Halimah, anak gadis Haji Maemun nampak mondar-mandir di jalan. Wajahnya nampak cemberut karna pagi-pagi sekali ibunya sudah menyuruhnya pergi ke rumah Bahram. Haji Maemun sejak sore kemarin belum juga pulang. Ia di suruh menemui Bahram untuk mencari ayahnya ke ladang. Ia marah karna ayahnya sebelum-sebelumnya sudah sering bermalam di ladang. Jadi menurutnya gak usah dicari, karna nanti bisa pulang sendiri.
Halimah semakin kesal ketika tidak menemukan Bahram di rumahnya. Kata orang dekat rumahnya, Bahram juga sudah tidak ada di rumah sejak zikiran tadi malam. Beberapa orang yang ia temui di jalan juga ia mintakan tolong agar menyuruh ayahnya pulang kalau kebetulan bertemu.
"Tolong." Teriakan minta tolong terdengar nyaring membelah hening pagi. Beberapa orang di jalan, termasuk Halimah mulai mendengarkan arah teriakan minta tolong.
Seseorang terlihat berlari dari arah jalan setapak di samping rumah almarhum bu Sarmi. Semakin dekat, dan orang-orang mulai mengenalnya.
"Ada apa Bahram, kenapa kamu berteriak minta tolong,"tanya seseorang. Bahram menundukkan tubuhnya. Ia terlihat begitu lelah. Nafasnya ngos-ngosan. Ia belum bisa menjawab pertanyaan orang-orang di depannya.
"Halimah, bapak," kata Bahram ketika melihat Halimah ada di antara orang-orang.
"Bapak kenapa Bahram, bapak dimana?"
Bahram memegang pundak seorang laki-laki di depannya.
"Tolong, ajak orang banyak dan jemput pak Haji di sana,"kata Bahram sambil menunjuk ke arah jalan setapak dekat rumah bu Sarmi. Halimah makin penasaran sekaligus kesal Bahram membuatnya semakin cemas. Ia menarik-narik lengan baju Bahram.
"Katakan dengan jelas Bahram, bapak kenapa," teriak Halimah.
"Pak Haji mati Halimah." Demi mendengar jawaban Bahram, tubuh Halimah menjadi lemas. Orang-orang yang mendengar cerita Bahram langsung berhamburan menuju lokasi yang ditunjukkan Bahram.
Orang-orang tercengang. Ada tubuh bersimbah darah yang sudah mulai mengering, tanpa kepala. Semut-semut berkerumun memenuhi tubuh itu. Di dadanya, sisi kiri dan kanan, masih tertancap dua buah pisau. Pandangan orang-orang tertuju pada leher mayat yang terputus. Tidak ada tanda-tanda kepala mayat itu ada di sekitarnya. Bahram yang tiba belakangan, mengajak beberapa orang untuk mengikutinya. Kira-kira lima puluh meter dari tubuh mayat itu, kepala yang mereka kenali sebagai kepala Haji Maemun, terjepit di antara semak-semak. Matanya melotot seperti hendak keluar dan lidahnya sedikit menjulur.
Sejenak orang-orang yang melihatnya hanya bisa saling pandang. Salah seorang dari mereka memasukan kepala Haji Maemun ke dalam karung dan segera membawanya.
Suara tangis dari dalam rumah Haji Maemun terdengar pecah ketika mayat Haji Maemun tiba di rumahnya. Beberapa tetangga perempuan yang datang melayat, terdengar menjerit histeri melihat tubuh tanpa kepala Haji Maemun. Bahkan beberapa dari mereka terlihat pingsan.
Beberapa jam kemudian, terlihat mobil dan beberapa motor dari pihak kepolisian tiba di rumah Haji Maemun. Sebagian dari mereka langsung dibawa Bahram ke tempat lokasi kejadian perkara. Beberapa orang lagi tampak dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Wilayah hutan yang sepi, seketika berubah menjadi kerumunan massa yang mulai berdatangan untuk menyaksikan kejadian itu. Satu sama lain berbisik, menebak siapa dan apa penyebab kematian Haji Maemun yang tragis. Dimana-mana terlihat orang membentuk kelompok membahas kematian Haji Maemun.
Berita kematian Haji Maemun terdengar di telinga Farhan dan pak Sumarep. Mereka segera bergegas dan sejurus kemudian sudah berbaur dengan kerumunan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.
Bahram seperti melihat ke arahnya, begitu juga dengan orang-orang yang berkumpul. Terlihat juga pak Mistar dan pak Sukar. Mereka berdua terlihat seperti mengomando orang-orang mengarahkan pandangan mereka kepadanya.
Sebelum berangkat melihat kejadian, Farhan memang sudah memprediksi hal itu akan terjadi. Terlebih lagi dengan pristiwa pertengkarannya dengan Haji Maemun beberapa hari lalu. Begitupun dengan ancamannya yang sesuai dengan apa yang kini disaksikan orang-orang. Untuk sementara waktu, tuduhan orang-orang akan mengarah kepadanya.
Pak Sumarep sadar Farhan mulai tak nyaman dengan situasi itu. Dia mengurungkan niatnya lebih dekat menyaksikan mayat Haji Maemun. Setelah mendapatkan informasi terkait waktu pemakaman, pak Sumarep mengajak Farhan pulang.
Terlihat Bahram, bu Halimah dan Halimah mendekat ke arah Farhan dan pak Sumarep. Pak Sumarep menepuk-nepuk pundak Farhan, memberi isyarat kedatangan mereka.
"Hei Farhan, sekarang kamu puas sudah memenggal kepala suami saya, Sekalian saja kamu penggal kepala saya," kata bu Maemun ketika sampai di depan Farhan. Farhan tersenyum. Pak Sumarep masih berdiri di tengah-tengah mereka, berusaha menengahi.
Dua orang polisi berlarian mendekati mereka.
"Ini dia pembunuh suami saya Pak, saya tidak mau dia hanya dipenjara saja, penggal juga kepalanya Pak." Bu Maemun terlihat mulai menangis. Halimah berusaha menenangkan ibunya, tapi tatapan mata tajam tak berpaling dari melihat Farhan.
"Jangan asal menuduh Bu, harus ada saksi dan bukti yang lengkap. Serahkan semuanya pada pihak kepolisian,"
"Tapi dia jelas-jelas sudah mengancam Haji Maemun dengan penggal kepala Pak," sahut Bahram. Dua orang petugas kepolisian itu tersenyum.
"Bapak serahkan saja kepada kami, pelakunya pasti tertangkap,"kata petugas. "Sekarang Bapak, Ibu semua kembali ke tempat masing-masing, jangan sampai terjadi keributan,"sambung petugas.
Merekapun bubar. Sementara beberapa orang masih berkerumun membuat kelompok di tepi jalan, tak ingin ada keributan,Farhan dan pak Sumarep memutuskan untuk kembali ke rumah.
...----------------...
""Untuk sementara waktu, Kak Farhan gak usah kemana-mana dulu. Gara-gara kejadian kemarin, Kakak dicurigai orang sebagai pelaku pembunuhan Haji Maemun. Tidak hanya itu, Bapak juga cerita kalau orang-orang dekat Haji Maemun juga menuduh kakak lah yang membunuh bu Sarmi," kata Wati yang siang itu menemani Farhan menikmati kopi siangnya.
"Selama mereka tidak punya bukti, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa," kata Farhan. Tangannya meraih tangan Wati. Wati terlihat cemas.
"Tapi yang Wati cemaskan, mereka akan main hakim sendiri jika pihak kepolisian tidak cepat mengungkap kasus ini," kata Wati lebih erat memegang tangan Farhan.
Wati tiba-tiba menarik tangan Farhan dan mengajaknya bersembunyi dibalik pohon ubi. Wati menunjuk lewat dedaunan ubi yang ia sibak. Seorang bertubuh gempal berbaju putih terlihat berjalan tergesa-gesa di antara rerimbunan semak dan masuk lebih jauh ke dalam hutan. Beberapa kali ia terlihat menoleh ke arah gubuk Farhan.
"Itu Bahram, anak buahnya Haji Maemun," bisik Farhan.
"Wati juga pernah melihatnya dua hari yang lalu lewat di tempat yang sama," Wati memperat pegangan tangannya."Jangan-jangan ia ingin memata-matai Kakak, Wati takut Kak."
"Lho, ngapain kalian ngumpet di sini." Wati dan Farhan kaget, mereka serempak memegang dada mereka. Di belakang mereka, tampak pak Sumarep berdiri heran menatap mereka. Farhan kembali menyibak rerimbunan daun ubi kayu di depannya. Setelah memastikan sosok Bahram benar-benar telah pergi, ia bangun dan mengajak pak Sumarep masuk ke dalam gubuk.
"Tadi kami melihat Bahram lewat di rerimbunan semak-semak itu Pak," Farhan menunjuk ke arah semak-semak. Pak Sumarep memiringkan kepalanya, menengok ke arah yang ditunjukkan Farhan. Pak Sumarep mengernyitkan dahinya.
"Benar yang kamu lihat itu si Bahram," tanya pak Sumarep. Farhan mengangguk. "Ada apa si Bahram kesana. Di sana itu benar-benar kawasan yang jarang dimasuki. Tidak ada yang boleh bercocok tanam di sana. Di sana itu murni kawasan hutan. Seumur-umur bapak tidak pernah kesana,"
"Sudah dua kali ini Wati melihat orang itu melintas di sana. Kalau Wati sih lebih curiga dia ingin mematai Kak Farhan," sahut Wati.
"Nah, itu yang ingin bapak sampaikan pada Nak Farhan, mulai hari ini kita harus berhati-hati. Keluarga Haji Maemun masih menganggap Nak Farhan adalah orang yang pantas bertanggung jawab atas kematian Haji Maemun," sambut pak Sumarep. Farhan menghela nafas panjang dan menoleh ke arah Wati. Wati nampak semakin cemas.
"Intinya tetap waspada. Kita ini berada di kawasan hutan yang bisa menghilang kapan saja. Banyak orang yang dibunuh tapi diisukan hilang di hutan. Apalagi gerombolan Haji Maemun terkenal kejam dan licik." Pak Sumarep menutup kata-katanya dengan ******* panjang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments