#20

Rintik hujan masih terdengar menggeretas di dedaunan pohon. Menunggu hujan benar-benar reda akan membuang banyak waktu. Apalagi dengan posisi duduk jongkok menghindari genangan air, membuat duduk mereka jadi tidak nyaman. Waktu terus berputar, jam telah menunjukkan pukul 11 siang. Jika harus terus menunggu sampai benar-benar reda, mereka akan didahului oleh malam. Hardian berdiri dan mulai mengawasi sekitarnya.

Hardian memegang tangan Farhan. Farhan bangkit. Rokok yang baru saja dikeluarkan dari bungkusnya disulutnya. Setelah untuk beberapa saat mereka terlihat berdiskusi, mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan.

Farhan mendesah. Melihat jalan menanjak yang licin dan sulit, ia menaikkan celananya hingga selutut.

Semakin ke atas, jalan yang dilalui semakin sulit. Kaki keduanya seringkali terpeleset akibat jalan yang licin. Ditambah lagi dengan jalur yang menanjak. Tangan harus mencari pegangan yang kuat pada semak-semak ataupun pohon-pohon kecil di depan mereka. Suara denging nyamuk disertai gigitan di tempat-tempat terbuka dari tubuh, ikut mempersulit perjalanan Farhan dan Hardian siang ini.

Sudah satu jam lebih. Hardian membaringkan tubuhnya di sela-sela pepohonan setelah sampai di puncak bukit. Sementara Farhan masih berjibaku mempertahankan tubuhnya yang mulai kelelahan untuk terus mendekat ke arah Hardian. Hingga ketika ia telah berdiri di samping Hardian yang masih terbaring, Farhan tersenyum. Di bawah sana, terlihat ruang terbuka dengan sedikit pepohonan. Sebuah ladang dengan hamparan tanaman strawberry yang menghijau. Farhan tersenyum dan langsung menghempaskan tubuhnya di samping Hardian dan ikut berbaring. Hardian menoleh ke arahnya.

"Kamu sudah lihat," tanya Hardian yang begitu kelelahan di sampingnya. Farhan hanya mengangguk. Nafasnya terlihat turun naik. Tak henti-henti ia menggaruk tangan dan wajahnya akibat gigitan nyamuk.

Mereka berdua sudah tidak memperdulikan seluruh pakaian dan tubuh mereka yang tertutupi lumpur. Melihat hamparan hijau tanaman strawberry di depan mereka, rasa lelah perlahan mulai hilang.

Hardian mengusap kaca jam tangannya yang tertutup lumpur. Ia mendesah. Sudah jam dua belas lebih. Dia menepuk dada Farhan dan mengajaknya bangun.

Areal ladang di depan mereka tidak begitu luas. Farhan memperkirakan luasnya kurang lebih sekitar 30 are. Di sekeliling ladang berjejer pohon alpukad dan durian sebagai pembatas ladang dengan hutan. Hardian mengangguk. Bisa dipastikan, itu adalah ladang terakhir di kawasan hutan bagian utara. Hanya orang-orang bodoh dan orang-orang yang tak berpikir untung rugi yang mau berladang di tempat itu. Selain faktor jarak yang jauh dari jalan, medannya yang menanjak dan menaiki bukit, belum lagi semak-semak serta pepohonan besar, akan mempersulit pemiliknya untuk mengangkut hasil tanamannya keluar dari tempat itu.

Farhan dan Hardian mulai mengendap menuruni perbukitan. Di sudut ladang, terlihat sebuah pondok kecil beratap rumbai. Pondok itu hampir tak terlihat karna sebagiannya ditutupi rerimbunan pohon pisang.

Sekitar dua ratus meter dari ladang, Farhan dan Hardian mulai membuat tempat persembunyian yang aman untuk memantau situasi di depan mereka. Untuk sementara waktu, tak ada aktifitas apapun yang terlihat, baik di tengah ladang maupun di dalam gubuk. Suasana masih sepi dan lengang. Hanya suara burung dan tonggeret yang terdengar membisingkan telinga. Sesekali ayam hutan yang berteriak nyaring.

Farhan terlihat menguap. Tubuhnya yang letih karna perjalanan jauh, juga kondisi tubuhnya yang belum benar-benar pulih, membuatnya ingin berbaring sejenak. Ia terlihat pucat dan nampak lelah. Melihat itu, Hardian menyuruhnya untuk istirahat.

"Istirahatlah, kita harus bergantian," kata Hardian. Karna kantuk yang terasa berat, Farhan tidak kuasa menahan matanya untuk segera terpejam. Tak berapa lama kemudian, Ia pun mulai terlelap.

*

*

Hardian menarik lengan baju Farhan pelan. Farhan membuka matanya. Hardian memberi isyarat agar segera bangun. Ia terlihat memperlebar lubang semak-semak di depannya. Ada seorang laki-laki yang terlihat keluar dari balik pepohonan. Seorang laki-laki berjaket hitam dengan kepala tertutup kuncup jaket. Masih kurang begitu jelas, karna jaraknya yang masih jauh. Farhan mengernyitkan keningnya, melihat dengan seksama langkah kaki seseorang itu yang terlihat pincang dengan sebuah ember di tangannya. Laki-laki itu duduk. Ia sepertinya sedang memetik buah strawberry dan memasukkannya ke dalam ember.

"Pak, dari mana datangnya orang itu,"tanya Farhan berbisik. Tatapan Hardian tidak mau berpaling dari sosok laki-laki itu.

"Dia keluar dari hutan sebelah," jawab Hardian setelah untuk beberapa saat tadi tidak juga menjawab pertanyaan Farhan.

"Dari dalam hutan?" tanya Farhan heran. "Berarti dia punya pondok lagi di dalam sana, " sambung Farhan.

"Entahlah, tapi aturan pemerintah tidak membolehkan ada pembangunan apapun di kawasan hutan selain dari yang sudah di SK kan Bupati. Ukurannya pun hanya sekedar buat tidur saja," jelas Hardian panjang lebar.

Laki-laki itu terlihat berdiri dan berjalan ke arah pondok di balik rerimbunanan pohon pisang. Agak lama juga ia di dalam pondok, hingga tak beberapa lama kemudian, terlihat asap mengepul dari arah pondok.

"Pak,"kata Farhan menawarkan buah berry kepada Hardian. Hardian tersenyum. Ia menggenggam beberapa buah berry dan memakannya.

"Apa dia patut dicurigai Pak,"tanya Farhan. Hardian tak menoleh.

"Awalnya gak, tapi karna kasus ini berlarut, maka dia juga harus dicurigai." Farhan mengangguk. Suasana di sekitar pondok masih terlihat sepi. Belum ada tanda-tanda dari laki-laki itu.

Langit di atas ladang mulai terlihat gelap. Kabut terlihat semakin tebal. Awan juga terlihat mulai menelingkupi langit. Angin berhembus kencang. Hawa dingin semakin terasa. Suasana di sekitar gubuk mulai terlihat samar oleh penampakan kabut-kabut.

Samar-samar terlihat laki-laki itu keluar. Di tangannya tampak ember yang ia gunakan memetik buah strawberry. Tapi kini tampaknya lebih berat. Berkali-kali ia memindahkannya bergantian ke pundaknya. Dengan langkah pincangnya, ia berjalan masuk ke dalam hutan.

Hardian dan Farhan saling pandang, seperti ingin meminta pendapat masing-masing.

"Kita harus membagi tugas. Kamu periksa gubuk itu dan aku akan mengikuti laki-laki itu. Aku akan memberi tanda dengan tali rapia ini agar kamu bisa menyusulku," kata Hardian sambil mengeluarkan gulungan tali rapia yang sudah dipotong seukuran satu jengkal dari saku celananya.

Mereka berdua segera berpencar. Sesuai yang telah disepakati, Farhan menuju ke pondok di balik rerimbunan pohon pisang, sedangkan Hardian mulai mengendap mengikuti laki-laki itu masuk ke dalam hutan.

Suasana di dalam hutan mulai gelap. Suara burung-burung kecil bercericit mulai mencari tempat bermalam di ranting-ranting pohon. Kabut semakin tebal. Hutan kembali dalam semedi panjangnya. Melata malam mulai terdengar mendendangkan irama gelap dalam hutan. Suasana semakin hening dan mencekam. Suara kesiar angin di pucuk-pucuk pepohonan sesekali membuat terdiam para melata malam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!