Suara teriakan seorang perempuan memecah hening pagi. Ketika sedang melewati jalan dan memunguti buah blue berry yang jatuh di tanah, ia dikagetkan oleh sosok seorang perempuan tua yang tergantung dengan lidah menjulur di atas dahan pohon akasia. Sontak teriakan perempuan itu membangunkan penduduk kampung yang sebagian besar masih terlelap dalam tidurnya. Mereka segera bergegas berbondong-bondong ke arah suara dan berkerumun di bawah pohon akasia. Dengan cepat mereka mengenali perempuan tua yang tergantung adalah bu Sarmi. Haji Maemun menyeruak di balik kerumunan. Ia mendongak dan terperangah melihat tubuh tua bu Sarmi menggantung di atas.
"Sukar, kesini," kata Haji Maemun ketika melihat pak Sukar ada di antara kerumunan. Pak Sukar mendekat. Haji Maemun menarik tubuh pak Sukar ke tempat yang lebih sepi.
"Ini pasti perbuatan orang yang mengaku anaknya pak Marwi itu. Bilang sama orang-orang bahwa yang melakukan ini adalah anak pak Marwi," kata Haji Maemun sambil berbisik ke telinga pak Sukar. Pak Sukar mengangguk dan kembali masuk ke dalam kerumunan.
"Saudara-saudara, ini sudah jelas. Ini semua pasti perbuatannya anak pak Marwi," kata Pak Sukar mengalihkan pandangan orang-orang. Ia mencoba membuka provokasi awal kepada orang yang berkerumun. Ia ingin usahanya memprovokasi penduduk sekitar hutan untuk membunuh pak Marwi terulang lagi, sesuai arahan Haji Maemun.
"Anak pak Marwi yang mana pak Sukar. Bukankah mereka sudah kalian bakar di dalam rumah," kata salah seorang di antara kerumunan.
Pak Sukar mengernyitkan dahinya. Tatapannya terlihat terganggu dengan kata-kata salah satu dari mereka. Tapi ia berusaha menahan diri. Ia tak ingin ada masalah baru walaupun ia merasa sangat terganggu. Pak Sukar melanjutkan kata-katanya.
"Anak pak Marwi masih hidup. Dua hari yang lalu ia sempat ngopi di warungnya bu Sarmi. Bu Sarmi sendiri yang cerita sama saya. Mungkin ia ingin balas dendam atas kematian ayahnya kepada penduduk kampung. Ketika ia tahu pak Jumerin sudah mati, ia melampiaskan kemarahannya pada bu Sarmi," kata pak Sukar mencoba menakuti.
"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan Pak Sukar. Kasus yang terjadi pada pak Marwi saja banyak dari kami yang meragukan tuduhan terhadapnya." Lagi-lagi orang yang sama lantang membantah.
Marah mendengar jawaban dari salah seseorang di antara kerumunan, Haji Maemun kembali berbaur dalam kerumunan. Langkahnya tergesa-gesa, seperti tak sabar melabrak orang itu. Ia berdiri di samping pak Sukar.
"He, siapa yang ngomong tadi," kata Haji Maemun sambil mengarahkan pandangannya satu persatu ke arah orang-orang di depannya. Pak Sukar membisiki sesuatu di telinga Haji Maemun. Tatapan mata tajam Haji Maemun mengarah kepada seorang berambut keriting di depannya. Orang yang ditatap terlihat menundukkan kepala. Haji Maemun perlahan mendekat ke arahnya.
"Ow jadi kamu yang sok pintar itu. Apa kamu merasa sudah cukup uang untuk membayar hutangmu. Ingat, ladang dan rumahmu sajaa kalau dikumpulkan jadi satu tidak akan pernah cukup untuk melunasi hutangmu. Sok jago saja kamu," kata Haji Maimun. Tatapan matanya yang tajam seperti hendak ******* habis wajah laki-laki di depannya.
Haji Maemun kembali ke tempatnya semula. Kembali ia mengarahkan pandangannya satu persatu ke arah orang-orang di depannya.
"Ingat, kita semua yang menyaksikan kejadian ini adalah saksi. Kita semua akan ditanya oleh pak polisi jika masalah ini dilaporkan. Apa kalian mau kita tidak bisa ke ladang lagi karna harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Ada baiknya kita segera kuburkan bu Sarmi," kata Haji Maimun tegas mulai menguasai keadaan.
"Benar saudara-saudara, lagi pula anak-anak bu Sarmi sudah tidak ada di sini. Jadi baiknya kita segera urus jenazah bu Sarmi sesuai tuntunan agama. Secepatnya," kata pak Sukar. Orang-orang mengangguk dan mulai menurunkan tubuh bu Sarmi dari atas pohon. Setelah itu mayat bu Sarmi mereka bawa ke rumahnya.
"Sapri, sini kamu!" kata Haji Maemun memanggil seseorang bernama Sapri yang terlihat berjalan paling belakang. Sapri menghentikan langkahnya. Ia diam di tempatnya. Ia tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri walaupun berulangkali Haji Maemun memberi isyarat dengan tangannya. Melihat Sapri tidak menuruti perintahnya, Haji Maemun nampak kesal. Ia dan pak Sukar segera menghampiri Sapri.
"Kurang ajar kamu, dipanggil orang tua diam saja. Apa kamu mau aku bikin kamu melarat selamanya," kata Haji Maemun mencoba mengancam.
"Anda memang orang tua Pak Haji, tapi Pak Haji telah mempermalukan saya di depan orang-orang. Saya tadi tidak melawan karna masih menghormati Pak Haji sebagai orang tua. Yang ingin saya tanyakan Pak Haji, apa alasan Pak Haji mengatakan bahwa tanah dan rumah saya tidak cukup untuk membayar hutang pupuk saya sama Pak Haji," kata Sapri mulai berani menatap Haji Maemun. Ketika pak Sukar hendak menarik kerah bajunya, ia sigap menghantam lengan pak Sukar. Muka pak Sukar memerah menahan amarah.
"Ini saya jelaskan. Dengar baik-baik. Harga pupuk satu kwintal satu juta lima ratus ribu rupiah, Pupuk yang kamu ambil sepuluh kwintal plus modal tanam dua puluh juta rupiah. total pokok hutang kamu tiga puluh lima juta rupiah. Ditambah lagi masa hutang yang mendekati satu tahun. Satu bulan bunganya lima ratus ribu rupiah. Sekarang kamu pulang dan total sendiri sama istrimu," kata Haji Maimun. Sapri yang merasa tidak puas berusaha melawan.
"Ini sama sekali tidak ada dalam perjanjian. Saya menolaknya," kata Sapri menggeleng.
Haji Maemun dan pak Sukar tersenyum ketus. Puas melihat reaksi Sapri.
"Memang tidak ada dalam perjanjian, tapi salah kamu yang mau minjam sama saya," kata Haji Maemun mengejek.
"Lepas kopiahmu Pak Haji. ini penipuan. Jangan Pak Haji kotori kopiah putih itu dengan penipuan. Tuhan membencinya." Sapri berbalik dan mulai beranjak meninggalkan keduanya.
"Kurang ajar kamu Sapri. Kuhajar Kamu." Haji Maemun mencoba memukul Sapri, tapi pak Sukar berusaha menahannya. Dengan sangat kesal Sapri meninggalkan tempat itu dengan umpatan.
"Ingat Pak Haji, saya akan membongkar semua yang saya tahu tentang kelicikan Pak Haji, termasuk pembunuhan pak Marwi," kata Sapri mengancam sambil terus berjalan meninggalkan Haji Maemun dan pak Sukar yang masih marah menatapnya tajam.
"Kurang ajar anak itu, berani-beraninya dia melawan aku, mengancamku lagi," gerutu Haji Maemun dengan nafas yang menderu.
"Tapi kayaknya kita harus hati-hati dengan anak itu. Dia sudah berani mengancam kita dengan kasus kematian pak Marwi," bisik pak Sukar. Haji Maemun terdiam. Ditatapnya lekat ke arah tubuh Sapri yang masih saja belum menghilang dari pandangannya. Dia melirik ke arah pak Sukar.
"Setelah acara pemakaman bu Sarmi selesai, ajak Mistar dan Bahram ke rumah. Kita harus membahas kejadian kamatian bu Sarmi di rumah," kata Haji Maemun kepada pak Sukar. Pak Sukar mengangguk. Keduanya kemudian berpisah di persimpangan jalan.
"Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun." Terdengar Farhan dan pak Sumarep serempak berucap kalimat istirja', setelah suara pengumuman berita kematian dari mushalla kampung tak terdengar lagi. Wati yang sibuk membuat kopi sesekali melirik ke arah ayahnya dan Farhan yang nampak serius membicarakan sesuatu di sela-sela istirahat mereka. Setelah kopi yang diseduhnya sudah siap, ia kemudian bergegas mengantarkannya.
"Siapa yang meninggal Pak," tanya Wati penasaran.
"Mungkin Kamu sudah lupa sama nenek Sarmi. Kalau Kakakmu ini dulu suka main-main ke J-pro#, jadi dia kenal sama nenek Sarmi," kata pak Sumarep. Wati mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Itu lo Dik yang jualan dulu di simpang jalan menuju pantai Pink. Itu, di samping tempat kita pernah metik buah bidara," kata Farhan mencoba membantu Wati mengingatnya.
Wati mengangguk.
"Ow itu, tapi Wati gak terlalu ingat wajahnya," kata Wati.
Pembicaraan mereka terhenti. Dua orang berpakaian serba putih berpeci hitam terlihat mendekat ke arah mereka. Setelah mengucap salam, mereka duduk dan menyalami pak Sumarep dan Farhan. Pak Sumarep memberi isyarat dengan matanya agar Wati membuatkan kopi untuk kedua tamu yang datang.
Dua orang tersebut tampak saling berbisik satu sama lain. Mereka memandang Farhan penuh telisik. Melihat itu pak Sumarep menyodorkan kedua tamunya buah strawbery.
"Mohon maaf, ada apa ya Nak," kata pak Sumarep kepada dua orang yang nampak seumuran dengan Farhan itu. Pak Sumarep melihat dengan seksama, mencoba mengingat-ingat apakah ia mengenal dua orang di depannya itu.
"Maaf sebelumnya Pak. Kami berdua ini kerabat jauh dari bu Sarmi. Kami kesini untuk mengundang Bapak untuk menghadiri pemakaman bu Sarmi," kata salah satu dari mereka.
"O ya Nak, kalau boleh bapak tahu bu Sarmi sakit apa?" tanya pak Sumarep.
"Bapak belum tahu? Tadi, pagi-pagi sekali bu Sarmi ditemukan tewas tergantung di sebuah pohon tak jauh dari gubuknya."
Pak Sumarep dan Farhan sontak terkejut. Keduanya saling pandang.
"Astaghfirullah, siapa yang tega melakukannya," desah pak Sumarep sambil mengusap dadanya berulangkali.
Pak Sumarep menatap tamunya.
"Terus bagaimana proses selanjutnya Nak, apakah kasus ini sudah dilaporkan pada pihak berwajib,"tanya pak Sumarep.
"Kayaknya enggak pak. Anak-anak bu Sarmi tidak ada di sini dan kami sepakat untuk tidak melaporkannya. Biarlah Tuhan yang membalasnya," jawabnya,"O ya Pak, kayaknya kami harus cepat-cepat pergi, masih banyak yang perlu kami beritahu tentang berita ini, takut nanti keburu dikuburkan." Kedua orang itu kemudian menyodorkan tangan mereka pada pak Sumarep dan Farhan.
"Sebentar dulu Nak, kopinya sebentar lagi datang. Nanti kopinya gak ada yang minum," kata pak Sumarep berusaha menahan.
"Gak usah Pak, kami berdua tidak ngopi," kata salah satu dari mereka.
Pak Sumarep menoleh ke arah Wati yang terlihat sedang memindahkan panci dari tungku api.
"Wati, kopinya gak jadi Nak. Tamunya mau pergi," teriak pak Sumarep.
#J-Pro : Proyek kerjasama Jepang-indonesia dalam penanaman hutan di Kawasan hutan Sekaroh lombok timur thn 1996
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments