"Kayaknya enggak. Kata para tetua, dia diselamatkan sama Pak Ahmad, pamannya."Kata Badrol mempertegas. Nasir memperhatikan wajah Badrol. Kali ini ia terdiam lama. Seperti mulai mempercayainya.

"Terlepas ia masih hidup atau tidak, yang jelas mereka tega sekali memperlakukan pak Marwi seperti itu. Sejahat-jahatnya orang, Aku tidak akan tega berbuat seperti itu," kata Nasir menyayangkan. Ia menyeruput kopi di tangannya. Ia nampak meringis sambil memejamkan matanya. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Badrol.

"Bangsat kamu, Badrol. Kenapa kopiku tidak kamu taruhkan gula," kata Nasir sambil mengeluarkan air kopi yang diminumnya dari mulutnya. Melihat itu Badrol tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.

"Maaf saudara, Aku lupa. Aku lebih dulu ingat cerita bu Sarmi daripada menaruhkanmu gula," kata Badrol sambil terus tertawa memegang perutnya.

"Untung kamu minum duluan, kalau tidak aku juga pasti akan meminum kopiku. Ni lihat, Aku juga belum kasih gula kopiku," sambung Badrol sambil memeperlihatkan cangkir aluminium di tangannya.

Untuk sesaat mereka berdua terdiam sambil menikmati kopi di tangan mereka.

"Ngomong-ngomong tentang pak Marwi, kok aku jadi merinding," kata Nasir.

"Ceritanya gimana sih kok sampai terjadi pristiwa itu. Waktu itu aku lagi di desa sedang mengurus KTP. Sampai saat ini aku masih kurang begitu jelas sebab musabab peristiwa itu," sambung Nasir penasaran.

Badrol menaikkan kedua pundaknya. Ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi perapian.

"Sama, Aku juga waktu itu sedang berada di ladang. Dua minggu aku di ladang menjaga buah strawberyku." Badrol mengeluarkan sebatang rokok dari dalam sebungkus rokok yang ada di sampingnya. Ia lalu menyulutnya. Ia menoleh ke arah Nasir.

"Kata pak Ahmad, suami bu Sarmi lah yang telah memprovokasi teman-temannya untuk melakukan pembakaran dan pembunuhan. Mereka berdalih bahwa pak Marwi adalah seorang dukun santet. Kebetulan waktu itu banyak peladang yang meninggal. Orang-orang menuduh pak Marwilah yang menyantetnya. Tapi ingat, Nasir. Ini gak boleh disebarkan. Kalau orang-orang pak Jumarin tahu, kita bisa ikut dibunuh juga."

Nasir mendengarkan dengan seksama cerita Badrol. Nasir menganggukkan kepala.

"Tuduhan sekelompok orang yang memprovokasi penduduk untuk membakar rumah dan membunuh pak Marwi, menurut pak Ahmad, hanyalah akal-akalan pak Jumarin, suaminya bu Sarmi. Mereka marah karna pak Marwi selalu menghalangi mereka untuk mendapatkan tambahan lahan. Mereka seenaknya mengambil dan menyewakan lahan milik orang lain. Dan aku lebih setuju dengan pendapat pak Ahmad. Suami bu Sarmi memang orangnya licik," kata Badrol, kali ini dengan setengah berbisik namun terdengar kesal.

Nasir hanya mengangguk.

"Dan bisa jadi kepulangan anaknya pak Marwi adalah untuk balas dendam. Jika memang benar itu anaknya pak Marwi," kata Nasir mencoba menebak setelah tadi hanya diam mendengarkan pendapat Badrol. Badrol mendesah panjang.

"Kalau aku jadi dia, Aku pasti akan balas dendam. Kasus itupun sampai saat ini tidak pernah diproses. Katanya sih, suami bu Sarmi dan kawan-kawannya mengeluarkan uang tiga ratus juta untuk menyogok polisi."

"Memangnya kamu berani melawan mereka?" tanya Nasir. Badrol menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum cengengesan.

"Gak tahu juga," jawabnya singkat. Nasir tersenyum mencemooh.

"Lima ratus juta saja mereka tidak akan kewalahan. Kasus tanah yang sudah mereka menangkan begitu banyak. Di luar sana, mereka benar-benar berkuasa memanfaatkan orang-orang bodoh dengan kepintaran dan uang mereka. Mereka buat surat tanah palsu, bahkan mengancam orang yang mau menuntut ke penjara. Kamu tahu sendirikan Pak Jumerin itu kenal semua pejabat-pejabat di kota," tambah Badrol dengan suara masih setengah berbisik. Sesekali ia menoleh ke arah pintu. Seperti ada orang lain yang akan mendengar pembicaraannya.

Badrol menguap panjang. Gelas kopinya ia singkirkan lebih jauh dan ia mulai menselonjorkan kakinya. Melihat itu, Nasir mengambil bantal yang ada di belakangnya dan ikut membaringkan tubuhnya.

* * *

Malam semakin larut. Dingin terasa lebih menusuk. Penghuni malam benar-benar seperti mumi hidup yang meringkuk di balik tebalnya selimut mereka.

Di saat penghuni malam pulas dalam tidur mereka, sesosok laki-laki misterius terlihat berdiri bersedekap di balik sebuah pohon besar. Sekitar sepuluh meter dari jalan umum. Tatapannya tajam tertuju ke arah gubuk kecil milik bu Sarmi. Suara nyamuk yang mengerubungi tubuhnya sama sekali tak dihiraukannya. Dia seperti penguasa malam di tengah keheningan hutan belantara. Tak ada rasa takut ketika sesekali suara-suara aneh dari binatang malam mengagetkan hening malam.

Laki-laki misterius itu membalikkan badannya. Dengan langkah pincang, ia melangkah tenang memasuki gelap hutan.

Terpopuler

Comments

Krisna Adhi

Krisna Adhi

/Facepalm//Facepalm/

2024-08-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!